Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMI MADU TIGA

SUAMI MADU TIGA

Sebastian Narendra Gunawan, pengusaha kaya yang sudah beristri dua, berambisi menikahi seorang gadis payung sebagai istri ketiganya. Namun, rencana Naren terhambat oleh berbagai rintangan yang menguras emosi. Salah satu istrinya bahkan melancarkan aksi teror demi menggagalkan pernikahan tersebut. Di tengah tekanan dan ancaman yang membayangi, mampukah Naren mewujudkan keinginannya, atau justru sang calon istri memilih mundur dari lingkaran hidupnya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Ah ...."

Suara serak nan menggoda  seorang wanita terdengar dari dalam kamar sebuah rumah besar dengan ukiran kayu khas Jepara. Kamar yang juga kental dengan ukiran kayu dan dihiasi mawar putih di sekitar sudut-sudut yang tampak oleh mata menambah suasana romantis pada dua pasangan yang baru saja menikah, Sebastian Narendra Gunawan atau biasa disapa Naren dan Pramudya Ayuningtyas atau biasa disapa Tyas. Pernikahan yang dilandasi dengan cinta tentu saja akan memberikan makna tersendiri di dalamnya, terlebih pasangan yang biasa disapa NaTa ini adalah pasangan yang serasi, baik fisik maupun financial. Meskipun secara tinggi badan, Naren tidaklah setinggi sang istri yang berprofesi sebagai pramugari di sebuah maskapai internasional, namun perbedaan tinggi badan bukanlah halangan bagi pasangan ini untuk melangkah hingga ke jenjang pernikahan.

"Kau tahu, Sayang. Aku sangat bahagia karena akhirnya kita bisa bersatu menjadi suami-istri yang sah dan tak lagi malu-malu mengumbar kemesraan di depan publik." Ucap Naren yang terus menjamah tubuh sang istri dari mulai kepala hingga ke area sensitif yang dimiliki oleh sang istri dan membuat Tyas merem-melek karena jemari luwes dan lincah sang suami.

"Ih, nakal kamu, Mas. Apa coba maksudnya mengumbar kemesraan di depan publik? Kamu pikir kita ini selebriti? Malu tau!" Tawa renyah Tyas dan ekspresi manja sang istri yang malu-malu kucing semakin membuat Naren bernafsu ingin 'memakan' wanita yang kini telah resmi menyandang status Nyonya Sebastian Narendra Gunawan.

"Jangan membuat ekspresi seperti itu di depanku, Sayang." Ucap Naren dengan tatapan mata sayu namun seksi.

"Ekspresi seperti apa maksud kamu, Mas? Jangan gitu, ih!" Tyas langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya menahan malu.

"Lihat deh, muka kamu udah kaya anak kucing baru brojol dari perut emaknya." Tawa sang suami sambil mencubit pelan ujung hidung sang istri.

"Ih, kamu jahat! Masa aku disamakan sama anak kucing." Tyas memajukan bibirnya layaknya anak kecil yang merajuk.

"Ululululu, Sayangku merajuk. Sini-sini Mamas peluk." Ucap Naren yang segera membuka lebar kedua tangannya meraih leher sang istri.

"Ih, apa-apaan, sih, Mas. Aku belum mandi tahu! Masih bau, nihh." Ujar Tyas mencium tubuhnya yang sebenarnya tak bau.

"Bodo amat, mau kamu bau atau wangi, yang penting aku tetep sayang sama kamu. Atau ... kamu mau kita mandi bareng, ya." Naren menaikkan kedua alisnya layaknya rollercoaster tambah senyum menggoda.

"Nakal, ya ... dulu kamu ga gini, deh, Mas. Tapi sekarang kamu mulai berani, ya." Ujar Tyas memukul pelan dada Naren.

"Tapi, nakal-nakal nikmat, kan." Senyum Naren menggoda sang istri.

"Ih, udah, ah. Aku mau mandi." Tyas bersiap berdiri menuju kamar mandi, namun sang suami menarik jemarinya hingga tubuhnya terhempas ke kasur empuk dan di bawah sang suami.

"M-Mas ...."

"Sstt, jangan berisik! Nanti kalau Bapak sama Ibu bangun, bisa berabe kita. Bisa gagal masuk ini."

"Ish, ngomong apa, sih kamu. malu, ih. Udah ah, aku mau mandi. Ga enak, udah lengket banget badannya."

Tyas yang berada di bawah tubuh kekar sang suami, berusaha mendorongnya pelan sambil sesekali mencubit pergelangan tangannya yang genit.

"Aku mau mandi, Mas. Ayolah ..." pinta Tyas manja.

"Mmm, tidak!" tolak sang suami menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Duh, aku gerah, Mas. Aku mau mandi. Serius."

"Satu kali?" Naren menaikkan lagi kedua alisnya.

"Satu kali apa?" tanya Tyas pura-pura bodoh.

Naren langsung berwajah masam begitu mendengar balasan Tyas. "Masa iya, begitu aja ga ngerti. Dahlah, sana mandi!" Naren segera berdiri dari posisi sebelumnya berada di atas tubuh sang istri, mengambil sebungkus rokok yang tergeletak di nakas warna krem dekat tempat tidur mereka.

"Mas, mau ke mana?" tanya Tyas pelan.

"Cari angin!" 

BRAK!

Naren menutup pintu kamar mereka agak kencang dan pergi ke luar.

'Ya Tuhan, aku kan cuma bercanda, kenapa Mas Naren jadi tersinggung?' gumam Tyas merasa bersalah dan segera menghampiri sang suami.

Naren yang sedang berada di taman luas rumahnya tampak duduk di sebuah gazibu putih yang masih terhias mawar putih sisa resepsi pernikahan mereka. Sambil mengepulkan asap putih ke langit malam kota Jogja, pria yang juga merupakan pengusaha mebel sukses itu melawan dinginnya malam yang harusnya tak ia dapatkan di malam pengantinnya.

"Mas?" ucap Tyas dengan piyama merah muda berendanya menghampiri sang suami. "Sedang apa di sini?" tanyanya lagi.

"Cari angin, kan sudah kubilang." Sahut Naren mengepulkan asap.

Tyas yang berdiri di depan Naren dengan pandangan tertunduk kemudian memberanikan diri berjalan mendekati sang suami. "Maafin aku, Mas." Ujarnya memilin ujung piyama-nya.

"Kenapa? Kok minta maaf?" tanya balik Naren acuh.

"Massss." Tyas memegang jemari kiri Naren dengan lembut dan ekspresi manja. "Aku tahu aku salah. Aku ga seharusnya begitu, harusnya aku-" Tyas menutup mulutnya.

"Harusnya kamu apa?" Lirik Naren.

"Harusnya aku melayanimu."

"Terus?"

"Yaaaa, melayani Mas Naren dengan baik." Tunduk Tyas.

"Hmmm, terus gimana lagi?"

"Kamu tuh, ya-" Tyas mulai emosi.

"Ehem-" 

Serasa anak kucing yang berhadapan dengan sang induk, Tyas langsung tak berdaya dan hanya menundukkan kepala. Melihat sang istri yang telah menyesali perbuatannya, Naren mematikan rokoknya dan menarik tangan sang istri dengan lembut.

"Kemarilah," pinta Naren. "Aku bukannya marah padamu, aku hanya takut akan kelepasan emosi. Maaf, ya kalau aku udah buat kamu takut." Lanjut Naren mendudukkan sang istri di atas pahanya dan menggoyangkan tubuh sang istri.

"Eh, a-apa-apaan, Mas-"

Tyas mulai merasakan sesuatu yang 'tak biasa' menindih tubuhnya. 

"M-Mas ..." ucap Tyas terbata dan tak berani menengok ke arah sang suami.

Tanpa ragu, Naren memegang leher sang istri dan melumat bibir seksi merah merekah milik wanita yang menjadi primadona di maskapai tempatnya bekerja.

"Mm--mm--mm---"

"Ssstt, jangan kencang-kencang. Nanti disangka tetangga kamu sedang diapa-apakan." Ucap Naren dengan bibir basah melumat bibir mungil Tyas.

Dengan napas tersengal dan bibir basah, Tyas melirik Naren dengan tajam. "Kamu ya, benar-benar nakal, Mas. Bukannya aku memang sedang 'diapa-apakan' olehmu? Pakai menyangkal! Huft ...." Sang istri mendorong tubuh suaminya pelan dan bergaya manja. "Jahatnyaaaaaa-" tambahnya lagi.

Naren tersenyum geli dan langsung memeluk tubuh sang istri erat. Merekatkan kedua dadanya yang bidang ke sang istri dan memberikan kehangatan di malam pertama mereka sebagai suami-istri. Namun Tyas masih menunjukkan marahnya seperti anak kecil, bibirnya yang merah dimainkan olehnya, dan mengalihkan pandangan matanya dari Naren.

"Sayang? Hei ... waduh, kok marah?" ucap Naren menyentuh wajah sang istri namun tetap tak digubris. "Beneran marah, ya? Iya--iya aku minta maaf. Maaf, ya ... kok, marah sih? Ini kan malam pertama kita? Masa kamu tega ngebiarin aku kedinginan? Nanti gimana dengan si ...."

Tyas langsung menutup mulut sang suami dan kembali memperhatikannya.

"Ssst, malu tau!" ucap Tyas pelan sambil melebarkan pupilnya.

"Apa, sih kok pake ditutup segala mulutnya," senyum Naren kecil.

"Karena aku tahu kamu mau bilang apa. Makanya langsung kututup biar kamu ga ngomong macem-macem, huhhh." Lagi, Tyas pura-pura kesal.

"Apa aku bisa marah padamu?" sahut Tyas malah menggoda sang suami dan menyodorkan dengan sengaja dagu lancipnya.

"Lagi-lagi kau menggodaku, kaaaannnn. Nanti, jika aku menggodamu, kamu marah," sindir Naren melihat sang istri dengan tatapan mesra.

Tangan Tyas meraih pinggang sang suami dan melekatkan tubuhnya pada tubuh Naren. "Sayang, jangan mancing ...,"

"Jika aku ingin ... apa tak boleh? Kita kan sudah sah, Mas." Senyumnya.

"Yang nakal itu kamu, bukan aku," balas Naren tak mau kalah.

Kali ini, Tyas yang tertawa melihat sikap sang suami yang merajuk. Dengan manja, dia menarik-narik kaos putih tipis milik sang suami yang telah melonggarkan pelukannya.

"Mas--mas--" ucap Tyas manja.

"Hnnn," sahut Naren memalingkan tubuhnya dari sang istri.

Tyas yang sebenarnya wanita pemalu harus menanggalkan rasa malunya dan mencoba membujuk kembali sang suami. "Mas---aku ...."

"Apa? Kamu apa?" balas Naren tanpa masih merajuk.

"Aku kedinginan." Bisiknya di telinga sang suami.

Segera, Naren memutar tubuhnya dan melihat Tyas sudah dalam posisi yang membuat Naren tak lagi dapat menahan keinginannya. Bagai harimau yang mendapat daging segar, Naren langsung menarik selimut abu-abu di atas kasurnya dan ....

"Pelan-pelan ya, Mas ...."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aksara Cinta Antara Harta dan Pilihan
8.2
Amora Carolline terjepit dalam dilema besar antara ambisi karier dan asmara. Kehadiran Arka Christian, pebisnis sukses yang menawarkan kemewahan, membawa Amora ke dunia gemerlap. Namun, muncul Vano Elbar, pria pilihan ibunya yang menawarkan kehangatan serta ketulusan dalam kesederhanaan. Kini, Amora harus menentukan arah hidupnya: mengejar harta bersama Arka yang penuh tekanan, atau memilih cinta tulus Vano meski hidup terbatas. Sebuah pencarian makna cinta sejati.
Sampul Novel Aku Masih Bocil, Om
9.5
Ulang tahun ke-18 yang seharusnya indah berubah menjadi kenyataan pahit bagi seorang gadis muda. Ia terpaksa menikah dengan David, pria dewasa yang asing baginya. Alih-alih romantis, interaksi mereka justru diwarnai perdebatan konyol soal kartu kredit versus uang tunai untuk membeli jajanan. Di tengah ketidakpastian masa depan pernikahannya, sosok Dinar muncul dan terang-terangan menanti status jandanya. Akankah ia menemukan bahagia atau justru terjebak sengsara?
Sampul Novel Bercinta Dengan Sang Presdir
9.0
Impian Alice Harper untuk menikah dengan Dean Walcott sirna akibat pengkhianatan adik tirinya. Dipermalukan di altar, Alice lari ke Birmingham untuk memulai lembaran baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Dastan Lancaster, mantan kekasih yang dulu menghilang misterius. Pesona sang presdir membangkitkan cinta lama yang belum padam. Saat Dastan melamarnya secara tiba-tiba di depan publik, akankah Alice menemukan kebahagiaan sejati yang sempat hilang dari hidupnya?
Sampul Novel ISTRI KEDUA TUAN KAIRO
8.0
Farah Maharani, gadis desa berusia dua puluh lima tahun, terjebak situasi sulit hingga terpaksa menyewakan rahimnya kepada pengusaha bernama Kairo Juang. Keputusan ini bermula dari Salsa, istri Kairo, yang lelah dihina mandul oleh orang-orang di sekitarnya. Demi mendapatkan keturunan, Salsa merelakan suaminya menikahi wanita lain. Meski awalnya kesepakatan ini berjalan lancar tanpa kendala, sebuah malapetaka besar tiba-tiba datang mengancam kehidupan mereka.
Sampul Novel ISTRI KESAYANGAN PRESDIR
8.3
Pasca dikhianati suaminya, Jessica melarikan diri ke klub malam demi mencari pelampiasan. Namun, ia justru nyaris dilecehkan hingga harus meminta pertolongan pada seorang pria asing untuk membawanya pergi. Tanpa diduga, malam itu berakhir dengan keduanya berbagi ranjang yang sama. Akankah Jessica menyesali keputusan impulsifnya, atau justru ia akan terus terjerat dalam hubungan tak terduga dengan penyelamatnya? Simak kelanjutan kisah rumit mereka.
Sampul Novel Madu Cinta Sang Ceo
8.9
Raja Adiwijaya, CEO dingin, terpaksa menikahi Putri Cantika yang culun demi melunasi utang nyawa pada mendiang ayah gadis itu. Saat benih cinta mulai tumbuh, Tiara sang cinta pertama muncul kembali. Terbuai masa lalu, Raja nekat ingin menjadikan Tiara istri kedua meski Putri menolak keras. Terjepit antara janji setia dan obsesi lama, Raja menuntut Putri tetap bertahan di sisinya. Akankah Putri menerima kehadiran madu dalam rumah tangga mereka demi janji tersebut?