Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMI GHAIB

SUAMI GHAIB

Kebiasaan buruk Sinta setiap malam memicu ketertarikan sesosok genderuwo. Saat Aldo bekerja di luar kota, makhluk tersebut menyamar menjadi sang suami untuk menjebak Sinta dalam hubungan terlarang. Teror mulai menghantui kediaman mereka dengan berbagai kejadian ganjil yang mengancam keselamatan keluarga. Sinta kini terjebak dalam dilema antara kenyataan dan tipu daya mistis. Mampukah mereka lepas dari jerat gaib ini, ataukah Sinta akan kian tenggelam dalam kegelapan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aldo dan Ardi tiba di depan rumah sederhana yang terbuat dari kayu jati.

"Ini ikannya, Mas," ucap Ardi. Ia pun menyerahkan ikan hasil pancingan dan meraih pancing miliknya. Ardi pun segera melenggang pergi.

Rumah Ardi hanya berjarak 200meter dari rumah Aldo. Ardi adalah adik Aldo satu-satunya, Ardi tinggal berdua dengan Abah Wito, sedangkan ibu mereka sudah meninggal 12 tahun silam.

Aldo berjalan menuju sumur yang ada di samping rumahnya. Ia pun membersihkan sisik ikan dan membuang kotoran yang ada di perut ikan. "Alhamdulillah selesai juga," gumamnya lirih.

Samar-samar Aldo mendengar suara aneh, ia pun menajamkan pendengarannya. Namun, tak begitu jelas itu suara apa. Aldo memilih mengabaikan dan memasukan ikan-ikan tadi ke dalam wadah.

Menimba air dan kembali membilas ikan supaya benar-benar bersih. Aldo mengernyitkan dahi kala suara itu muncul kembali. Akan tetapi, Aldo tak ambil pusing.

"Sudah jam setengah empat. Tanggung kalau tidur, sebentar lagi subuh." gumamnya pelan. Akhirnya Aldo memutuskan langsung menggoreng ikan-ikan tersebut.

Cetek... Cetek... Cetek...

Beberapa kali Aldo menyalakan kompor. Akan tetapi, apinya tak mau menyala. Dirinya menunduk dan melihat tabung gas. "Habis ternyata."

Aldo memilih menyiapkan potongan kayu dan menyalakan api di tungku. Beberapa saat kemudian, api itu berhasil menyala. Meletakkan wajan dan menyiramnya dengan minyak goreng.

Saat dirinya beranjak mengambil ikan di atas meja, Aldo seperti melihat sesuatu keluar lewat pintu samping yang belum ia tutup.

Aldo pun berjalan hendak menutup pintu. Dari arah kejauhan, dirinya melihat seseorang berbadan tinggi dan besar. Saat di perhatikan terus menerus, orang itu tiba-tiba menghilang, sontak membuat Aldo kaget dan mengelus dada. "Astaghfirullah."

....

Aroma lezat dari ikan goreng menguar di udara. Ikan yang sudah matang, Aldo simpan di bawah tudung saji.

Krukkk ... Krukkk ... Kruuk ....

Perut lelaki dengan wajah tirus, hidung mancung, alis tebal dan kulit berwarna coklat itu berbunyi.

"Ah, lapar sekali." Aldo segera mengambil nasi sisa kemaren, menyendok sampai tak tersisa dan menaruhnya di atas piring.

Meninggalkan meja makan, Aldo membersihkan wadah penanak nasi dan kembali ia isi beras agar saat anak-anak dan istrinya bangun nanti, nasi sudah matang.

"Bismillah ..." Aldo mengucapkan doa makan dan segera menyantap ikan dengan nasi, tak lupa menggunakan sambal buatan istrinya yang masih ada sisa.

"Alhamdulillah ..." Aldo memegangi perutnya yang terasa kenyang.

Mendengar suara adzan berkumandang, Aldo segera mandi. Setelah selesai, dirinya langsung beranjak menuju kamarnya.

Saat pintu terbuka, ia melihat keadaan istrinya yang terlentang tanpa sehelai benang pun. Aldo juga melirik sekitar, "Berantakan sekali? Padahal sebelum berangkat mancing semuanya rapi. Seprei juga berantakan. Dan bau apa ini?"

Aldo mengendus-endus saat hidungnya mencium bau tak sedap. Aldo berjalan menuju ranjang dan mengguncang tubuh Sinta dengan pelan.

"Bangun dek, sudah subuh." Beberapa kali Aldo membangunkan, baru lah Sinta duduk dan mengucek matanya.

"Mandi, habis itu sholat. Jangan lupa, bangunin anak-anak juga," titah Aldo sembari berjalan mengambil sajadah yang ada di dalam lemari.

"Hmmm..." Sinta hanya bergumam pelan.

Setelah kepergian sang suami, Sinta turun dari ranjang dan mengenakan pakaian yang teronggok di lantai. Ia tersenyum mengingat kejadian semalam, di mana sang suami sangat perkasa mengimbangi dirinya.

"Aduh ..." Sinta memegang perutnya dan merasakan hal yang aneh. Tak menghiraukan itu, lantas dia beranjak menuju kamar mandi.

"Dingin sekali." Sinta memeluk lengannya dan menguap lebar. Akhirnya Sinta tidak jadi mandi dan dirinya kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.

***

***

"Assalamualaikum..."

Aldo yang baru saja tiba dari masjid, mengernyit heran karena rumah masih dalam keadaan sepi. Biasanya, Sinta sudah menyapu di halaman dan anak-anak menonton televisi usai menunaikan sholat.

Aldo berjalan menuju kamar untuk menyimpan sajadah dan sarung. Pintu terbuka, menampilkan Sinta yang masih terbaring memeluk guling.

Aldo melepas kain sarung, melipatnya bersama sajadah yang ia kenakan tadi dan kembali memasukannya ke dalam lemari.

Aldo pikir istrinya tidur lagi setelah sembahyang. Namun, saat dirinya mendekat dan membangunkannya. Tangan Aldo menyentuh rambut Sinta. Kering, itu berarti Sinta belum mandi dan belum menunaikan kewajibannya.

"Dek ... bangun Dek. Kamu ketiduran ya?"

Guncangan di tubuhnya membuat Sinta terusik. "Iya, Mas. Sebentar lagi ya? Aku masih ngantuk banget nih," tolak Sinta.

"Sudah pagi, kamu nanti bisa telat sembahyang subuh. Buruan bangun dan mandi. Mas mau membangunkan anak-anak dulu." Aldo segera meninggalkan Sinta dan berjalan menuju kamar kedua anaknya.

Aldo belum ada uang untuk membuat dua kamar. Karena itu, Rafa dan Sheila tidur di kamar yang sama. Dengan ranjang 2 tingkat. Rafa berada ranjang bawah dan Sheila di ranjang yang ada di atas.

"Nak bangun. Sembahyang subuh dulu."

Kedua anaknya yang sudah terbiasa bangun pagi tak begitu sulit untuk di bangunkan. Perlahan Sheila menuruni tangga kayu yang ada di sisi tempat tidur. Kedua bocah itu segera menuju ke belakang untuk mengambil wudhu.

"Kalian sholat berdua ya?" ucap Aldo. Kedua anaknya pun mengangguk. Aldo gegas menuju kamarnya sendiri.

"Kok belum mandi sih, Dek?" tanya Aldo sedikit geram. Tak biasanya Sinta malas saat menunaikan ibadah. Sinta pun juga bukan tipe wanita pemalas.

Sinta yang masih duduk di tepi ranjang, menatap suaminya dengan tak suka. "Badan ku capek, Mas. Semalam kamu terlalu bersemangat. Kali ini aja aku tidak sembahyang ya?" ucapnya penuh permohonan.

Aldo tak begitu mengerti dengan kata-kata yang Sinta lontarkan padanya. 'Terlalu semangat? Semangat apa?' Namun, semakin ia pikirkan, semakin dirinya tak mengerti.

"Hush ... jangan berkata seperti itu. Ibadah itu wajib. Semua yang kamu lakukan itu juga tanggung jawab, Mas. Sekarang bangun, mandi dan segeralah sembahyang." ucapan Aldo kali ini tak bisa di bantah.

Walau malas, Sinta akhirnya berdiri dan menuruti semua perkataan Aldo.

***

***

"Bapak sudah makan?" tanya Rafa. Dirinya tengah menyantap ikan goreng bersama adiknya sembari menonton telivisi.

"Sudah. Ibu mu mana?" Aldo celingukan, pasalnya sedari tadi istrinya itu tak nampak batang hidungnya.

"Ibu ikut sama Mak Siti ke kebun ambil sawi." Rafa menjawab dengan mulut yang penuh dengan makanan.

Aldo hanya menganggukkan kepala, lalu duduk di kursi. "Kalau sudah selesai makan, Rafa antar ikan goreng ke rumah kakek ya?" Bocah berusia 9 tahun itu mengangguk.

Hidup di pedesaan seperti ini tidak akan kekurangan makanan walaupun tak memegang uang. Ada sungai yang bisa di pancing, pekarangan rumah yang bisa di tanami ubi ketela, cabai, tomat dan sayur mayur lainnya. tak lupa juga, tetangga yang ramah tamah dan selalu berbagi saat di kebunnya panen sayur berlimpah.

Seperti sekarang ini, Mak Siti tengah panen dan akan membiarkan warga di sini mengambil sawi di kebun miliknya. Tanpa di beritahu pun, warga sini akan mengambil secukupnya untuk makan.

Aldo memasukan beberapa ikan goreng ke dalam rantang dan memberikannya pada kedua anaknya.

"Rafa dan Sheila sekalian main di rumah kakek ya, Pak?" ucap anak lelakinya itu meminta izin. Di hari Minggu begini, mereka memang terbiasa main bersama kakek dan om-nya.

"Iya. Jangan nakal."

Setelah kepergian kedua anaknya, Aldo menutup pintu dan berniat menghampiri sang istri. "Tumben ambil sayur lama sekali?" gumam Aldo pelan.

Tak ada motor, Aldo berjalan kaki menuju kebun yang berada di seberang sungai. Di pertengahan jalan, Aldo bertemu dengan Mak Siti yang tengah mengendarai motor.

"Mau kemana, Do?" Mak Siti menghentikan motor maticnya.

"Sinta masih di kebun, Mak?" Aldo balik bertanya.

"Gak ada. Katanya mau ke hutan tadi."

Mak Siti kembali mengendarai motornya, sedangkan Aldo bergegas menuju hutan. Di sepanjang jalan, Aldo terus memikirkan istrinya. "Ngapain Sinta ke hutan?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 99 Hari Bersama Kaisar Tiran
9.8
Kim Nara tewas tragis di tangan kekasihnya sendiri, Axel, setelah memergoki perselingkuhannya. Namun, takdir memberinya kesempatan hidup kembali demi membalas dendam melalui sebuah tugas misterius. Ia terbangun dalam raga permaisuri cantik dari seorang kaisar tiran yang kejam. Nara segera menyadari kenyataan mengerikan bahwa setiap istri sang kaisar selalu mati pada hari ke-99. Kini, ia harus berpacu dengan waktu sebelum ajal kembali menjemputnya.
Sampul Novel JARAN GOYANG PENARI JAIPONG
8.3
Terbakar api cemburu melihat Abimanyu memadu kasih dengan sahabatnya sendiri, Kamila nekat menempuh jalan hitam. Ia mengamalkan Ajian Jaran Goyang pemberian Nyai Winarsih, sosok tua yang secara misterius tetap berparas jelita. Kamila tidak menyadari bahwa tindakannya menyeretnya ke dalam pusaran sumpah masa lalu sang nyai. Obsesi buta ini membangkitkan petaka kuno yang telah terkubur puluhan tahun, mengancam nyawa demi sebuah cinta yang dipaksakan.
Sampul Novel Keinginan Sang Elf: Petualangan Erotis di Dunia Peri
8.7
Lyra, elf muda yang anggun, memulai pengembaraan demi memuaskan rasa ingin tahunya akan dunia luar dan hasrat sensual yang terpendam. Perjalanannya berubah saat bertemu Orion, peri tampan yang membimbingnya menjelajahi sisi erotis yang belum pernah ia jamah. Di tengah keindahan dunia peri yang penuh keajaiban, mereka harus menghadapi ancaman gelap yang mengintai. Hubungan keduanya berkembang menjadi ikatan intim yang dalam saat rahasia besar mulai terungkap dan menguji cinta mereka.
Sampul Novel Mari Selingkuh
8.3
Julia, mahasiswi Hukum Tata Negara, tewas mengenaskan setelah jatuh dari gedung tinggi. Tak disangka, ia terbangun kembali di dalam dunia webtoon sebagai Ranesha, seorang karakter sampingan yang bernasib malang. Bertekad mengubah takdir tragisnya, ia nekat mendekati atasannya yang bernama Hail Delmara. Julia pun melancarkan aksi berani dengan mengajak suami dari tokoh utama tersebut berselingkuh. Akankah misi Ranesha merebut hati Hail berhasil?
Sampul Novel Mengandung Anak Tuan Serigala
8.6
Fang Yi Lan, mahasiswi kedokteran jenius, hancur saat memergoki kekasihnya berselingkuh dengan adik tirinya. Alih-alih dibela, ia justru dipaksa sang ayah menikahi pria hidung belang. Yi Lan kabur dan bertemu pria tampan yang terluka parah. Saat pingsan, pria itu berubah menjadi serigala hitam. Meski takut, naluri medis Yi Lan mendorongnya menolong. Namun, pria itu justru menandai lehernya dan menyerang Yi Lan secara paksa demi mendapatkan keturunan.
Sampul Novel Pemalas Penantang Dewi
7.9
Ken dikutuk dan dibuang ke sarang monster setelah menolak perintah Dewi Aria sebagai Pahlawan. Meski terpuruk, kecerdasannya membuat Ken mampu mengubah kutukan tersebut menjadi sumber kekuatan baru. Namun, ia kembali terjebak dalam konflik besar antara manusia dan iblis. Situasi kian rumit saat Ken menyadari bahwa Raja Iblis adalah sahabat lamanya. Kini ia harus memilih pihak sambil menyusun rencana matang demi menuntut balas pada sang Dewi.