
Suamiku, ternyata cinta masa lampauku
Bab 3
Raisa tidak menyangka bapaknya mempermainkan dirinya seperti ini. Uang hasil jualan gorengan pun diambil pula. Mata Raisa berkaca-kaca dan menahan tangisnya itu.
“Kurang ajar! Aku nggak bisa membiarkan bapak semena-mena sama kita, Bu,” seru Raisa sambil berdiri dengan emosi yang meledak-ledak.
Ani mencoba menenangkan putrinya itu. “Kamu yang sabar, Raisa. Tolong maafkan bapakmu itu,” mohon Ani memegang tangan kanan putrinya itu.
Raisa memandang wajah keriput ibunya itu. Ia tidak menyangka ibunya selalu membela bapak yang selalu saja mendzolimi keluarganya itu.
“Gak, Bu. Maaf kali ini kesabaranku sudah habis! Aku akan membuat perhitungan dengan Bapak!” seru Raisa dengan tatapan tajam ke arah ibunya.
“Jangan Raisa,” sahut Ani sambil batuk.
“GAK!”
Raisa melepaskan tangan ibunya dengan kencang dan pergi berlari keluar tanpa menoleh ke belakang. Ani terus memanggil putrinya itu dan tetap saja Raisa tetap bergeming.
“RAISA! RAISA!”
Dengan perasaan marah yang Raisa pendam selama ini, ia sama sekali mengacuhkan ibunya dan kali ini ia tetap dengan keputusannya itu.
‘Ibu, maafkan aku, Bapak harus aku kasih pelajaran kali ini’ batin Raisa sangat sakit itu.
Raisa akhirnya mencari Bapaknya di terminal pulogadung. Peluh keringat dan perut yang keroncongan dirasakan olehnya. Ia pun mengacuhkan semua rasa yang ia alami sekarang ini.
“Raisa.”
Raisa menoleh karena ada yang memanggilnya itu. Terlihat teman bapaknya yang memanggilnya.
“Ada apa Om?”
“Pasti kamu mencari Bapakmu kan?” tebak lelaki yang sama tuanya dengan bapaknya. Om itu bernama Bahri.
Raisa mengangguk pelan dan berkata, “Dimana Bapakku berada, Om?”
“Bapakmu sedang main judi di warung pojok sana,” jawab Bahri dengan tangan menunjuk ke arah warung yang terlihat tertutup itu.
“Tapi warungnya tutup, Om?” jawabnya dengan ragu.
“Terlihat memang tutup, tapi jangan salah, kamu akan kaget,” sahut Bahri.
“Kalau begitu, aku ke sana dulu ya, Om.”
Bahri hanya mengangguk saja. Ia tahu jika pasti akan ada masalah yang akan terjadi jika Raisa melihat kelakuan bapaknya itu.
Langkah kaki Raisa sangat cepat menuju ke warung yang diberitahukan oleh Bahri itu. Perasaan marah sudah membuncah di dalam dadanya itu. Dan akhirnya kakinya pun sekarang berhadapan dengan warung itu, Netranya memperhatikan warung yang terlihat sangat mencurigakan baginya.
“Gue harus masuk ke dalam dan mencari bapak,” ujarnya bermonolog sendiri.
Raisa pun mencoba mencari celah untuk masuk ke dalam warung itu. Tepat di pintu belakang terdengar suara tertawa orang. Raisa tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam dan melabrak bapaknya yang sedang bermain judi itu.
“BAPAK! KEMBALIKAN UANGKU!” teriak Raisa dengan kencang di depan banyak orang di sana. Syamsul yang sangat terkejut dengan kedatangan putrinya pun bingung harus menjawab apa.
“BAPAK SINI UANGKU!” desak Raisa ngotot.
Syamsul pun akhirnya naik pitam.
“Raisa! Percuma duitnya sudah Bapak habiskan,” jawabnya enteng.
Amarah Raisa yang memuncak akhirnya menendang meja.
BRUKK
Syamsul yang melihat kelakuan putrinya yang melawan, akhirnya menampar Raisa dengan kencang.
PLAK
Tamparan keras itu membuat pipi Raisa merah. Air mata pun akhirnya keluar dari mata bulatnya. Anak dan Bapak itu saling bertatapan dengan tatapan yang sangat tajam. Hati Raisa sangat sakit diperlakukan seperti ini.
“Sudah Syamsul, kamu jangan kasar begitu sama anak kamu,” ujar bapak yang hampir seumuran dengan bapaknya.
“Lo gak usah ikut campur! Anak melawan orang tua begini gak usah dibela!” jawabnya kesal.
“Hiks…BAPAK MEMANG JAHAT!” teriak Raisa sambil pergi meninggalkan bapaknya itu.
Raisa terus menangis dan berlari. Hatinya sangat sakit sekali, begitu pula dengan dadanya yang sesak. Tangannya terus memegangi dadanya yang sesak itu.
“Hiks…Hiks….”
Raisa merasa marah dengan takdirnya ini. Ia merasa di kehidupan barunya sama saja, tidak ada kebahagiaan.
“Oh Tuhan, kenapa hidupku seperti ini lagi? Kenapa tidak berikan aku kehidupan yang bahagia? Dulu aku kaya aku juga menderita, kupikir aku miskin sekarang akan bahagia?’” Raisa bermonolog sendiri. Sepanjang jalan ia terus berpikir dengan takdirnya itu.
“Di kehidupan lampau pun, aku bahkan mempunyai bapak yang jahat. Oh Tuhan, berikanlah aku kebahagian, pertemukan aku dengan Logan.”
Deg
Jantung Raisa entah kenapa berdegup dengan kencang tidak karuan. Ia spontan melirik ke samping dan melihat mobil di sampingnya. Terlihat kaca mobil di depan terbuka dan ia melihat seorang pria mirip dengan Logan.
“Logan?”
Raisa mengucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya memang benar. Senyum sumringah langsung tersungging di bibirnya.
“LOGAN!” teriak spontan Raisa.
Tapi sayang sekali, mobil itu melaju kembali dengan kencang. Raisa pun berlari mengejar mobil tersebut.
“LOGAN!”
Mobil itu melaju sangat kencang dan Raisa tidak bisa menyusul mobil tersebut. Ia pun tersungkur di aspal jalanan sambil menangis.
“Hiks…Hiks…Logan ini aku…Kenapa kamu pergi secepat itu?” isaknya menahan sesak di dada.
“OH TUHAN, TOLONG PERTEMUKAN AKU DENGAN LOGAN! MAU ITU BAHAGIA ATAU MENDERITA! AKU INGIN HIDUP SAMPAI AKHIR DENGANNYA!”
DUARR
Langit seperti mendengar jeritannya. Seketika bunyi petir menggelegar di angkasa. Air hujan pun turun sangat deras. Tubuh Raisa basah kuyup oleh derasnya hujan. Ia merasa air hujan sedikit mengobati rasa sakit yang dideritanya. Dengan langkah lemas dan lunglai ia kembali berjalan kaki menuju ke rumahnya. Pikirannya saat ini sangat kacau. Di satu sisi ia memikirkan bagaimana caranya untuk membayar kontrakan dan di sisi lain ia merasa sakit hati dengan sikap bapaknya itu. Akhirnya sampai juga di gang rumahnya itu. Belum juga ia melangkahkan kakinya. Pak RT di daerahnya berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
“Raisa, kemana saja kamu? Kami semua mencari kamu,” tuturnya dengan mimik serius.
“Memangnya ada Pak?” Raisa merasa bingung.
“Ibumu baru saja di bawa ke rumah sakit,” jawabnya.
“Rumah sakit? Memangnya Ibuku kenapa, Pak?” Raisa merasa cemas dan jantungnya kembali berdegup dengan kencang.
“Ibumu pingsan dan tidak sadarkan diri, makanya kami warga di sini memutuskan untuk membawa ke rumah sakit. Mendingan kamu segera kesana? Ini alamat rumah sakitnya,” desak Pak RT sambil memberikan secarik kertas berisi alamat itu.
Raisa menerima kertas itu dan sejenak membaca alamat rumah sakit yang tertera dengan tinta berwarna hitam itu. Ia merasa cemas dan mendadak kepalanya pening.
“Kalau begitu makasih ya Pak, aku ke rumah sakit dulu,” ujarnya dengan sopan.
Pak RT hanya mengangguk pelan dan meninggalkan Raisa sendiri. Tanpa berpikir panjang Raisa segera menuju ke rumah sakit dengan mengendarai ojek. Ia merasa takut akan terjadi apa-apa dengan ibunya itu.
“Mas ngebut dung,” titah Raisa yang merasa motornya terlalu lambat.
“Sabar Mbak, ini kan licin jalanan habis hujan, misal ngebut yang ada nanti motor jatuh atau gimana,” sahutnya dengan bijak.
Raisa mengerti dengan ucapan ojeg itu. Ia berdoa di dalam hati supaya tidak akan terjadi apa-apa dengan ibunya itu.
Bersambung…
Anda Mungkin Juga Suka





