Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Setelah Bercerai

Setelah Bercerai

Pasca bercerai, sepasang mantan suami istri terpaksa bertemu kembali saat buah hati mereka berada dalam kondisi kritis antara hidup dan mati. Sang ibu berjuang sendirian sebagai orang tua tunggal, sementara sang ayah justru sibuk dengan keluarga barunya. Konflik batin muncul saat sang istri sempat membatasi akses pertemuan, namun kini ego harus dikesampingkan. Bisakah mereka bersatu demi sang anak yang sedang bertarung nyawa di tengah kelalaian masa lalu?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pram hadir di rumah sakit itu. Dari kejauhan, saat melangkah di koridor rumah sakit itu, ia melihat Widya yang nampak lelah.

Ia lantas mendekat pada Widya yang kini duduk di ruang tunggu.

"Bagaimana? sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Pram.

Widya menatap wajah mantan suaminya. Wajah yang masih segar, tampan, dan terlihat awet muda.

"Aku tidak tahu, pagi tadi pada saat seperti biasa aku ingin bekerja dan menyiapkan semuanya, aku ke kamar Andi. Namun aku melihat darah malah keluar dari hidungnya. Bantal tidurnya penuh dengan darah."

"Terus, apa kata dokter?"

"Aku masih menunggu. Kata dokter kondisi Andi harus pulih dulu. Dokter tetap melakukan penanganan yang terbaik."

"Mungkin ini gara-gara kamu yang tidak perhatian dengan Andi!" tukas Pram. "Bagaimanapun dia baru kelas 1 SD. Kamu dari Andi kecil selalu melepaskannya dengan pembantu. Kamu selalu sibuk dengan toko kuemu!"

"Mas!" kata Widya. "Aku bekerja untuk Andi. Aku bekerja keras buat anakku. Setiap di toko kue, yang kuperhatikan cuma dia. Aku selalu menelpon Desi walaupun sibuk di toko kue. Sebaliknya malah kamu yang tidak pernah memperhatikannya. Setelah kita bercerai, Andi bahkan tidak pernah mengenal siapa ayahnya!"

"Widya??"

"Tadi aku juga tidak mau memberitahukan hal ini pada Mas Pram, karena aku juga tahu Mas pasti sibuk dengan keluarga kecil, Mas. Aku tidak ingin membebani semua ini pada Mas Pram. Namun apa daya, aku takut semua ini menjadi sesuatu yang salah. Bagaimanapun kamu ayahnya, jadi aku meneleponmu." Widya lantas menghela napas. "Aku bekerja keras untuk Andi Mas! Aku menjadi single parent. Mas Pram tahu sendiri, setelah bercerai, Mas Pram memang lepas tangan, tidak bantu apa-apa. Aku tahu mas Marah. Aku tahu Mas kecewa, tapi aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk aku dan anakku!"

Pramudya menghela napas mendengar jawaban mantan istrinya. "Tapi seenggaknya kalau kamu lebih banyak waktu untuk dia, mungkin semuanya tidak akan jadi begini!"

"Tidak patut untuk saling menyalahkan, Mas. Sesudah perceraian aku benar-benar berjuang. Walaupun Andi suka menanyakan Ayahnya, aku tetap menutupinya. Bukan karena aku tidak ingin Andi mengingat ayahnya. Namun aku tahu, kamu telah sibuk dengan keluarga kecilmu!"

Pram diam. Sebetulnya emosinya masih memuncak. Widya memang selalu begitu. Dulu, sebelum mereka bercerai pun, kehidupan mereka juga seperti itu. Monoton. Widya lebih sibuk dengan pekerjaannya di toko kue, dibandingkan memerhatikan keluarganya. Sampai akhirnya malah jadi begini!

Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan periksa.

"Keluarganya Andi?"

"Ya Dokter," Widya dan Pram menyahut hampir bersamaan.

"Keadaan Andi sudah normal kembali. Ia bisa pulang seperti biasa. Ibunya mohon ke ruangan saya?"

Dokter berlalu ke ruangannya, dan Widya mengikutinya.

Widya lalu duduk di depan dokter yang usianya sudah setengah abad itu.

"Untuk sementara ini keadaan Andi menurut saya masih baik-baik saja. Saya hanya memberikan obat untuk penghentian darahnya juga obat-obatan lain. Apakah selama ini anak Ibu pernah mengeluh sebelumnya?"

"Tidak pernah, dok," ujar Widya. "Selama ini ketika saya pulang dari toko kue, saya melihat Andi bermain seperti biasa di rumah."

"Baiklah. Setelah ini saran saya Andi agak lebih diperhatikan. Jikalau ada apa-apa lagi bisa langsung kesini?"

"Apa ada hal yang sangat serius, dokter?"

"Untuk sementara memang belum bisa kami pastikan. Namun keadaan Andi sudah dapat ditangani dengan baik. Ibu tak perlu khawatir ya. Takutnya khawatir yang berlebihan malah memperburuk kondisi Andi."

Dokter lalu mencatatkan resep obat.

"Ini resep obatnya. Dan semoga Andi bisa lekas sembuh."

"Ya, dokter. Terima kasih."

Sedikit lega, Widya akhirnya keluar dari ruangan dokter. Dia langsung berjalan ke ruangan tempat Andi diperiksa. Dan disana sudah ada suaminya.

"Sudah," kata Widya memberitahukan pada suaminya dengan suara pelan. "Aku harus mengambil obatnya dulu, baru bisa pulang."

"Sekarang?" tanya Pram.

"Ya, langsung pulang saja Mas. Andi tampak lemah. Biar dia bisa istirahat di rumah. Dokter juga belum menyarankan untuk dirawat inap."

Andi menatap Ibunya.

"Masih sakit, nak?" tanya Widya.

Andi menggeleng.

"Ya sudah, kita pulang. Biar Andi Papa gendong," kata Pram kepada anaknya itu.

***

Andi sudah berpindah pada gendongan Widya, dan mereka sudah masuk ke dalam mobil Pram.

Pram nampak fokus menyetir untuk mengantar Widya pulang ke rumahnya.

"Dokter bilang apa tadi?" Pram membuka percakapan.

"Harus fokus menjaga Andi. Kalau misal ada apa-apa dengannya. Harus cepat dibawa ke rumah sakit lagi."

"Aku bilang juga apa?" desis Pram.

"Setidaknya kita bagi tugas, Mas. Apa Mas nggak nyadar kalau aku yang lebih banyak mencurahkan waktu untuk Andi!" Widya bahkan harus memekik saat mengatakannya.

"Mama..." Andi tiba-tiba bersuara. Tiba-tiba takut karena pertengkaran Ayah dan Ibunya.

"Kalau ada apa-apa memang selalu laki-laki yang disalahkan!" Pram berkata agak sedikit kesal.

"Aku tidak pernah menyalahkan Mas Pram. Setidaknya Mas juga harus lebih memerhatikan keadaan Andi. Tidak pernah ada yang melarang Mas untuk melihat Andi. Andi adalah anak Mas juga."

Pram diam mendengar penuturan mantan istrinya.

Widya lantas mengusap puncak kepala Andi. Memeluknya dengan penuh rasa sayang. Lalu dikecupnya kening anak itu. "Andi pusing nggak kepalanya?"

Andi menggeleng.

Jeda. Hanya keheningan mengantar mereka hingga ke rumah Widya.

Hingga mobil berhenti tepat di sebuah rumah sederhana.

"Kalau ada apa-apa, telpon aku," tutur Pram di balik kemudi, setelah keduanya turun. Widya menganggukkan kepalanya.

Namun Pram akhirnya turun. Ingin melihat lagi lebih jelas kondisi anaknya.

Pram menghampiri Andi yang berada dalam gendongan Ibunya. "Andi yakin nggak papa, Nak?"

Andi mengangguk. "Papa kenapa nggak tidur di rumah Mama saja?"

Ucapan itu membuat Pram menoleh ke arah mantan istrinya.

"Papa besok harus kerja pagi-pagi," kata Pram. "Papa nanti usahakan kalau waktu luang, nyamperin Andi."

"Janji ya, Pa."

"Ya."

"Papa pulang dulu ya?"

Pram lalu mengecup puncak kepala anaknya. Lalu dia beranjak masuk ke dalam mobilnya.

Widya hanya memerhatikan tingkah polah mantan suaminya dengan perasaan yang sulit sekali diartikan. Permintaan Widya tidaklah banyak, agar Pram sekarang lebih banyak mencurahkan waktunya buat Andi meski dia sudah memiliki keluarga baru.

Pram menghidupkan mesin mobilnya, dan mobil pun meluncur pergi.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ambillah , dik !
8.3
Dokter Charlotte Swift Sterling diizinkan Kylen Brown menempuh spesialis kandungan di Jepang dengan janji pernikahan saat kembali. Namun, rencana indah itu hancur seketika saat adiknya, Jessamine, mengaku telah mengandung anak Kylen akibat hubungan terlarang. Di tengah pengkhianatan ini, Charlotte terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap menikahi tunangannya atau merelakan pria itu demi masa depan adik kandung yang sangat ia sayangi?
Sampul Novel Apakah Ini Cinta?
8.1
Terjebak dalam pernikahan sepuluh tahun bersama Tristan, seorang miliarder posesif dengan sindrom Jacob, sang istri hidup dalam pengawasan ketat dan gelang pelacak. Meski sangat mengekang, Tristan selalu melindunginya dari siapa pun yang merendahkannya. Demi mendapatkan cinta sang istri, Tristan bahkan melakukan vasektomi reversal hingga sang istri hamil tiga bulan. Namun, badai datang saat kakak Tristan dan teman masa kecilnya datang menyerang dengan tuduhan perselingkuhan palsu. Di tengah kondisi sekarat akibat keguguran yang dipicu oleh penganiayaan mereka, Tristan tiba dan dihadapkan pada bukti fitnah yang dirancang untuk menghancurkan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Cinta CEO untuk Renata
9.1
Renata, putri konglomerat berdarah Jerman-Bali, didera duka setelah dikhianati Rangga dan kehilangan calon suami keduanya, Kim, dalam sebuah tragedi maut. Demi memulihkan hati, ia pindah ke Jerman, namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rangga dan Maharatih yang jahat. Akibat jebakan obat perangsang, Renata hamil oleh CEO tampan Alexander Maxwell. Meski Maharatih mencoba memanipulasi keadaan, pengakuan Rangga akhirnya membongkar semua kebusukan tersebut.
Sampul Novel Dikhianati Saat Hati Masih Percaya
9.3
Arkan Ravendra kehilangan pengantinnya, Nayara, yang terpaksa menikah siri dengan Darryl Adraya akibat penebusan utang. Arkan bersumpah merebutnya kembali, sementara istri sah Darryl, Laras, merasa dikhianati hingga terjebak hubungan gelap dengan pria lain. Nayara kini terhimpit di antara keluarga Arkan yang obsesif dan keluarga Darryl yang merendahkannya. Akankah cinta tumbuh dari keterpaksaan ini, atau semua hancur saat masa lalu menuntut balas?
Sampul Novel Insafnya Seorang Gigolo
9.7
Dalam industri jasa yang penuh godaan, ia memegang teguh sebuah prinsip profesionalitas yang tak tergoyahkan. Baginya, memastikan kepuasan setiap pelanggan adalah prioritas utama yang harus selalu diutamakan di atas segalanya. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup seorang pria yang mendedikasikan dirinya untuk memberikan layanan terbaik, di mana setiap pertemuan adalah pembuktian atas komitmennya dalam menjaga standar kualitas layanan yang maksimal.
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Gio
8.5
Demi menyelamatkan ibu dan anaknya yang sakit, Liana terpaksa memohon bantuan finansial kepada Rafael. Namun, pria berkuasa itu memberikan penawaran yang mengejutkan. Rafael bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan dengan syarat Liana harus bersedia menjadi istri keduanya. Terjepit dalam situasi sulit, Liana harus menghadapi kenyataan pahit dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Akankah ini menjadi awal kebahagiaan atau justru luka yang lebih dalam?