Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sejuta cerita di balik pintu kos

Sejuta cerita di balik pintu kos

Dens Bagus memulai babak baru di usia tujuh belas tahun dengan merantau ke Solo. Di balik pintu cokelat kamar kos nomor tujuh, ia menemukan kehidupan yang jauh berbeda dari kenyamanan rumahnya. Lorong kos sederhana itu menjadi saksi interaksinya dengan Bu Kos yang tegas namun peduli, serta Mei Lin yang ceria. Ada pula Li Hua yang pendiam, Fajar yang menyebalkan, dan Mas Arya yang penuh rahasia. Bersama mereka, Dens menghadapi hiruk pikuk kota yang asing ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Solo menyambutku dengan desah angin panas dan aroma rempah yang asing. Deru mesin mobil ayahku melambat, dan jantungku berdebar lebih kencang daripada biasanya. Kami tiba di sebuah gerbang besi tua yang catnya mulai mengelupas, diapit oleh pagar tembok tinggi yang dihiasi tanaman merambat liar. Di baliknya, rumah kos Bu Ratih berdiri kokoh, namun tampak sunyi, seolah menahan napas. Aku menatap keluar jendela, telapak tanganku berkeringat dingin menempel pada jok mobil.

"Sudah sampai, Dens," kata ayah, suaranya berusaha terdengar ringan, tapi aku tahu ada getaran kesedihan di sana.

Aku mengangguk, tenggorokanku tercekat. Pandanganku menyapu sekeliling, mencari-cari tanda-tanda kehidupan, namun hanya kesunyian yang menyapa. Halaman kos yang cukup luas ditumbuhi rumput gajah yang rapi, dan sebuah sepeda motor tua terparkir miring di bawah pohon mangga.

Sebuah perasaan aneh merayapi diriku, campuran antara kegugupan dan kerinduan yang mendalam akan rumah. Ini adalah awal dari perjalananku yang baru, jauh dari hiruk-pikuk kota kecil di Jawa Timur.

Ayah membunyikan klakson pelan. Tak lama, pintu utama terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan daster batik berwarna cerah.

Senyumnya lebar, memperlihatkan deretan gigi yang masih utuh, namun matanya yang tajam seolah menimbang-nimbang diriku.

"Assalamu'alaikum, Bu Ratih!" Ayah turun lebih dulu, menyalami wanita itu dengan sopan.

"Wa'alaikumussalam, Pak Bagus! Aduh, akhirnya sampai juga. Kok lama sekali, to, Pak? Dari pagi saya sudah siapkan kamarnya. Jangan-jangan mampir makan sate dulu, ya?" Bu Ratih menyambut dengan celotehan yang langsung membanjiri telingaku. Ia tertawa renyah, meski aku merasa sedikit disindir.

Aku turun dari mobil, membawa ransel yang terasa berat di pundak, bukan karena isinya, melainkan beban ekspektasi yang kubawa. Aku menyalami Bu Ratih, tangan wanita itu terasa hangat dan sedikit kasar.

"Ini toh, calon penghuni kos saya? Namanya Dens Bagus, kan? Wah, gagah sekali anaknya. Tapi kok pucat begitu, Nak? Ndak apa-apa?" Bu Ratih menatapku lekat, kepalanya sedikit dimiringkan.

Aku tersenyum canggung, merasakan pipiku memerah. "I-iya, Bu. Dens, Bu."

"Dens? Panggil saja Ibu Ratih, ya. Jangan sungkan-sungkan. Di sini semua saya anggap anak sendiri. Tapi kalau ada aturan yang dilanggar, jangan harap bisa tidur nyenyak!"

candanya, lalu tertawa lagi, kali ini disusul oleh ayahku. Aku hanya ikut tersenyum hambar, mencoba mencerna rentetan kata-kata yang keluar dari bibirnya. Ia seperti gelombang yang tak berhenti.

"Mari masuk, Pak, Nak Dens. Saya tunjukkan kamarnya." Bu Ratih berbalik, langkahnya cekatan memasuki ruang tamu yang luas. Wangi pewangi ruangan dan sedikit aroma masakan tercium samar, memberikan kesan hangat sekaligus asing.

Ruang tamu itu lapang, diisi sofa jati ukir dan beberapa tanaman hias dalam pot. Aku mengikuti Bu Ratih dan ayahku menyusuri koridor panjang di sisi kanan, dindingnya dicat kuning gading yang mulai pudar di beberapa bagian.

Beberapa pintu berjajar rapi. Aku melirik setiap pintu yang kami lewati, sebagian tertutup rapat, sebagian sedikit terbuka, menampakkan samar-samar isi di dalamnya. Sebuah gitar tergeletak di lantai, tumpukan buku di meja, dan gantungan baju di balik pintu.

Ketika kami melewati sebuah pintu dengan stiker band metal, sebuah kepala menyembul keluar. Seorang pemuda berambut gondrong, kaus hitam lusuh, dan mata merah, sepertinya baru bangun tidur. Dia hanya mengangguk tipis ke arah kami, lalu buru-buru menutup kembali pintunya. Aku menelan ludah. Wajahnya terlihat lelah dan penuh beban.

Tidak jauh dari sana, ada suara gesekan pensil di atas kertas. Sebuah pintu terbuka sedikit, menampakkan seorang gadis berambut panjang yang fokus menunduk, tangannya sibuk menggoreskan sesuatu di atas sketchbook. Ia tak menyadari kehadiran kami. Di sampingnya, seorang gadis lain yang lebih ceria, dengan rambut sebahu dan mata yang berbinar, melambaikan tangan ke arah kami sambil tersenyum lebar.

"Hai! Anak baru, ya?" sapanya ramah, suaranya ceria sekali.

Aku hanya bisa membalas dengan senyum tipis, terlalu malu untuk bicara. Ayahku mengangguk, "Iya, Nak. Anak saya, Dens."

"Mei Lin!" gadis itu memperkenalkan diri. "Itu adikku, Li Hua. Dia lagi asyik menggambar, jangan diganggu. Selamat datang, ya!"

Bu Ratih menoleh sedikit ke belakang. "Mei Lin, jangan berisik. Nanti Pak Bagus jadi sungkan!" tegurnya, namun ada nada sayang dalam suaranya.

Mei Lin hanya nyengir, lalu kembali masuk ke kamarnya, meninggalkan kami dengan kesan pertama yang ramah tapi juga sedikit mengintimidasi bagiku.

Akhirnya, kami berhenti di sebuah pintu cokelat tua, yang paling ujung di koridor. Di daun pintunya, sebuah plat nomor kecil bertuliskan angka '7' terpaku.

Pintu itu terlihat sama dengan pintu-pintu lain, namun entah mengapa, mataku terpaku pada goresan-goresan samar di permukaannya, seolah menyimpan cerita yang tak terucapkan.

"Nah, ini kamarmu, Dens. Kamar nomor tujuh. Sudah saya bersihkan. Ada kipas angin, lemari kecil, dan meja belajar," Bu Ratih membuka pintu dengan kunci yang ia keluarkan dari saku daster.

Sebuah kamar sederhana menyambutku. Tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung satu kasur busa tipis, sebuah lemari kayu dua pintu yang sudah termakan usia, dan meja belajar yang tampak kokoh di sudut.

Jendela kecil menghadap ke halaman belakang, ditutupi tirai kain motif bunga yang lusuh. Udara di dalam kamar terasa pengap, meski ada sedikit angin yang masuk dari jendela. Aku meletakkan ransel di lantai, menatap sekeliling.

Tempat inilah yang akan menjadi duniaku untuk beberapa waktu ke depan.

"Bersih, kan? Nanti kalau kurang apa-apa bilang saja, ya. Tapi jangan minta yang aneh-aneh," Bu Ratih menunjuk ke berbagai sudut kamar dengan telunjuknya. "Kalau mau mandi, kamar mandinya di ujung sana. Ada tiga. Bebas pakai yang mana saja, asal jangan lama-lama. Airnya juga harus dihemat, ya!"

Ayah meletakkan koperku di samping lemari. "Terima kasih banyak, Bu Ratih. Maaf merepotkan."

"Ah, tidak apa-apa, Pak. Sudah kewajiban saya. Yang penting anaknya betah dan tidak nakal," sahut Bu Ratih, lalu melirikku dengan senyum menggoda.

"Dens, kalau lapar atau butuh apa-apa, jangan sungkan tanya. Tapi kalau malam jangan keluyuran. Jam sepuluh gerbang kos sudah saya kunci."

Aku hanya mengangguk, berusaha memasang senyum terbaikku, meskipun batinku bergejolak. Rasa cemas dan rindu rumah semakin menusuk. Bagaimana aku akan melewati hari-hari di tempat baru ini? Sendirian, tanpa siapa-siapa yang kukenal.

Ayah menepuk pundakku. "Jaga diri baik-baik, Nak. Belajar yang rajin. Jangan lupa sholat. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Ayah atau Ibu."

Mataku berkaca-kaca mendengar kata-kata ayah. Aku memeluknya erat, mencium tangannya. "Iya, Yah. Ayah hati-hati di jalan."

Ayah pergi tak lama setelah itu, diantar Bu Ratih sampai ke gerbang. Aku berdiri di ambang pintu kamar nomor tujuh, mengawasinya hingga mobilnya menghilang di tikungan jalan. Meninggalkanku sendirian di dalam labirin ketidakpastian ini.

Kembali masuk ke kamar, aku menutup pintu. Aku duduk di tepi kasur busa, merasakan permukaannya yang empuk namun asing. Keheningan tiba-tiba terasa begitu pekat, hanya dipecah oleh suara detak jam dinding di kamar sebelah atau deru kendaraan yang samar dari jalan raya.

Aku menatap keluar jendela, ke arah langit Solo yang mulai meredup.

Aku adalah Dens Bagus, seorang pemuda dari kota kecil yang polos dan canggung, kini terdampar di tengah kota yang sibuk, sendirian. Di kamar nomor tujuh, aku merasakan desakan untuk berteriak, untuk lari pulang ke rumah. Namun, tekad untuk mandiri menahanku.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar pelan. Aku terlonjak. Siapa? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Perasaan takut dan penasaran berbaur, membuat jantungku kembali berdegup kencang.

Apakah ini Bu Ratih dengan aturan barunya? Atau Mei Lin yang ramah tapi sedikit mengejutkan? Atau malah pemuda berambut gondrong dengan mata merah itu? Aku menatap pintu cokelat di depanku, bertanya-tanya apa yang menanti di baliknya, dan apa pula yang akan terjadi pada petualangan baruku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Foreman I Love You
8.3
Ghina mengalami pengkhianatan pahit di pabrik tempatnya bekerja. Namun, kejadian itu justru membawanya bertemu Arie, sang foreman. Untuk membalas rasa sakit hati pada sang mantan, Ghina nekat menikahi Arie secara rahasia. Kini mereka harus bersembunyi demi mematuhi aturan perusahaan. Akankah pernikahan ini bertahan saat rahasia terungkap? Ghina pun dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap bekerja atau pindah demi mendukung karier suaminya.
Sampul Novel Ilusi Cinta: Mengungkap Topeng Kekasihku yang Licik
8.9
Karlee merasa hancur setelah dikhianati tunangannya hingga ia bertemu Brian Olson yang karismatik. Mereka sepakat menjalani pernikahan kontrak secara impulsif setelah menghabiskan malam bersama. Brian tampak sangat perhatian, namun semua itu ternyata hanyalah bagian dari rencana liciknya. Saat mengetahui dirinya hamil, Karlee yang murka langsung menuntut cerai. Brian yang penuh penyesalan kini memohon pengampunan agar mereka tidak berpisah selamanya.
Sampul Novel Istri Kampungan Kesayangan Presdir
9.1
Santi hanyalah seorang gadis desa yang nekat merantau ke kota besar demi menyambung hidup adik-adiknya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Bima, seorang CEO tampan sekaligus Casanova yang kerap bergonta-ganti pasangan. Meski terbiasa dengan kehidupan glamor, Bima justru mulai merasa luluh setelah mengenal ketulusan dan kepolosan yang dimiliki Santi. Perbedaan dunia mereka menjadi awal dari kisah romansa yang tak terduga di tengah hiruk pikuk kota.
Sampul Novel MENIKAM MENTAL SUAMI DAN GUNDIKNYA
8.6
Sawitri, guru TK honorer, harus menelan pil pahit saat ibu mertuanya, Masita, mendesaknya mengizinkan Burhan berpoligami dengan Nuri. Alasan ekonomi dan materi membuat Masita lebih memihak Nuri yang kaya raya. Di tengah luka hati Sawitri, Burhan justru asyik menjalin hubungan gelap dengan selingkuhannya itu tanpa peduli perasaan istrinya. Mampukah Sawitri bertahan menghadapi pengkhianatan suami dan mertua yang kejam dalam rumah tangga yang penuh duri ini?
Sampul Novel PESONA CINTA CEO
9.2
Hanum kehilangan pekerjaan setelah dipecat oleh Tibra, bos pemilik hotel. Untuk melepas penat, ia pergi ke lounge dan justru menolong Tibra yang terlibat perkelahian dengan bantuan Jo. Meski sempat ditawari kembali bekerja, Hanum menolak karena sudah menjalin kasih dengan Jo. Namun, pengkhianatan Jo dan sahabatnya membuat Hanum hancur. Di masa sulit itu, Tibra hadir mendukungnya hingga ke New York, tempat benih cinta sejati mulai tumbuh di antara mereka berdua.
Sampul Novel RAHIM GADIS SEWAAN
7.8
Zevanya terjebak dalam krisis finansial yang mencekik. Demi melunasi utang besar dan membiayai operasi jantung ayahnya, ia terpaksa mengambil keputusan ekstrem dengan menyewakan rahimnya. Impian tentang pernikahan indah seketika sirna saat ia harus mengandung anak untuk pasangan suami istri lain. Hidupnya kini sepenuhnya didedikasikan sebagai ibu pengganti. Mampukah Zevanya menjalani takdir pahit melahirkan buah hati yang bukan miliknya demi menebus beban hidup?