
Suami Pengganti
Bab 3
"Pa, Tania perlu berbicara dengan Andre." Tania melipat kedua tangan di dadanya.
Bram mempersilahkan mereka untuk bicara berdua. Tania dan Andre duduk agak jauh dari sekitar kedua keluarga mereka.
"Ndre, kamu tau kan kalau kita ini sahabatan dari kecil. Kamu mau kita menikah?" bujuk Tania pada Andre berharap Andre akan membantu untuk membatalkan pernikahan mereka.
"Ya, kita sahabat Tania. Tapi, aku nggak bisa menolak perjodohan ini." Andre tersenyum paksa melihat wajah Tania.
"Maksud kamu apa? Kamu tau kan aku sedang dalam keadaan berduka?" celetuk Tania dengan wajah yang mulai merah padam.
Andre tak menjawab apa-apa karena tak ingin Tania semakin baik darah kepadanya.
"Aku masuk duluan ya, Tan." Andre memegang bahu Tania dengan wajah yang sangat murung.
"Ndre, tolong aku!" pinta Tania penuh harap.
Andre tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia kembali ke dalam rumah duduk bersama dengan dua keluarga yang sedang menunggu perbincangan kedua anak mereka.
Tania kembali dengan wajahnya yang begitu datar. Mereka semua kembali mempertanyakan hal yang sama pada kedua anak mereka.
"Jadi, bagaimana keputusannya?" tanya Guntur yang merupakan papa dari Andre.
"Andre ikut kemauan Papa dan Mama saja. Keputusan hanya ada di tangan Tania, Pa."
Andre menundukkan kepala ke bawah sedangkan semua orang melihat ke arah Tania. Wajah Tania menatap jijik kepada Andre.
"Pa, Ma! Perjodohan ini terlalu cepat menurut Tania. Andre ini sahabat Tania sejak kecil, tidak mungkin kami akan menikah. Yang betul saja dong," Tania menggeleng kepala nya yang tidak pegal itu.
"Papa dan Mama melakukan yang terbaik buat kamu," ungkap Bram menatap putrinya dengan serius.
"Tania tidak mau dan sama sekali tidak menginginkan perjodohan ini!" erang Tania dengan wajahnya yang sudah sangat memerah.
Tania berlari ke kamar diiringi air mata yang terus mengalir dari kedua netranya. Dadanya sangat sesak.
"Bagaimana bisa Papa dan Mama berpikir untuk menjodohkan Tania dengan Andre. Dia sahabat kecil Tania yang sama sekali Tania tidak mencintainya."
"Aaaaaaaaaaaaa." Tania mengacak-acak rambutnya frustasi. Tania merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Perjodohan itu membuat ia semakin tidak baik saja. Ia begitu tersiksa dengan perjodohan yang tidak masuk akan itu.
Sementara di ruang tamu sana, kedua orang tua Andre dan juga Andre sendiri berpamitan untuk pulang ke rumah.
"Bram, kalau gitu kami pulang dulu ya! Bujuk putri mu baik-baik. Jika dia tidak menginginkan pernikahan ini, maka tidak usah dilaksanakan. Aku yakin, dia butuh waktu lama untuk melupakan Rian, mantan kekasihnya."
Guntur, papanya Andre mengerti dengan kondisi Tania, begitu juga dengan istrinya dan Andre.
Mereka pulang ke rumah, sedangkan kedua orang tua Tania masuk ke dalam kamar putri semata wayangnya. Mereka melihat Tania yang sedang meratapi nasib di dekat jendela sambil melihat bulan dan bintang yang menyatu di atas sana.
"Bulan dan bintang saja bisa bersama di atas sana meski mereka berbeda. Apakah kita bisa bersama walau dunia kita berbeda," ucap Tania dengan lesu sambil memandang foto Rian di dalam ponsel miliknya.
"Bulan dan bintang bersatu karena dunia mereka sama. Mereka ada di tempat yang sama. Sedangkan Tania dan Rian itu berbeda sayang. Tania dan Rian ada di dunia berbeda. Papa dan Mama yakin kalau Tania akan bersama dengan Andre. Andre adalah pria yang bisa menggantikan posisi Rian."
Bram menyela perkataan anaknya. Tania terdiam kemudian menatap balik kedua orang tuanya.
"Kenapa Papa bicara seperti itu? Papa nggak tau gimana rasanya di posisi Tania saat ini. Hati Tania hancur, Pa. Seperti kaca yang retak dan susah untuk utuh kembali. Tania baru saja kehilangan Rian dan sekarang Papa dan Mama mau jodohin Tania? Dan haruskah dengan Andre yang merupakan sahabat kecil sendiri?" sergah Tania dengan amarahnya yang semakin meluap pada kedua orang tuanya dengan tangan yang sudah mengepal di bawah sana untuk menahan amarahnya.
"Papa dan Mama selama ini tidak pernah melarang Tania untuk melakukan apapun. Apapun kemauan Tania selalu Papa dan Mama turuti. Untuk kali ini, Papa mohon turuti keinginan Papa! Papa melakukan ini demi kamu sayang." Bram memegang bahu anaknya dan meninggalkan Tania maupun istrinya berdua di dalam kamar.
Dada Bram begitu sesak ketika Tania berbicara dengan nada tinggi padanya. Bram keluar sambil memegang dadanya. Tania dapat melihat itu, ia tak ingin melanjutkan perkataannya karena tau bagaimana kondisi papanya.
"Sayang, Mama dan Papa selalu support apapun yang Tania lakukan selama ini. Percayalah Nak, kami selalu ingin yang terbaik untuk Tania. Mana ada orang tua ingin anaknya sengsara," bujuk Tiya, mamanya Tania dengan nada suara rendah.
"Ma, tapi nggak gini dong caranya. Sekarang tidak ada lagi yang namanya jodoh-jodohan, Ma. Tania berhak menentukan pilihan sendiri karena Tania sudah dewasa. Apa Mama tidak mengerti perasaan Tania sekarang? Ini bukan malah menyembuhkan hati Tania, Ma. Tania semakin sakit dengan semua yang terjadi sekarang ini." Tania terisak-isak sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Berharap agar sang Mama mengerti tentang isi hatinya.
"Memang, sekarang bukan zamannya jodoh-jodohan. Tapi, ini terpaksa Mama lakukan sayang, demi kebaikan kamu sayang. Tolong, jangan egois seperti ini Tania! Tolong ngertiin kondisi Papa juga. Tania tidak lihat Papa tadi memegang dadanya yang sudah sesak? Satu bulan lalu, papa kena stroke. Jangan sampai penyakit itu kambuh lagi sayang. Demi Papa, Tania!" seru Tiya kemudian pergi meninggalkan Tania sendiri di kamar. Tiya khawatir dengan keadaan suaminya, ia berjalan cepat menuju kamar.
Tania menutup pintu kamar, tubuhnya sangat lemah saat ini. Bibirnya yang mulai memucat dan kakinya gemetaran. Tania tersenyum sendiri, sesaat terbayang wajah Rian.
Tania membuka laptop, ia melihat semua kenangan mereka. Itulah yang sering Tania lakukan jika sedang merindukan Rian.
"Rian, tidak ada yang bisa menggantikan kamu. Aku tidak tau harus bagaimana sekarang. Aku sudah janji sama kamu kan, aku tidak akan pernah menduakan kamu. Bagaimana bisa aku menikah dengan Andre. Aku sama sekali nggak cinta sama dia."
Tanpa sengaja, Tania membuka video mereka berdua.
"Tania, aku sayang kamu dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hatiku," ucap Rian dalam video itu.
"Aku juga cinta banget sama kamu sayang. Nggak ada satu orang pun yang bisa menggantikanmu dalam hati ini. Hati ku sudah tergembok dan kuncinya hanya ada satu, kamulah kunci hatiku sayang." Tania tersenyum lebar kemudian memeluk Rian.
"Kamu janji tidak akan ada orang lain lagi?" tanya Rian kembali pada kekasihnya.
"Tidak ada orang lain lagi di hati aku sayang." Tania tersenyum lebar.
"Termasuk sahabat kamu itu? Siapa sih namanya? Emmm, Andre ya?" tanya Rian dengan menaikkan bola matanya ke atas.
"Ih apaan sih? Aku kan juga udah jauhin dia? Nggak mungkin aku sama dia," jawab Tania sambil terkekeh.
"Dia baik kok sayang. Jadi, kalau aku udah nggak ada lagi di dunia ini, dia adalah orang yang tepat untuk gantiin aku." Rian terkekeh sedangkan Wajah Tania mulai kecut.
"Kok ngomong gitu sih? Aku nggak suka deh," jawab Tania dengan kesal.
Seketika, Tania menghentikan videonya, ia tak ingin melanjutkan lagi. Video itu membuatnya semakin sedih.
"Kenapa kata-katamu itu jadi kenyataan sekarang, Rian? Aku nggak mau hidup bersama Andre. Rian, aku hanya cinta sama kamu," ucap Tania kembali terisak.
Anda Mungkin Juga Suka





