Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Setulus Cinta Ana

Setulus Cinta Ana

Setelah sekian lama berjuang keras untuk menghapus perasaan terhadap Aris, Ana akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menerima cinta pria tersebut. Meski telah berupaya menjauh, takdir seolah terus mempertemukan mereka kembali melalui berbagai situasi yang tidak terduga. Kini, Ana mulai merenungkan apakah semua kebetulan ini adalah pertanda kuat bahwa mereka memang ditakdirkan berjodoh untuk selamanya dalam ikatan asmara yang tulus.
Bab
Bagikan

Bab 3

Grepp..

Lagi-lagi langkahnya berhasil di tahan.

"Kau bukan kebelet pipis sayang? aku rasa yang kau perlukan adalah mengganti dalamanmu yang basah."

Ah ingin sekali rasanya Ana langsung menenggelamkan tubuhnya di bak mandi sekarang juga saat mendengar semua ucapan nakal dari calon suaminya itu.

Tok..Tokk.

"Tuan saya kemari ingin mengantarkan

Tuxedo yang anda inginkan, apakah saya boleh masuk sekarang?" Tanya seorang pelayan butik itu dari balik pintu.

"Masuklah!"

Fiuhhh.

Ana langsung bernafas lega, saat kedatangan pelayan itu di sana.

Sementara Aris sudah terlihat sibuk demi mengenakan beberapa stel tuxedo yang dia inginkan itu agar penampilannya di saat hari pernikahan mereka nantinya benar-benar terlihat begitu sempurna.

********

Hari pernikahan.

Setelah selama beberapa hari ini Ana dan juga Aris terus di sibukkan dengan semua urusan persiapan pernikahan, akhirnya hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh keduanya beserta yang lainnya itu pun telah tiba.

Semua publik juga turut bergembira atas hari bahagia itu, mereka juga turut mendoakan kelancaran acara keduanya dari jauh.

Plakkk...

Aris langsung melemparkan sepotong kue yang ada di tangannya ke arah wajah seorang pria yang terlihat bertubuh begitu gemulai yang tengah memakaikan make up di wajah calon istrinya itu.

"Aris!" Rika yang saat itu juga turut berada di sana dan juga melihat kejadian itupun langsung melemparkan tatapan yang begitu menusuk ke arah putranya karena ulah konyolnya itu.

"Siapa yang mengijinkanmu menyentuh wajah calon istriku heh!? pokoknya aku tidak mau tahu kau harus pergi sekarang juga! lagi pula seingatku aku tidak pernah memintamu untuk menjadi Makeup Artist calon istriku!

Kecam Aris.

Dia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan tajam yang diberikan oleh mamanya, tangannya sudah sibuk dengan ponselnya untuk segera memberi perintah kepada Rey agar Rey segera mencarikan

Makeup Artist yang baru.

"Hahaaahaa.."

Belum sempat si pria gemulai itu menjawab, Aldo yang saat itu baru saja masuk ke kamar itu demi mencari Rika, langsung tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar ucapan Aris barusan.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Kau bertanya padaku?" Ujar Aldo seraya menunjuk dirinya sendiri.

"Ya tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa mengeluarkan tawa jelek seperti truk rusak itu selain kau!"

"Hahaaa, kau terlalu memuji, tentu saja aku menertawakanmu, acara pernikahanmu tinggal 30 menit lagi akan segera dimulai,| dan kau malah memintanya untuk pulang, hanya karena alasan kau begitu cemburu saat melihat calon istrimu di sentuh oleh pria lain, dan itu pun padahal bukan disentuh oleh seorang pria sepertiku, apa menurutmu umurmu itu sesuai dengan kelakuanmu?"

"Cihhh, ku beri kau waktu dalam 15 menit untuk menyelesaikan make upnya, kalau sampai lewat dari waktu yang ku berikan, kau tahu sendiri resiko apa yang kau terima nantinya!" Ancam Aris.

Matanya sudah menatap tajam ke arah pria yang bertubuh gemulai itu.

"Oke cin, tenang aje" Jawab pria bertubuh gemulai itu, tapi jujur saja tangannya sudah gemetaran saat mendengar ancaman itu.

Pikirannya sudah kemana-mana, tampaknya rumor gila tentang pria itu memang benar adanya apalagi saat melihat tatapan membunuhnya secara langsung seperti itu, sudah meninggalkan kesan aura membunuh yang sangat menakutkan baginya.

13 menit kemudian.

Aris sempat terpana saat melihat betapa cantiknya penampilan calon istrinya itu, dadanya sempat berdebar-debar tak karuan saat melihatnya dengan balutan baju pengantin berwarna putih itu.

"Apa dia benar-benar calon suamiku" Batin

Ana.

Keduanya tampak saling mengagumi satu sama lainnya.

"Ehmmm..Ehmm..." Aris langsung berdehem untuk mencoba mencairkan suasana tegang di antara mereka, diakui pria gemulai itu memang pantas diacungi jempol saat melihat riasan yang dia berikan untuk calon istrinya itu, bahkan dia bisa menyelesaikannya lebih cepat dari waktu yang diberikan olehnya tadi.

Di Aula gedung.

Dari pagi sampai sesore ini sekalipun, para tamu undangan masih saja terlihat begitu sesak memenuhi semua meja yang sudah disediakan oleh tuan rumah.

Decak kagum dari para tamu undangan saat melihat betapa cantik dan juga tampannya kedua mempelai itupun tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka.

Dan banyak juga di antara mereka yang langsung secara terang-terangan meminta izin untuk berfoto bersama demi mengabadikan momen spesial itu, dan kedua mempelai pun dengan senang hati langsung memenuhi keinginan mereka.

"Selamat!" Ujar Elios seraya mengulurkan tangannya ke arah sahabatnya itu.

"Kau!" Aris langsung meninju bahu Elios karena kesal baru bertemu dengan pria itu sekarang.

"Kemana saja kau beberapa minggu ini bahkan saat aku meneleponmu sekalipun kau tak pernah mengangkatnya?" Lanjut

Aris lagi.

"Maaf selama beberapa minggu ini aku sibuk sekali, oleh karena itu aku tidak terlalu punya banyak waktu bersantai-santai apalagi sampai harus menerima telepon darimu, tapi kau puas bukan dengan hasil makeup Artis yang aku kirimkan sebagai bentuk hadiah dariku untuk pernikahan sahabat tercintaku ini?"

"Makeup Artist?" Ujar Aris.

"Jadi yang mengirimkan pria jadi-jadian itu kemari karena ulah perbuatanmu?" Ujar Aris lagi. Berbicara dengan pelan karena takut ucapannya akan terdengar oleh orang lain.

"Hahaaa tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa selancang itu kepadamu selain sahabatmu yang gagah perkasa ini" Jawab Elios.

"Kau!" Aris sudah menggertakan giginya karena geram.

"Ingatlah sobat, di segala penjuru semua kamera terus menyorotmu, memangnya kau mau semua publik melihat sifat aslimu itu?"

Ujar Elios seraya menepuk-nepuk bahunya

Aris, tak lama setelah itu dia pun segera berlalu dari sana untuk menikmati jamuan yang disediakan oleh tuan rumah.

Entah mengapa saat Aris melihat sikap yang Elios tunjukan barusan, dia justru merasa kalau Elios malah seperti sedang menghindarinya dan juga tengah berpura-pura bahagia atas pernikahan mereka.

"Ada apa dengan anak in?" Batin Aris.

Matanya terus memandangi punggung sahabatnya itu, bahkan dahinya juga sampai tampak mengkerut karena terlalu banyak berpikir.

"Ada apa mas?" Tanya Ana. Saat melihat raut wajah suaminya yang sulit di artikannya itu.

"Tak apa sayang" Jawab Aris seraya langsung tersenyum lebar ke arah istrinya itu lalu merangkul pinggangnya dengan mesra.

Tak lama setelah itu keduanya pun sudah disibukkan bersalaman kembali dengan semua para tamu undangan yang saat itu sudah berada di hadapan mereka.

Senyuman lebar tak luput sedikitpun dari bibir keduanya dan juga semua keluarga besar kedua mempelai yang tengah begitu berbahagia itu.

****

Setelah selama 2 hari 2 malam menggelar pesta pernikahan, akhirnya kedua mempelai dan juga seluruh keluarga besar Mahendra pun bisa pulang ke rumah dan juga mengistirahatkan tubuh mereka hari ini.

Walaupun tubuh mereka sangat kelelahan karena pesta pernikahan itu, namun senyuman lebar tak pernah luput dari bibirnya karena terlalu bahagia.

"Ma kita balik duluan ya?" Pamit Ana dan

Aris berbarengan kepada orangtuanya itu.

"Ya hati-hati sayang," Pesan Rika.

"Paman' Ujar Aris seraya langsung membawa Erik ke pelukannya.

"Ku titip keponakanku padamu, tolong jaga dia baik-baik' Ujar Erik seraya menepuk-nepuk bahunya Aris.

Tanpa terasa air matanya sempat menetes karena mulai hari ini dia dan keponakannya itu tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi karena statusnya yang sudah menyandang sebagai istri dari seorang pria selaku atasannya itu.

"Tentu paman, tentu saja Aris akan menjaganya,' Jawab Aris lalu langsung melepaskan pelukan mereka.

"Hiks..hiksss"

Tanpa terasa air mata Ana juga merembes keluar, mulai sekarang dia bukanlah seorang wanita lajang berstatus sebagai keponakan kesayangan pamannya lagi, melainkan seorang wanita yang sudah resmi menjadi istri orang. Sedih, tentu saja dia sedih karena sekarang masa-masa saat dia tinggal di rumah pamannya itu hanyalah tinggal kenangan walaupun selama dia tinggal di sana bibiknya tak pernah memperlakukan dia dengan baik, namun oleh karena kasih sayang yang selalu di berikan oleh pamannya itu selama tinggal di sana, sempat membuatnya merindukan masa-masa itu, terlebih setelah dia sudah bekerja di rumah Aris selama kurang lebih setengah tahun ini dia memang tidak pernah lagi menginap di rumah pamannya.

"Ayolah kenapa kau cengeng sekali? kalau kau merindukan paman sewaktu-waktu kau kan bisa datang berkunjung ke rumah' Ujar

Erik menenangkan.

Jiwa kebapakannya langsung paham saat melihat reaksi gadis itu.

"Bukankah paman juga cengeng?

Ana sempat melihat kalau paman juga meneteskan air mata tadinya."

"Kau salah sangka, mata paman hanya berair tadinya karena kelilipan, Dalih erik.

Lalu mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Haihhh kenapa kau cengeng sekali sayang, atau kamu mau aku cium sekarang juga untuk menghentikan tangismu itu?" Timpal Aris.

"Sudah, sudah, sebaiknya kalian kembalilah sekarang!" Ujar Rika menengahi.

"'Silahkan tuan dan nona!" Timpal seorang wanita setengah baya setelah membukakan pintu mobil bagian belakang untuk kedua majikannya itu.

"Paman, mama, semuanya kami pulang"

Pamit Ana dan Aris lagi.

"Ya,' Jawab mereka.

"Bibi akan merindukanmu sayang, sering-seringlah berkunjung ke rumah,"

Timpal Hana seraya memasang wajah manis palsunya itu, pedahal di dalam hatinya dia habis-habisan merutuki gadis itu karena sudah membuatnya harus berjauhan dengan putri tercintanya.

Sementara Ana hanya menanggapinya dengan senyuman yang sangat tipis.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Wanita Biasa
8.6
Madina kembali bertemu Adnan, mantan suami yang mengusirnya akibat fitnah perselingkuhan. Setelah tiga tahun bertahan hidup sebagai buruh kasar karena ijazahnya dirusak, Madina kini ditawari rujuk. Adnan terobsesi mengambil kembali putra mereka demi warisan keluarga, meski dulu ia menelantarkannya. Di tengah trauma dan kehadiran pria lain yang tulus, Adnan berusaha membersihkan nama Madina. Akankah Madina luluh atau memilih bangkit dari luka masa lalu?
Sampul Novel Dendam yang Terpendam: Cinta Sang CEO Terhalang Takdir
7.9
Pasca koma panjang, Zeesya Aleena Lawrence tersadar bahwa kekasihnya hanyalah seorang pengkhianat. Di tengah keterpurukan, ia menemukan cinta baru pada sosok pria misterius yang sangat memujanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat rahasia kelam terungkap. Pria tersebut ternyata dalang di balik tragedi berdarah keluarganya di masa lalu. Kini, Zeesya terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan perasaan atau membalas dendam atas takdir yang tertukar.
Sampul Novel Istri Untuk Duda Tampan
8.2
Trauma pengkhianatan masa lalu membuat Adskhan menutup hati, hingga pesona Caliana Noushafarina mengubah segalanya. Meski Adskhan jatuh cinta pada pandangan pertama, Caliana justru menaruh benci. Baginya, atasan berstatus duda itu bukanlah pria baik-baik. Caliana gigih menolak segala perhatian yang diberikan Adskhan karena sosok duda tidak pernah masuk dalam kriteria suami impiannya. Akankah kegigihan Adskhan mampu meluluhkan benteng pertahanan Caliana?
Sampul Novel Kembalilah Cintaku
8.2
Pernikahan Intan dan Baskoro terjadi saat sang ayah sedang koma. Begitu tersadar, pria itu langsung menentang hubungan mereka hingga keduanya terpisah. Meski didera rasa lelah dan kecewa dalam pencarian panjang, Intan tetap bertahan menghadapi kebencian Baskoro. Rahasia besar akhirnya terungkap saat Baskoro menyadari kehadiran seorang anak yang sangat mirip dengannya. Ternyata, bocah tersebut adalah darah dagingnya sendiri yang selama ini tidak ia ketahui.
Sampul Novel Pemburu Darah Perawan
9.7
Demi mengubah nasib, Japri nekat melakukan ritual pesugihan di Karang Nini. Kekayaan melimpah berhasil diraihnya, namun ada harga mahal yang harus dibayar berupa tumbal darah perawan setiap malam Selasa Legi. Sesuai perjanjian gaib tersebut, Indra sebagai putra tunggal wajib meneruskan tradisi kelam ini. Kini, Indra terjebak dalam lingkaran setan yang mengerikan, bahkan ia nyaris melanggar pantangan keramat yang mengancam nyawa serta seluruh kekayaannya.
Sampul Novel Pernikahan Suami di Rumah Mertua
8.2
Kemala menjadi korban pengkhianatan Herdian yang lebih memilih wanita lain. Tak hanya dicampakkan, ia pun harus menelan pil pahit akibat kekejaman mertua yang serakah. Awalnya Kemala hanya bisa meratapi nasib, namun teguran sang ayah menyadarkannya untuk bangkit melawan. Di tengah suami yang tunduk pada hasutan ibunya, Kemala harus berani mengambil sikap tegas. Mampukah ia bertahan dan menghadapi penindasan di rumah mertuanya sendiri tanpa rasa menyerah?