Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Yang Menolak, Hati Yang Hancur

Suami Yang Menolak, Hati Yang Hancur

Almira terjebak pernikahan paksa dengan Adrian Elvano akibat kesalahpahaman di hotel. Meski Adrian menolak, tekanan keluarga besar mengharuskannya menikahi guru les anaknya tersebut. Adrian yang trauma masa lalu bersikap dingin dan menganggap Almira beban yang tak terlihat. Di tengah penderitaan batin tinggal di rumah yang asing, Almira mendapat peluang studi ke luar negeri. Kini ia bimbang antara terus bertahan dalam luka atau pergi demi memulai hidup yang baru.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, udara di halaman belakang terasa segar setelah hujan semalaman. Aroma tanah basah masih tertinggal di udara, bercampur dengan harum dedaunan yang disapu embun. Almira berdiri di dekat pagar taman, memperhatikan Keira yang sedang menata pot bunga kecil di meja.

"Jangan lupa siram sedikit saja, jangan kebanyakan," pesan Almira sambil tersenyum.

Keira mengangguk serius, tangannya memegang gembor kecil berwarna merah muda. "Aku mau tanam bunga ini supaya nanti Tante bisa lihat mekar."

Ucapan sederhana itu membuat dada Almira hangat. Keira benar-benar polos, tidak tahu bahwa rumah ini sebenarnya tidak pernah benar-benar menganggap Almira bagian dari isinya.

Sekitar pukul sepuluh pagi, bel rumah berbunyi. Almira yang sedang merapikan ruang tamu melangkah ke pintu. Seorang pria berpakaian rapi, membawa map hitam, berdiri di depan.

"Selamat pagi. Saya dari pihak sekolah Keira," ucapnya sopan. "Saya ingin bicara dengan orang tua murid terkait lomba seni yang akan diadakan bulan depan."

Almira mempersilakan pria itu masuk. Saat ia hendak memanggil Adrian, suara langkah tegas terdengar dari arah tangga. Adrian muncul, mengenakan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Wajahnya tampak serius seperti biasa.

"Pak Adrian," sapa guru itu sambil berdiri, "kami ingin Keira ikut mewakili sekolah dalam lomba menggambar. Tapi lomba ini memerlukan pendamping selama persiapan dan hari-H."

Adrian menatap sekilas ke arah Almira, lalu kembali ke guru itu. "Saya sibuk. Mungkin Mami bisa-"

"Tante Mami sedang di luar kota, Pa," sela Keira yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. "Boleh nggak Tante Almira yang temenin?"

Adrian terdiam. Tatapannya beralih ke Almira, dingin namun ada sedikit keraguan.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi pastikan semua sesuai jadwal. Jangan sampai mengganggu les atau sekolah."

Keira langsung bersorak kecil. "Yeay! Tante, kita latihan bareng!"

Beberapa hari kemudian, Almira dan Keira mulai latihan menggambar di ruang tamu. Keira memilih tema bunga dan kupu-kupu, sementara Almira duduk di sampingnya, membantu memberi warna.

Sesekali Adrian melewati ruangan itu. Matanya sekilas memperhatikan mereka, tapi ia tidak mengucapkan apa pun. Namun, Almira bisa merasakan tatapan itu, meski hanya sepersekian detik.

Suatu sore, saat latihan selesai, Keira meminta mereka bertiga makan malam di luar. "Sekali aja, Pa. Kita jarang makan bertiga," pintanya dengan nada memohon.

Adrian menatap putrinya lama, lalu menghela napas. "Baiklah."

Restoran yang mereka datangi berada di pusat kota, dengan suasana hangat dan penerangan redup. Almira duduk di sebelah Keira, sementara Adrian di seberang.

Ketika pelayan datang membawa menu, Keira sibuk menunjuk berbagai hidangan yang ingin dicoba. Adrian hanya mengangguk, membiarkan anaknya memilih.

"Papa nggak mau pesan sendiri?" tanya Keira polos.

"Apa saja yang kamu pilih, Papa ikut," jawabnya singkat.

Almira memperhatikan interaksi itu. Di balik sikap dinginnya, Adrian ternyata selalu menuruti keinginan Keira, setidaknya yang tidak berlebihan. Ada kelembutan tersembunyi di sana, meski tidak pernah diarahkan padanya.

Makan malam berlangsung relatif tenang. Sesekali Keira bercerita tentang latihan menggambar di sekolah, dan Adrian menanggapi dengan anggukan atau komentar singkat. Almira lebih banyak mendengarkan, sesekali ikut menimpali.

Namun, di tengah makan, seorang pria setengah baya mendekat ke meja mereka. "Adrian Elvano? Wah, sudah lama sekali kita tidak bertemu!" serunya sambil menepuk bahu Adrian.

Adrian berdiri untuk berjabat tangan. "Pak Herman. Ya, sudah lama sekali."

Pria itu lalu menoleh ke arah Almira dan Keira. "Dan ini... istri barumu?"

Almira kaget. Ia menatap Adrian, berharap ada jawaban yang tidak membuat situasi canggung.

Adrian mengangguk singkat. "Ya."

Jawaban itu terdengar datar, tapi tetap saja membuat Almira merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Setelah makan malam, mereka pulang. Di perjalanan, Keira tertidur di kursi belakang. Adrian fokus menyetir, sementara Almira diam, memandang lampu-lampu jalan yang melintas.

"Tadi di restoran..." suara Almira pelan, "kau tidak perlu bilang begitu kalau memang tidak mau."

Adrian tetap menatap jalan. "Itu lebih mudah daripada menjelaskan kenyataan pada orang yang tidak perlu tahu."

Almira terdiam. Entah kenapa, meski alasannya logis, ucapannya tetap membuat hatinya berat.

Hari lomba akhirnya tiba. Sekolah Keira dipenuhi anak-anak dengan kostum dan perlengkapan menggambar. Almira mendampingi Keira menyiapkan peralatan, memastikan semua sesuai.

Di tengah keramaian, suara berat yang familiar terdengar di belakang. "Kau lupa membawa botol minumnya."

Almira menoleh. Adrian berdiri di sana, membawa tas kecil berisi bekal dan minum untuk Keira.

"Kau datang?" tanya Almira, setengah terkejut.

"Ini penting untuk Keira," jawab Adrian singkat.

Keira berlari memeluk ayahnya. "Pa, lihat gambarku nanti, ya!"

Hari itu, Adrian benar-benar tinggal sampai lomba selesai. Ia berdiri agak jauh, tapi matanya selalu mengikuti Keira. Sesekali tatapan itu beralih ke Almira, meski hanya sekilas.

Ketika Keira diumumkan sebagai juara dua, Adrian tersenyum tipis-senyum pertama yang Almira lihat sejak mereka menikah.

Di perjalanan pulang, Keira sibuk memeluk pialanya. "Kita harus rayakan, Pa!"

Adrian menoleh sebentar. "Baik. Kita makan malam di rumah, aku akan minta koki menyiapkan sesuatu."

Almira yang duduk di samping Keira hanya diam. Ada sesuatu yang berubah hari ini, walau kecil. Mungkin bukan kehangatan penuh, tapi setidaknya, ada retakan kecil di dinding dingin yang mengurung Adrian.

Malam itu, setelah Keira tidur, Almira berjalan ke dapur untuk mengambil air. Ia mendapati Adrian berdiri di sana, menuang kopi.

"Tadi... terima kasih sudah datang," ucap Almira pelan.

Adrian menatapnya sejenak, lalu berkata, "Jangan salah sangka. Aku melakukannya untuk Keira, bukan untukmu."

Almira mengangguk. "Aku tahu. Tapi tetap saja, itu berarti sesuatu untuknya. Dan... untukku juga."

Adrian tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, tapi Almira melihat ada sesuatu di matanya-sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Beberapa hari kemudian, saat Almira sedang membaca di ruang tamu, telepon rumah berdering. Ia mengangkatnya, dan suara di ujung sana membuatnya menegang.

"Almira? Ini... Rena." Suara wanita itu, yang pernah ia lihat di halaman rumah Adrian, terdengar manis namun dingin. "Kita perlu bicara. Tentang Adrian."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Perceraian Ditolak: CEO yang Sombong Tak Mau Biarkan Saya Pergi
8.1
Banyak pihak menanti Rhett menceraikan Jillian demi cinta lamanya. Namun, kejutan terjadi saat konferensi pers digelar. Bukannya berpisah, sang CEO justru memamerkan buah hati mereka ke hadapan publik. Rhett dengan tegas membantah isu keretakan rumah tangga yang beredar luas. Ia menyatakan bahwa hubungan mereka sangat harmonis dan kini semakin lengkap berkat kehadiran sang bayi. Harapan orang-orang untuk melihat mereka bercerai pun sirna seketika.
Sampul Novel CRAZY RICH MENIKAHI GADIS POLOS
8.8
Havva, gadis 17 tahun asal desa kecil di Ankara, terpaksa menikahi Irlan demi membiayai pengobatan ibunya dan meringankan beban ayahnya. Irlan yang kaya raya jatuh hati pada kecantikan alami Havva saat berlibur di penginapan tempat ayah Havva bekerja. Namun, pernikahan ini menjadi mimpi buruk karena Irlan sudah beristri. Bilqis, sang istri pertama yang modis dan sinis, terus mengintimidasi Havva. Mampukah gadis polos ini bertahan di tengah tekanan istri tua?
Sampul Novel Kontrak Rahasia Sang Pewaris
9.0
Demi menyelamatkan ibunya yang kritis, Elysia terpaksa menerima tawaran gila dari Damian Lancaster. Sang pewaris tunggal itu menjanjikan lima miliar rupiah asalkan Elysia bersedia menikah kontrak dan melahirkan keturunan untuk keluarganya. Meski merasa seperti menjual darah daging sendiri, Elysia tak punya pilihan lain. Namun, di balik kemewahan kontrak tersebut, Damian menyimpan rahasia besar yang membuat Elysia terjebak tanpa jalan keluar dari kesepakatan ini.
Sampul Novel Malaikat Cinta: Jadilah Mamaku yang Baru
7.8
Lima tahun pernikahan Daryl hanya menyisakan luka hingga suaminya tega menyerahkannya pada pria lain. Di tengah kehancuran, muncul bocah laki-laki berumur lima tahun yang mengembalikan keceriaannya. Ketegangan memuncak saat hasil tes DNA mengungkap fakta mengejutkan bahwa anak itu adalah darah dagingnya bersama Zack, sang CEO dingin, dari kenangan malam masa lalu. Kini Daryl harus menghadapi takdir baru yang mengubah seluruh jalan hidupnya yang kelam.
Sampul Novel Mr. Ergan Obsession
8.5
Ergan Tirta Alviano, CEO kaya raya sekaligus pewaris tunggal di Jakarta, terjebak dalam obsesi mendalam terhadap gadis biasa bernama Andira. Meski memiliki segalanya, cinta Ergan ditolak karena Andira setia pada kekasihnya selama dua tahun. Perbedaan materi tak menyurutkan langkah Ergan yang berkepribadian keras. Ia nekat menempuh berbagai cara, dari taktik halus hingga paksaan, demi memenangkan hati Andira. Akankah ambisi penuh emosi ini berujung pada cinta sejati?
Sampul Novel My Special CEO
9.7
Cleo Alineava Lynn, gadis bermata biru yang akrab disapa Cheva, lebih memilih bekerja di perusahaan luar daripada memimpin bisnisnya sendiri. Tak disangka, ia justru jatuh hati pada atasannya, Devan Eduardo Hutresky. Devan yang awalnya skeptis terhadap cinta pun terpikat sejak pertemuan pertama. Namun, asmara mereka tak berjalan mulus. Berbagai rintangan terus menguji ketahanan hubungan keduanya. Sanggupkah cinta menjadi alasan mereka bertahan, atau justru memicu perpisahan?