Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Duda Muda

Suamiku Duda Muda

Lisa terkejut saat dipaksa orang tuanya menikah dengan Gionino, seorang duda muda yang baru bercerai. Demi menyelamatkan bisnis ayahnya yang diambang kehancuran, Lisa terpaksa menjadi istri kedua akibat kesepakatan keluarga. Ia mempertanyakan alasan di balik perjodohan ini dan merasa skeptis terhadap sifat asli Gio yang diceraikan mantan istrinya. Mampukah Lisa menjalani rumah tangga penuh paksaan ini sambil mengungkap rahasia kelam di balik status duda suaminya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kenapa ke sini?" terkejut karena Gio menurunkannya di depan rumah makan seafood tempo dulu, tempat di mana mereka pertama kali bertemu. "Gi, kamu-" ah, pasti dia marah, dia akan meluapkan ketidaksukaannya di sini, masalah bertemu dan kumpul dengan teman-teman kantor meskipun di sana ada Renata, dia tidak mau makan masakan rumah malam ini, dia akan makan di luar, itu artinya Lisa harus memasak besok malam, dia Lisa juga tak bisa ke luar rumah sepulang kerja. "Gi, tunggu sayang!" kalau sudah memanggilnya begini, Lisa berada pada posisi merayu, masa bodoh sudah mendengar kata cinta suaminya atau belum, yang penting merayu. "Sayang, tunggu!"

Lihat, Gio berhenti tepat di pintu masuk, hanya sisa dua langkah saja, kalau marah dan tidak suka akan selalu meninggalkan Lisa berjalan seorang diri, itulah Gio, pemuda yang menjadi duda kesayangan Lisa, biar saja.

"Apa?" tanyanya menelisik sebal.

Lisa raih dan genggam tangannya, "Iya, aku besok tidak akan ke luar rumah, aku pulang bersamamu dan tidak akan kumpul dengan teman-teman."

"Kamu pikir aku ke sini karena itu?" lah, terus apa. Lisa bingung dibuatnya. "Aku mau makan menu itu, menu yang kamu sukai, malas makan di rumah, besok aku mau beli ayam, tidak, aku pesan ayam siap panggang ke temanku, kamu buat bumbunya!" memicing, tapi langsung berpaling takut Lisa tahu dia sedang mencari alasan-alasan saja. "Masuk!"

"Iya, ini masuk."

Panggilan sayang itu sebenarnya menebar benih merona pada diri Gio, dia suka kalau Lisa mulai merayunya begitu, itu artinya dia menang atas diri Lisa. Kalau tidak begini, tentu Lisa tidak akan menyebutnya begitu, dia merasa istimewa malam ini.

Buku menu terbuka lebar di depan Lisa, sengaja Gio begitu karena tahu itulah kesukaan Lisa, wanita itu tidak suka dipandu soal menu makanan, dia akan memilih sendiri dan mengoceh lengkap pesanannya yang aneh terkadang pada pelayan di sana.

Gio masih ingat saat pertama kali bertemu Lisa, jujur dia tak suka awalnya, melihat foto Lisa saja dia muak karena hampir mirip mantan istrinya, tapi begitu dia bertemu langsung, Lisa jauh berbeda, dia adalah wanita yang merdeka, dewasa dan obyektif dalam segala hal, ditambah lagi dia pandai menutupi kekesalan yang dirasakan demi perasaan orang di sekitarnya, lalu mencari waktu untuk membahasnya.

Buku menu sudah penuh dengan tulisannya, dia tahu apa yang Gio suka di sini, menu makanan yang menyusahkan tangannya.

Kepiting asam manis, menyebalkan kalau Gio memakan itu dan Lisa yang harus mengupas cangkang kepiting seperti ibu pada anak-anaknya.

"Ica," panggilnya.

"Iya, aku mau ke toilet, tunggu ya!"

"Jangan lama-lama, kalau sakit perut ditunda dulu!"

"Ahahahahah, iya-iya, aku tahu kepitingmu, kan?" lihat, suaminya itu tersenyum sambil manggut-manggut.

Hampir satu tahun bersama Gio membuat Lisa mulai mengingat banyak hal yang suaminya suka dan tidak suka, ekspresinya sudah bisa ditebak maunya apa, tanpa Gio banyak bicara saja Lisa dipastikan mengerti dengan baik.

Mau lima menit dan Lisa belum kembali, Gio berdiri tepat saat pesanan itu diantarkan.

"Letakkan saja, aku mau mencari istriku, kau melihatnya? Dia tadi ke kamar mandi."

Glek,

Pelayan itu tahu logo perusahaan besar ada di ikat dasi Gio, bisa mampus dia kalau memberikan pelayanan buruk, perusahaan itu bekerja sama dengan rumah makan ini.

"Malam, Pak. itu-" aku bilang apa. "Mungkin istri Anda sedang dalam antrian."

"Apa, antrian? Berapa toilet di sini?" sudah marah, menatap tajam pelayan itu, entah kenapa, tapi bukan sekali Gio begini, di rumah orang tuanya bahkan berlaku sama kalau sekelebat saja bayang Lisa tak dia lihat, dia punya ketakutan dan kecemasan yang sulit dikendalikan.

"Pak, itu-" aku jawab apa, ya Tuhan. "Itu istrinya!" mau berteriak menjawab, untung, dia usap dadanya lega.

Lisa berjalan mendekat, dia melihat beberapa menu sudah ada di meja.

"Kenapa?" bertanya pada suaminya yang kembali duduk, Lisa melihat pelayan yang gemetaran itu sejenak. "Terima kasih banyak ya, Kak." baru pelayan itu bisa bergerak menjauh. Lisa ditarik duduk ke samping Gio, tidak mau berhadapan, takut ketahuan sisi cemasnya, tapi Lisa paham, dia berpikir dan mencoba menghubungkan kalau ini dampak dari perpisahannya kala itu. "Cuminya duluan ya, kamu belum berarti, aku tunggu saja, kita makan bersama."

"Ica."

"Iya?" menoleh, tahu ekspresi itu, belum lagi bibirnya yang berkedut. "Hem?" mendekatkan kepala ke bahu Gio, bersandar di sana, satu tangan menggenggam yang gemetaran dan hampir terkepal. "Ka-"

"Jangan pergi lebih dari lima menit!" kan, mulai lagi dia. Lisa mengangguk, baru tangan itu mengendur dan membiarkan Lisa membagi nasi, masih duduk berdampingan, sampai semua menu tiba dan dia menjadi ibu yang baik untuk suaminya sendiri. "Enak?"

"Hem."

Dia ini kenapa? Lisa bergeleng, sampai hari ini dia bahkan kesulitan membaca alasan suaminya, menebak apa maunya mungkin mudah, tapi alasan dibalik semua tingkah anehnya cukup sulit.

Satu lagi, sejak menikah, mereka jarang berkunjung ke rumah utama, rumah orang tua Gio, padahal di sana ada kakak lelaki pertama Gio dan perempuan yang sudah menikah, entah karena apa. Gio tampak membuat tembok besar di sana.

***

"Iya, menantunya Ibu yang belikan, dia membeli banyak sekali dan minta aku kirimkan ke Ibu, Naya bagaimana kabarnya?" ingat pada anak asuh ibu dan ayah untuk mengisi kesibukan, Lisa anggap adiknya. "Dia sudah lulus ujian kan, Bu?"

"Sudah, dia kan sudah lulus kemarin, bulan lalu, sekarang mau fokus biar ranking di SMP negeri. Oiya, jangan lupa bilang terima kasih ya ke Gio, Ibu suka banget seafood begini, dia memang menantu kesayangan Ibu!"

Iya, Lisa tahu itu, memangnya dari siapa lagi ibu akan mendapatkan menantu kalau bukan dirinya, dia kan anak tunggal, baru ini punya adik angkat yang harus ibu asuh karena sudah yatim piatu, sebenarnya itu cucu ibu kalau diurutkan.

"Ica!" suara Gio menggema.

"Bu, aku tutup dulu ya, Gio baru-"

"Iya, Ibu tahu dia pasti baru mandi dan minta kamu keringkan rambutnya, kan?"

Astaga, benar sekali karena memang rumah yang kami tempati sebelum bisa membeli lunas rumah ini adalah rumah orang tua Lisa, ibu sampai hafal maunya Gio, jangan-jangan ibu juga tahu kalau Gio baru meminta malam pertama itu di rumah ibu, malam pertama sesungguhnya di mana bercak merah membuat Gio berdebar dan senang.

"Sini aku keringkan, Gi!" melihat suaminya, ternyata masih di kamar mandi, jangan bilang mau yang aneh-aneh. "Sudah selesainya mandinya belum?"

"Masuk ke sini, Ica!"

Kan, benar, dia pasti ingin yang aneh-aneh, dingin lagi, kalau lama di dalam pasti masuk angin.

"Katanya gantian mandinya!" protes kecil.

"Ahahahahah, katanya dong!" langsung menutup pintu kamar mandi itu rapat-rapat, suka seperti ini kalau cemburunya tersulut atau Lisa berencana pada hal yang tidak dia suka, menandai Lisa dengan hujamannya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Satu Milyar
8.0
Nara harus menelan pil pahit saat ibu kandungnya menjual kesuciannya di usia delapan belas tahun demi melunasi utang. Niat hati merantau ke kota demi mencari sang ibu yang menghilang sejak ia kecil, Nara justru terjebak dalam nasib kelam. Pertemuan yang ia dambakan malah menghancurkan masa depannya secara total. Kini, tiga tahun telah berlalu sejak kejadian tragis tersebut, dan Nara terpaksa menjalani kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebagai seorang sugar baby.
Sampul Novel Fajar Baru
9.1
Sophie Wilson mendedikasikan hidupnya demi Daniel Carter. Namun di ranjang kematiannya, kejutan pahit menanti. Alih-alih cinta, Daniel justru mengungkap penyesalan mendalam selama menjadi suaminya. Ia merindukan kehidupan sederhana bersama Lily Harvey, wanita yang dulu menyembunyikannya di desa nelayan. Meski Daniel sempat memilih kembali ke kemewahan bersama Sophie, di detik terakhir ia mengakui bahwa janji setianya hanyalah beban yang sangat melelahkan.
Sampul Novel GHAFFAR PENAKLUK AKHWAT
8.2
Ghaffar memutuskan merantau ke Jakarta demi menimba ilmu. Namun, kehidupan pemuda ini berubah total saat ia mulai berinteraksi dengan deretan wanita di ibu kota. Perjalanan yang semula fokus pada pendidikan justru membawanya ke dalam lika-liku hubungan yang tak terduga. Kisah romansa modern ini mengandung konten dewasa yang ditujukan bagi pembaca bijak. Ikuti bagaimana Ghaffar menghadapi dinamika sosial dan godaan di tengah kerasnya kehidupan Jakarta.
Sampul Novel Istri Nomor Dua
8.8
Menikah di usia muda sebagai istri kedua adalah mimpi buruk yang tak pernah kubayangkan. Namun, demi rasa bakti, aku terpaksa menerima takdir menjadi orang ketiga dalam pernikahan pasangan yang sudah kuanggap kakak sendiri. Kini aku harus menelan pil pahit karena diabaikan oleh suami sendiri. Sanggupkah aku bertahan di tengah kerumitannya, ataukah aku harus menyerah dan pergi mencari kebahagiaanku yang sesungguhnya di luar sana?
Sampul Novel Maafkan Aku Mam
9.5
Andre memamerkan tubuh atletisnya, memicu gairah sang tante yang tak tertahan. Rasa penasaran yang muncul sejak pertemuan mereka di toko Albert kini memuncak saat ia menyentuh Andre dengan penuh damba. Andre pun membiarkan dirinya menjadi milik sang tante sepenuhnya malam itu. Dengan penuh godaan, Andre perlahan membuka pakaiannya, sementara sang tante yang sudah tidak sabar segera membantu demi menuntaskan rasa penasaran yang telah menghantuinya sepanjang hari.
Sampul Novel Menikah dengan kakak ipar
9.0
Hanifah yang mandul mendesak suaminya, Raihan, untuk menikahi sang adik, Nur Naila Habibah, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tak layak bagi Raihan, dosen agama yang religius, karena ia adalah mahasiswi nakal yang belum berhijab. Tanpa mereka sadari, Naila sebenarnya bukan saudara kandung Hanifah, melainkan anak sahabat ibunya. Akankah Naila menerima permintaan kakaknya itu atau justru menolak pernikahan tersebut karena merasa terlalu berbeda?