Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skandal di Tengah Pre-Wedding

Skandal di Tengah Pre-Wedding

Nayra Lestienne terbang ke Praha demi foto pre-wedding, namun ia justru mendapati tunangannya berselingkuh. Dalam kemarahan, Nayra nekat mencium Elias Marek, seorang peneliti sejarah, hingga aksi itu viral dan memicu skandal besar. Demi menjaga nama baik, keduanya terpaksa menjalani pernikahan kontrak selama enam bulan. Meski awalnya hanya kesepakatan dingin tanpa rasa, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka saat tinggal bersama.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi di Prague berjalan lambat, seperti waktu menahan napas setelah badai. Salju masih menggantung di jendela apartemen mereka, tapi matahari mulai berani menembus kabut, menciptakan pantulan cahaya di setiap permukaan kaca. Nayra terbangun dengan suara riuh notifikasi ponsel yang tak henti bergetar di meja.

Ia menarik selimut, mengintip layar, lalu menyesal.

Puluhan pesan masuk dari grup kantor, beberapa dari rekan fotografer, dan sisanya dari orang yang bahkan tidak ia kenal.

"Kau gila, Nayra? Kau menikah dengan ilmuwan itu?!"

"Kau serius? Ini semacam proyek seni, kan?"

"Aku kira kau hanya patah hati, bukan ingin viral."

Nayra menekan tombol daya dan melempar ponselnya ke kasur. Ia menatap langit-langit, menghirup dalam-dalam udara apartemen yang wangi kopi. Tapi aroma itu, seharusnya menenangkan, kini hanya mengingatkan bahwa ada seseorang di dapur-pria yang secara legal sudah menjadi suaminya, meskipun hanya di atas kertas.

Ia menarik rambutnya menjadi sanggul cepat dan berjalan ke dapur. Elias berdiri di depan kompor, mengenakan kemeja hitam polos dan apron abu-abu.

Kehadirannya terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja dijadikan headline di seluruh Eropa Timur.

"Selamat pagi," katanya tanpa menoleh. "Aku buatkan telur dan roti bakar."

Nayra berhenti di ambang pintu. "Aku masih belum terbiasa kau memperlakukanku seperti istri sungguhan."

Elias meletakkan spatula. "Aku hanya tidak suka orang kelaparan di rumahku."

Nayra menatap punggungnya lama. "Rumah kita," katanya akhirnya.

Elias menoleh perlahan, dan untuk sesaat senyum kecil itu muncul di wajahnya. "Kau belajar cepat."

Hari itu, Nayra memutuskan untuk keluar. Ia tidak tahan terus bersembunyi di balik tirai jendela seperti buronan. Ia butuh udara, butuh tahu bahwa dunia masih bisa berputar normal tanpa menatapnya seolah ia skandal berjalan.

Dengan syal tebal melilit leher, ia menuruni tangga apartemen dan melangkah ke jalanan berbatu Old Town. Bau roti panggang dan cokelat panas menguar dari kafe, dan musik akordeon dari pengamen di sudut jalan terdengar seperti sesuatu yang diambil dari film klasik.

Tapi semua terasa terlalu asing. Terlalu sunyi di tengah keramaian.

Sampai seseorang memanggil namanya.

"Nayra?"

Ia menoleh, dan darahnya terasa berhenti mengalir.

Calvin Roux berdiri di seberang jalan, mengenakan mantel hitam panjang dan syal biru tua yang sama seperti saat terakhir kali mereka bertemu-hari pengkhianatan itu.

"Tidak mungkin," bisik Nayra, langkahnya mundur satu. Tapi Calvin sudah menyeberang cepat, wajahnya tegang.

"Nayra, tunggu! Aku bisa jelaskan!"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan," Nayra menjawab dingin, berusaha tetap tegak. "Aku sudah melihat cukup."

Calvin mengangkat kedua tangannya, seperti berusaha menenangkan seekor burung yang hendak terbang. "Itu bukan seperti yang kau pikirkan. Dia hanya-"

"-teman lamamu? Kolega? Atau mungkin sekadar latihan untuk pernikahan kita?" Nayra memotong dengan sinis.

Beberapa orang mulai memperhatikan. Kamera ponsel bahkan sudah terangkat.

Calvin menatap sekeliling, lalu berbisik mendekat, "Kau ingin membuat drama di depan publik lagi? Bukankah satu video sudah cukup?"

Ucapan itu menampar lebih keras dari tamparan fisik. Nayra memutar tubuh hendak pergi, tapi Calvin menahan lengannya. "Nayra, dengar aku! Kau pikir aku tidak terluka melihatmu mencium pria lain?"

Ia menatap tangan yang mencengkeramnya, lalu menatap wajah Calvin-dingin, tanpa ampun. "Kau kehilangan hak untuk bicara soal rasa sakit begitu kau memilih menghancurkan kepercayaanku."

Ia melepaskan diri dan berjalan cepat pergi, meninggalkan Calvin di tengah tatapan orang-orang yang merekam.

Tapi langkahnya gemetar. Jantungnya berdentum. Ia tahu video lain akan muncul hari ini-dan kali ini, bukan Elias yang bersalah.

Saat Nayra kembali ke apartemen, Elias sudah menunggunya di ruang tamu dengan ekspresi yang ia benci karena terlalu tenang.

"Aku baru saja menonton sesuatu di media," katanya, menyodorkan tablet.

Di layar, video Nayra dan Calvin di jalanan Prague sudah tersebar luas.

Nayra menatapnya pasrah. "Aku tahu. Aku tidak berencana bertemu dengannya."

"Publik tidak peduli pada niat," jawab Elias singkat.

Ia meletakkan tablet di meja, lalu berdiri menatap Nayra lurus-lurus. "Kita baru menikah dua hari, dan sudah ada dua video berbeda. Kau ingin aku kehilangan karier dalam seminggu?"

Nada suaranya bukan marah, tapi kecewa. Dan itu jauh lebih menyakitkan.

"Aku tidak mencarinya!" Nayra membalas dengan suara bergetar. "Aku hanya... aku ingin menghirup udara tanpa harus takut kamera."

Elias menarik napas panjang, berusaha menahan emosi. "Kau tidak bisa bertindak seperti orang biasa sekarang. Kau berita utama. Setiap langkahmu ada di bawah mikroskop."

"Aku tidak minta semua ini terjadi!"

"Aku juga tidak."

Keduanya saling diam. Hening yang menggantung terasa seperti pisau tipis yang siap menorehkan luka baru kapan saja.

Akhirnya, Elias berkata pelan, "Mulai besok, kau tidak akan keluar sendirian. Aku akan menemanimu ke mana pun perlu."

Nayra tertawa hambar. "Hebat. Sekarang aku punya pengawal, bukan suami."

Elias menatapnya tajam. "Kau pikir ini permainan?"

"Tidak. Tapi aku juga bukan tahanan."

Elias berbalik tanpa bicara lagi, meninggalkannya sendiri di ruang tamu.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Nayra merasa benar-benar kesepian di rumah yang sama.

Hari-hari berikutnya berjalan tegang. Mereka nyaris tidak bicara kecuali untuk hal-hal penting. Elias sibuk menulis laporan penelitian di ruang kerja, sementara Nayra mengurung diri di kamar, hanya keluar untuk makan malam.

Namun pada hari ketiga, semuanya berubah karena satu telepon.

Telepon dari pihak universitas, meminta mereka hadir dalam wawancara eksklusif bersama wartawan internasional.

"Untuk membersihkan nama kalian," kata juru bicara dengan suara diplomatis.

Elias mengangguk pelan. Nayra yang mendengarnya di dekat meja hanya bisa menatap kosong.

"Wawancara?" tanyanya setelah telepon ditutup.

"Ya. Mereka ingin melihat kita berinteraksi. Seolah kita pasangan sungguhan."

"Kau yakin ini ide bagus?"

"Tidak. Tapi lebih buruk jika kita menolak."

Dua hari kemudian, Nayra duduk di ruang rias studio televisi. Lampu-lampu terang membuat kulitnya terasa panas. Di sebelahnya, Elias duduk tegak dalam jas hitam, wajahnya setenang batu.

"Sepuluh menit lagi," kata produser sambil memberi aba-aba.

Nayra merapikan rambut, matanya memandangi pantulan wajahnya sendiri di cermin. Ia terlihat sempurna, tapi hatinya berantakan.

"Kau gugup?" tanya Elias pelan.

"Seharusnya tidak. Aku sudah sering tampil di depan kamera waktu kerja."

"Bedanya sekarang, kau bukan diri sendiri."

Nayra menatapnya di cermin. "Lalu siapa aku?"

Elias menatapnya balik, pantulannya dingin tapi jujur. "Istriku."

Kata itu, sesederhana apapun, membuat jantung Nayra berdebar aneh. Ia tidak tahu kenapa-apakah karena caranya mengucapkan, atau karena untuk sesaat, ia percaya kata itu benar.

Wawancara berjalan lancar di awal. Wartawan menanyakan hal-hal ringan: bagaimana mereka bertemu, siapa yang melamar duluan, dan rencana bulan madu mereka.

Elias menjawab dengan tenang, suaranya berat dan tenang, seolah ia benar-benar percaya pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Nayra hanya menambahkan senyum dan beberapa komentar kecil untuk mempermanis suasana.

Namun wartawan itu kemudian bertanya sesuatu yang tak mereka duga.

"Banyak yang mengatakan hubungan Anda hanya strategi publik. Apa komentar Anda tentang itu?"

Elias menatapnya sejenak, lalu menatap kamera. "Cinta kadang datang dengan cara yang tidak sempurna. Tapi itu tidak membuatnya tidak nyata."

Nayra menoleh spontan, matanya membulat. Elias tidak menatapnya, hanya terus menatap kamera. Tapi ada sesuatu di nadanya-bukan kebohongan, melainkan keyakinan yang anehnya terasa tulus.

Setelah sesi berakhir, mereka berjalan keluar studio dalam diam. Di koridor panjang menuju parkir, Nayra akhirnya berkata pelan, "Kau bicara seolah benar-benar percaya kita... cinta."

Elias berhenti melangkah. "Aku bicara seolah dunia butuh alasan untuk berhenti membenci kita."

"Tapi caramu bicara tadi..."

"Itu hanya akting, Nayra."

Namun saat ia berbalik, Nayra menangkap sorot mata yang tidak sepenuhnya dingin. Ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang ia tidak berani tafsirkan.

Malamnya, ketika Elias kembali larut dari universitas, ia menemukan Nayra tertidur di sofa dengan televisi masih menyala. Ia menatapnya lama-lebih lama dari yang ia sadari. Rambut Nayra berantakan, napasnya teratur, dan di tangannya masih tergenggam secarik kertas berisi sketsa wajah seseorang-dirinya.

Elias mengambil kertas itu perlahan.

Gambarnya kasar, tapi ada detail yang menohok: mata yang teduh, rahang yang tegas, bibir yang seperti menahan banyak kata.

Ia menghela napas pelan.

"Jangan terlalu dalam," gumamnya pada diri sendiri, menatap wajah Nayra yang tenang dalam tidur. "Kita hanya kontrak."

Tapi bahkan saat ia berbalik meninggalkan ruangan, pikirannya menolak tenang. Karena di balik semua peraturan yang mereka sepakati, ia tahu-sesuatu sedang berubah.

Dan mungkin, tak ada kontrak yang cukup kuat untuk menahannya.

Prague, seminggu setelah wawancara itu.

Kota yang biasanya hangat dengan hiruk pikuk turis kini terasa seperti diam menatap mereka berdua. Di setiap kafe, di setiap layar televisi, bahkan di papan iklan kecil dekat stasiun—foto Elias dan Nayra kini terpampang di mana-mana.

Mereka tampak sempurna di depan kamera: Elias dengan jas hitam elegannya, Nayra dengan senyum lembut yang menutupi semua kekacauan di baliknya.

Namun, di balik pintu apartemen di lantai empat itu, tidak ada yang sempurna.

Hanya dua orang asing yang berusaha memainkan peran mereka di dunia yang terlalu gemar menilai.

Nayra berdiri di depan cermin, mengenakan gaun krem sederhana yang dipinjamkan oleh salah satu desainer lokal. Hari ini, mereka harus menghadiri charity dinner yang diadakan oleh universitas Elias. Acara formal pertama mereka setelah “pernikahan” itu.

Ia menatap pantulan dirinya dengan mata sayu. Sekilas, ia tampak seperti wanita yang baru saja menikah—cantik, lembut, bahagia. Tapi hatinya justru terasa kosong, seperti menatap bayangan yang bukan miliknya sendiri.

Suara ketukan di pintu terdengar.

“Nayra, kau sudah siap?”

Suara itu—tenang tapi tegas, seperti biasa.

Ia menarik napas panjang, lalu membuka pintu. Elias berdiri di depan sana, mengenakan tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu abu keperakan. Sederhana tapi mematikan.

“Kau tampak…,” Nayra sempat kehilangan kata, “terlalu formal.”

“Ini acara universitas, bukan kafe,” jawab Elias datar.

Ia menatap Nayra dari kepala hingga kaki, lalu mengangguk pelan. “Gaunnya cocok.”

“Terima kasih.”

“Bukan pujian, hanya observasi.”

Nayra mendengus. “Kau bisa saja sedikit lebih manusiawi, tahu?”

Elias memutar bola mata tipis. “Kalau aku terlalu manusiawi, kita tidak akan bertahan sejauh ini.”

Dan entah kenapa, Nayra justru tertawa kecil. Mungkin karena sarkasme pria itu sudah mulai terdengar seperti kebiasaan yang anehnya menenangkan.

Acara charity dinner diadakan di aula tua dengan langit-langit tinggi dan lampu gantung kristal. Musik orkestra mengalun lembut di latar, dan aroma wine serta bunga mawar putih memenuhi ruangan.

Begitu mereka masuk, semua kepala menoleh.

Elias memegang pinggang Nayra dengan satu tangan, seperti pengantin sejati.

Senyum mereka harus dipertahankan, langkah mereka harus sinkron. Tidak ada ruang untuk salah gerak, tidak ada celah untuk ragu.

“Dr. Marek!”

Seorang profesor tua menyambut hangat, menyalaminya sambil melirik Nayra dengan rasa ingin tahu.

“Dan ini istrimu yang cantik, tentu saja! Kami semua menunggu untuk bertemu dengannya.”

Nayra tersenyum sopan, suaranya lembut tapi terkontrol. “Senang bisa hadir malam ini, Profesor.”

Ia sudah hafal caranya bicara di depan orang: tenang, ramah, tapi tidak terlalu terbuka. Seperti topeng yang harus ia kenakan setiap kali keluar rumah.

Elias menatapnya sekilas, ada kilatan aneh di matanya—mungkin kagum, atau mungkin sekadar memastikan ia masih bisa memainkan peran ini dengan sempurna.

Beberapa jam berlalu dengan percakapan formal, toast, dan tawa sopan. Tapi saat musik berganti menjadi lembut dan pasangan mulai menari di tengah aula, Nayra merasakan sesuatu yang berat di dadanya.

Mereka berdiri di tepi kerumunan, diam.

“Tarian pertama pengantin baru,” kata salah satu tamu dengan tawa kecil. “Ayo, Elias, tunjukkan bagaimana kau memperlakukan istrimu.”

Sorotan lampu menimpa mereka. Nayra menelan ludah.

Elias mengulurkan tangan tanpa banyak bicara.

“Jangan kaku,” bisiknya.

“Sulit kalau aku tahu semua orang memperhatikan,” Nayra berbisik balik.

Mereka mulai menari pelan. Langkah-langkah Elias stabil, memimpin dengan mudah. Tangan hangatnya di punggung Nayra membuat napasnya tidak teratur.

Dunia di sekitar mereka memudar—musik, tawa, cahaya—semuanya kabur.

Yang tersisa hanyalah tatapan Elias.

Tenang. Dalam. Dan untuk sesaat, tidak terlihat seperti pria yang berpura-pura.

“Kau menatapku seperti sedang menghafal rumus,” bisik Nayra.

“Kalau aku melakukannya, mungkin karena aku belum mengerti variabelmu,” jawab Elias lirih.

Kalimat itu membuat jantung Nayra berdetak terlalu cepat.

Mereka tidak bicara lagi selama sisa tarian. Tapi ada sesuatu yang berubah malam itu—halus, nyaris tak terlihat, tapi nyata.

Setelah acara, mereka berjalan di trotoar yang sepi. Salju turun tipis, menutupi batu-batu jalan yang basah.

Nayra melepas sepatu haknya dan menggenggamnya di tangan. “Kau tahu apa yang lucu? Semua orang mengira kita pasangan bahagia.”

Elias menatapnya. “Itu hal paling mudah dipercaya di dunia.”

“Karena kita pandai berbohong?”

“Karena dunia suka cerita bahagia, tidak peduli itu palsu.”

Nayra menatap langit, menghirup udara dingin. “Kau tidak pernah merasa… lelah berpura-pura?”

“Setiap hari,” jawabnya jujur. “Tapi berpura-pura terkadang satu-satunya cara untuk bertahan.”

Keduanya berhenti di jembatan kecil di atas sungai Vltava. Lampu-lampu kota berpantulan di air, membentuk pemandangan yang nyaris magis.

Nayra bersandar di pagar besi, menatap air mengalir. “Aku ingin melupakan segalanya. Calvin, media, semua kebodohan ini.”

Elias berdiri di sampingnya. “Melupakan tidak akan menghapus. Tapi mungkin… bisa membuatmu tenang.”

“Dan kau? Apa yang ingin kau lupakan?”

Ia terdiam lama sebelum menjawab. “Bahwa aku pernah percaya hidupku bisa tetap sederhana.”

Nayra menatapnya. Ada sesuatu di nada itu—bukan hanya lelah, tapi juga kehilangan.

Ia tidak bertanya lebih jauh, hanya berdiri di sana, membiarkan keheningan berbicara untuk mereka.

Beberapa hari kemudian, Nayra mulai menemukan rutinitas baru. Ia memotret lingkungan sekitar, menulis di jurnal kecilnya, dan kadang-kadang membantu Elias menyiapkan dokumen penelitiannya.

Awalnya, ia melakukannya hanya untuk mengisi waktu. Tapi lama-lama, ia mulai benar-benar tertarik.

“Ini peta arkeologi?” tanyanya suatu sore.

Elias mengangguk tanpa menoleh. “Ya. Aku sedang meneliti reruntuhan gereja abad ke-12 di Moravia.”

“Boleh aku bantu?”

Elias mengangkat alis. “Kau tahu membaca data karbon?”

“Aku tidak, tapi aku tahu membaca manusia.”

Elias menatapnya sebentar, lalu menyerahkan beberapa lembar. “Baiklah. Tapi jangan sentuh catatan yang ditandai merah.”

Nayra tersenyum, duduk di kursi sebelahnya. Dan untuk pertama kalinya, ruangan itu terasa tidak terlalu dingin.

Mereka bekerja berjam-jam, dengan sesekali Nayra mengajukan pertanyaan konyol seperti, “Kenapa para biarawan zaman dulu suka menulis di pinggiran naskah?”

Atau, “Apa fosil bisa punya cerita cinta?”

Elias hanya menggeleng setiap kali, tapi senyum kecil di wajahnya tak pernah bisa ia sembunyikan.

Di sela-sela kesibukan, Nayra menatapnya lama.

Ada sesuatu yang berbeda dari cara pria itu kini menatapnya—lebih lembut, lebih hidup. Dan entah sejak kapan, setiap kali ia melihat Elias fokus bekerja, dadanya terasa hangat dengan cara yang membingungkan.

Suatu malam, hujan turun deras. Petir menyambar di kejauhan, dan listrik sempat berkedip. Nayra terjaga di ruang tamu, menggambar sambil mendengarkan musik dari ponsel.

Elias keluar dari ruang kerjanya, tanpa jas, hanya mengenakan kaus abu-abu. Rambutnya agak berantakan.

“Kau belum tidur?”

“Tidak bisa,” jawab Nayra, menatap ke luar jendela. “Aku tidak suka badai.”

Elias berjalan mendekat, lalu duduk di kursi seberang. “Kau takut?”

“Bukan takut. Hanya… mengingatkanku pada malam saat aku tahu Calvin mengkhianatiku. Hujannya sama derasnya.”

Elias tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di sana, menatap hujan bersama.

Beberapa menit kemudian, ia berdiri dan kembali membawa dua cangkir cokelat panas.

“Tidak ada yang bisa menenangkan otak kacau selain gula,” katanya.

Nayra tertawa kecil, menerima cangkir itu. “Kau ini ilmuwan atau psikolog?”

“Sedikit keduanya.”

Hening lagi, tapi kali ini nyaman.

“Terima kasih,” kata Nayra akhirnya.

Elias menatapnya. “Untuk apa?”

“Untuk tidak membuatku merasa sendirian di tempat yang bahkan bukan rumahku.”

Elias menunduk sebentar, lalu menjawab pelan, “Kau salah. Tempat ini rumahmu juga, setidaknya untuk sekarang.”

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kata-kata itu tidak terdengar seperti kontrak.

Keesokan paginya, matahari menyelinap lewat jendela dan menyapa mereka dengan lembut.

Nayra terbangun lebih dulu, melangkah ke balkon, menghirup udara segar. Di dalam, Elias tertidur di kursi kerja dengan tumpukan dokumen di sekitarnya.

Ia mendekat pelan, menatap wajah pria itu.

Terlalu serius bahkan dalam tidurnya. Tapi entah kenapa, sisi itu justru membuatnya sulit berpaling.

Nayra menunduk sedikit, hampir menyentuh bahunya untuk membangunkan, tapi ia berhenti.

“Kalau saja semua ini bukan kebetulan,” bisiknya pelan. “Mungkin aku bisa jatuh cinta padamu tanpa takut.”

Ia berbalik, membiarkan Elias tetap tertidur, sementara di luar, langit Prague mulai biru.

Dan di hatinya, sesuatu mulai tumbuh—bukan lagi karena paksaan, tapi karena keinginan yang ia belum berani akui.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Pengantin Sempurna Sang CEO: Kesepakatan dengan Iblis yang Menyamar
8.1
Leyla sering dicap sebagai wanita licik yang pandai menggoda pria demi ambisinya. Namun, publik terkejut saat ia mendadak dinikahi oleh Colton, sang miliarder playboy, setelah pertemuan singkat. Meski awalnya dianggap sebagai kesepakatan bisnis tanpa rasa, dinamika mereka berubah drastis saat Colton menunjukkan kerapuhannya di sebuah pesta. Leyla akhirnya menyadari bahwa seluruh pertemuan dan pernikahan mereka adalah rencana matang yang telah disusun Colton sejak awal.
Sampul Novel Hasrat Dendam Suamiku
8.4
Banyak yang menganggap Briella Moretti sangat beruntung dapat dinikahi oleh putra sulung keluarga Maven yang terpandang. Namun, di balik kemewahan itu, Adrian Maven hanya menyimpan niat keji untuk menghancurkan hidup Briella sebagai bentuk balas dendam pribadi. Adrian bertekad menyiksa batin sang istri, tapi ketulusan hati Briella justru mulai menggoyahkan komitmennya. Kini, Adrian terjebak antara ego dendamnya atau perasaan cinta yang mulai tumbuh.
Sampul Novel IntroGirl & EkstroBoy
8.6
Kehidupan tenang Meira di SMA mendadak terusik oleh kehadiran Deon, cowok tengil yang kerap mengganggunya. Meski awalnya sering berselisih, Meira mulai melihat sisi lain Deon yang perlahan mewarnai harinya dan menjadi penyemangat utama. Begitu pun sebaliknya, Meira berhasil meluluhkan hati Deon Arkayuda. Namun, saat perasaan makin dalam, semesta menghadirkan skenario tak terduga. Walau raga tak lagi bersama, cinta abadi mereka membuktikan bahwa perbedaan justru saling melengkapi.
Sampul Novel ISTRI KONTRAK SANG CEO
8.0
Masa berlaku pernikahan kontrak antara Rehan dan Merry hampir usai, namun benih cinta justru mulai tumbuh di hati sang CEO. Meski Rehan enggan jujur, Merry tetap bersikeras mengakhiri ikatan perjodohan orang tua mereka. Di tengah ketegangan itu, seorang model cantik hadir menggoda Rehan saat isu perceraian merebak luas. Merry berusaha ikhlas melepaskan segalanya, sementara Rehan terjebak dilema antara mengungkap perasaan atau membiarkan Merry pergi selamanya.
Sampul Novel Istri mandul CEO bucin
8.8
Lima tahun membina rumah tangga, Asmaraloka dan Cadis Diraizel dikenal sebagai pasangan harmonis yang saling mencintai. Namun, kebahagiaan mereka mulai goyah saat Ara divonis mandul oleh dokter. Meski sang CEO tetap setia dan menerima kondisi tersebut tanpa menuntut keturunan, rasa minder Ara memicu keretakan. Situasi kian pelik ketika pihak ketiga hadir memperkeruh suasana dengan berbagai kesalahpahaman. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi cobaan ini?
Sampul Novel Istri yang ku sia-siakan ternyata kaya raya
9.5
Kebingungan melanda Arumi saat tak sengaja membaca pesan mertuanya di ponsel Akram. Elina, sang ibu mertua, memberikan ucapan selamat yang hangat atas kelahiran cucu pertama yang dianggapnya sangat cantik. Arumi merasa ada yang janggal karena anak mereka, Ayumi, seharusnya adalah cucu pertama di keluarga itu. Rahasia besar apa yang disembunyikan Akram darinya? Pesan misterius tersebut kini mengancam keutuhan rumah tangga mereka yang semula tenang.