Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SRTJC

SRTJC

Selamat datang dalam kumpulan kisah unik yang merangkum dinamika kehidupan remaja masa kini. Di sini, logika seolah dikesampingkan demi aksi-aksi spontan yang tak terduga dan penuh kejutan. Setiap bab menyajikan potret autentik tentang perilaku absurd serta kelakuan nyeleneh anak muda di era modern. Ikuti perjalanan seru mereka yang penuh tawa dan kegilaan dalam menghadapi keseharian. Temukan bagaimana momen-momen paling mustahil menjadi nyata di cerita ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari senin, biasanya akan menjadi hari yang paling dibenci oleh kebanyakan murid. Di karenakan mereka harus memakai seragam lengkap untuk melaksanakan kegiatan rutin wajib yaitu upacara.

Begitu juga dengan Calista, gadis manis bertubuh kurus itu terus saja berteriak, dari arah dapur sembari bergerak mencari-cari sesuatu. "Julian. Di mana kaos kakiku?"

Tak lama kemudian, datanglah seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, di tangannya terdapat satu gulung kaos kaki berwarna putih. Dia segera menyodorkannya kepada Calista tanpa suara, sembari menyeringai konyol.

"Lalu di mana dasiku?" tanya gadis itu lagi, dengan tangan terulur mengambil kaos kaki dan mata menyipit, mengintimidasi. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06:25.

Membuatnya mulai kehilangan kesabaran.

Julian segera menelan ludah gusar dan mencoba menekan rasa gugup di hatinya dengan cara bersiul ringan. Tangannya merogoh saku celana dan kembali menyodorkan sebuah dasi kepada sang kakak.

"Aku berangkat dulu ya, Kak. Udah semuanya kan? Assalamualaikum." Julian segera berpamitan karena merasa ngeri, melihat pelototan Calista yang sepertinya ingin menelannya bulat-bulat.

Tetapi, belum sempat kakinya mengambil langkah lebih dari tiga, kerah belakang pakaiannya terasa ditarik kencang dan menahannya untuk tetap di tempat.

"Mau kabur, hmm? Kamu belum ngembaliin topi punya kakak loh ini, mana coba." Calista mengomel sembari mengulurkan tangan.

Julian tertawa garing dan mengangguk ringan ketika menjawab, "Hehehe, baiklah. Sebagai seorang adik yang baik hati serta budiman, aku harus selalu bersedia untuk mencarikan barang-barang punya, kakak. Supaya Kak Cal, enggak kerepotan dan merasa bingung. Okay lepaskan dulu."

"Heh, anak ayam! Sok kali kau ini ya, baik macam apaan? Kalau semua barang kakak enggak kamu umpetin. Kakak juga nggak akan teriak dan minta kamu buat ngembaliin, dasar bocah!" geram Calista sembari menjewer telinga sang adik. Berniat memberi pelajaran berat pada bocah itu agak tidak mengulangi keusilannya, tetapi, akankah berhasil?

Ah, tentu saja tidak! Walau bagaimanapun juga, usil adalah sifat alami dari seorang Julian.

Julian meringis dan mengaduh memperlihatkan ekspresi menyedihkan, tetapi tidak berniat untuk melepas capitan di telinganya. Dia justru semakin menggoda sang kakak tanpa merasa kapok.

"Aduh, duh-duh. Sakit tau Kak! Eh, ngomong-ngomong Kakak pagi ini kok kelihatan beda ya! hayo, Kakak pasti berdandan pagi ini dan mau tampil beda di depan si do'i. Iya kan?" Julian menaik turunkan alisnya secara berlebihan.

Calista semakin mengerutkan alis dan melotot tajam, tetapi melepaskan capitan tangannya dari telinga Julian.

Kemudian beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi meninggalkan ruang dapur beserta isinya dan Julian, di kedua tangannya kini telah tertenteng keranjang yang terisi penuh  dengan beraneka macam kue.

Julian segera menggaruk kepalanya bingung dan merasa tak enak, lalu berguman sendiri. "Apa bercandaanku barusan keterlaluan ya? Kakak pasti marah sekarang, Haduuuh. Biasanya juga nggak pernah ngambek begitu, hmm. Ada apakah gerangan?"

Sedangkan anak itu masih sibuk menerka-nerka, apakah sang kakak tengah marah padanya. Si Calista justru sibuk memakai kaos kaki serta dasi dengan gerakan secepat kilat, dia kini duduk di kursi depan rumah, kepalanya berulang kali menoleh ke dalam rumah dengan raut wajah waspada..

"Huh! Kalau enggak cepet-cepet dipakai ini barang. Pasti si Juljul anak ayam itu, bakalan ngumpetin lagi ini barang berharga, dan nanti bisa-bisa aku berdiri sendiri di tepi lapangan. Kan nggak elit. Aku harus segera menjauh dari jangkauan tangan jahilnya itu, hii!" guman Calista sembari bergidig ngeri.

Membayangkan, seandainya saja nanti sang adik tiba-tiba menyambar satu kaos kakinya dan menyembunyikannya lagi, kan berabe ntar.

Sungguh pemikiran yang aneh. /plak!

"Cal, uy sini!" teriak Diaz yang kini melaju ke arah Calista sembari menaiki sepeda. Laki-laki itu tersenyum dan segera mempersilahkan temannya untuk segera membonceng padanya.

Berhasil mengagetkan gadis itu.

"Silahkan naik kereta kencana, Tuan Putri."

Diaz menyeringai lebar ketika melihat ekspresi bingung lawan bicaranya.

"Hah? Kereta kencana apaan? Mana? Kok enggak ada?" tanya Calista dengan kepala menoleh sana-sini, mencari sesuatu yang disebut 'kereta kencana'.

"Hihihi, sudahlah. Ayo naik saja cepetan! Ntar kita telat ke sekolahnya." Diaz tidak tahan lagi untuk terus mengerjai sahabatnya itu, lagipula mereka harus terburu-buru. Ia segera menarik lengan Calista dan mendudukkannya di boncengan sepeda. Tidak lupa keranjang kue juga diangkut.

Dengan sekuat tenaga laki-laki itu mengayuh sepedanya, menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh para pejalan kaki hingga kendaraan transportasi, hingga peluh mulai bercucuran dari pori-pori dan membasahi seragam yang dipakainya.

Keduanya sampai di depan sebuah toko yang khusus menjual aneka ragam kue.

Calista segera membawa satu keranjang bawaannya, dan memberikannya kepada sang penjual.

"Bu! Ini kue nya ada seratus dua puluh biji. Sama itu ... aku mau minta uang hasil kemaren, hehehe."

Ibu pemilik toko tersenyum ramah padanya dan mengambil keranjang itu, lalu menyodorkan uang hasil penjualan minggu lalu, dan kembali memesan seperti biasa. "Ini Dek. Uang hasilnya, dan jangan lupa ya, tiga hari lagi kirim pesanan Ibu."

"Terima kasih, Bu. Siap pokoknya!" ujar Calista sembari memberi hormat layaknya tengah upacara. Menerima uang dan menyanggupi pesanan pelanggan dengan penuh semangat dan antusias.

Setelah itu Diaz mengantar Calista ke tempat lain sebelum menuju ke sekolah.

Keduanya sampai tepat 5 menit sebelum bel berdering. Segera memarkir sepeda dengan benar dan merekapun berlari menuju lapangan sebagai persiapan untuk upacara.

Ransel yang dibawa tergeletak di tepi lapangan karena tidak sempat menyimpan di kelas.

***

Upacara telah usai.

Para siswa di Smk 01 Purwodadi, tengah menghabiskan waktu istirahat dengan berbagai kegiatan. Seperti nongkrong di tepi lapangan, ngemil di kantin dan juga tidur di kelas, apapun itu.

Di belakang salah satu ruang sekolah. Terdengar suara cacian dan juga bentakan dari beberapa siswi, diiringi tawa sinis dan terkesan jahat  mampu membuat siapapun merinding ketika mendengarnya.

"Heh! Kamu itu anak baru tapi belagu banget sih!"

"Iya tuh. Hajar aja biar nggak kegatelan lagi."

"Btw, lo itu suka sama si Angkasa kan?"

"Angkasa si ketua osis itu, mau lo gaet dengan dandanan menor kayak badut gini? Hahaha, mimpi aja sono!'

"Gays! Mana make-up lo, biar gue kasih lihat sama ini cewek cara dandan yang baik."

"Hahaha."

"Itu tuh, di kelopak matanya kurang keliatan warnanya. Tambahin lagi! Hahaha."

Calista Mengendap-endap di balik pohon, menyaksikan serta merekam aksi pem-bullyan itu dengan ponselnya. Sesekali menggeleng dan mengeluh, "Ini adalah tindakan yang tidak baik. Huh! Aku harus segera bertindak untuk menyelamatkan itu si korban."

"Mau kemana, kamu?" tanya Fahmi sembari mencekal lengan Calista. Awalnya mereka berdua hendak membeli es tebu yang ada di sebelah sekolah, dan kebetulan menemukan tindakan buruk itu.

"Mau menyelamatkan itu korban. Ish, lepasin dong! Keburu nangis kejer itu si korban." Calista berusaha menepis cekalan itu dan berucap seolah dirinya adalah seorang pahlawan yang hendak menyelamatkan kecantikan.

Fahmi mengembuskan napas berat seolah lelah untuk terus bernalar dengan gadis itu, lalu bertanya, "Kamu serius mau bantu?"

Calista mengangguk yakin. "Serius."

Usai Fahmi mengizinkan, Calista segera menghampiri sekelompok gadis jahat itu dan berteriak sembari berkacak pinggang, seperti sosok ibu kost-an yang sedang menagih uang sewa kontrakan. "Stop! Apa yang kalian lakukan di sini, hah?"

Mendengar teriakan itu, para remaja yang tadinya bersenang-senang dalam kegiatan mem-bully, segera terdiam dan bahkan mereka semua mulai berkumpul di satu sisi dengan wajah yang mulai memucat.

Mereka semua masih merasa takut dan bergidig ngeri, ketika mengingat nasib sial yang diterimanya setiap kali mencoba untuk membully Calista. Yah, ini bukan kali pertama mereka berhadapan.

Cukup menggelikan memang, suatu kelompok yang terkenal sadis seantero sekolah, memiliki perasaan takut setiap kali melihat dan bertemu Calista.

Padahal gadis polos itu alias Calista, tak pernah melakukan hal-hal yang ekstrem kepada mereka, tetapi tetap saja ....

"Ca ... Calista, hay! Kamu ngapain ada di sini?" tanya salah satu anggota genk dengan tangan berkeringat dingin.

"Aku akan menumpas kejahatan dari muka bumi ini. Hahaha." Calista tertawa jahat.

Sedangkan Fahmi hanya menggeleng geli melihat aksi konyol sahabatnya.

***

Jauh di luar negeri dengan kawasan perumahan elit yang membentang dari hamparan pantai.

4 sosok berjubah hitam misterius tengah sibuk memperlakukan luka di tubuh masing-masing, menaburkan obat bubuk lalu membalut dengan kain bersih hingga luka tertutup.

Mereka kemudian duduk melingkar sembari mengeluh pahit. "Gila! Tidak kusangka menggunakan alat teleport ini akan menyebabkan kita terluka begitu parah!"

"Benar, untung saja kita sudah menyiapkan berbagai obat sebelumnya, atau kita pasti akan mati karena luka yang lambat ditangani."

Salah satu dari keempatnya yang memiliki sosok mungil dan jika diperhatikan dengan benar, ada sepasang telinga kelinci di atas kepalanya, mengangkat tangan dan berkata, "Cukup! Berhenti mengeluh dan sebaiknya kita cepat memulihkan diri, sehingga misi akan segera tercapai dan kita dapat kembali ke Rumah."

Meskipun sosoknya kecil, tetapi sepertinya dia memegang posisi yang tinggi diantara keempatnya. Usai berbicara, tiga lainnya hanya mengangguk patuh dan mulai bermeditasi, guna menyerap esensi elemen di udara  dan menggunakannya untuk memulihkan diri.

Gadis kelinci meregangkan tubuhnya dengan malas ketika merasakan sensasi segar di dalam tubuhnya, mengamati sekitar dan mulai menjelajah dengan langkah gesit.

Salah satu sosok yang memiliki telinga serigala biru, hanya melirik sekilas ke siluet rekannya dan kembali bermeditasi.

Waktu perlahan berlalu.

"Saya mendapat sedikit petunjuk." Gadis kelinci kembali dengan wajah berseri-seri dan memberi pengumuman.

"Apa itu?" Ketiga rekan bertanya secara spontan.

Gadis kelinci menyeringai dan berkata dengan bangga. "Target kita berada di sebuah daerah terpencil yang cukup jauh dari sini, saya yakin bahwa kita akan menemukannya dalam kurun waktu 16 minggu."

"Waw, itu waktu yang lama." Salah satu pria menanggapi dengan ragu-ragu.

Gadis kelinci terkikik sebelum menjawab, "Itu jika kita berjalan kaki."

"Eeehhh?"

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GEL" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GEL
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Boneka
9.1
Dituduh berselingkuh oleh ibunya sendiri, protagonis novel modern Aku Bukan Boneka berniat menyelidiki kebenaran demi melindungi haknya. Namun, sang ibu justru mengacaukan pameran seni yang ia persiapkan selama tiga tahun. Dengan kejam, ibunya merusak lukisan berharga miliaran dan mempermalukannya di depan publik demi memaksanya bercerai. Di balik topeng nasihat baik itu, terungkap rencana busuk untuk menjodohkannya dengan duda paruh baya demi keuntungan sepihak.
Sampul Novel Balas Dendam : Kembalinya Sang Miliarder
8.0
Di sebuah rumah sakit elit Chicago, Presiden Nelson Gonzales justru menyambut kelahiran putra kandungnya dengan kebencian mendalam. Alih-alih bahagia, ia malah menghina Florence dan menolak mengakui bayi itu. Saat Florence berjuang melindungi buah hatinya, Nelson mengancam akan membuang bayi tersebut. Dalam keputusasaan, Florence mencoba menyusui anaknya agar tenang, namun tindakan itu justru memicu tuduhan keji dari Nelson bahwa ia sedang berusaha merayunya.
Sampul Novel Contract Love
8.1
Dunia Tiara runtuh saat kekasihnya menghilang di hari pernikahan yang sudah siap digelar. Pengakuan mengejutkan dari sahabatnya kian menghancurkan reputasi sang publik figur. Putus asa demi menyelamatkan karier, Tiara melakukan tindakan nekat dengan melamar seorang pria asing di antara tamu undangan. Namun, tawaran itu ditolak mentah-mentah. Kini, Tiara harus menghadapi masa depan yang kelam. Siapakah pria itu dan bagaimana nasib hidupnya kini?
Sampul Novel Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!
9.4
Menikah selama lima tahun dengan wanita yang sangat mengendalikan urusan rumah tangga demi prinsip religius membuat sang suami selalu mengalah demi cinta. Namun, keyakinannya runtuh saat ia menjalankan misi penyelamatan di sebuah hotel yang terbakar. Di sana, ia mendapati istrinya yang dingin justru sedang bersandar mesra di pelukan pria lain, lengkap dengan kehadiran seorang anak kecil di antara mereka. Kisah pengkhianatan dalam novel romantis modern ini mengungkap rahasia besar yang menghancurkan pernikahan mereka.
Sampul Novel Kebenaran Tentang Gundiknya
7.8
Hamil empat bulan, fotografer ini hancur melihat suaminya, Baskara, memperkenalkan bayi wanita lain sebagai putranya. Bukannya menyesal, Baskara justru mempermalukannya dan membela selingkuhannya, Serena. Dianggap lemah dan dramatis, sang istri justru memendam amarah dingin atas pengkhianatan terencana ini. Di balik ketenangan palsunya, ia menyusun strategi besar. Ia bukan lagi istri penurut, melainkan ancaman yang siap menghancurkan sandiwara keluarga sempurna mereka.
Sampul Novel Kontrak Cinta Terlarang
8.8
Dua tahun membina rumah tangga, Celine harus menelan kenyataan pahit bahwa Alister, suaminya, adalah seorang penyuka sesama jenis. Tekanan keluarga untuk segera memiliki keturunan membuat Alister nekat menyewa pria bernama Jonathan demi menghamili istrinya melalui pernikahan kontrak. Terjebak dalam rencana gila sang suami, Celine kini menghadapi dilema moral yang hebat. Mampukah ia menjalani skenario terlarang ini demi sebuah ekspektasi keluarga yang semu?