
Senandung Rasa
Bab 3
Denting suara sendok dan garpu beradu di atas piring. Makan malam terasa berbeda bagi Ryuka. Gadis itu menatap satu persatu anggota keluarga yang berada di satu meja dengannya. Semua berkumpul, walau tanpa kedua orang tuanya.
"Bang, Mama sama Papa kapan pulang?" Ryuka memberanikan diri bertanya. Jevan meneguk air sejenak, lalu menatap Ryuka lekat.
"Kenapa? Mau cari pembelaan? Nggak mempan," ucap Jevan sambil kembali menikmati makan malamnya. Nasya dan Akira juga mulai menanyakan kedua orang tuanya itu. Jevan akhirnya memberi tahu jika Papa dan Mama akan ke Swiss. Menemui daddy Pras dan mommy Laurent di sana. Ada urusan bisnis yang harus mereka awasi. Pras dan Laurent suami istri, Pras kakak angkat dari kedua orang tua Jevan dan adik-adiknya.
"Bang," Ryuka kembali bersuara. Jevan hanya melirik.
"Kamera, Ryuka, kapan di balikin? Kalau tunggu sampai ujian harian, lama Bang," Ryuka merajuk juga memohon. Jevan tak peduli, ia tak mau menggubris ucapan adiknya itu. Ryuka mulai kesal. Dengan kasar ia beranjak dan sedikit membanting sendok ke piring. Menimbulkan bunyi yang mengejutkan semuanya. Tanpa bicara, Ryuka meninggalkan ruang makan dan menuju ke kamarnya.
Reyo beranjak. "Reyo susul ya," ujar kembaran Ryuka itu. Jevan mengangguk. Lalu Reyo berlari menaiki tangga ke lantai dua, menuju ke kamar Ryuka.
"Kamu terlalu keras ke Ryuka, Jevan, jangan begini," ucap Lara dengan nada begitu lembut. Jevan hanya mengusap kasar wajahnya. Ia melihat ke Nasya dan Akira, dua adik kecilnya itu menatap Jevan sendu. Sejak di marahi Jevan, Ryuka jadi pendiam, padahal biasanya, Ryuka ceria dan begitu meladeni Nasya dan Akira. Kali ini, Ryuka hanya diam.
Di kamar Ryuka.
Kamar dengan nuansa monokrom itu, penuh dengan hasil foto yang dibidik Ryuka dengan kameranya. Objek memang lebih banyak wajah anggota keluarganya, tapi tak membuat monoton. Berbagai ekspresi ditangkap baik oleh Ryuka.
"Geser." Reyo mendorong tubuh Ryuka yang sedang membaca komik di atas ranjangnya dengan posisi tiduran. Ryuka menggeser tubuhnya. Reyo tiduran di sebelah kembarannya itu.
"Lo kenapa si, susah banget nurut sama Bang Jevan?" Reyo menoleh, menatap kembarannya, Ryuka bergeming. Ia masih terus membaca komik yang ia pegang.
"Ryu, lo kalau emang nggak suka sekolah, bilang baik-baik, lo bisa home schooling, jangan bolos." Tukas Reyo lagi, ia kini melirik ke kembarannya.
Ryuka menoleh saat Reyo mengucapkan hal itu. "Gue udah bilang Kak Lara, tapi katanya, Bang Jevan, bahkan Papa sama Mama tetep mau gue sekolah formal, ijazahnya penting." Ryuka beranjak dan terduduk. Ia menatap lekat Reyo. "Gue bodoh, lo pinter, apa jangan-jangan kita bukan kembar, Rey, ketuker pas di rumah sakit?"
Reyo terkekeh lalu beranjak, duduk sejajar dengan kembarannya itu. "Kita kembar Ryuka, cuma, waktu pembagian sel otak, gue ambil punya lo sedikit, jadi ya, gue yang pinter. Apes kan lo jadi kembaran gue." Reyo beranjak dan berlari cepat keluar kamar sebelum Ryuka melemparnya dengan bantal.
Tampak Nasya berdiri di depan pintu kamar, remaja SMP kelas 1 itu menatap Ryuka heran. "Kak, Nasya mau tidur, di sini, boleh?" Ryuka tersenyum dan mengangguk. Memanggil adiknya dengan uluran tangan.
"Akira tidur sama siapa? Bang Reyo?" Ryuka menggeser bantalnya, lalu Nasya naik ke atas ranjang.
"Iya. Perut Nasya sakit Ka, perasaan tadi nggak makan pedes," ujar Nasya mengeluh. Ryuka terhenyak. Ia menatap Nasya lekat.
"Mana yang sakit?" tanyanya sambil membuka baju tidur bagian atas Nasya. Adiknya itu menunjuk ke perut bagian bawah.
"Selain sakit, apa lagi?" tanya Ryuka sambil memperhatikan raut wajah adiknya.
"Ini ku sakit, Kak? Nyeri," tunjuk Nasya ke kedua payudaranya. Ryuka mengerti.
"Nggak apa-apa, itu normal, ini kemungkinan, kamu mau datang bulan, kita perempuan, normal kok. Yaudah, sekarang di bawa tidur, peluk gulingnya." Titah Ryuka, Nasya mengangguk. Ia memiringkan tubuhnya dan memeluk guling. Tangan Ryuka mengusap punggung hingga pinggang adiknya itu, saat perempuan hendak datang bulan untuk pertama kalinya, pasti tubuhnya akan merasakan kurang nyaman, atau lebih sering, pinggang terasa pegal. Ryuka yang paham, langsung melakukan hal tersebut, perhatiannya kepada keluarga memang patut diacungi jempol.
Ryuka mengambil ponsel, mengirim pesan singkat ke mamanya, sekedar memberi tahu keadaan Nasya. Ia kembali meletakkan ponsel di atas nakas. Lalu mematikan lampu, dan memilih ikut tidur juga. Tak ada hal lain yang bisa ia kerjakan lagi. Belajar, ia tak paham.
Ternyata, Ryuka masih membuka matanya, walau suasana kamar sudah gelap, ia tak bisa terlelap. Akhinya ia berdialog dengan dirinya dan sang pencipta. Bertanya kenapa ia begitu bodoh, tak ada semangat belajar. Sekeras apa pun ia mencoba, tetap tidak bisa.
***
Ke esokan hari. Jam pergantian guru.
"Seenggaknya, ada beberapa mata pelajaran yang lo suka, Ryuka," ucap Vika. Teman sebangkunya. "Gue perhatiin, lo bisa kerjain sosioligi, geografi, sejarah, bahasa inggris, bahasa indonesia, apaan yang lo nggak bisa. "
"Lo ngeledek gue? Itu semua gue nyontek. Berapa kali gue di hukum karena ketahuan." Ryuka mendengkus sebal.
"Terus gimana. Lo bisa nggak naik kelas nanti, lo males sih, kalau di suruh belajar."
"Tau ah, gue pusing. Mana gue nanti sore ada les privat di rumah. Tega banget Abang gue, ya ampun!" Ryuka kesal sendiri. Ia mengusap wajahnya kasar. Seorang guru masuk, kali ini pelajaran geografi. Wajah guru itu sumringah, ia duduk dan mulai menyapa sekaligus absen kelas. Tapi bukan itu yang menjadi sorot perhatian Ryuka.
Kertas ujian mingguan, sambil memanggil nama murid, guru itu juga membagian kertas hasil ujian minggu lalu. Ryuka harus menyiapkan mental lagi. Jika tebakannya benar, ia harus kembali memasang wajah tersenyum.
Tiba namanya si panggil. Ia beranjak dan berjalan menghampiri guru itu. Netranya bertemu dengan milik guru itu.
"Kamu mau sampai kapan jadi Nobita? Bangga nilainya ini terus?" Tatapan sinis itu begitu menohok bagi Ryuka. Tapi mau apa lagi, begitu terbatas kapasitas otaknya untuk menyerap pelajaran. Ia hanya tersenyum. Saat berbalik badan hendak berjalan kembali ke mejanya. Tak sedikit teman sekelasnya terkekeh geli. Ryuka hanya membalasa dengan senyuman dan kekehan. Seolah memberi kesan ia tak apa-apa. Padahal, di dalam hatinya, ia begitu malu dan sedih. Namun, Ryuka selalu menutupinya dengan senyuman tadi, ia kembali duduk ditempatnya, menatap nilai dengan lingkaran bulat sempurna itu dengan kekosongan, ia bingung, kenapa ia semakin ke sini semakin bodoh, tak paham dengan soal yang ditanyakan. Kedua matanya melirik Vika yang mendapat nilai delapan puluh lima, angka itu seperti menjadi jackpotnya jika berhasil mendapatnya, selamatan semalam suntuk jika diperlukan, tetapi, semua mustahil bagi Ryuka.
Bersambung,
Anda Mungkin Juga Suka





