Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Dingin, Hatinya Beku

Suamiku Dingin, Hatinya Beku

Trauma masa lalu mengubah Adam menjadi pria kaku yang hanya fokus pada pekerjaannya. Hidupnya makin rumit saat dipaksa menikahi Aurora, mahasiswi kedokteran, lewat perjodohan tanpa cinta. Meski Aurora terus memberi perhatian, Adam tetap bersikap dingin dan acuh. Di tengah kesepian itu, muncul pria lain yang menawarkan kehangatan bagi Aurora. Akankah Aurora tetap setia pada ikrar pernikahannya atau menyerah pada sikap beku sang suami?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah malam di mana Adam dengan kejam menyatakan ia "muak" melihatnya, Aurora merasa hancur lebur. Ia menghabiskan sisa malam itu di sofa, menangis hingga kelelahan, lalu jatuh tertidur dalam dekapan kehampaan. Pagi harinya, ia bangun dengan kepala pening dan hati yang mati rasa. Rasa sakit itu begitu dalam hingga ia mulai merasa kebas. Seolah ada bagian dari dirinya yang memutuskan untuk berhenti merasakan.

Rutinitas harian tetap berjalan. Aurora tetap memasak, membersihkan, dan berusaha menjalankan perannya sebagai istri. Namun, kini tanpa harapan. Gerakannya mekanis, senyumnya tidak pernah mencapai matanya. Ia bergerak seperti bayangan di rumah yang terasa semakin luas dan dingin. Adam tetap acuh tak acuh, setiap interaksi di antara mereka hanya sebatas formalitas yang nyaris tak terdengar. Kata-kata kasar Adam, buangannya ke tempat sampah, dan tatapan jijiknya telah mengikis habis sisa-sisa keberanian Aurora untuk mencoba.

Di luar rumah, di tengah kesibukan koas (ko-asisten) di rumah sakit, Aurora menemukan sedikit pelipur lara. Dunia kedokteran yang kompleks, pasien-pasien yang membutuhkan perhatian, dan tuntutan akademik yang tinggi, semua itu menjadi distraksi yang menyelamatkannya dari rasa sakit di hatinya. Ia membenamkan diri dalam setiap kasus, setiap catatan medis, setiap shift jaga yang panjang.

Di sana, di antara hiruk pikuk rumah sakit, ada Reyhan. Reyhan adalah rekan koas Aurora, seorang pria dengan senyum hangat dan mata yang ramah. Sejak awal mereka berinteraksi, Reyhan selalu memperlakukan Aurora dengan hormat, penuh perhatian, dan tanpa prasangka. Ia adalah satu-satunya orang yang melihat Aurora sebagai seorang individu, bukan hanya 'istri dari Adam Dirgantara' atau 'putri dari Pak Wijaya'.

Reyhan sering membantu Aurora memahami materi kuliah yang sulit, berbagi tips tentang penanganan pasien, dan bahkan membawakan kopi atau makanan ringan saat mereka jaga malam bersama. Obrolan mereka ringan, sering kali diselingi tawa. Reyhan adalah orang pertama yang membuat Aurora tertawa lepas sejak pernikahannya. Ia tidak berusaha menjadi lebih dari seorang teman, dan Aurora pun tidak pernah berniat mencari lebih. Reyhan hanyalah oase kecil di tengah gurun kesepiannya, secercah kemanusiaan yang sangat ia butuhkan.

"Kau terlihat pucat, Ra," kata Reyhan suatu pagi, saat mereka bertemu di kantin rumah sakit. "Sudah sarapan?"

Aurora tersenyum tipis. "Sudah, kok, Rey. Hanya kurang tidur."

Reyhan mengamati raut wajahnya. "Kau terlihat tertekan belakangan ini. Ada masalah?"

Aurora menggeleng. "Tidak ada. Hanya tugas-tugas koas yang menumpuk." Ia tidak mungkin menceritakan tentang pernikahan nerakanya. Reyhan terlalu baik untuk dibebani dengan masalah serumit itu.

"Jangan terlalu memaksakan diri, ya," Reyhan berkata lembut, lalu menyodorkan sekotak susu stroberi. "Ini, untukmu. Tambah energimu."

Gestur kecil seperti itu, perhatian yang tulus, adalah hal-hal yang tidak pernah Aurora dapatkan dari Adam. Hatinya yang beku mulai menghangat perlahan. Ia tidak merasakan ketertarikan romantis pada Reyhan, tidak sama sekali. Ia hanya merasa nyaman, merasa dihargai, merasa diperlakukan selayaknya manusia yang memiliki perasaan. Reyhan adalah bukti bahwa ada orang lain di dunia ini yang peduli.

Kedekatan Aurora dan Reyhan tidak luput dari penglihatan Adam. Meski Adam tampak sibuk dengan pekerjaannya dan bersikap acuh tak acuh di rumah, ia adalah pria yang sangat jeli dan memiliki jaringan informasi yang kuat. Ia sering mendengar bisik-bisik dari para karyawannya, atau bahkan melihat sekilas notifikasi di ponsel Aurora saat Aurora meninggalkannya sebentar.

Suatu sore, Adam pulang kerja dan melihat Aurora sedang menerima sebuah paket di depan pintu suite. Paket itu berisi sebuah vas bunga kristal yang cantik dengan ukiran yang rumit, dan sebuah kartu kecil terselip di antaranya. Adam melihat senyum tipis di wajah Aurora saat membaca kartu itu. Senyum yang tak pernah Adam lihat ditujukan padanya.

"Apa itu?" tanya Adam dingin, berdiri di ambang pintu.

Aurora terlonjak kaget. Ia cepat-cepat menyembunyikan kartu itu. "Oh, ini... ini hanya hadiah kecil. Dari seorang teman."

Adam melangkah mendekat, matanya tajam menatap vas bunga itu. "Teman? Sejak kapan temanmu memberimu hadiah semewah ini?" Ia meraih vas itu dari tangan Aurora, membalikkannya, seolah mencari label harga.

"Itu... itu hanya Reyhan," jawab Aurora pelan. "Dia memberikannya sebagai ucapan terima kasih karena aku membantunya dengan laporan kasus."

Mendengar nama Reyhan, rahang Adam mengeras. Ia memang sudah sering mendengar nama itu. Rekan koas Aurora yang selalu menelepon dan mengirim pesan. Adam tahu. Ia hanya pura-pura tidak peduli.

Malam itu, Adam memperhatikan Aurora meletakkan vas bunga itu di meja samping, dihiasi dengan setangkai mawar putih. Ia melihat Aurora sesekali tersenyum saat menatap vas itu. Dan setiap kali ia melihat senyum itu, perut Adam terasa mual. Ia tidak bisa menjelaskan mengapa. Itu bukan cemburu, ia meyakinkan dirinya. Itu hanya rasa jijik. Jijik melihat istrinya, yang seharusnya menjadi miliknya, menerima hadiah dari pria lain dan terlihat senang.

Puncak ketegangan terjadi beberapa hari kemudian. Adam pulang kerja lebih awal dari biasanya. Ia melewati ruang tengah dan mendengar tawa Aurora yang renyah berasal dari balkon. Aurora sedang duduk di sana, memegang ponselnya, tertawa kecil sambil mengetik sesuatu. Adam berhenti. Ia tak pernah mendengar Aurora tertawa seperti itu di depannya. Tidak pernah.

Ia berjalan mendekat, dan mendengar suara pria dari ponsel Aurora. Aurora sedang melakukan video call. Wajah Reyhan muncul di layar ponsel Aurora, tersenyum lebar.

"Kau lucu sekali, Rey," kata Aurora, suaranya masih tersisa tawa. "Kau harus lihat ekspresi dokter kepala tadi, dia pasti kaget sekali!"

Adam tidak bisa menahan diri. Sebuah dorongan tak terkendali menguasainya. Dengan gerakan cepat dan kasar, Adam menyambar ponsel dari tangan Aurora. Aurora menjerit kaget.

"Adam! Apa yang kau lakukan?!"

Adam tidak mempedulikannya. Ia memutus panggilan video itu, lalu jarinya dengan cepat menggeser layar, membuka aplikasi pesan. Ia mencari kontak Reyhan. Dan ia menemukan percakapan mereka.

Ada banyak pesan. Pesan tentang kasus medis, tentang jadwal jaga, lelucon ringan, dan ucapan-selamat-pagi-dan-selamat-malam yang sederhana. Tidak ada yang romantis, tidak ada yang menunjukkan perselingkuhan. Hanya percakapan dua orang teman yang saling mendukung. Namun, bagi Adam, otaknya menginterpretasikan itu semua dengan cara lain. Ada rasa panas yang membakar di dadanya. Ia tidak bisa menamai emosi ini. Ini bukan cemburu, ia bersumpah. Ini adalah kemarahan. Kemarahan karena Aurora, istrinya, berani-beraninya mencari kebahagiaan di luar dirinya. Kemarahan karena ia merasa dikhianati lagi.

Adam memutar tubuhnya, menatap Aurora dengan mata nyalang. "Jadi, ini yang kau lakukan di belakangku, Nyonya Dirgantara?" Nada suaranya rendah, penuh ancaman. "Bermain-main dengan pria lain? Tertawa lepas dengannya? Apa ini balas dendammu?"

Aurora mencoba merebut ponselnya kembali. "Apa yang kau bicarakan? Reyhan hanya temanku! Dia rekanku di koas!"

"Teman?!" Adam mendengus, mengangkat ponsel Aurora tinggi-tinggi, menjauhkannya dari jangkauan Aurora. "Teman macam apa yang mengirimimu vas bunga dan video call sambil tertawa seperti sepasang kekasih?!"

Aurora merasakan air mata kembali menggenang. "Dia hanya perhatian, Adam! Dia memperlakukanku seperti manusia! Tidak sepertimu yang selalu menghina dan mengabaikanku!"

Kata-kata Aurora seolah memicu ledakan dalam diri Adam. "Oh, jadi aku tidak memperlakukanmu seperti manusia, ya?" Adam tertawa sinis, tawa yang tidak ada kehangatannya sama sekali. "Lalu kenapa kau masih bertahan di sini? Kenapa kau tidak pergi saja pada pria yang 'memperlakukanmu seperti manusia' itu?!"

Adam menatap layar ponsel Aurora, membaca sekilas beberapa pesan lagi. Matanya berhenti pada satu pesan dari Reyhan, yang mengucapkan terima kasih atas bantuan Aurora dalam sebuah tugas, dan diakhiri dengan emoji hati. Meski itu emoji hati yang umum di kalangan teman, bagi Adam, itu adalah bukti perselingkuhan.

"Kau berselingkuh dengannya, kan?!" teriak Adam, suaranya menggelegar di suite mewah itu. Ia tidak lagi bisa menahan amarahnya. "Jawab aku! Kau tidur dengannya?!"

Aurora terkejut, sangat terkejut dengan tuduhan itu. "Apa yang kau katakan?! Tentu saja tidak! Aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu!"

"Oh, ya?" Adam menatapnya dengan pandangan jijik. "Lalu kenapa kau begitu nyaman tertawa dengannya? Kenapa kau simpan vas bunga darinya seperti harta karun? Kenapa kau begitu murahan, Aurora?!"

Kata-kata "murahan" itu menghantam Aurora seperti tamparan keras. Itu adalah penghinaan paling kejam yang pernah Adam lontarkan. Ia terengah-engah, tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Adam melemparkan ponsel Aurora ke sofa, lalu matanya menangkap vas bunga kristal pemberian Reyhan yang masih terpasang mawar putihnya. Dengan langkah cepat, Adam mendekati vas itu. Aurora, yang menyadari niat Adam, berteriak.

"Jangan! Jangan sentuh itu!"

Tapi Adam sudah meraih vas itu. Dengan kemarahan yang membabi buta, ia mengangkat vas itu tinggi-tinggi, lalu membantingnya ke lantai dengan sekuat tenaga. Suara pecahan kaca memekakkan telinga, bergema di seluruh ruangan. Mawar putih itu tergeletak di antara serpihan-serpihan kristal yang berserakan.

Aurora terpaku, menatap vas yang hancur, hatinya ikut hancur berkeping-keping bersamanya. Itu adalah satu-satunya benda di rumah itu yang memberinya sedikit kebahagiaan. Dan Adam, dengan kebenciannya, telah menghancurkannya.

"Ini hukumanmu," kata Adam, napasnya tersengal. "Hukuman karena berani-beraninya mencari pria lain. Hukuman karena kau murahan!"

Aurora tak bisa lagi menahan emosinya. Ia mendekati Adam, dengan air mata dan kemarahan yang membakar. "Aku tidak murahan! Aku tidak pernah berselingkuh! Kau yang menjadikanku seperti ini! Kau yang membuatku merasa tidak berarti! Kau yang tidak pernah menganggapku ada! Lalu kau berani menuduhku?!"

Adam menatapnya, matanya merah padam. Ada sesuatu yang tak terkendali dalam sorot matanya, amarah yang menutupi emosi lain yang lebih kompleks. Emosi yang tidak ia akui. Emosi yang ia sebut kebencian.

"Dengar baik-baik, Aurora," kata Adam, suaranya rendah, mengancam, setiap kata ditekan dengan kekuatan penuh. "Kalau kamu butuh pelampiasan, silakan tidur dengan siapa saja. Dengan pria koas murahanmu itu, atau dengan pria mana pun yang kau mau. Tapi ingat, satu hal."

Adam mendekatkan wajahnya ke wajah Aurora, tatapannya menusuk tajam. "Tetap bawa nama keluarga ini dengan mulut tertutup! Jangan pernah kau berani mencoreng nama Dirgantara dengan perbuatan kotormu! Jika itu sampai terjadi, aku bersumpah, kau akan menyesal seumur hidupmu. Mengerti?!"

Kata-kata itu bagaikan racun yang disuntikkan langsung ke dalam jiwa Aurora. "Silakan tidur dengan siapa saja." Suaminya sendiri, yang seharusnya melindunginya, justru memberinya izin untuk berbuat dosa, hanya demi menjaga nama baiknya sendiri. Itu bukan izin, itu adalah penghinaan. Penghinaan tertinggi yang bisa seorang suami berikan kepada istrinya. Adam tidak hanya tidak mencintainya, ia bahkan tidak menghargai kemanusiaannya. Ia hanya melihat Aurora sebagai alat, sebagai objek yang harus menjaga citra keluarganya.

Aurora terhuyung mundur, merasa mual. Ia menatap Adam, dan untuk pertama kalinya, ia melihat tidak ada lagi sisa-sisa harapan, tidak ada lagi jejak-jejak cinta yang mungkin bisa tumbuh. Hanya ada kehancuran yang menyakitkan. Ia tidak sanggup lagi berdebat, tidak sanggup lagi membela diri. Kata-kata Adam telah merenggut semua kekuatan darinya.

Adam hanya memandangnya dengan pandangan dingin, seolah puas dengan kerusakan yang telah ia timbulkan. Ia berbalik, meninggalkan Aurora sendirian di antara pecahan kaca dan mawar yang layu, dengan hati yang remuk reduk dan jiwa yang kosong.

Malam itu, Aurora tidak lagi menangis. Ia hanya terdiam, menatap kosong pecahan vas di lantai. Tangisan pun terasa sia-sia. Apa gunanya menangis jika tak ada yang peduli? Apa gunanya berjuang jika hasilnya hanya penghinaan? Di tengah kegelapan yang menyelimuti suite, Aurora merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang mati. Sebuah api kecil harapan, kini telah padam. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa terus hidup seperti ini.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah CEO Pengen Pelukan
9.1
Nadia menghabiskan malam bersama pria asing setelah dikhianati orang terdekatnya. Meski sempat menyesal, ketampanan pria itu justru membuatnya malu hingga ia nekat meninggalkan uang sebelum pergi. Kresna, sang pria misterius, merasa sangat terhina karena dianggap sebagai pria bayaran. Dengan amarah yang meluap, ia segera memerintahkan asistennya melacak identitas Nadia melalui rekaman CCTV hotel demi membalas perbuatan wanita tersebut.
Sampul Novel Dijebak Dipelaminan
8.2
Adeline Vyantara tak menyangka kehadirannya sebagai tamu justru berakhir di pelaminan. Ia terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Alaric Mahendra, pewaris yang merasa dijebak oleh intrik keluarganya sendiri. Meski awalnya ingin membatalkan pernikahan, Alaric tertahan oleh aksi berani Adeline demi menjaga martabat keluarga. Kini mereka terjebak dalam pernikahan dingin penuh aturan ketat. Di tengah kebencian dan rahasia masa lalu, benih cinta mulai tumbuh tanpa kendali.
Sampul Novel Disgraced Wife
7.9
El Barack Gunadhya Nagara terpaksa membeli Bellina Devanka Ammari dari bibinya demi memenuhi tuntutan kakeknya akan pewaris Nagara Group. Dalam pernikahan singkat yang penuh penderitaan ini, Bellina harus merelakan hubungannya dengan Kevin Sanjaya. Meski batinnya tersiksa karena hanya dianggap sebagai mesin penghasil keturunan, situasi mulai berubah saat El menjadikannya sosok spesial. Akankah Bellina tetap pergi, atau justru jatuh cinta pada pria yang menyelamatkannya?
Sampul Novel Kau Bukan Sahabatku-Kau Perusak Rumah Tanggaku
9.5
Putri Wijaya mengira empat tahun pernikahannya dengan Dimas Satria, seorang CEO sukses, adalah kebahagiaan yang sempurna. Namun, dunia wanita cerdas dan lembut ini runtuh seketika saat sebuah video membongkar pengkhianatan suaminya. Dimas ternyata telah menikah lagi secara diam-diam dengan Rina, sahabat yang sudah dianggap Putri seperti adik sendiri. Di tengah hancurnya kepercayaan, Putri harus menghadapi kenyataan pahit bahwa orang terdekatnya adalah perusak rumah tangganya.
Sampul Novel Malam Pertama dengan CEO
9.7
Kehidupan Kara hancur saat suaminya menjualnya kepada Angkasa, seorang CEO kaya, di malam pernikahan mereka. Wajib melayani Angkasa selama sebulan, Kara justru hamil. Namun, Angkasa menolak mengakui janin itu karena salah paham dan mengusirnya. Di tengah tekanan mantan suami dan mertua, Kara berjuang sendiri hingga sukses jadi desainer. Saat Angkasa kembali untuk memohon maaf, akankah Kara bersedia membuka pintu hatinya yang telah terluka?
Sampul Novel Menikah Dengan CEO Posesif
8.9
Sheila harus menelan kepahitan saat pernikahan impiannya dengan Bryan hancur seketika. Ia terpaksa menjadi istri Bara Alexander Rodriguez, pria berkuasa yang menjadikannya jaminan atas utang Bryan. Kini, Sheila terjebak dalam obsesi Bara yang posesif dan mengklaimnya sebagai milik pribadi. Di tengah rasa benci dan kecewa, mampukah Sheila bertahan menghadapi lika-liku rumah tangga yang rumit? Ataukah ada kebahagiaan yang tersisa dalam ikatan paksa ini?