
Siapa Takut Pengkhianat Cinta
Bab 3
“Kita perlu ngomong.”
Kalimat itu membuat Andini melirik sekilas dan tidak menggubris orang yang baru saja berbicara kepadanya itu. Cewek itu sedang menunggu sesuatu di depan kantornya, ketika Carvian datang dan tahu-tahu saja memegang lengannya. Kemudian, Andini menarik tegas tangannya dari cekalan Carvian, menyebabkan Carvian mengeraskan rahang dan tidak bisa berbuat lebih daripada ini akibat banyaknya pasang mata yang sedang memerhatikan keduanya.
“Din, kamu dengar aku ngomong apa barusan?” tanya Carvian. Dia lebih mendekat ke arah Andini dan berbisik, “Kita perlu ngomong serius. Empat mata. Tapi, nggak di sini.”
“Buat apa aku harus ngomong lagi sama kamu?” Andini balas bertanya. Suaranya terdengar sangat dingin di kedua telinga Carvian. Sepertinya karena sudah terbiasa berbicara dengan bahasa ‘aku-kamu’ selama berpacaran dengan Carvian, Andini jadi tidak mudah menghilangkan kebiasaannya tersebut. “Hubungan kita udah selesai. Aku udah bebasin kamu. Kamu bebas untuk berpacaran sama Aulia. Jadi, nggak ada lagi yang perlu kita omongin.”
Baru saja Andini akan pergi, berniat untuk mencari tempat baru yang bisa dia pakai untuk menunggu apa pun yang sedang dia tunggu, asalkan bisa berjauhan dari Carvian, cowok itu langsung mencekal lengannya kembali. Kali ini, cekalannya begitu kuat, hingga Andini pun tidak bisa melepaskan diri. Dia menoleh, menatap tajam Carvian yang dibalas dengan tak kalah tajamnya. Sebenarnya, Andini cukup takut dengan Carvian saat ini. Carvian tidak pernah bersikap menakutkan seperti ini sebelumnya, di saat mereka masih menjalin hubungan. Namun, Andini bertahan dan memaksakan diri untuk tetap terlihat berani dan menentang mantan pacarnya itu.
“Lepasin aku, Carv,” kata Andini dengan nada tegas.
“Kita belum putus. Emangnya kamu dengar kalau aku setuju sama keputusan sepihak kamu yang mau menyudahi hubungan kita kemarin?” Carvian menggeleng dan semakin menguatkan cekalannya. “Aku nggak mau putus dari kamu. Kamu itu pacar aku, milik aku.”
“Carvian! Aku bilang lepas! Tangan aku sakit!” seru Andini. Dia tidak peduli jika mereka berdua sudah menjadi konsumsi publik saat ini. Biar saja. Orang-orang pasti bisa menilai bahwa Carvian lah yang jahat di sini dan sedang berusaha menyakitinya.
Andini terkesiap dan menoleh bersama dengan Carvian, ketika keduanya melihat sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangan Carvian yang sedang mencekal lengannya. Irvan muncul di sana. Menatap tajam dan dingin Carvian dengan aura gelap yang terlihat pada raut wajahnya. Rahangnya mengeras dan terlihat sedikit berkedut, menandakan sahabat Andini itu, yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, sedang menahan emosi dan amarah. Cengkeraman tangannya itu terlihat sangat kuat, terbukti dari reaksi Carvian yang meringis menahan sakit.
“Lepasin dia, berengsek,” geram Irvan. “Lo belum puas nyakitin hatinya, sekarang mau nyakitin fisiknya juga? Gitu?”
“Ini nggak ada urusannya sama lo!” tegas Carvian. “Lepasin tangan gue dan jangan ikut campur urusan gue sama cewek gue!”
Irvan menatap Carvian dengan tatapan mengejek. “Ha! Pacar kata lo? Heh, sialan, lo udah dicampakkin sama dia kemarin, setelah lo dengan begonya nyakitin dia dan khianatin dia! Dia bukan lagi pacar lo! Dia bebas, dia single dan dia calon istri gue karena semalam gue melamar dia!”
Mendengar itu, emosi dalam dada Carvian menggelegak. Akibat ucapan Irvan, tanpa sadar Carvian justru menambah kekuatan cekalannya, hingga membuat Andini mengaduh kesakitan. Kali ini lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya.
Melihat Andini kesakitan, tentu saja Irvan tidak tinggal diam. Cowok itu langsung melayangkan kepalan tangannya hingga Carvian jatuh terjungkal ke belakang. Saat dia mendongak dan berniat untuk memaki Irvan, cowok itu mematung. Dia bisa melihat bagaimana Irvan dan juga Andini yang bersembunyi di belakang tubuhnya, menatap ke arahnya dengan tatapan jijik. Membuat Carvian mengertakkan gigi dan membiarkan darah itu mengalir di sudut bibirnya. Suara kasak-kusuk di sekitar mereka semakin terdengar, tapi ketiga orang tersebut tidak menggubrisnya sama sekali.
“Lo udah menyia-nyiakan cewek sebaik Andini dan sekarang lo mengemis cintanya lagi?” Irvan mendengus dan tertawa keras. Tawa datar. Sengaja dia berbicara sekeras mungkin agar orang-orang tahu apa yang sedang terjadi. “Lo mengkhianati dia, Carv. Apa lo lupa akan hal itu, hm? Lo berselingkuh di belakang cewek sebaik ini. Dan berengseknya lagi, lo berselingkuh dengan saudara sepupunya sendiri!” Irvan menunjuk wajah Carvian lurus-lurus. “Jangan pernah dekatin dan gangguin Andini lagi karena sekarang, dia milik gue! Berbeda dengan lo, gue akan membuat Andini bahagia sampai dia lupa kalau dia pernah mengenal manusia menjijikkan seperti lo, Carvian!”
Setelah mengatakan hal tersebut, Irvan menggenggam erat tangan Andini dan pergi meninggalkan Carvian yang menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya. Irvan membawa Andini ke mobilnya, kemudian pergi sejauh-jauhnya dari hadapan orang-orang. Termasuk dari hadapan Carvian.
###
“Lo nggak seharusnya nonjok dia kayak tadi, Van.”
Kalimat Andini itu membuat Irvan meliriknya dan kembali fokus pada jalanan di depannya. Rasa cemburu itu hadir di dalam hatinya, membuatnya panas bukan main. Senyum tipis muncul di bibirnya dan ketika ada lampu merah, Irvan menggunakan kesempatan ini untuk berbicara dengan Andini.
“Kok kesannya kayak ngebelain Carvian, ya? Kenapa? Lo nggak terima kalau gue nonjok mantan pacar lo itu? Masih ada rasa, ya?” tanya Irvan dengan nada menyindir. Entahlah, kesal saja rasanya. Ya, walaupun dia tahu kalau Andini menerima lamarannya, tapi kan dia juga tahu jika Andini baru saja putus kemarin dan kemungkinan besar masih memiliki perasaan cinta untuk Carvian.
Andini paham jika Irvan cemburu. Cowok itu sudah mengaku bahwa selama ini dia menyimpan rasa untuknya. Dia juga sudah setuju untuk menikah dengan Irvan dan berkata tidak akan sulit untuk mencintainya. Tapi, sikap Irvan saat ini membuat Andini bete. Dia sudah bete karena bertemu dengan Carvian dan diganggu oleh mantan pacarnya itu, sekarang Irvan pun bersikap sedikit kekanakkan hanya karena cemburu.
“Van, sebenarnya lo ada di pihak siapa?”
Kening Irvan mengerut. “Apa lo perlu menanyakan hal sebodoh itu sama gue? Kalau gue nggak memihak lo, apa lo pikir gue akan menghajar Carvian seperti tadi dan bertekad untuk membahagiakan lo?”
“Kalau lo berpihak sama gue, bisa lo nggak memojokkan gue seperti tadi?” tanya Andini. Dia tersenyum tipis. Senyuman simpul. Kedua tangannya gemetar. Matanya terasa panas dan mulai mengabur. Ketika dia menatap Irvan, dia bisa melihat wajah dan tatapan Irvan yang terlihat sangat terkejut. Tubuh cowok itu mematung dan dia tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Rasa bersalah kini merasuki Irvan. Dia bahkan tidak peduli dengan bunyi klakson kendaraan-kendaraan yang ada di belakangnya. Rasanya, Irvan ingin menghajar dirinya sendiri habis-habisan.
“Soalnya, gue udah lelah banget. Sangat. Kalau lo ada di pihak gue, bisa tolong jangan bersikap seperti ini ke gue? Setidaknya, tunggu sampai gue benar-benar udah terbebas dari rasa lelah ini.”
Andini menangis tanpa suara.
Anda Mungkin Juga Suka





