
Sonia ( Pasangan Jiwa )
Bab 3
Kini semua benda yang berada di kedua tanganku tadi telah berpindah tempat ke atas meja makan di hadapan kami. Begitu pun dengan Vina yang tampaknya telah siap menyantap makanan miliknya.
“Mari Mas, makan.”, aku berbasa-basi kepada dua orang lelaki di hadapan kami.
“Iya Mba, silahkan.”, ucap mereka mengangguk, hampir berbarengan.
Ketika piringku sudah hampir kosong, lelaki yang pertama kali mempersilahkan kami duduk disini, bertanya padaku dan Vina, “Mba temannya Cintya?”
Kami pun mengangguk, lalu aku menjawabnya, “Iya, teman sekolah.”
“Oh. Kalau kita temannya Reno.”, ucap lelaki yang satunya.
“Boleh kenalan?”, lelaki yang pertama tadi memandang kepadaku.
Mendengar itu, aku hampir tersedak oleh minumanku. Aku menguasai diri dan balas memandang wajahnya, seraya tersenyum aku pun mengangguk. Dia lantas menyodorkan tangannya kepadaku.
“Hendra.”, dia tersenyum seraya menjabat tanganku, lalu kemudian berjabatan pula dengan Vina.
“Ini Ferdi.”, Hendra melanjutkan ucapannya dengan memperkenalkan teman di sampingnya. Sementara Ferdi sendiri tersenyum mengangguk kepada kami.
“Sonia.”, aku sedikit tersipu malu berjabatan tangan dengan Hendra.
Ternyata jika dilihat lebih jelas, Hendra bisa dibilang tampan juga. Dengan rambut yang disisir rapi ke samping, senyumannya benar-benar indah. Alisnya tebal dan matanya kecil. Hidungnya juga mancung, tampak sempurna dari segala sisi, sangat menarik. Bibirnya tipis dan warna kulitnya jelas lebih putih dibanding kulitku sendiri.
Astaga! Aku bisa memperhatikannya sedetil ini hanya dalam waktu yang singkat.
“Tinggal dimana Sonia?”, tanya Hendra padaku.
“Kalimalang.”
“Wah, ngga begitu jauh dong dari tempat aku. Aku di Pulomas. Tadi kamu kesini naik apa?”
“Taksi. Kita tinggalnya jauh, jadi masing-masing berangkat sendiri kesini.”, ucapku seraya menunjuk dengan jempol ke arah diriku dan Vina.
“Hmm. Nanti aku antar pulang saja. Gimana?”
Astaga! Aku hampir kena serangan jantung dibuatnya. Lelaki tampan di hadapanku ini menawarkan diri untuk mengantarkan pulang ke rumah. Aku belum menjawab
pertanyaannya dan menoleh ke arah Vina. Vina pun mengerti dengan maksudku yang menoleh padanya yaitu untuk menanyakan pendapatnya, Vina tersenyum mengangguk tandanya dia menyuruhku untuk menerima tawaran itu.
“Hmm. Iya, kalau ngga ngerepotin.”
“Oh ngga kok, kan aku yang nawarin.”
Kami semua lanjut berbincang-bincang, bertukar informasi seputar aktivitas harian kami masing-masing. Tidak lama, aku memandang arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Mungkin Hendra masih memperhatikan gerak gerikku.
Sehingga dia mengajakku untuk pergi meninggalkan aula gedung itu saat ini juga.
“Sudah? Mau pulang sekarang?”
“Iya, boleh..”, aku menyetujuinya karena ku rasa sudah cukup lama juga kami berada disana. Aku pun lantas pamit kepada Vina dan Ferdi, yang tampaknya mereka juga sedang bersiap-siap untuk bangkit dari kursi mereka.
Kami berempat berdiri nyaris bersamaan, aku sangat terkejut karena ternyata Hendra memiliki postur tubuh yang tinggi. Ketika sama-sama berdiri, wajahku hanya
sejajar dengan dadanya. Tubuhnya juga padat berisi meski dibalut oleh kemeja batik berlengan panjang yang sedikit longgar namun mataku pasti tidak salah mengira-ngira.
Kami bersama-sama melangkah menuju pintu keluar masuk aula gedung. Di ambang pintu, Vina meminta tolong kepada sekuriti gedung untuk memanggilkan taksi yang tampak parkir di ujung sebelah kanan sana. Sementara Ferdi pamit duluan hendak menuju area parkir.“Duluan ya Ni.”, ucap Vina seraya melangkah masuk ke dalam taksi. “Mari, Mas Hendra.”, lanjutnya seraya mengangguk.
Aku dan Hendra mengamati laju taksi yang membawa Vina hingga menjauh dari hadapan kami.
“Yuk, aku parkir disana.”, ucap Hendra seraya melangkah dan menunjuk ke arah sebelah kiri kami. Aku pun mengekor di belakang tubuhnya yang nyaris sempurna itu.
Kini kami sudah berada di dalam mobilnya. Dan siap meninggalkan area parkir. Selama perjalanan, kami melanjutkan obrolan kami yang tadi sempat terputus di meja makan.
“Jadi kalau berangkat kerja naik apa?”
“Kereta.”, ucapku seraya tersenyum.
“Wah, penuh ngga tuh?”
“Lumayan. Kamu sudah pernah naik kereta?”
Hendra menggeleng dan tersenyum, “Belum."
Aku tertawa kecil mendengar jawabannya. “Kamu sih enak kerjanya dekat, Pulomas – Sunter paling berapa menit kan?”
“Iya, cuma macetnya tetap saja. Ngomong-ngomong kamu sebaya ya sama Cintya?”
“Iya, aku dua satu. Kamu?”
“Dua enam.”
Aku menimpalinya dengan mengangguk dan sesekali mengarahkan jalannya kepada Hendra hingga tidak terasa kami sudah memasuki sekitar area tempat tinggalku.
“Oh iya, aku boleh minta nomor HP kamu, Sonia?”
“Iya, boleh. Hmm. Coba sebutin nomor kamu, biar aku misscall.”
Aku mengambil ponsel dari dalam sling bag yang ku pangku sejak tadi, aku telah siap mengetikkan nomor ponsel Hendra pada ponselku. Aku pun meminta Hendra
menyebutkan nomornya seraya aku mengikuti ucapannya dengan ketikan tanganku.
Setelah ku tekan tombol panggil, terdengar ponsel dalam saku celana Hendra berdering. Lantas aku mengakhiri panggilan itu.
"Sudah ya, yang belakangnya tiga delapan tiga sembilan. Nanti dilihat saja.”
“Oke, makasih ya Son.”
“Iya. Nah.. Gerbang perumahan depan itu, masuk ke dalem ya.”, ucapku menunjuk kepada gerbang yang tampak sudah tidak jauh lagi.
Aku pun turun dari mobil Hendra, tepat di depan pagar rumahku.
“Makasih banyak ya Mas. Putar di depan situ saja.”, seraya aku menunjuk kepada lapangan luas yang berada di seberang rumahku.
Hendra tersenyum mengangguk, “Iya, sama-sama.”
“Hati-hati ya!”, aku melambaikan tangan dan memperhatikan dia memutar balik mobilnya di lapangan yang ku tunjukkan tadi. Sekali lagi aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya melepas kepergiannya.
Terdengar ibuku membuka pintu dari dalam, sedangkan aku baru saja membuka pagar untuk dapat masuk.
“Pulang sama siapa Kak?”
“Teman.”, ucap ku singkat seraya menghampiri beliau. “Yuk masuk.”, aku merangkul ibu, mensejajarkan langkahnya denganku untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah mengunci pintu dengan teliti, aku dan Ibu menuju ke ruang televisi. Kemudian aku membersihkan diri di kamar mandi, setelahnya aku pun pamit untuk langsung istirahat ke kamar.
“Bu, aku tidur ya..”
"Sudah ngantuk? Ini malam minggu lho.”
Aku lantas mengangguk, “Capek Bu..”
“Okelah, besok kan santai, jangan bangun pagi-pagi makanya. Biar cukup dulu tidurnya."
Aku melangkah ke kamar, meninggalkan Ibu yang tampaknya hendak menuju ke dapur. Entah apa yang akan dilakukannya di dapur malam-malam begini. Atau mungkin beliau hanya ingin mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Kini aku sudah berada di dalam kamar, ku salin pakaian yang ku kenakan selama acara tadi dengan setelan piyama berwarna kuning.
Aku mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag hitamku. Pikiranku mulai melanglang buana memikirkan Hendra. Apa aku harus bertanya apakah sekarang dia sudah
sampai di rumah? Ah, tidak perlu. Aku tidak ingin menghubungi dirinya lebih dulu. Aku akan menunggunya saja menghubungiku. Tapi, bagaimana kalau dia tidak
menghubungiku dan tadi hanya berbasa-basi menanyakan nomor ponselku?
Ponselku malah berbunyi, tanda satu pesan telah masuk. Itu dari Hendra. Aku sangat senang menerima pesannya.
"Sudah tidur ya Son?”
“Belum. Kenapa Mas?”
“Syukurlah, aku kira sudah tidur. Jangan panggil mas ya. Nama saja, kita kan ngga begitu jauh umurnya. Aku boleh tanya sesuatu?”
“Oke deh. Kamu mau tanya apa Hen?”
“Kamu sudah punya pacar? Maaf ya, kalau aku kurang sopan. Aku penasaran saja sih.”
Wah, aku tidak menyangka Hendra akan menanyakan hal ini kepadaku. Aku cukup bersemangat menjawab pertanyaan itu. “Belum. Kalau kamu?”
“Sama, aku juga belum. Kapan-kapan boleh kita ketemu lagi?”
“Boleh. Nanti kita atur waktunya.”
Setelah menunggu beberapa menit, tampaknya Hendra memang tidak membalas lagi pesan terakhir dariku. Aku pun memutuskan untuk segera tidur.
Anda Mungkin Juga Suka





