Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sinar di Balik Pengkhianatan

Sinar di Balik Pengkhianatan

Tiga tahun mendampingi penguasa dunia bawah Kota Beirus, Suryanto Pradana, Julianti Sahara harus bertahan dari puluhan teror mematikan demi suaminya. Namun, sebuah ledakan fatal yang hampir merenggut nyawanya justru memulihkan pendengaran Julianti. Di rumah sakit, ia mendengar kenyataan pahit dari mulut Suryanto sendiri. Pernikahan mereka hanyalah siasat kejam untuk menjadikan Julianti yang tuli sebagai tameng pelindung bagi Yulia Ananda, wanita yang sebenarnya dicintai pria itu.
Bab
Bagikan

Bab 1

Selama tiga tahun menikah dengan Suryanto Pradana, Julianti Sahara telah mengalami enam puluh delapan kali percobaan pembunuhan oleh musuh-musuhnya.

Diceburkan ke sungai, dibakar, diserang dengan pisau ...

Semua ini terjadi hanya karena Suryanto menguasai jaringan gelap Kota Beirus, membuatnya memiliki musuh yang tak terhitung jumlahnya.

Orang-orang itu yakin bahwa Julianti adalah titik lemah Suryanto, sehingga mereka tidak segan-segan menyerangnya.

Setiap kali Julianti berhasil selamat dari ambang kematian, Suryanto akan memeluknya dengan erat, matanya memerah, tangannya gemetar saat berkomunikasi dengan bahasa isyarat, "Aku yang tidak berguna, tidak bisa melindungimu dengan baik."

Hingga pada terakhir kali, Julianti diculik dan diikat di samping tangki penyimpanan minyak oleh musuhnya, lalu diledakkan hingga sekarat.

Julianti terbangun di rumah sakit dan menyadari bahwa pendengarannya pulih. Di telinganya terdengar suara Suryanto yang sedang berbicara dengan temannya.

"Dulu, saat Yulia Ananda diculik oleh musuhmu, untuk melindunginya, kamu sengaja memutus hubungan dengannya, lalu menikahi Julianti, si gadis tuli itu. Kamu memanjakannya sampai semua orang tahu, membuat musuh-musuhmu mengira bahwa Julianti adalah orang yang paling kamu cintai, sehingga dia berulang kali menjadi tameng bagi Yulia ... Apakah kamu tidak terlalu kejam melakukan itu?"

Suryanto terdiam sejenak, "Dulu jika bukan aku yang membawanya keluar dari desa nelayan, dia masih akan terus diperlakukan semena-mena oleh kerabat miskinnya itu. Aku memberinya kasih sayang, kekayaan yang tak terhitung, dan menanggung sedikit penderitaan demi Yulia adalah kewajibannya."

Temannya mengerutkan kening, "Kamu nggak takut dia benar-benar tewas?"

"Nggak takut," jawab Suryanto dengan acuh tak acuh, "Posisi sebagai istriku akan selalu banyak yang berebut."

Mendengar itu, Julianti seolah meledak, otaknya berdengung dan darah di seluruh tubuhnya seakan membeku.

Tiga tahun lalu, Perusahaan Pradana datang ke desa nelayan untuk mengembangkan bisnis.

Itulah pertama kalinya Julianti bertemu Suryanto.

Suryanto mengenakan setelan jas hitam yang dipotong dengan sempurna, bertubuh tegap, dengan alis dan mata yang tampan, sedang berbicara rendah dengan petugas desa.

Tiba-tiba sebuah ombak besar menghantam, Suryanto yang berdiri di tepi karang kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke laut.

Juliantilah yang terjun ke laut, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyelamatkan Suryanto dari air laut yang dingin.

Setelah kejadian itu, Suryanto bertanya padanya apa yang dia inginkan.

Julianti dengan hati-hati berkomunikasi dengan bahasa isyarat, "Aku ingin membawa nenek pergi dari sini."

Sejak kecil, Julianti sudah kehilangan kedua orang tuanya, dan hanya bergantung hidup bersama neneknya.

Kemudian neneknya sakit dan tidak bisa lagi merawatnya, sehingga dia terpaksa tinggal di rumah paman dan bibinya.

Paman dan bibinya menganggapnya sebagai beban, setiap hari memaksanya pergi ke laut untuk menangkap ikan, dan memberinya makan nasi basi serta lauk yang sudah rusak.

Julianti pernah mencoba melarikan diri, tetapi ditangkap kembali oleh pamannya, diikat di gudang kayu dan dipukuli selama tiga hari tiga malam, hampir tidak selamat.

Awalnya, Julianti tidak terlalu berharap banyak.

Tak disangka, tiga hari kemudian, bawahannya Suryanto datang sendiri ke rumah Julianti, mengatakan akan membawa Julianti dan neneknya ke Kota Beirus.

Pada masa awal dia tiba di Kota Beirus, Julianti bahkan lebih berhati-hati daripada saat tinggal di rumah pamannya. Setiap hari dia bangun sebelum fajar, meniru cara para pelayan bekerja, membersihkan rumah hingga bersih tanpa cela.

Dia tidak berani berharap terlalu banyak, hanya berharap Suryanto memberinya sesuap nasi.

Hingga suatu hari, Suryanto pulang dalam keadaan mabuk.

Ketika Julianti datang membawakan sup penawar alkohol, tiba-tiba Suryanto menarik pergelangan tangannya, dan tubuhnya langsung terjatuh ke dalam pelukan Suryanto.

Suryanto memeluknya dari belakang, menopang dagunya di bahu Julianti, dan dengan canggung menggunakan bahasa isyarat di depan Julianti, "Juli, maukah kamu menikah denganku? Mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja lagi, aku akan menafkahimu dan nenekmu seumur hidup."

Tubuh Julianti menjadi kaku, dan dia pun lari ketakutan.

Gadis dengan status seperti dia tidak pantas menjadi istrinya Suryanto.

Namun meski ditolak oleh Julianti, Suryanto tidak menyerah, justru semakin memperlakukannya dengan baik.

Suryanto belajar bahasa isyarat demi Julianti, menyewa ahli khusus untuk memulihkan kondisi tubuh Julianti yang lemah selama bertahun-tahun, dan memberi Julianti kehidupan yang serba mewah dan berkecukupan.

Suryanto membawa neneknya ke panti perawatan yang paling mewah di Kota Beirus, menanggung semua biaya pengobatannya.

Dia merapatkan kedua tangannya di bawah langit malam, dia menatap pada bintang jatuh yang melintas sambil berdoa, berharap Julianti dapat hidup dengan damai seumur hidup.

Hati Julianti yang telah lama membeku, akhirnya perlahan mencair oleh kehangatan Suryanto hari demi hari.

Jadi, ketika Suryanto sekali lagi melamarnya dalam keadaan mabuk, Julianti akhirnya mengangguk.

Suryanto mendorongnya ke tempat tidur dan menciumnya dengan penuh gairah, sementara sorot mata Suryanto memantulkan keraguan penuh bahagia yang terpancar dari mata Julianti.

Saat itu Julianti mengira, Suryanto adalah cahaya yang menyelamatkannya.

Tak disangka, semuanya adalah tipuan.

Suryanto menikahi Julianti hanya untuk menjadikannya tameng bagi wanita yang benar-benar dia cintai.

Dia melamarnya waktu itu bukan karena cinta, tapi karena Yulia diculik, sebagai cara untuk mengalihkan perhatian musuh.

Setiap kali melamar saat mabuk karena alkohol dapat mengaburkan kesadarannya, barulah dia mampu mengucapkan kata-kata palsu itu.

Belajar bahasa isyarat, agar akting cintanya lebih meyakinkan.

Menyewa ahli gizi dan berdoa untuk keselamatannya, adalah harapannya agar tameng ini bisa bertahan lebih lama, bisa menanggung lebih banyak bahaya untuk wanita yang benar-benar dicintainya!

Memikirkan semua itu, Julianti tidak bisa menahan lagi, dia terisak pelan penuh rasa sakit.

Suryanto mendengar suara di belakangnya, dia segera menghampiri Julianti.

Suryanto mengelap air mata Julianti dengan tisu, lalu berisyarat lembut, "Juli, sakit nggak? Ini salahku lagi. Tenang saja, orang yang menculikmu sudah aku habisi semua."

Kejadian seperti ini sudah terlalu sering dialami Julianti.

Dulu setiap kali dia diserang, Suryanto akan membalas dengan cara yang sangat kejam.

Suryanto akan mematahkan tulang orang-orang itu terlebih dahulu, membuat mereka terbaring di tanah kesakitan tidak bisa bangun, lalu melemparkan mereka seperti sampah ke kumpulan ikan hiu.

Yang paling mengerikan, Suryanto pernah mengambil senjata dan menembaki mereka hingga tubuh mereka berlubang-lubang, lalu menyeretnya ke krematorium dan membakarnya hingga tak bersisa.

Julianti pernah secara naif mengira bahwa balas dendam kejam Suryanto itu karena terlalu mencintainya, tidak tega melihatnya menderita sedikit pun.

Jadi betapa pun sakitnya dia, untuk menjaga perasaan Suryanto, dia akan tersenyum dan berkata bahwa dia baik-baik saja.

Sekarang dipikir-pikir, penampilannya yang penuh rasa terharu itu di matanya pasti sangat bodoh dan lucu!

Suryanto bahkan tidak menyadari pandangan hampa di mata Julianti. Suryanto memerintahkan asistennya untuk membeli bunga seruni putih kesukaan Julianti ke kamar rawat, dan menyuruh koki pribadi memasakkan makanan khusus untuk pemulihan, dan menyuapinya satu sendok demi satu sendok dengan sabar.

Tepat saat itu, telepon Suryanto berdering.

Suryanto mengangkat telepon, dan cahaya kilat tiba-tiba terlihat di matanya.

Kemudian, dengan alasan dokter memanggilnya untuk konsultasi, dia segera pergi.

Julianti merasa tidak tenang, tanpa sadar mencabut jarum infus di tangannya, menopang tubuhnya yang lemah, dan perlahan merangkak keluar dari kamar.

Di sudut koridor, dia melihat dua sosok sedang berpelukan.

Suryanto mendorong Yulia ke dinding, satu tangan menahan di atas kepalanya, mencium ubun-ubunnya dan berkata, "Siapa yang menyuruhmu datang ke sini, nggak tahukah keadaan sedang nggak aman?"

"Aku kangen kamu ... " jawab Yulia dengan manja sambil memeluk pinggangnya.

"Suryanto, kapan kita bisa bersama secara terbuka? Jelas kita sangat mencintai satu sama lain, tetapi harus sembunyi-sembunyi, aku sudah sangat lelah dengan kehidupan seperti ini."

"Sebentar lagi," kata Suryanto sambil menunduk dan memeluknya lebih erat. "Orang yang kukirim untuk menyusup sudah menyentuh inti jaringan mereka. Tak lama lagi kita bisa mencabut sampai ke akar-akarnya. Tujuh hari paling lama, setelah itu, tak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita."

Bibir Yulia sedikit terangkat, tetapi segera ditekan lagi, berpura-pura khawatir bertanya, "Lalu bagaimana dengan Julianti?"

"Tujuh hari lagi adalah hari pernikahan kami, aku akan menggunakan alasan perayaan untuk membawanya ke kapal pesiar, mengirimnya ke luar negeri. Tanpa izin dariku, dia selamanya nggak akan bisa kembali."

Di balik sudut, Julianti terpaku, bola matanya bergetar. Jari-jarinya mencengkram dinding yang dingin begitu kuat, hingga nyaris rubuh.

Dua minggu yang lalu, Suryanto mengatakan akan membawanya ke kapal pesiar untuk merayakan hari jadi pernikahan.

Saat itu Suryanto memeluknya, mata Suryanto lembut dengan tangan isyarat, "Kamu anak yang besar di pinggir laut, pasti sangat merindukan laut. Nanti aku akan menyalakan kembang api di laut, membuat seluruh langit malam terang untukmu."

Tapi Suryanto tidak pernah tahu.

Julianti telah menerima banyak penghinaan di desa nelayan, orang tuanya juga tewas dalam kecelakaan laut.

Yang paling Julianti benci adalah laut yang dingin itu.

"Oh ya, ambil ini," kata Suryanto yang tiba-tiba teringat sesuatu, melepas jimat yang dikalungkan di lehernya, dan memasukkannya ke telapak tangan Yulia. "Bawa ini, aku juga bisa lebih tenang."

Julianti menatap benda itu dengan gemetar.

Jimat itu ... adalah yang dulu Julianti dapatkan dengan berlutut di jalan kuil, dari kaki bukit sampai puncak, satu langkah satu sujud.

Hanya karena musuh Suryanto terlalu banyak, dia takut Suryanto juga mengalami nasib buruk.

Namun sekarang, Suryanto justru memberikan perhatiannya yang tulus kepada Yulia.

Julianti mengambil napas dalam-dalam, keputusasaan di matanya menghilang, hanya menyisakan kedinginan yang sunyi.

Jika Suryanto tak membutuhkannya lagi ...

Maka Julianti akan memenuhi keinginan Suryanto, menghilang dari dunia ini untuk selamanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam seorang ibu
8.3
Dunia Maya hancur saat putrinya dibunuh oleh anak pejabat yang tak tersentuh hukum. Menyadari keadilan mustahil didapat melalui sistem yang korup, sang ibu yang berduka ini memilih jalan gelap untuk menuntut balas secara mandiri. Ia menyusun rencana rapi demi menghukum pelaku, meski harus mempertaruhkan nyawa. Namun, apakah aksi nekat ini akan memberikan ketenangan atau justru melenyapkan sisa hidupnya? Sebuah perjuangan ibu demi kebenaran di tengah bahaya.
Sampul Novel Bermandikan Api: Kisah Reinkarnasi Seorang Putri
8.0
Terlahir kembali di tubuhnya yang berusia delapan tahun, Putri Yun Shang kini membawa beban ingatan dari masa depan yang kelam. Di kehidupan sebelumnya, ia hancur akibat pengkhianatan suami, kehilangan anak tercinta, dan kekejaman kakak perempuannya sendiri. Berbekal trauma dan pengetahuan masa lalu, Yun Shang bersumpah untuk membalikkan takdir. Ia tidak akan lagi menjadi korban yang lemah, melainkan sosok yang siap menuntut balas pada semua musuhnya.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dendam Seorang Pelacur
8.3
Felisha membuktikan bahwa wanita yang tersakiti mampu menjadi sosok yang sangat tangguh. Demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya, ia bergabung dengan Agency The Angel sebagai wanita panggilan kelas atas. Bersama sang adik, Shasya, Felisha rela terjun ke dunia prostitusi elite demi melacak sang pembunuh. Mereka mempertaruhkan segalanya dalam misi berbahaya ini demi mengungkap kebenaran dan membalas rasa sakit hati yang selama ini terpendam.
Sampul Novel Gerhana
9.6
Gerhana Putri Alam tak menyangka perselisihannya dengan preman garang bernama Tangguh Langit Ramadhan justru menumbuhkan benih cinta. Meski Tangguh bersikap dingin dan merasa tidak pantas bersanding dengan putri seorang jenderal, Gerhana tetap yakin ada perasaan tulus di balik sikap acuh tersebut. Tangguh bersikeras menepis kenyataan itu, namun Gerhana balik menggoda rahasia sang pria yang diam-diam sering menatap fotonya. Akankah perbedaan status menyatukan mereka?
Sampul Novel Mahkota Pewaris yang Dikhianati
9.0
Emilia, pewaris sah Keluarga Hewitt, nyaris tewas akibat pengkhianatan orang tua dan keempat kakaknya demi seorang penipu. Kini, dia bangkit tanpa rasa takut untuk melawan siapa pun yang menindasnya. Sebagai dokter ternama dan penilai harta karun, ia membungkam setiap ejekan dengan kemampuannya. Saat dikucilkan karena tidak dicintai keluarganya, klan paling terpandang di kota justru muncul melindunginya dan menganggap Emilia sebagai permata yang sangat berharga.