
Skenario Palsu
Bab 3
Ruang sidang tiba-tiba terasa lebih sempit, udara seakan menekan Victoria Calloway dari segala arah. Tatapan Damian Whitmore menusuk seperti belati yang tajam, dingin dan penuh penilaian.
Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi ekspresinya berbicara lebih keras daripada ribuan kata yang bisa diucapkannya.
Victoria menelan ludah, menegakkan bahu dengan mantap. Ini bukan pertama kalinya dia dihadapkan pada situasi sulit di persidangan, dan ini bukan saatnya untuk goyah.
"Yang Mulia," suaranya terdengar tegas meski ada nada tajam yang tak bisa disembunyikan, "ini adalah upaya yang sangat transparan untuk mendiskreditkan saya. Hubungan pribadi yang diklaim oleh pihak pembela tidak ada relevansinya dengan kasus ini."
Theodore Hayes, pria tua yang selalu menikmati momen seperti ini, hanya tersenyum tipis. "Oh, tapi Jaksa Calloway, yang kita bicarakan di sini bukan sekadar hubungan biasa. Fakta bahwa Anda memiliki keterlibatan dengan seseorang dalam kasus ini bisa membahayakan objektivitas Anda."
Victoria mengepalkan tangannya di bawah meja. "Apakah Anda memiliki bukti bahwa saya bertindak tidak profesional dalam kasus ini?"
Theodore mengangkat bahunya dengan angkuh. "Kami hanya ingin memastikan bahwa persidangan ini adil. Jika memang tidak ada konflik kepentingan, mengapa Anda begitu defensif?"
Damian menatap Victoria lebih lama sebelum akhirnya berbicara. "Apakah Jaksa Calloway ingin memberikan pernyataan terkait tuduhan ini?"
Victoria menegakkan tubuhnya. "Tidak ada konflik kepentingan di sini, Yang Mulia. Saya hanya melakukan pekerjaan saya sebagai jaksa, sama seperti yang selalu saya lakukan."
Ruangan terasa semakin tegang.
Damian menghela napas pelan sebelum mengalihkan perhatiannya ke Theodore. "Saya akan meninjau dokumen ini lebih lanjut, tetapi sampai ada bukti nyata bahwa Jaksa Calloway bertindak tidak profesional, saya tidak akan menganggap ini sebagai sesuatu yang dapat mendiskreditkan kasusnya."
Victoria hampir menghembuskan napas lega, tapi dia tidak boleh lengah.
"Namun," Damian melanjutkan, suaranya lebih dingin, "saya ingin berbicara dengan Jaksa Calloway secara pribadi setelah persidangan ini selesai."
Victoria menegang.
Theodore tersenyum licik. "Tentu, Yang Mulia."
Dengan ketukan palu, persidangan ditunda sementara.
Namun bagi Victoria, pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai.
Setelah Persidangan – Ruang Hakim Whitmore
Victoria melangkah ke dalam ruang kerja Damian dengan langkah mantap, meskipun di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Damian berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadapnya. Matahari sore yang mulai terbenam memantulkan cahaya ke siluetnya, menambah aura tak tersentuh yang selalu dimilikinya.
"Tutup pintunya," perintahnya tanpa menoleh.
Victoria menghela napas pelan sebelum menurut. Saat dia berbalik, Damian akhirnya menoleh, menatapnya dengan tatapan yang lebih dingin daripada yang pernah dia tunjukkan di ruang sidang.
"Lima tahun," katanya, suaranya terkontrol namun mengandung sesuatu yang berbahaya. "Lima tahun, dan kau tidak pernah berpikir untuk memberi tahuku?"
Victoria mendengus pelan, menatapnya dengan tajam. "Itu bukan sesuatu yang perlu kau ketahui."
Damian tertawa kecil, tetapi tidak ada humor di sana. "Tidak perlu aku ketahui?" Dia melangkah mendekat, menurunkan suaranya. "Victoria, kau tahu persis bahwa malam itu tidak pernah selesai bagi kita."
Jantung Victoria berdebar, tapi dia tidak menunjukkan kelemahannya. "Malam itu sudah berakhir, Damian. Dan apa pun yang terjadi, itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini."
Damian menyipitkan mata. "Jangan mencoba membodohiku, Victoria. Theodore Hayes tidak akan mengungkit ini jika dia tidak memiliki sesuatu yang lebih besar di tangannya. Jadi katakan padaku yang sebenarnya."
Victoria menelan ludah, mencoba tetap tenang. "Yang sebenarnya adalah aku di sini untuk mencari keadilan, bukan membahas masa lalu yang sudah seharusnya kita lupakan."
Damian menatapnya lama sebelum akhirnya menghela napas, nada suaranya sedikit lebih lembut. "Kau benar-benar ingin berpura-pura tidak ada apa-apa?"
Victoria mengangkat dagunya. "Aku sudah melupakan malam itu, Damian. Mungkin kau juga seharusnya melakukan hal yang sama."
Hening yang terjadi terasa lebih berat daripada argumen di ruang sidang. Damian akhirnya melangkah mundur, matanya masih menelusuri wajah Victoria seolah mencari sesuatu yang hilang.
"Aku tidak bisa melupakannya," katanya pelan. "Dan aku tidak percaya kau bisa."
Victoria mengalihkan pandangannya, merasa dirinya mulai goyah. "Aku harus pergi."
Dia berbalik dan membuka pintu sebelum Damian sempat mengatakan sesuatu lagi.
Namun, tepat sebelum dia keluar, Damian berbicara, kali ini dengan suara yang lebih dalam, lebih berbahaya.
"Hati-hati, Victoria."
Victoria berhenti sejenak, lalu tanpa menoleh, dia melangkah pergi.
Damian Whitmore bukan hanya seorang hakim di ruang sidang. Dia juga seseorang yang bisa mengguncang dunianya dengan cara yang tidak pernah bisa dilakukan siapa pun.
Dan saat ini, Victoria tidak yakin apakah dia siap menghadapi konsekuensinya.
Malam Itu – Apartemen Victoria
Victoria duduk di sofanya dengan segelas anggur merah di tangannya, pikirannya masih berkecamuk.
Damian benar-Theodore Hayes tidak akan menyinggung masa lalunya jika dia tidak memiliki sesuatu yang lebih besar.
Tapi bagaimana? Bagaimana Theodore bisa mengetahuinya?
Lima tahun lalu, tidak ada saksi. Tidak ada jejak yang ditinggalkan. Itu adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Kecuali...
Victoria menghela napas dalam-dalam. Jika seseorang membocorkan informasi itu, berarti ada yang mengawasi mereka sejak awal.
Dan itu berarti dia harus lebih berhati-hati.
Ponselnya berbunyi, dan ketika dia melihat nama di layar, tubuhnya menegang.
Nomor tidak dikenal.
Dengan sedikit ragu, dia mengangkatnya.
"Calloway," sapanya hati-hati.
Hening.
Lalu, suara berat seorang pria terdengar di seberang.
"Aku harap kau menikmati permainan ini, Victoria."
Suara itu mengirimkan gelombang ketakutan di tulangnya.
"Siapa ini?" tuntutnya.
Tawa rendah terdengar dari seberang. "Seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang kau kira."
Victoria mengepalkan tangannya. "Apa maumu?"
"Berhenti mengejar kasus ini."
Napasnya terhenti.
"Jika tidak," lanjut suara itu, "mungkin semua orang akan tahu lebih dari sekadar satu malam kecil yang kau bagi dengan Hakim Whitmore."
Panggilan terputus sebelum Victoria sempat membalas.
Tangan Victoria menggenggam ponselnya erat, matanya membara dengan kemarahan.
Mereka ingin dia mundur.
Mereka pikir dia akan takut.
Tapi mereka salah besar.
Victoria tidak akan mundur.
Sebaliknya, dia akan mencari tahu siapa yang berani mengancamnya-dan memastikan mereka menyesalinya.
Anda Mungkin Juga Suka





