Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sekretaris Rahasiaku

Sekretaris Rahasiaku

Rinka terjebak dalam dilema saat harus menjadi istri rahasia Rendi. Meski hidup bergelimang kemewahan, nyawanya terancam oleh musuh bebuyutan sang miliarder. Keadaan kian rumit ketika Rinka mengungkap masa lalu kelam yang disembunyikan Rendi darinya. Di tengah obsesi Rendi yang makin mendalam, kepercayaan Rinka mulai goyah. Mampukah hubungan mereka bertahan dari badai rahasia dan bahaya besar, ataukah kebohongan ini akan menjadi akhir dari segalanya bagi keduanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Keesokan paginya tiba terlalu cepat. Jam alarm mewah di samping tempat tidur berdentang tepat pukul tujuh pagi. Namun, bagi Rinka, pagi itu sudah terasa sejak api melahap buku kuno bersampul kulit itu, membawa serta rahasia tentang Kesya dan ancaman Rendi.

Rendi tidak tidur di kamar itu. Ia menghilang ke ruangan tersembunyi setelah mengancamnya, meninggalkan Rinka dalam isolasi dan ketakutan. Saat alarm berbunyi, Rinka sudah selesai mandi, mencoba membersihkan trauma dan ketakutan malam sebelumnya, meskipun ia tahu ketakutan itu telah merasuk ke dalam jiwanya.

Pagi ini, ia harus kembali mengenakan persona 'Sekretaris Rinka', efisien, tenang, dan tanpa cacat. Kontras antara Rinka sang sekretaris dan Rinka sang istri rahasia, seorang sandera di rumahnya sendiri adalah pekerjaan akting terberat dalam hidupnya.

Pintu menuju ruang kerjanya terbuka, dan Rendi muncul. Dia sudah rapi, mengenakan setelan jas abu-abu mahal, memancarkan aura seorang CEO yang dingin dan berkuasa. Tak ada lagi sisa-sisa kegelapan posesif semalam. Rendi seolah kembali ke mode 'bos' sempurna.

Rendi melirik penampilan Rinka, yang telah memilih kemeja putih profesional dan rok pensil hitam yang sesuai. Sempurna, tapi di matanya, Rinka terlihat seperti burung yang baru saja lolos dari badai.

"Sudah siap, Sekretaris Rinka?" tanya Rendi, nadanya formal, seolah-olah semalam mereka hanya membahas laporan triwulan.

Rinka menelan ludah. "Ya, Tuan Rendi."

"Bagus. Sebelum kita meninggalkan 'penjara emas' ini," Rendi menekan istilah itu dengan ironi kejam, "Aku ingin mengulas kembali Bab Pertama Kontrak."

Rendi berjalan mendekat, kini jarak mereka hanya beberapa inci. Rinka bisa merasakan napas mintnya yang sejuk, kontras dengan hawa panas dari amarah semalam.

"Di kantor, kau adalah bawahanku yang berharga, yang sangat profesional. Kita tidak berbagi kontak mata terlalu lama, tidak ada bisikan, dan sama sekali tidak ada interaksi fisik. Jaga jarakmu. Apakah itu jelas?" tuntut Rendi, tatapannya mencari kepatuhan total.

"Sangat jelas. Saya mengerti etika kantor," jawab Rinka cepat.

"Etika saja tidak cukup. Kau harus menjual kebohongan itu, Rinka. Jika ada yang tahu status kita, maka keuntungan strategisku hilang. Dan kau tahu apa konsekuensi kehilangan keuntungan strategis itu, bukan?"

Rinka tahu. Konsekuensinya adalah kehancuran dirinya dan keluarganya, bahkan mungkin nasib Kesya. Ia merasakan kebencian murni mendidih di dadanya, tetapi ia mengendalikan ekspresinya.

"Saya akan melakukannya. Saya adalah sekretaris Anda, bukan yang lain," kata Rinka dengan gigi terkatup.

Rendi menyeringai tipis. Itu bukan senyum meyakinkan, melainkan senyum puas dari seorang pemenang. "Itu dia. Selamat datang di kehidupan barumu, istri rahasia. Jangan merusak ilusi yang kubuat."

Perjalanan dari mansion ke gedung kantor pusat perusahaan terasa seperti melintasi dua dunia. Di dalam mobil mewah, mereka duduk bersebelahan, namun jurang yang memisahkan mereka jauh lebih besar dari jok kulit di antara keduanya. Rendi fokus pada laptopnya, memberikan Rinka beberapa perintah dan jadwal hari itu, semua berlandaskan bisnis.

"Hari ini kita ada pertemuan dengan Tuan Dirga dari perusahaan pesaing sore nanti," ujar Rendi, tanpa menoleh. "Tolong pastikan semua dokumen perjanjian lama dan baru sudah tersusun di mejaku. Aku tidak suka ada kesalahan kecil, Rinka."

"Baik, Tuan Rendi. Sudah saya siapkan sejak kemarin," sahut Rinka, menjaga nadanya tetap hormat dan lugas.

"Luar biasa. Itu mengapa kau di sini. Kau tidak akan mengecewakanku, bukan?" Suara Rendi mendadak berubah sedikit lebih lembut, terdengar seperti rayuan sekaligus ancaman.

Rinka menoleh. "Saya akan selalu melaksanakan tugas sesuai deskripsi pekerjaan."

Rendi akhirnya memalingkan wajah dari layar, menatap Rinka lurus. Matanya, yang semalam tampak seperti dua kawah api, kini kembali jernih dan tajam.

"Tugasmu bukan hanya mengetik laporan. Tugasmu, Rinka, sekarang jauh lebih dalam. Tapi, mari kita batasi peran itu di tempat ini. Pintu lift terbuka, senyum sekretaris terbaik harus muncul di wajahmu. Jelas?"

Rinka mengangguk. Dia memaksakan seulas senyum di bibirnya, senyum yang dirasa hambar dan palsu.

Ketika mereka memasuki lobi perusahaan yang ramai, Rendi berjalan tiga langkah di depan Rinka. Rinka segera menyesuaikan diri, langkahnya gesit dan profesional. Saat orang-orang menyapa Rendi dengan hormat, Rinka menjaga matanya lurus ke depan, fokus pada lift VIP.

Saat menunggu lift, suara riang memanggil namanya. "Rinka!"

Rinka menoleh. Di sana berdiri Icha, rekan kerja yang dikenalnya ramah dan baik, setidaknya di permukaan, yang juga diindikasikan di daftar karakter sebagai seseorang yang 'menusuk dari belakang'.

"Pagi, Icha," balas Rinka, senyum profesionalnya terasa tegang di wajahnya.

Icha mendekat, sedikit mengabaikan kehadiran Rendi yang kini menunggu di dekat pintu lift. "Ya ampun, kau pucat sekali. Apa kau tidak tidur? Seharian kemarin kau sibuk sekali, Tuan Rendi menyiksaku untuk urusan laporan, tapi aku tidak lihat kau lembur."

Icha berusaha mencondongkan badan, mencoba berbisik di telinga Rinka, yang memaksa Rinka untuk mundur satu langkah. Rinka panik jika Icha terlalu dekat, Icha mungkin merasakan ketegangan yang ia rasakan.

"Saya lembur di tempat lain. Hanya sedikit kurang tidur," jawab Rinka datar. Dia harus menjaga batas.

Rendi berbalik, tatapannya dingin, melayangkan teguran tak terlihat kepada kedua wanita itu. Icha yang merasa tertegur, buru-buru memundurkan diri, wajahnya agak merona karena malu.

"Maaf, Tuan Rendi," kata Icha sopan. "Saya hanya menyapa Rinka. Selamat pagi."

Rendi tidak menjawab, hanya memberikan anggukan kecil yang nyaris tidak terlihat. Ketika pintu lift VIP terbuka, Rendi masuk tanpa menunggu. Rinka segera mengikuti, merasa tatapan Icha masih menempel di punggungnya. Untungnya, tidak ada lagi orang yang berani masuk lift pribadi CEO.

Begitu lift bergerak naik, Rendi langsung angkat bicara.

"Itu adalah pelanggaran, Rinka," desis Rendi, nadanya rendah, menusuk. "Kau membiarkan Icha melanggengkan kedekatan pribadi di lobi."

Rinka tersentak. "Itu tidak adil! Dia teman saya. Dan dia yang mendekat!"

"Tidak adil? Kau sudah tahu aturan mainnya. Teman adalah risiko, Rinka. Temanmu akan mulai bertanya mengapa kau tiba-tiba menjadi lebih tertutup, mengapa kau dijemput di lift VIP, mengapa auramu berubah," Rendi mencondongkan tubuh. "Kendalikan emosimu dan jaga jarakmu. Apakah kau ingin melihat Icha menanggung akibatnya karena terlalu ingin tahu?"

Ancaman itu berhasil. Rinka ingat Kesya. Rinka tidak bisa membiarkan siapa pun, apalagi Icha, terseret dalam rahasia gelap Rendi.

"Saya mengerti. Saya tidak akan membiarkannya terulang," janji Rinka, suaranya kini kembali pada kepatuhan dingin yang dipaksakan.

"Bagus. Karena mulai hari ini, Icha akan bekerja sangat dekat dengan kita. Divisi marketing baru-baru ini meluncurkan produk gagal. Dan Icha adalah bagian dari tim itu. Aku memindahkannya sementara waktu sebagai staf proyek khusus, langsung di lantai ini," jelas Rendi. "Dia akan menjadi pengalih perhatian yang sempurna, Rinka. Sebuah ujian kepatuhanmu."

Jantung Rinka berdebar lebih kencang. Rendi sengaja membawa Icha, teman dekatnya, ke dalam lingkaran bahaya hanya untuk melihat apakah Rinka patuh? Ini bukan hanya pekerjaan; ini adalah labirin manipulasi yang menakutkan.

Lift berhenti. Rendi keluar. Rinka menghela napas panjang dan melangkah keluar ke kantor yang elegan, kembali menjadi Sekretaris Rinka yang sempurna. Meja kerjanya, yang kini tampak asing setelah apa yang ia lalui, menantinya.

Jam-jam kerja berjalan dengan ritme brutal. Rinka benar-benar memisahkan diri dari kehidupan rumahnya. Dia menjawab telepon, mengatur rapat, dan memastikan Rendi selalu memiliki informasi yang dibutuhkan. Ia melakukannya dengan mekanis, menjaga wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Sore hari, saat Rendi sibuk di telepon, Rinka duduk di mejanya, membaca sekilas daftar rapat untuk minggu depan. Jari-jarinya tanpa sadar menyentuh sudut laci, tempat dulu ia sering menyimpan dokumen penting, dan ya di tempat Kesya biasanya meletakkan kotak bekalnya.

Rinka harus tahu apa yang terjadi pada Kesya. Kebenarannya, status 'Hilang' dalam buku besar Rendi, terus menghantui pikirannya. Ini bukan sekadar rasa penasaran; ini adalah kebutuhan untuk bertahan hidup.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan pop-up muncul di komputer Rendi. Karena Rinka adalah sekretaris, ia terbiasa memantau semua komunikasi masuk untuk menyaring prioritas. Rinka segera meraih tetikus untuk mematikannya, khawatir notifikasi itu mengganggu panggilan Rendi.

Namun, sekilas Rinka membaca baris pertama pesan tersebut. Itu adalah email dari Ardi karakter cerdas, potensi sekutu Rinka, menurut garis besar.

Judul email itu singkat dan mengancam:

SUBJEK: Kehilangan. Berhenti mencarinya. Dia adalah masalah kita, Rendi.

Isi pesannya bahkan lebih mengganggu, meskipun hanya terlihat sebagian...Kesya sudah dikirim. Kau tidak perlu khawatir. Namun, dokumen yang dia simpan sebelum 'pindah' itu bisa menjadi bumerang besar. Jika Lusi menemukannya, semuanya hancur.

Jari Rinka membeku di atas tetikus. Ardi tahu tentang Kesya. Dan Rendi sengaja membuatnya seolah-olah Kesya menghilang, padahal ia "dikirim". Apa maksudnya dikirim? Lebih buruk lagi, Lusi, wanita yang mempesona dan perayu, disebut-sebut terkait dengan dokumen yang bisa menghancurkan Rendi.

Rendi tiba-tiba menyelesaikan panggilan teleponnya dan berdiri. Ia melihat Rinka yang kaku menatap layar komputernya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Rendi, suaranya tajam.

Rinka segera menyingkirkan tangannya dari tetikus, wajahnya pucat. "M-maaf, Tuan Rendi. Saya melihat notifikasi email yang muncul tiba-tiba. Saya ingin menutupnya."

Rendi berjalan menuju kursinya, mata tajamnya menyapu layar. Dia melihat sekilas judul email Ardi yang masih terpampang.

Alih-alih marah karena Rinka mengintip, Rendi tertawa, tawa pendek dan sinis. Dia menutup laptopnya tanpa membaca sisa pesan itu, seolah-olah ancaman yang terkandung di dalamnya tidak berarti.

"Kau terlalu peduli dengan kotak masuk orang lain, Rinka. Ingat aturanku," Rendi mengambil kunci mobilnya. "Pertemuan sore dibatalkan. Ada urusan pribadi mendesak di luar kota. Kau harus ikut."

Rinka kebingungan. "Urusan pribadi? Apakah itu bagian dari perjanjian rahasia kita?"

Rendi menoleh, raut wajahnya kembali gelap dan dominan. "Itu bagian dari Bab Kedua Kontrak, Rinka. Aku perlu pengalihan yang cantik dan patuh untuk menemui seseorang yang penting."

Dia berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Rinka merinding.

"Persiapan ini sama mendesaknya dengan saat aku mengirim Kesya. Jika kau bersikap seperti malam tadi, mungkin aku akan 'mengirim' kau ke tempat Kesya berada." Rendi menatap lurus ke mata Rinka. "Kau tahu apa yang harus kau kenakan. Sesuatu yang akan membuatku bangga, Nyonya Rendi."

Rinka tahu dia baru saja dipaksa masuk ke dalam konflik Rendi dan Ardi, konflik yang melibatkan hilangnya Kesya. Mereka tidak akan kembali ke 'penjara emas' malam ini. Mereka pergi untuk menemui 'seseorang yang penting' dengan dalih tugas rahasia.

Saat Rendi meninggalkannya untuk membereskan berkas, Rinka segera meraih ponselnya. Dia tidak tahan lagi dengan rasa ingin tahu dan ketakutan ini. Rinka buru-buru mencari kontak Ardi di sistem database perusahaan. Dia harus mengirim pesan sebelum Rendi kembali.

Dia membuka jendela pesan dan mulai mengetik dengan tangan gemetar. Belum selesai Rinka mengetik satu kalimat pun, Rendi kembali, lebih cepat dari dugaannya. Pria itu berdiri di ambang pintu.

"Sudah siap, Sekretaris?" tanya Rendi, menyadari tatapan Rinka yang tertuju pada ponsel. "Atau kau sedang mencoba mengirimkan pesan rahasia kepada Ardi?"

Jantung Rinka mencelos. Apakah Rendi melihat emailnya? Atau ini hanya tebakan jitu dari seorang pria yang selalu memantau mangsanya? Rinka menutup ponselnya dengan tergesa-gesa, terlalu lambat untuk menyembunyikan rasa bersalahnya.

Rendi tersenyum, kali ini tanpa kehangatan, murni intimidasi. "Ponselmu adalah milikku selama kita bepergian. Kita harus menghindari gangguan, bukan? Khususnya dari teman-teman yang cerewet."

Rendi mengambil ponsel Rinka, lalu memasukkan tangan Rinka ke dalam lipatan lengannya, memaksanya mengikuti. Mereka berjalan keluar, meninggalkan kantor yang sibuk, menuju kegelapan rahasia di luar kota. Rinka menyadari, setiap kali ia berusaha mencari celah untuk bebas, belenggu emas itu justru semakin mengikatnya erat.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GUS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GUS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gelora Asmara Ratu Berlian
8.6
Intan Malika, yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan, harus menelan pahitnya dikhianati oleh Zayn Alarik. Saat Intan hamil, Zayn menolak bertanggung jawab dan justru pergi ke luar negeri. Bertahun-tahun berlalu, Intan bangkit menjadi sosok sukses berjuluk Ratu Berlian. Kini ia kembali untuk membalas dendam pada keluarga Pradipta. Namun, kehadiran putra mereka yang merindukan sosok ayah membuat Intan bimbang antara dendam atau memaafkan masa lalu.
Sampul Novel HOT AND DANGEROUS BILLIONAIRE
8.0
Geby terjebak dalam pernikahan paksa dengan Jeremy Loghan, miliarder kejam yang menyimpan dendam mendalam. Meski Geby masih mencintai kakak Jeremy, kebencian suaminya justru berujung pada perlakuan kasar di ranjang. Di tengah konspirasi licik keluarga bangsawan di Yorkshire, rahasia besar mulai terungkap. Jeremy pun bimbang saat rasa cinta mulai tumbuh untuk wanita yang seharusnya ia benci. Akankah ia memilih balas dendam atau perasaannya pada Geby?
Sampul Novel Kontrak Cinta - Love Contract
7.8
Demi melunasi utang dan membiayai pengobatan sang ayah, Mahesa rela menunda skripsinya untuk bekerja sebagai pelayan kelab malam. Di sana, ia bertemu wanita mabuk yang baru saja patah hati. Tak disangka, wanita itu tiba-tiba menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi finansial bagi Mahesa. Meski sempat ragu, Mahesa akhirnya menerima tawaran tersebut demi keluarganya. Kini, dimulailah kehidupan penuh sandiwara antara Mahesa dan istri barunya tersebut.
Sampul Novel Menantu Menjadi Madu
9.6
Chika mendambakan pernikahan yang abadi, namun Irsan justru menceraikannya demi menuruti keinginan sang ibu. Di tengah rasa sakit hati dan luka yang mendalam, Chika bertekad untuk membalas dendam. Namun, rencana tersebut berubah haluan saat ia justru jatuh hati pada ayah tiri dari mantan suaminya sendiri. Akankah hubungan yang rumit ini membawa kebahagiaan? Simak perjalanan cinta tak terduga yang penuh dengan gejolak emosi dan konflik ini.
Sampul Novel Modus Tuan Muda
8.5
Mona Latea terjebak dalam nasib malang saat terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Elisa, yang menolak perjodohan keluarga. Kini, ia harus melayani seorang tuan muda yang ternyata hanyalah pria manja dengan tingkah menyusahkan seperti bayi besar. Tanpa bayaran sepeser pun, Mona harus menghadapi hari-hari penuh tekanan demi memenuhi tanggung jawab tersebut. Kisah romansa dewasa ini penuh intrik antara pengabdian paksa dan pesona sang tuan muda yang manipulatif.
Sampul Novel My Beautiful Bride
9.7
CEO Ethan Daniel dikenal dingin dan kasar akibat trauma masa lalu. Saat kakeknya menagih janji pertunangan masa kecil, Ethan awalnya tak peduli. Namun, Anna yang sederhana justru memikatnya karena berani menolak kekayaan dan pesona sang konglomerat. Penolakan Anna memicu rasa penasaran Ethan yang tak terbiasa diabaikan. Di tengah upaya Ethan mengejar Anna, bayang-bayang luka lama kembali menghantui. Mampukah ketulusan Anna menyembuhkan trauma Ethan?