
Suamiku Sepupuku
Bab 3
Laura berusaha memikirkan cara agar bisa lolos dari Gabriel dan secepatnya bisa meninggalkannya, meninggalkan semua tentangnya!
"Kak, Laura haus. Boleh minta air ga?" Tanya Laura yang tiba-tiba mendapat ide untuk mengelabuhi Gabriel.
"Hmm? Air? Kamu ingin air? Aku akan mengambilkannya untukmu. Jangan berniat untuk mencoba kabur dariku, Laura. Atau aku akan mengikatmu," bisik Gabriel dengan nafas hangat yang memburu hingga membuat Laura merinding.
"Tidak, aku tidak akan." Jawab Laura yang panik dan berusaha menghindari tatapan tajam Gabriel.
"Duduk yang tenang di sini, jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali," sahut Gabriel lagi menatap Laura dengan penuh tanya dan curiga.
"Hmm," sahut Laura.
Begitu Gabriel keluar dari kamar dan hendak pergi untuk mengambil air, Laura sengaja mengintip dari pintu kamar yang tidak tertutup dengan rapat itu untuk mengawasi keadaan.
"Sepertinya aman," gumam Laura berjalan jinjit hingga sampai di ruang tamu apartemen dan di saat itu lah Gabriel keluar dengan membawa gelas yang berisi air untuk di berikan pada Laura.
"Sudah ku duga!" Sahut Gabriel tiba-tiba dari belakang Laura hingga membuat Laura terlonjak kaget.dan berbalik.
"Kak ... Kak Briel ... " Gumam Laura takut.
Perlahan Laura berjalan mundur untuk bisa mencapai pintu masuk apartemen Gabriel yang sudah terkunci otomastis.
Gabriel semakin berjalan mendekati Laura dengan seringai tajam bak seorang psyco. Kemudian Gabriel mengguyur tubuh dan pakaian Laura dengan air yang ia bawa.
Byur ...
"Ahh, dingin." Pekik Laura yang kedinginan dan juga ketakutan.
"Jangan mendekat! Aku bilang ... " Teriak Laura sembari menghindari Gabriel yang mulai memojokkannya. Namun ucapannya terhenti saat Gabriel menjambak rambut Laura hingga Laura terjatuh di pelukannya.
"Sudah cukup main-mainnya? Hah? Sudah aku katakan untuk jangan membuatku marah, Laura!" Bentak Gabriel memeluk paksa Tiara dengan sekuat tenaga.
"Dasar gila! Kau benar-benar gila! Lepaskan aku, atau aku akan melaporkanmu ke polisi!" Ancam Laura yang sudah tidak punya pilihan lain.
Tiara sepertinya tidak pernah lelah untuk memberontak!
Gabriel menggendong Laura masuk ke dalam kamarnya dan kemudian mengunci pintu kamarnya dengan menggunakan sidik jarinya. Setelahnya Gabriel mengobrak-abrik laci nakasnya dan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengikat Laura.
Gabriel benar-benar sudah gila! Atau kesurupan?
Gabriel menemukan sebuah dasi hitam yang biasa ia gunakan dan mengikat kedua tangan Laura hingga menyantu dan mengacuhkan suara tangis Laura.
Sejurus kemudian, Gabriel mulai merobek pakaian Laura bagian atas dan membuat bagian dada Laura terekspos secara jelas.
Mata Gabriel seperti mata binatang yang kelaparan saat menatap tubuh indah milik Laura yang saat ini masih berusia 21 tahun itu.
Tanpa banyak bicara, Gabriel melahab benda kenyal dengan toping di bagian puncak itu dengan sangat rakus.
Laura menangis sejadi-jadinya saat Gabriel mulai melanjutkan aksinya. Laura tidak bisa memberontak lagi kedua tangannya sudah terikat.
Gabriel tidak menghiraukan tangisan sendu Laura dan malah melanjutkan aksinya dengan hal yang lebih berbahaya.
Salah satu tangan Gabriel yang nakal mulai menjamah sesuatu yang sangat sensitif dari dalam tubuh Laura. Saat hasratnya sudah berada di puncak, Gabriel membuka pakaian Laura dengan cara merobeknya.
Laura semakin ketakutan tapi bahkan dirinya saat ini sudah mulai lemas dan Laura hanya bisa pasrah saat Gabriel yang sudah melucuti pakaiannya, mulai mengacaukan gua lembab dan lengketnya hanya dengan menggunakan 3 jari kanannya.
"Sabar sayang, ini baru pemanasan ... " Bisik Gabriel yang semakin sensual tepat di telinga Laura.
Laura membungkam mulutnya agar mulutnya tidak mengeluarkan suara aneh dari hasil respon tubuhnya.
"Kak ... Aku mohon ... Lepaskan aku ... " lirih Laura yang sudah mulai terbata-bata.
"Lihatlah sayang, mulutmu mengatakan ingin lepas tapi sayangnya tubuhmu meresponku."
Tanpa basa-basi dan enggan menunggu waktu yang lama, Gabriel mulai mengeluarkan senjatanya yang sudah mengeras dan berdiri tegak dan mencoba membobol hingga menebus gua gelap milik Laura.
Pada hentakkan ketiga, Gabriel benar-benar lolos dan mulai bersemayam tidak lupa membuat jejak di sana.
Air mata yang sedari tadi menetes sudah seperti hujaman air terjun yang deras.
"Ahh ... Sakit ... " Pekik Laura kesakitan dan berusaha memukul Gabriel saat Gabriel memulai temponya.
"Ini hanya sebentar sayang, tahan ya." Balas Gabriel yang kemudian melumat bibir Laura untuk mengurangi rasa sakit di bagian intinya.
Tak ada kata-kata yang bisa Laura katakan saat ini! Laura sudah kotor!
Di tempat lain, semua orang mencari keberadaan Laura yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak seperti di telan bumi. Padahal mereka baru saja meninggalkan Laura di meja beberapa saat lalu.
Siska dan Cinta juga sudah berusaha menghubungi nomor ponsel Laura berkali-kali. Namun Laura meninggalkan tasnya di kursi yang ia duduki sebelumnya.
Frans sang kekasih bayangan Laura juga tak kalah paniknya, Frans mengajak beberapa temannya untuk mencari Laura di sekitar Caffe berharap mereka dapat menemukannya.
"Laura! Laura! Kamu dimana!" Teriak mereka berjalan menyusuri sekitar Caffe.
"Sis, gimana nih kalo Om Rafa sama Tante Nayla nanyain kita? Bisa bahaya! Apa yang harus kita jawab?" Panik Cinta yang berjalan mondar-mandir.
"Aku juga bingung banget ini. Matilah kita kalau Laura benar-benar diculik," sahut Siska mengusap kasar wajahnya.
Seharusnya Caffe sudah tutup pada jam 12 malam ini, namun karena harus mencari Laura yang juga hilang dari dalam Caffe, para pegawai juga harus ikut turun tangan langsung mencari Laura.
Tidak hanya mereka, bahkan Nayla sang Tante juga tak kalah gelisah karena Laura juga belum pulang ke rumah. Padahal Laura mengatakan kalau mereka selesai pesta sebelum jam 12 malam.
Tapi saat ini bahkan sudah lebih dari jam 12 malam. Nayla menghubungi nomor ponsel Laura berkali-kali, namun Laura juga tidak bisa menjawabnya karena saat ini dirinya sedang berada dalam rumah tahanan Gabriel dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Laura tak henti-hentinya menangis bahkan saat Gabriel sudah menyelesaikannya pertempurannya.
Ini seperti mimpi buruk bagi Laura! Mimpi yang benar-benar nyata dan benar-benar menyakitkan.
Nayla terus merengek kepada Rafa agar mereka menyusul Laura ke tempat party Laura dan teman-temannya.
Rafa juga sudah mengirimkan beberapa orangnya untuk mencari dan menyelidiki Laura
"Sabar sayang, coba tenangkan dirimu. Kita tunggu sebentar lagi, kalau belum ada kabar juga kita terpaksa melapor orang hilang pada polisi," ujar Rafa menenangkan istrinya yang sedang panik itu.
"Mau sabar gimana lagi coba? Ini uda larut malam, tapi Laura bahkan tidak bisa di hubungi. Mana nomor teman-temannya juga gak ada. Aku takut kalau terjadi sesuatu pada Laura. Firasatku sangat tidak enak terhadap Laura." ujar Nayla menahan tangis.
"Sayang, aku yakin kok kalau Laura gak akan kenapa-kenapa. Dia perempuan tangguh, dia juga pintar. Dia pasti bisa menjaga diri," sahut Rafa lagi
Anda Mungkin Juga Suka





