Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMIKU SAINGANKU

SUAMIKU SAINGANKU

Hidup Rila berubah total setelah dijodohkan dengan Arga, Ketua OSIS dingin yang selama ini menjadi rival terberatnya di sekolah. Di balik paras tampannya, Arga menyimpan kebencian misterius terhadap Rila. Kini, Rila harus tinggal satu atap dengan pria yang selalu ingin mengalahkannya. Di sela persaingan akademik dan rahasia masa lalu, mampukah Rila bertahan? Akankah permusuhan mereka perlahan mencair menjadi cinta yang manis di tengah konflik yang ada?
Bab
Bagikan

Bab 3

Saat bel pertama berbunyi, aku baru saja melangkah memasuki gerbang sekolah. Aku segera berlari menuju ruang kelas dan melihat Arga berdiri di depan pintu, dengan ekspresi yang sama cemasnya. Kami saling bertatapan, seolah tidak percaya bahwa kami terlambat untuk pertama kalinya.

"Kita tidak terlambat, kan?" tanyaku, berusaha mengurangi rasa malu.

"Menurutmu?" jawab Arga sambil menatap jam tangannya dengan serius. "Sepertinya kita kena hukuman."

"Ah, aku tidak pernah terlambat seperti ini," keluhku dengan kesal.

"Ya, semua gara-gara kamu," jawab Arga, nada suaranya penuh ketegangan. "Kalau saja kamu tidak menghabiskan waktu terlalu lama di kamar mandi, kita tidak akan terlambat."

Aku menatapnya dengan tak percaya. "Aku? Lagipula, kamu juga tidak memberikan penjelasan tentang berapa lama kamu akan berada di kamar mandi."

Arga menghela napas, wajahnya menunjukkan frustrasi. "Aku juga tidak tahu kamu akan berganti pakaian sebanyak itu. Ada cara lebih cepat untuk siap pergi, kamu tahu."

Pintu kelas tertutup rapat, dan saat kami berdiri di luar, kami berdua merasa canggung. Kami berdua berdiri di sana, saling menatap dengan marah. Tidak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya Pak Arif, guru kami, keluar dari kelas dan melihat kami dengan tatapan tegas.

"Kalian berdua, ikuti saya ke lapangan. Keterlambatan kalian akan dihukum dengan latihan fisik."

Kami berdua terdiam sejenak, melihat Pak Arif meninggalkan kelas menuju lapangan. "Bagus sekali, kita berdua dapat hukuman," ucapku dengan nada sinis.

"Yah, setidaknya kita mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan masalah kita," jawab Arga, suara dan wajahnya menunjukkan keteguhan.

Di lapangan, kami berdua melakukan latihan fisik di bawah pengawasan Pak Arif. Saat berlari dan melakukan berbagai gerakan, ketegangan di antara kami mulai mereda. Arga, meski dengan sikap dingin, tidak bisa menghindari untuk membantu ketika aku terlihat lelah.

"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kita hanya perlu bertahan sedikit lagi," katanya dengan nada yang lebih lembut.

Aku meliriknya, merasakan campuran antara kemarahan dan rasa terima kasih. "Kamu juga tidak perlu terus-menerus menyalahkanku. Kita semua berperan dalam keterlambatan ini."

Saat kami berlari di lapangan, aku mulai merasa pusing dan tubuhku semakin lemas. Latihan fisik pagi ini sangat melelahkan, dan aku berusaha keras untuk tetap berdiri. Tiba-tiba, sebuah bola basket meluncur ke arahku dengan cepat.

"Rila, hati-hati!" teriak Arga, tetapi semuanya terasa lambat seakan waktu berjalan sangat pelan.

Aku berusaha menghindari bola, tetapi rasa pusing yang semakin parah membuatku tidak bisa bergerak dengan cepat. Bola itu mengenai tubuhku, dan tanpa bisa menahan tubuh yang sudah lemah, aku akhirnya tumbang ke tanah.

"Rila!" teriak Arga, melompat ke arahku dengan panik. Dia segera membantuku berdiri sambil mencari bantuan.

Karena tubuhku sudah begitu lemah, aku tak bisa lagi menahan keseimbanganku. Dunia terasa berputar, dan pandanganku semakin kabur sampai akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri.

Saat aku membuka mata, langit-langit ruang UKS yang kusam menjadi pemandangan pertama yang kulihat. Kepalaku terasa sedikit berat, tapi yang lebih mengejutkan adalah sosok pria berseragam basket yang duduk di sebelahku. Dia terlihat lelah, bahkan tertidur dengan kepala bersandar di tepi tempat tidur. 

"Eh, lo udah sadar?" Dia langsung duduk tegak, suaranya agak serak. "Sorry ya, tadi gue nggak sengaja kenain bola ke kepala lo. Lo baik-baik aja kan?"

Aku berusaha duduk, meski sedikit oleng. "Aku nggak apa-apa," jawabku pelan.

Dia menatapku lebih dekat, terlihat jelas kekhawatiran di matanya. "Lo tadi katanya lemah karena belum makan, ya? Gue beliin makanan buat lo, sekalian tanda minta maaf. Lo makan ya?" Dia mengeluarkan bungkusan makanan dari dalam tasnya.

"Duh, kok jadi ngerepotin kamu, Kak." Aku menunduk, merasa malu dan canggung.

Tapi dia malah mengangkat daguku dengan lembut, membuat mataku bertemu dengan tatapannya. "Santai aja. Ini semua salah gue kok," katanya sambil tersenyum. "Ayo, makan!"

Dia menyodorkan sendok, ingin menyuapiku. Namun bukannya segera makan, aku malah terpaku, menatap wajahnya lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu di balik perhatian yang dia tunjukkan, sesuatu yang membuat jantungku berdebar kencang.

Elang... kenapa dia begitu perhatian padaku? Apa dia melakukan hal ini ke semua perempuan? Atau cuma aku?

"Hey, ayo makan!" tegurnya, mengembalikan pikiranku ke realita.

"Ah, iya." Aku langsung berusaha mengalihkan pandangan, mencoba menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.

Tiba-tiba bel sekolah berbunyi, memecah keheningan di antara kami dan menghapus sisa-sisa momen yang terasa hampir sempurna. Padahal, di dalam hatiku, aku masih ingin menikmati kebersamaan ini lebih lama.

"Kak, udah bel. Kamu enggak masuk kelas?" tanyaku, menghentikan sendokan makanan yang baru saja dia siapkan untukku.

Dia ragu sejenak. "Lo beneran nggak apa-apa gue tinggal sendirian?"

Aku mengangguk pelan. "Aku udah baik-baik aja kok."

"Tapi lo makan ya. Gue harus masuk kelas sekarang." Dia berdiri, merapikan seragamnya.

Sebelum dia pergi, tanpa sadar aku meraih tangannya. "Kak... terima kasih, ya. Udah nolongin aku lagi," ucapku tulus, sedikit menahan rasa canggung di balik kata-kata itu.

Elang tersenyum kecil, lalu mengusap kepalaku lembut. "Gue pergi dulu, ya. Jaga diri lo baik-baik." Dia berlalu, meninggalkan jejak perhatian yang entah kenapa terasa lebih mendalam dari sekadar permintaan maaf.

Aku hanya bisa menatapnya pergi, perasaan campur aduk yang bergejolak di dalam hatiku. Antara rasa syukur, bingung, dan sesuatu yang lain, yang perlahan mulai tumbuh.

"Mau diliatin sampai kapan?" suara Arga yang datar tiba-tiba terdengar, membuatku terkejut.

Dia menyingkap tirai di samping tempat tidur UKS, muncul begitu saja tanpa ekspresi. Tatapannya dingin seperti biasa, tapi kali ini ada sesuatu yang sulit kujelaskan. Entah perhatian atau sekadar rasa penasaran.

"Arga?" tanyaku pelan, masih bingung. "Ngapain di sini?"

Dia hanya berdiri bersandar di dinding, menatapku dengan pandangan tajam tapi tenang. "Liatin aja, ternyata yang katanya nggak pernah kalah malah pingsan di lapangan."

Aku menahan diri untuk tidak memutar mata. "Aku cuma pusing, bukan lemah."

"Terlihat beda," jawabnya singkat, tanpa sedikitpun menunjukkan kekhawatiran yang mungkin tersirat. Dia seperti biasa, tidak terlalu peduli dengan apapun kecuali dirinya sendiri.

Aku mencoba duduk tegak, tapi rasa pusing masih sedikit tersisa. "Ngapain sih? Nggak ada kerjaan lain selain ngurusin hidup orang?"

Dia diam sebentar, lalu berjalan mendekat. "Gue cuma pengen tahu, udah nggak ada masalah lagi, kan?" tanyanya dingin, seolah itu cuma formalitas.

"Iya, gue baik-baik aja," balasku, menunduk sedikit, merasa kesal karena nada suaranya yang seolah tidak peduli.

Arga berdiri di sana, masih dengan wajah datar. Dia tidak bicara apa-apa lagi, hanya menatapku sejenak, lalu berbalik hendak pergi.

"Arga," panggilku, membuatnya berhenti. "Makasih."

Dia tidak menoleh, hanya memberikan anggukan kecil sebelum meninggalkan ruangan, membiarkan keheningan kembali menyelimuti.

Itulah Arga, pria yang selalu menjaga jarak, meski pada saat-saat seperti ini. Aku bisa merasakan, mungkin, hanya mungkin, dia sedikit peduli kali ini.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Buku Harian Seorang Pengacara Muda
8.3
Edward Cicero adalah pemuda ambisius yang sedang menempuh pendidikan demi menjadi pengacara profesional. Namun, langkahnya di sekolah hukum langsung diuji saat ia harus menangani kasus perdana melawan perusahaan asuransi raksasa. Edward kini terjebak dalam dilema moral yang berbahaya. Ia wajib memenangkan gugatan itu dengan segala cara, termasuk menempuh jalur kriminal, atau ia akan menghadapi konsekuensi pahit berupa pengusiran dari kampusnya.
Sampul Novel DARK LOVE
8.2
Aluna tumbuh besar di keluarga Dewantara bersama Albert setelah ditinggal orang tuanya. Ikatan persaudaraan mereka berubah menjadi cinta terlarang yang membuat Albert pergi menghilang. Saat Aluna mulai menata hidup dan berencana menikah dengan Mark yang penuh kelembutan, Albert tiba-tiba kembali. Ia membawa penjelasan masa lalu sekaligus rahasia mengejutkan mengenai sosok Mark. Kini, Aluna terjebak dalam dilema antara masa lalu dan masa depannya.
Sampul Novel Dia Mengendalikan Dunia
9.3
Grace, miliarder yang lama disembunyikan pemerintah, akhirnya menemukan kasih sayang di keluarga Holden. Meski dituduh penipu, identitas aslinya sebagai profesor jenius, bos perusahaan besar, dan peretas andal perlahan terungkap. Di tengah kesuksesannya yang mengguncang dunia, Colton sang taipan misterius datang menagih komitmen masa depan. Dengan tawaran pulau mewah untuk setiap keturunan, Colton bertekad mengikat Grace dalam romansa yang tak terelakkan.
Sampul Novel GAIRAH LIAR IBU TIRIKU
9.7
Meghan Crafson adalah mantan model dewasa yang tetap menawan di usia kepala tiga. Meski hidup bergelimang harta setelah menikahi miliarder New York, ia merasa hampa karena suaminya yang jauh lebih tua tak mampu memuaskannya. Situasi berubah saat Hardin, putra tiri yang tampan dan atletis, datang ke rumah mereka. Terpikat pesona Hardin, Meghan mulai melancarkan godaan terlarang. Hardin pun terjebak dalam dilema antara moralitas dan gairah liar yang ditawarkan sang ibu tiri.
Sampul Novel My Moonlight
9.8
Cassiopeia Arsy dikenal sebagai Devil Girl karena gaya Baratnya yang angkuh dan provokatif. Di sekolah baru, ia justru terpikat pada Zein Damar Priyambada, ketua OSIS dingin yang ditakuti semua orang meski pertemuan awal mereka sangat buruk. Di balik ketegangan itu, keduanya ternyata menyimpan trauma masa lalu yang kelam. Melalui perjalanan panjang penuh emosi, mampukah mereka saling menyembuhkan luka lama dan menghadapi rahasia yang mulai terungkap?
Sampul Novel Pemuas Birahi Setengah Baya
9.5
Anisa terjebak dalam pusaran gairah yang tak terduga saat ia mengenal dunia para pria matang. Di balik usia mereka, tersimpan pengalaman dan maskulinitas liar yang membangkitkan sensasi baru bagi Anisa. Melalui setiap sentuhan dan godaan penuh misteri, ia menemukan sisi lain dari nafsu yang lebih mendalam. Terpesona oleh stamina dan daya pikat pria setengah baya, Anisa pun menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk menjadi pemuas birahi dalam hubungan yang panas ini.