
SI PEMBUNUH TANPA MELIHAT
Bab 3
Pintu terbuka dengan cepat, membuat semua orang yang ada di dalamnya kaget melihat anak gadis yang tak kunjung pulang, sudah kembali setelah mereka berunding untuk mencarinya.
Sedangkan gadis itu tersenyum dengan nafas cepat, lalu setelah melihat semua orang amat serius padanya membuat gadis bernama Gaylen itu heran. "Ada apa?"
Tak lama sebuah pukulan mengenainya, dan itu didapatkan dari sang ibunda tercinta. "Anak sialan! Ini sudah jam berapa? Kau baru ingat pulang? Kenapa tidak kembali saja sekalian?"
Ya itulah ibu, dia suka lain dihati lain mulut. Padahal tadi dia yang paling risau tentang anak terlahir ini, wanita berumur 49 tahun itu terus memukul putrinya membuat semua orang menatap marah padanya.
"Aw, aduh Bu. Ampun! Aw, ah iya-iya aku salah," teriak Gaylen yang kesakitan karena ibunya.
"Gaylen, apa kau pikir kau ini sudah besar? Ini sudah jam berapa?" tanya kakak pertamanya, dia laki-laki yang sudah memiliki istri juga dua orang anak.
Mendengar itu sang ibu berhenti dan menatapnya sangat marah. "Benar apa kau tidak lihat jam?"
"Kau ini baru SMA, Gaylen," teriak kakak keduanya, dia juga laki-laki tapi baru menikah belum lama ini, benar Gaylen anak terakhir dari tiga bersaudara, keluarga yang amat lengkap.
"Aku hampir diperkosa, apa kalian puas?" tanya Gaylen yang sudah kesal, kalau saja di tidak ditarik oleh mereka dia pasti sudah pulang, sayang jalan yang cukup jauh dari rumah dan terutama tidak ada kendaraan membuat waktu jadi lama untuk kembali ke rumah.
"Apa?" tanya semua orang yang terkejut, tentu saja sang ibu yang berada di sampingnya memeriksa tubuhnya terdapat tanda mereka di sana juga luka.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya ibunya yang berkaca-kaca, ya walau dia pemarah sebenarnya dia wanita yang sangat baik.
"Beruntung tadi ada seorang kakak yang menolongku, dan preman itu langsung mati dengan satu kedipan mata, ibu dia sungguh luar biasa." Mendengar ucapan Gaylen yang malah senang setelah apa yang terjadi, membuat semuanya terdiam beberapa detik.
"Apa mereka semua mati?" tanya istri kakak keduanya.
"Iya, ketiga orang itu mati sepertinya dia memakai pisau, dia hebat kan kak?" tanya Gaylen, tak lama kakak pertamanya memukul kepalanya sedikit keras, membuat Gaylen terkejut bahkan semua orang.
"Aku rasa ada yang aneh dalam otakmu, masuk ke kamar! Harusnya kau ketakutan melihat itu, bukan malah kagum," ucap pria bernama Joanes itu, bahkan kata-kata yang di ucapkan tadi tidak pantas ketika ada kedua anaknya disana.
Gaylen memukul kepalanya sakit, hantaman kakaknya bahkan lebih parah daripada ayahnya sendiri, bahkan ayahnya hanya dia sambil menyeruput kopinya, tidak pria itu bahkan tak perduli sama sekali, karena baginya anak perempuan tidak berguna, seakan dia lupa kalau isterinya juga perempuan, yang telah melahirkan semua anaknya.
Pada akhirnya gadis itu pergi dari sana sambil mengisap kepalanya, tidak Kakaknya tidak sekeras itu memukulnya hanya saja dia ingin lebih dramatis, kadang pria itu suka seenaknya, lihat saja nanti dia akan dimarahi oleh ibu.
Cuman beberapa langkah Gaylen akhirnya merebahkan dirinya di kasur, tadi adalah hal yang menegangkan. Mengingat dimana dia dinodai membuat Gaylen merasa sedikit kotor, tapi puji Tuhan dia akhirnya selamat.
"Kira-kira, apa aku bisa bertemu lagi dengan kakak itu ya? Dia terlihat tampan sayang aku tidak bisa melihat keseluruhannya."
***
Sedangkan di sisi lain Drake yang baru saja mandi setelah melakukan aktivitas yang melelahkan, dan menegangkan, keluar dari pintu kamar mandi lalu merasa asap rokok milik ayahnya, kapan pria itu tidak menciptakan polusi di seisi kamarnya?
"Ayah, jika kenapa ayah selalu merokok di kamarku, apa dunia ini tidak terlalu luas untuk ayah melakukan hal itu?" tanya Drake yang mulai Bosan, pria ini suka seenaknya ya walau bagaimanapun dia juga yang sudah membesarkan sampai sekarang, jadi jasanya bagi Drake sungguh tak ada batas.
"Apa karena kau merasa sudah membayar tempat ini, kau berhak mengaturku?" tanya Hunter dengan angkuh, ya dia memang seperti itu.
"Terserah ayah saja lah," balas Drake yang malah, dia pun meraba lemari untuk mencari pakaiannya.
Beruntung Hunter sudah memisahkan, menata semua baju itu hingga dia hapal, dimana letak pakaian yang dia inginkan. Walau sudah bicara kasar dan seenaknya tapi Hunter sangat mengerti apa yang dia butuhkan.
"Apa tugasmu sudah selesai?" tanyanya sambil melepaskan batang rokok itu dari mulutnya.
"Kenapa ayah ingin tau?" tanya Drake yang membuat Hunter kesal, tak lama Drake tertawa dia hafal deru nafas cepat itu, bahkan marahnya sang ayah dia sampai hafal. "Sudah ayah, tenang saja."
"Apa si sialan itu tidak memerintahmu lagi?" tanyanya lagi, ya dia senang sekali menghina orang yang sudah membuat mereka besar seperti sekarang.
"Entahlah," balas Drake, dia mulai memakai pakaiannya dalamnya tak perduli kalau Hunter berada di depannya sekarang, lagipula sejak bayi dia bersamanya bukan.
Tak lama Hunter menegang kepalanya kesal. " Sialan!"
"Ada apa, ayah?"
"Kenapa punyamu lebih besar dari pada aku sekarang?" tanya Hunter yang membuat Drake tak paham, Alisnya menyatu karena bingung.
"Maksud ayah?"
"Milikmu, ah lupa dasar anak bodoh. Saat kecil itu amat mungil sekarang kenapa jadi seperti itu, kau seperti menghinaku tau?" tanya Hunter, apa ini karena karena dia sering menginjek anak sejak kecil.
"Ayah! Jangan bicara omong kosong, aku tak paham dengan ucapanmu," ucap Drake yang sudah memakai baju lengkap.
"Itu artinya kau bodoh," ejek Hunter, pria itu memang tak pernah mengajarkan hal yang pribadi pada anak itu, yang ada hanya latihan-latihan untuk menjadi pembunuh, mengikuti Suara juga insting yang lain, dan sialan anak buta itu lebih hebat dari pada dia dulu.
Ting, tong. Bunyi bel pintu membuat kedua orang itu tersebut melihat ke sumber suara. "Seperti Alger datang, sisir rambutmu kau jelek sekali dengan rambut acak-acakan itu."
Tidak dia tidak jelek, namun sangat tampan bahkan dengan rambut basah, bisa-bisa dia iri dengan anak angkatnya sendiri, ia yakin kalau ada sekumpulan wanita maka Drake sudah pasti dikerubungi oleh mereka.
Hunter berjalan keluar di susul Drake yang sudah bersisir, dia tidak melihat seperti apa yang dia sisir, namun itu ajaran Alger padanya karena kata pria itu tatanan rambut buatan Hunter amat jelek.
Pintu terbuka memperlihatkan Alger yang membopong makanan banyak di tangannya. "Maaf disini tidak ada yang meminta sumbangan."
Pintu ingin ditutup namun Alger menahannya sambil tersenyum, dia sudah biasa mendapatkan ini dari Hunter. Jika saja mereka tidak teman sekarib, maka matilah dia.
"Tunggu dulu kawan! Ada urusan dengan anakmu."
Anda Mungkin Juga Suka





