
Suamiku Pergi Saat Aku Hamil
Bab 3
Hari-hari setelah pertemuan dengan pria misterius itu berlalu dengan cepat, namun tidak ada yang terasa seperti sebelumnya. Layla Qin yang dulunya hanya seorang wanita biasa, terjebak dalam lingkaran takdir yang tak bisa ia hindari. Kini, ia tahu bahwa suaminya, Ronan Zhao, bukanlah pria yang seperti ia kira. Ada lapisan rahasia yang jauh lebih dalam dari sekadar takdir buruk yang dipaksakan oleh keluarganya.
Namun, meskipun rahasia tentang keluarganya terbuka sedikit demi sedikit, hidup Layla tetap harus berjalan. Rumah mereka masih dalam keadaan miskin, dan keahliannya dalam bidang medis menjadi satu-satunya harapan yang ia miliki. Tapi semakin ia menggali lebih dalam tentang Ronan, semakin ia merasa terjebak dalam jaringan kekuatan yang lebih besar daripada yang bisa ia atasi.
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Layla memutuskan untuk mengunjungi rumah keluarga Zhao. Di dalam hatinya, ada dorongan yang kuat untuk mengetahui lebih banyak, bahkan jika itu berarti ia harus menghadapi kenyataan yang lebih gelap. Rumah itu, meskipun tampak biasa dari luar, menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap.
Saat ia tiba di rumah keluarga Zhao, seorang pelayan tua yang mengenali Layla dengan jelas menuntunnya ke ruang tamu besar, tempat yang penuh dengan lukisan-lukisan dan furnitur mewah. Udara di ruangan itu terasa berat, penuh dengan tekanan yang tak terlihat. Layla merasa tenggelam dalam atmosfer yang berbeda, seakan ada mata-mata yang mengawasinya setiap saat.
Di tengah ruangan yang tampak mewah itu, seorang wanita tua duduk dengan anggun di kursi panjang. Nyonya Zhao, ibu Ronan, memandang Layla dengan mata tajam yang penuh perhitungan. Wajahnya tampak dingin, namun ada sesuatu dalam pandangan itu yang membuat Layla merasa cemas.
"Layla Qin," suara Nyonya Zhao terdengar rendah dan tajam. "Apa yang membuatmu datang ke sini? Bukankah kau tahu, keluarga kami bukan tempat yang layak bagi seseorang sepertimu?"
Layla menelan ludah, meskipun ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kata-kata yang tajam dari wanita itu. "Saya hanya ingin tahu lebih banyak tentang Ronan, Nyonya. Saya merasa ada banyak hal yang saya tidak mengerti tentang dia."
Nyonya Zhao tertawa pelan, namun tawanya tidak membawa kebahagiaan. "Ronan... Ronan adalah anak yang selalu membuat masalah. Tapi kau tidak perlu khawatir, Layla. Dia hanya bagian kecil dari gambaran besar. Dan jika kau terus mencari tahu tentang keluargaku, kau akan belajar bahwa kadang-kadang lebih baik untuk tidak tahu apa yang terjadi di balik tirai."
Setiap kata yang diucapkan wanita tua itu semakin menambah kecemasan dalam hati Layla. "Apa maksud Nyonya?" tanyanya, mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya berdebar.
Nyonya Zhao memandangnya lama, seolah menilai apakah Layla pantas mendengarkan kebenaran yang begitu gelap. "Kau tidak tahu, Layla. Keluarga kami memiliki sejarah yang sangat panjang dan penuh dengan darah. Kekuasaan kami bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. Dan Ronan-dia hanyalah salah satu dari banyak pion dalam permainan yang lebih besar. Sebelum kau terjebak lebih dalam, aku ingin memperingatkanmu. Dunia ini bukan tempat yang baik untuk orang seperti kau."
Layla merasa seakan nafasnya terhenti. Apa yang ia dengar? Dunia yang lebih besar? Permainan darah? Semua yang ia pikir ia ketahui tentang Ronan dan keluarganya, seakan runtuh begitu saja. Ia tidak tahu apakah peringatan itu datang dari rasa takut atau dari keinginan untuk menjaga rahasia mereka tetap tersembunyi, tetapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa mundur sekarang.
"Tapi, saya ingin tahu lebih banyak. Saya berhak tahu," jawab Layla dengan suara yang tegas, meskipun hatinya dipenuhi kebingungannya sendiri. Ia tidak akan mundur hanya karena ancaman. Setiap kata yang diucapkannya adalah perlawanan terhadap ketidakpastian yang selama ini membelenggunya.
Nyonya Zhao terdiam beberapa saat, seolah berpikir keras. Kemudian, dengan senyum tipis yang tidak bisa diartikan, ia berkata, "Jika kau ingin tahu lebih banyak, Layla, maka kau harus bersiap. Tidak ada yang gratis di dunia ini, terutama kekuasaan. Jika kau ingin tahu lebih jauh tentang Ronan, tentang keluarganya, maka kau harus siap menerima konsekuensinya."
Layla merasa tubuhnya dipenuhi ketegangan yang luar biasa. Ia sudah membuat keputusan untuk melangkah lebih jauh, tetapi semakin ia menggali, semakin ia merasa terjebak dalam permainan yang tidak bisa ia kendalikan. Dunia ini, dunia yang penuh dengan kekuasaan, pengkhianatan, dan rahasia, seolah berputar begitu cepat di sekitarnya.
Setelah pertemuan itu, Layla kembali ke rumah mereka dengan perasaan yang semakin tertekan. Ada banyak hal yang tidak bisa ia pahami, dan ada banyak hal yang harus ia ketahui. Tapi saat ia kembali, langkahnya terhenti di depan pintu. Di sana, di ambang pintu, seorang lelaki berdiri, mengenakan masker hitam yang menutupi wajahnya.
"Layla Qin," suara lelaki itu terdengar penuh tekanan. "Aku datang untuk memberi tahu kamu satu hal: Ronan bukan hanya hilang. Dia telah dipilih untuk sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang tak bisa kamu bayangkan. Dan jika kau ingin hidup, kau harus berhenti menggali kebenaran yang tak seharusnya kamu ketahui."
Layla hanya bisa menatap lelaki itu dengan rasa takut yang mendalam. Dunia yang selama ini ia coba pahami, sekarang terasa seperti sebuah labirin tak berujung. Seperti layaknya seorang pemain catur yang terjebak dalam langkah-langkah musuhnya, Layla tahu satu hal: jika ia ingin selamat, ia harus bermain dengan aturan yang ditetapkan oleh mereka yang lebih kuat darinya.
Namun, sebelum Layla bisa bertanya lebih lanjut, lelaki itu menghilang begitu saja, meninggalkan Layla dengan rasa takut yang tak bisa ia bendung. Di dalam hatinya, ia tahu: kebenaran yang ingin ia cari mungkin justru akan menghancurkannya.
Anda Mungkin Juga Suka





