Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SIX PRINCE || ALEXA RAWNIE

SIX PRINCE || ALEXA RAWNIE

Nasib membawa seorang pelayan ke dalam pusaran takdir yang tak terduga. Hidupnya menjadi rumit saat ia dicintai oleh enam pria sekaligus, ditambah kehadiran sosok lain yang juga mengejarnya. Di tengah tumpukan rahasia dan konflik yang terus menguji, ia harus menghadapi dilema untuk memilih salah satu atau semuanya. Cinta bagaikan rantai terkunci yang sulit dilepaskan, memaksa sang gadis mencari kunci untuk mengakhiri segala kerumitan di hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ranie tak henti-hentinya bingung, karena sedari tadi Lisha tak kunjung kenampakan wujudnya.

Entah kemana gadis itu? bukannya melayani para tamu, malah pergi keluar. Itu pun menyuruh Ranie menemaninya.

Dan yang terjadi sekarang adalah menunggu, ia sangat yakin, jika gadis itu menemui kekasihnya.

Ya Lisha sudah memiliki kekasih. Tapi pria itu berasal dari Kerajaan tetangga. Jadi mereka harus diam-diam, jika ingin bertemu. Karena peraturan keras kerajaan Benedict, meralarang seluruh penghuninya untuk berhubungan dengan orang-orang, diluar kerajaan.

Karena terlalu lama menunggu. Ia merasa suntuk berkepanjangan. Tak lama gadis itu mendengar suara yang begitu merdu. Seperti alat musik yang tengah dimainkan dengan indahnya.

Tanpa sadar dirinya dituntun untuk mengikuti suara itu. Dan apa yang dilihatnya kini? Seorang pria dengan wajah bak dewa, tengah memainkan alat musik dengan lihainya.

Wajahnya begitu tenang, layaknya air. Tapi ia sadar! terkadang air yang tenang, bisa saja menjadi ancaman.

Ranie terus memperhatikan pria itu. Matanya yang tadinya tertutup, tak lama memperlihatkan iris matanya yang hijau pekat, menandakan sesuatu kedamaian ada didalamnya.

Gadis itu ternganga melihat mata hijau itu, sungguh ciptaan dewa yang begitu indah, pikirnya.

Tak lama Ranie merasakan tepukan di bahunya. Lantas ia menoleh untuk mengetahui siapa pelakunya dan ternyata itu Lisha, dengan seringai bodoh milik gadis itu.

"Apa aku terlalu lama?" tanya gadis itu, dan dijawab tatapan tajam dari Ranie.

"Kau tau? Aku hampir mati, hanya untuk menunggumu," ucap Ranie kesal, bisa-bisa Lisha menanyakan hal bodoh seperti itu. Tentu saja. ia akan mengatakan dengan senang hati, bahwa gadis itu sangat lama pergi.

Ia sempat berpikir. Apakah mereka berdua melakukan hal yang tidak senonoh sampai-sampai begitu lama.

"Hehe. Maaf! Aku terlalu rindu pada kekasihku itu. jadi ya ... Sedikit lebih lama dari pada yang kubayangkan,"

"Sedikit lebih lama katamu? Hampir seperempat malam, aku habiskan hanya untuk menunggumu," ucap Ranie dengan sewot.

"Baiklah-baiklah! Aku salah. Oh iya kau sedang mengintip pangeran Geo ya? Hati-hati! Dia terkenal cukup kejam," ucap Lisha. Sontak membuat Ranie terbelalak kaget.

Apa maksud Lisha mengatakan hal itu? yang jelas, Ranie merasa takut sekarang dan sedikit curiga pada ucapan gadis itu

Tapi tunggu dulu! Bukankah Lisha adalah pribadi yang jujur. Dia takkan pernah bohong, jika itu bukan kondisi darurat. Berarti apa yang dikatakan gadis itu benar adanya.

Ah sial!

"Jadi dia pangeran?" Lisha mengangguk penuh semangat. Sekarang mereka berada dibalik pohon yang tak jauh dari Geo berada.

"Menurut pendengaranku, dia adalah pangeran ke-tiga, sekaligus putra dari permaisuri Delia," ucap Lisha dengan semangatnya.

Ya beginilah Lisha, jika tidak dalam kondisi marah, dia akan menjadi pribadi yang menyenangkan.

Tak lama sesosok wanita datang menghampiri Geo, dengan terburu-buru, lalu memeluk leher pria itu dengan bahagia.

"Permaisuri Delia," ucap Ranie dan Lisha serempak. Mereka berdua memang hafal siapa saja penghuni dalam istana. Mengingat mereka sudah bekerja, sejak umur lima belas tahun di sana.

"Ibu! Aku sedang bermain. Kenapa Ibu tiba-tiba memelukku?" tanya Geo, lalu memperhatikan wajah Delia yang kini tengah memeluknya erat.

"Ibu merindukanmu Geo. Kau tadi tiba-tiba pergi dari pesta, maka dari itu Ibu menyusulmu," ucap DELIA manja, mereka bahkan tidak terlihat seperti Ibu dan anak. Melainkan seperti dua insan yang tengah dimabuk cinta.

"Mereka berisik ibu. Maka dari itu aku pergi," ucap Geo santai. Diraut wajahnya tak terukir'kan apapun. Hanya ada tatapan tenang penuh mengintimidasi.

"Geo! Tolong mainkan lagu yang pernah ibu ajarkan dulu!" ucap Delia setelah melepas pelukannya dan duduk disamping Geo.

Tak perlu waktu lama, ia tau lagu apa yang ibunya minta. Sedetik kemudian tangannya yang besar dan kekar itu, mulai memainkan Alat musik dibawahnya.

Nada yang dimainkan begitu indah, sungguh siapapun yang mendengarnya akan langsung terhipnotis.

Tak lama suara merdu dan memabukkan datang, untuk melengkapi nada-nada yang dimainkan Geo.

Pria itu dan ibunya menoleh, mendapati Aghna yang bernyanyi dengan merdunya.

Delia hanya tersenyum, saat mendengar, suara emas milik selir suaminya. Wanita itu

Akui bahwa Aghna adalah pemilik suara terindah di negeri ini.

Tak ada yang bisa menyamakan suara merdunya itu, bahkan kicauan burung sekalipun. selain bersuara indah, Aghna adalah wanita yang lembut dan mudah tersenyum.

Aghna dan Geo terus melakukan, apa yang harus mereka lakukan, hingga perpaduan itu tercipta begitu indahnya. Geo dengan alat musiknya dan Aghna dengan suaranya.

Tak lama lagu pun habis. Para pendengar merasa kecewa. Hingga tanpa sadar Ranie menginjak rating kayu, berada tak jauh dari kakinya.

Sontak suara itu membuat semua mata tertuju padanya, apalagi kini mata Lisha yang seakan-akan siap untuk memakannya.

"Siapa itu?" tanya Aghna, sambil terus melihat kearah pohon besar.

Lisha marah. Bisa-bisanya gadis itu membuat ulah diwaktu yang salah. Jika saja Ranie bukan sahabatnya, sudah pasti gadis itu habis dicincang olehnya.

Lisha mendorong tubuh Ranie, untuk keluar dari balik pohon, susul dirinya yang juga ikut keluar.

Mereka berdua tersenyum bodoh, sambil menatap ketiga orang itu, lalu menundukkan wajah mereka.

"Lisha, Ranie. Kemari kalian!" ucap Delia, ya wanita itu memang hafal mereka berdua.

Karena Ranie dan Lisha adalah pelayan yang paling mencolok di mata para istri Raja. Ranie dengan wajah anak-anaknya dan Lisha dengan paras cantiknya.

Mereka berdua tak luput, dari perhatian semua orang di istana. Ya semua kecuali sang Raja tentunya.

Kedua orang itu berjalan dengan kikuk, mereka takut dihukum karena menguping.

"Kenapa kalian ada dibalik pohon? Coba jelaskan?" tanya Delia. Raut wajahnya penuh mengintimidasi pada kedua gadis itu.

"It-itu karena--"

"Karena kami tak sengaja mendengar suara merdu dari pangeran dan selir Aghna, permaisuri," bohong Lisha. Yang sengaja memotong ucapan Ranie.

"Kalian datang diwaktu yang tepat. Kami akan memulai lagu lain kali ini. Benar begitu Geo," pria itu hanya mengangguk tanda mengiyakan.

Lalu mata hijau itu bertemu dengan mata hitam milik Ranie. Kejadian itu hanya sebentar, tak lebih dari tiga puluh detik, tapi mampu membuat detak jantung gadis itu bekerja tiga kali lebih cepat.

Pandang Geo kembali beralih kearah Aghna, "bisa kita mulai, ibu?" Tanya Geo pada sang selir.

"Tentu anakku!" balas Aghna dengan senyum merkah diwajahnya.

Geo mulai dengan petikan-petikan yang begitu indah dan ikuti suara Aghna yang menyamakan alat musik pria itu.

Geo terus memainkan alat musiknya dengan lihai. Pikirannya kini melayang pada gadis yang tadi ditatapnya.

Entah siapa nama gadis itu. Apakah Ranie ataukah Lisha? Yang jelas dia nampak tak seumuran dengan gadis disampingnya.

Dia malah lebih nampak seperti anak berusia lima belas tahun. Tapi kenapa gadis kecil itu bermain dengan gadis yang lebih besar darinya.

Apa dia tidak punya teman? Dan kemana ibunya? Bisa-bisa sang ibu meninggalkan gadis itu seorang diri, atau jangan-jangan gadis yang dewasa itu adalah kakaknya.

Semakin lama Geo hanya dalam pikirannya, dan nada-nada yang tadinya lembut, berubah tempo menjadi lebih cepat.

Sontak itu membuat Aghna menghentikan nyanyiannya dan beralih melirik Geo yang tengah melamun.

Bukan Aghna saja bahkan semua orang di sana. Tetap saja Geo tidak menyadari bahwa ia telah merusak suasana. Tak lama lagu pun habis.

Geo mendongakkan wajahnya, karna sedari tadi pria itu, asik menunduk sambil melamun. Saat lamunannya mulai buyar. Dia terkejut dengan semua orang yang menatapnya bingung.

Ada apa ini? Dia salah apa?

"Hmm Ranie, Lisha! Bisakah kalian mengambilkan teh dan beberapa makan untuk kami?" tanya Delia, yang dijawab anggukan kepala oleh keduanya.

Mereka berdua pergi, menyisakan tiga orang di sana. "Geo! Kau kenapa, nak?" tanya Delia, pada sang putra.

"Aku tidak kenapa-kenapa," ucap Geo dengan nada panik.

"Bohong! Kau tau? Kau tadi tiba-tiba merubah tangga nadanya menjadi lebih cepat. Apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan, anakku?" tanya Aghna lembut.

"Ah ... Benarkah? Maafkan aku ibu! Tadi pikiranku sedang melayang," ucap pria itu sedikit lebih tenang.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan, Geo?" tanya Aghna, yang sedang menebak isi hati pria yang sudah dianggap Sebagai putranya itu.

"Sebenarnya, aku ingin tau kenapa ada gadis itu di istana. Maksudku gadis yang wajahnya seperti anak-anak itu, bu," ucap Geo sedikit ragu.

"Oh... Maksudmu Ranie? Dia memang sudah lama, kerja menjadi pelayan di sini," jawab Delia.

"Maksud ibu, kalian memperkerjakan anak kecil di istana?" tanya Geo dengan muka yang kembali tenang.

Mendengar hal itu, rasanya perut Delia dan Aghna sedikit geli. Pasalnya mereka yakin, jika Geo akan mempertanyakan hal itu pada mereka. Sontak itu membuat mereka tertawa.

"Hahaha..., Jadi kau percaya dengan wajah lugu itu?" tanya Delia pada putranya sambil tertawa geli.

sekarang Geo merasa semakin bingung, dengan tingkat kedua ibunya itu. "maksud ibu, apa?"

"Maksud kami, jangan pernah tertipu dengan wajah Ranie! Walau wajah itu sangatlah mengemaskan, layaknya seorang anak kecil. Tapi percayalah! umurnya bahkan, sudah lebih dari tujuh belas tahun," jawab Aghna sambil menahan tawanya.

"Maksud ibu, dia bukan anak-anak yang baru saja memasuki usia remaja? Melainkan seorang gadis dewasa?" tanya Geo, yang dijawab anggukan kepala dari keduanya.

Demi apa pun, ia sungguh tak percaya pada perkataan kedua ibunya. Benarkah gadis itu sudah dewasa?

"Ini teh dan cemilannya, yang mulia." ucap Ranie dan Lisha serempak, sambil menaruh nampan yang berisi teko mewah dan beberapa gelas beserta cemilan yang keluarga kerajaan inginkan.

"Ah ... terimakasih, sayang," ucap Aghna dengan senyumnya yang hangat.

"Sama-sama," balas Lisha dengan senang.

Sedangkan Geo ternganga tak percaya. Apakah ini omong kosong? Atau sungguhan? Sumpah Demi apapun, aku tak percaya bahwa kecebong itu sudah menjadi kodok. Pikirnya seraya terus melihat kearah Ranie.

"Hari semakin malam gadis-gadis. Lebih baik kalian kembali ke kamar!" perintah Delia pada Ranie dan Lisha.

"Tapi permaisuri! Bagaimana dengan pestanya?" tanya Ranie yang tidak enak, Jika pergi begitu saja.

"Ada banyak pelayan yang akan membantu mereka, Ranie. Kau tidak perlu khawatir!" ucap Aghna.

Mereka berdua hanya mengangguk paham, lalu memberikan hormat pada Delia, Aghna dan Geo. Kemudian pergi.

"Geo! Apa kau masih tidak percaya, jika Ranie memang sudah dewasa?" tanya Aghna pada Geo.

Geo yang tengah memperhatikan Ranie, lantas memalingkan pandangannya pada Aghna.

"Rasanya sulit dipercaya, ibu," ucap Geo yang menatap kedua ibunya, secara bergantian.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PQT" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PQT
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ace Tribes
9.5
Chryssant Elettra alias Ysee terlempar ke benua Earthalic setelah terkena kutukan akibat perundungan kawanannya. Ia nyaris tewas di tangan Putra Mahkota Remus Valez karena dituduh sebagai dalang agresi suku Ace. Setelah kejujurannya terbukti, Ysee dipaksa menjadi pelayan pribadi di manor Remus. Namun, kehadirannya justru mengungkap berbagai rahasia gelap yang selama ini tersembunyi. Tanpa sadar, mereka berdua hanyalah pion dalam skema besar yang mengancam kehancuran.
Sampul Novel Alana's Secret
9.6
Alana, siswi SMA yang yatim piatu sejak kecil, menyimpan rahasia besar berupa kemampuan membaca pikiran dan melihat ingatan orang lain. Hidupnya yang tenang berubah saat ia harus bekerja sama dengan siswa populer bernama Sandri untuk sebuah kompetisi. Lewat kekuatannya, Na menemukan petunjuk mengejutkan bahwa orang tuanya ternyata tewas dibunuh. Bersama Sandri, ia mulai menyelidiki dalang di balik tragedi tersebut demi mengungkap kebenaran yang terkubur.
Sampul Novel CAUGHT IN A BAD CHARACTER
9.1
Pasca kematian tragis, Juwita Chou terbangun sebagai Sallyana Fedelian, putri bangsawan antagonis yang ditakdirkan mati muda. Meski Sallyana asli dikenal bengis dan agresif, Juwita bertekad mengubah nasib demi bertahan hidup. Ia harus menghadapi kewaspadaan lima tokoh utama pria sambil merusak alur cerita orisinal. Namun, seiring berjalannya waktu, Juwita mulai menyadari adanya rahasia takdir kelam yang menghubungkan dirinya dengan sosok Sallyana yang asli.
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso menyaksikan cucunya, Mawar, tewas mengenaskan setelah difitnah dan dikejar warga Ledokombo hingga jatuh ke tebing. Dendam membara menyelimuti hatinya karena gadis bermata merah itu dibunuh secara keji. Demi membalas sakit hatinya, ia membangkitkan Nyai Larapati, sosok iblis kuno yang telah lama tertidur. Raga Mawar yang sudah mati dipaksa bangkit kembali untuk menuntaskan kesumat berdarah tanpa ampun terhadap para penduduk desa tersebut.
Sampul Novel Pembalasan Pamungkas Mantan Istri
9.4
Baskara mengakhiri hidupnya demi Bunga, adik angkatnya, sambil menyerahkan seluruh harta kami kepadanya. Padahal, obsesi Baskara pada Bunga telah merenggut nyawa putra kami. Saat aku mati dalam kepahitan, keajaiban membawaku kembali ke masa remaja di panti asuhan. Di sana, Baskara juga terlahir kembali dan memohon ampunan padaku. Namun, janji manisnya tak lagi berarti. Kali ini, aku tidak akan membiarkan sejarah kelam itu terulang kembali.
Sampul Novel Pengabaian Luna terhadap Alpha
8.5
Alpha Nikolas Morrison menderita keracunan merkuri yang fatal. Sebagai kekasihnya, aku memutuskan hubungan kami dengan menghancurkan cincin pernikahan sakral dan menyerahkan surat pemutusan ikatan. Meski sang pemimpin terhormat itu berlutut memohon di kakiku sambil menawarkan segala hartanya agar aku menetap, aku tetap bergeming. Aku justru menyeretnya ke hadapan patung Dewi Bulan dan mengancam akan mencabut berkah dewi jika dia menolak melepaskan ikatan kami selamanya.