
Suamiku Guy, Lelaki Sombong!
Bab 2
Deru mesin mobil Sela akhirnya mereda saat ia memarkirkan kendaraannya di lahan parkir kampus. Universitas Jakarta Raya. Di balik kemudi, Sela menghela napas panjang, mencoba menenangkan badai emosi yang masih bergemuruh di dadanya. Wajahnya yang cantik masih dihiasi rona merah akibat amarah yang tak kunjung surut. Ia melihat pantulan dirinya di spion, mata yang tajam dan rahang yang mengeras. Ia menggelengkan kepala, mencoba melupakan insiden tabrakan konyol dengan laki-laki sok datar itu.
"Sela! Lo kenapa, sih? Mukanya ditekuk gitu kayak baju belum disetrika," suara yang familier menyapa dari luar mobilnya.
Sela menoleh. Dua sahabatnya, Rina dan Tio, sudah berdiri di samping mobilnya, dengan wajah penuh tanya. Rina, gadis tomboy berambut pendek yang selalu mengenakan jaket kulit, dan Tio, pria berambut gondrong dengan kemeja flanel kebanggaannya. Mereka berdua adalah teman seperjuangan Sela dalam segala aksi "bar-bar" mereka, mulai dari balapan liar hingga perkelahian kecil di pinggir jalan.
"Nggak apa-apa," jawab Sela singkat, turun dari mobil dan mengunci pintunya dengan kasar.
"Nggak apa-apa gimana? Muka lo kayak lagi nahan boker," Tio menyahut, tangannya menyentuh bahu Sela, mencoba mencairkan suasana.
Sela menepis tangan Tio. "Gue cuma lagi sebel aja."
"Sebel kenapa? Soal motor lo yang disita bokap lo? Udah, Sel. Nanti juga dikasih lagi," Rina mencoba menenangkan.
Sela menatap Rina dan Tio bergantian. Ia tahu, ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari mereka berdua. Mereka adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya. Ia pun akhirnya menyerah, dan mulai bercerita dengan nada penuh kekesalan.
"Gue tadi nabrak mobil," Sela memulai.
"Wih, balapan lagi lo? Lawan siapa? Masih pagi gini," Tio berseru antusias.
"Bukan! Bukan balapan! Gue lagi kesel, terus nggak sengaja nabrak mobil. Mobilnya mahal, sumpah! Terus yang punya mobilnya nyebelin banget. Sok-sokan minta ganti rugi, padahal cuma lecet dikit doang. Gue tarik kerahnya, gue ancem-ancem, tapi dia nggak takut sama sekali! Datar banget mukanya. Pengen gue tonjok aja rasanya!" cerita Sela, emosinya kembali meluap.
Rina dan Tio saling berpandangan, menahan tawa. Mereka tahu persis bagaimana temperamen Sela. Jika Sela sudah marah, tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Cewek bar-bar ketemu cowok bar-bar juga, nih!" Tio tertawa terbahak-bahak.
"Bukan bar-bar! Dia itu sok banget! Dia bilang 'saya kamu' sama gue, Tio. Gue kan males banget denger orang ngomong kayak gitu! Terus dia bilang cara gue nggak sopan. Ya ampun, sumpah gue pengen banget ketemu dia lagi dan tonjok mukanya!" Sela menggerutu.
"Udahlah, Sel. Lupain aja. Kayaknya lo butuh denger gosip deh biar mood lo balik," Rina menyela, menghentikan ocehan Sela. "Eh, lo tau nggak? Katanya, hari ini ada dosen baru, lho."
Sela menaikkan alisnya. "Dosen baru? Siapa?"
"Nggak tahu. Gosipnya sih, dia ganteng. Terus masih single," Tio menimpali dengan senyum menggoda.
Sela mendengus. "Gue nggak peduli. Mau ganteng kek, mau single kek, kalau cara ngajarnya ngebosenin, gue juga ogah dengerin."
"Ih, jangan gitu, Sel! Kali aja dia kayak oppa-oppa Korea yang bikin mata kita seger," Rina bersemangat.
Mereka bertiga berjalan menuju gedung perkuliahan, menaiki tangga, dan masuk ke dalam kelas. Kelas sudah cukup ramai. Mereka mencari tempat duduk di barisan belakang, tempat favorit mereka. Tio dan Rina sibuk mengobrol tentang gosip dosen baru, sementara Sela mengeluarkan buku catatan dan pena, berpura-pura membaca. Namun, pikirannya masih melayang pada insiden pagi tadi. Ia tidak bisa melupakan wajah datar laki-laki itu. Sela merasa sangat terganggu dengan fakta bahwa laki-laki itu tidak sedikit pun gentar saat ia menarik kerahnya.
"Awas aja lo kalau gue ketemu lagi," gumamnya pelan.
Tidak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang pria tinggi semampai, dengan kemeja berwarna biru muda yang digulung sampai siku, celana kain, dan sepatu pantofel hitam yang mengilat, masuk ke dalam. Seketika, suasana kelas menjadi sunyi. Semua mata, terutama mata mahasiswi, tertuju padanya. Sela mendongak, matanya melebar. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia tidak salah lihat. Sosok di depan kelas itu adalah laki-laki yang ia tabrak pagi tadi. Laki-laki dengan wajah datar yang berhasil membuatnya naik pitam.
Laki-laki itu berjalan menuju meja dosen di depan, lalu ia berdiri di sana. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, dan pandangannya berhenti saat matanya bertemu dengan mata Sela. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya. Senyum yang membuat bulu kuduk Sela berdiri.
Sela menundukkan kepalanya, mencoba bersembunyi. "Mampus gue," bisiknya pelan. Tio dan Rina menyenggol lengannya. "Itu dosen barunya, Sel! Ganteng, kan? Astaga, melting gue." Sela hanya bisa menghela napas pasrah. Ini bukan melting, ini mampus.
"Selamat pagi, semuanya," suara bariton itu terdengar di seluruh ruangan. Suaranya tenang, namun memiliki nada otoritas yang tidak bisa disangkal. "Perkenalkan, nama saya Arga. Saya dosen baru untuk mata kuliah Ilmu Komunikasi."
Nama itu, Arga, terasa asing di telinga Sela, tetapi wajahnya tidak. Ia ingin sekali keluar dari kelas ini, kabur, dan pura-pura tidak pernah bertemu dengan Arga. Namun, ia tahu, itu tidak mungkin.
Arga melanjutkan perkenalannya. "Saya harap, kita bisa bekerja sama dengan baik. Saya suka suasana kelas yang aktif, jadi jangan ragu untuk bertanya. Namun, saya juga tidak suka ada mahasiswa yang tidak serius. Saya harap kalian bisa menjaga sikap saat berada di kelas saya." Ia menekan kata "sikap" dengan nada yang dingin.
Sela merasakan tatapan Arga tertuju padanya. Ia mencoba membalas tatapan itu, namun Arga terlalu cepat. Ia kembali menyapu pandangannya ke sekeliling kelas, dan akhirnya pandangannya kembali tertuju pada Sela. Senyum licik kembali terukir di bibirnya.
"Sebelum kita mulai, saya ingin tahu, siapa ketua kelas di sini?" tanya Arga.
Sela merasakan dorongan dari Tio. "Lo kan ketua kelas, Sel. Angkat tangan sana."
Dengan malas, Sela mengangkat tangannya. Arga tersenyum, senyum yang kali ini lebih lebar. Sela merasa senyum itu seperti senyum singa yang menemukan mangsanya.
"Baik. Ketua kelas, nanti setelah jam kuliah saya selesai, tolong temui saya di ruangan saya. Saya ingin memberikan tugas untuk kelas ini," Arga berbicara, namun tatapannya masih tertuju pada Sela.
Sela menurunkan tangannya dengan kasar. Ia tidak terima. Ia ingin protes. Ia merasa Arga sengaja melakukan ini untuk membalas dendam padanya. Sela berdiri dari duduknya, membuat semua orang di kelas menoleh padanya.
"Kenapa harus saya, Pak?" tanya Sela dengan nada menantang.
Arga menatap Sela, ekspresinya kembali datar. Mata hitamnya yang tajam menembus pandangan Sela. "Karena Anda ketua kelas. Ada masalah?" jawab Arga dengan nada dingin dan penuh otoritas.
"Tapi kan, Pak... Bapak bisa kasih tugasnya ke yang lain," Sela mencoba berargumen.
"Saya sudah bilang, saya tidak suka ada mahasiswa yang tidak serius," Arga menekan kata "tidak serius" sambil menatap Sela. "Duduk, atau Anda akan saya berikan tugas tambahan."
Sela merasa seolah-olah ia baru saja ditampar. Ia ingin sekali melontarkan kata-kata pedas, namun ia tahu ia tidak bisa. Sela adalah Sela, gadis bar-bar yang tidak pernah takut. Tetapi, di depan Arga, ia merasa ciut. Aura dingin Arga terlalu kuat untuk dilawan. Dengan kesal, Sela kembali duduk di kursinya.
"Mampus gue," bisik Sela pada Tio dan Rina. "Ini dosen nggak cuma ganteng, tapi juga killer. Sumpah, gue benci sama dia."
Tio dan Rina hanya bisa tertawa tertahan. Mereka tahu, ini adalah awal dari pertarungan epik antara Sela yang bar-bar, dan Arga, dosen killer yang tidak kalah bar-bar. Mereka tidak tahu, bahwa pertarungan ini akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengubah hidup Sela.
Anda Mungkin Juga Suka





