
Secret-Life! (Petarung Tangguh!)
Bab 3
Yuliana mengeluarkan ponsel menghubungi seseorang yang bisa dimintai tolong, semua orang termasuk temannya dihubungi agar dia bisa menginap malam ini di salah satu tempat temannya.
Akan tetapi semua temannya tidak ada yang bisa membantu, alasan demi alasan ada saja dari ucapan teman-teman yang dihubungi Yuliana.
"Maaf Yul, kau tahu sendiri rumahku tidak memiliki kamar kosong untuk kamu tempati."
"Ayolah Rika, kan aku bisa tidur dikamar berdua denganmu." Yuliana merengek kepada temannya.
"Apa kau sudah gila! Suami dan Anakku mau bagaimana? Apalagi Hendra anakku masih bayi dan harus diawasi. Tidak tidak, kau cari penginapan saja!" Rika menutup percakapan secara tiba-tiba.
"Dasar! semuanya sama saja, susah sekali dimintai tolong, apa salahnya Suami dan Anaknya tidur di ruangan tamu untuk semalam." disepanjang jalan Yuliana mengumpat dengan ekspresi wajah kesal.
Yuliana berinisiatif menelpon Rita, Wanita paruh baya yang akan membeli anaknya.
"Nyonya, apa aku bisa meminta sisa uangnya malam ini? Dan aku ingin ketemuan denganmu malam ini, Tolong kamu persiapkan hotel untukku menginap malam ini, kalau tidak perjanjian kita batal!" ancam Yuliana kepada Rita melalui telepon
"Kau sekarang dimana? Apa kau bersama anak itu?"
"Aku tunggu anda di minimarket Indimariet di jalan Yos Sudarso, kita bicarakan ini nanti."
"Baiklah, kau tunggu disana" percakapan berakhir.
Yuliana tersenyum dan bergumam "kira-kira berapa uang yang akan diberikan Nyonya itu kepadaku nanti?" Sambil mengusap kedua telapak tangan.
*****
Di sebuah apartemen Rita yang sedang duduk bersandar di kursi, Ia langsung beranajak berdiri setelah mendapat telepon dari Yulianna. "Siapkan mobil!" Perintah Rita yang duduk dengan santainya.
"...." Pengawal hanya membungkukan badan.
"Tunggu!" Tiba-tiba Rita bersuara.
"Kenapa Nyonya?" Tanya pengawal itu.
"Sepertinya kau butuh sedikit hiburan, bagaimana jika ku tawarkan hal yang menyenangkan untukmu."
"Maaf Nyonya, Saya tidak mengerti maksud anda"
"Bersenang-senanglah nanti di Hotel, dan setelah itu! Kau tau maksudku bukan." Dengusnya dengan menunjukan foto Yuliana.
"Baik Nyonya." pengawal itu sudah paham dengan maksud Rita.
"Dan seperti biasa jangan meninggalkan jejak." Titahnya.
Rita berencana melenyapkan Yuliana karena merasa terhina oleh sikap Yuliana yang dianggap mengancamnya.
"Lama sekali j*lang itu."Yuliana merasa sedikit bosan telah lama menunggu Rita selama empat puluh tujuh menit. Dan kemudian kebosananan itu hilang karena Rita telah tiba di seberang jalan.
Rita yang membuka kaca mobil mengisyaratkan Yuliana agar menghampirinya.
"Masuk!" Perintah Rita ketika Yuli sudah didekatnya.
"Bagaimana apakah kau sudah membawa cek nya?" Tanya Yuliana girang.
"Ini cek sisa pembayaran…" Rita dengan santai memberikan melalui sela jari-jarinya
"Mana anak itu?" Tanya Rita.
"Kau bisa membawanya...dia ada dirumah." Jawab Yuliana dengan senyum lebar melihat cek itu tertulis satu milyar rupiah, membuat Yuliana kalut dan tidak sadar bahwa sebenarnya telah ditipu oleh Rita.
"Jalan…!" Perintah Rita kepada sopir pribadi sekaligus pengawalnya.
Sampailah mereka di Hotel berbintang lima yang megah dan sangat terkenal di kota itu. Rita yang tersenyum berkata
"Ini kunci hotel dan kau bisa langsung masuk." Jelasnya kepada Yuli sekaligus memberikan KeyCard.
Tanpa kecurigaan, Yuliana turun dari mobil. Ia bergegas masuk ke dalam Hotel dan segera ingin melihat dan mencari kamar hotel yang telah disewa untuknya. Ia sangat bahagia karena selama ini dirinya tidak pernah merasakan menginap di Hotel apalagi berbintang lima.
Yuliana sangat takjub dengan apa yang dilihatnya. Sungguh sebuah bangunan yang mewah. Melihat bangunan yang megah dan kokoh tersebut membuat dirinya berdesir kagum.
Rita tersenyum kecut memperhatikan Yuliana dan segera meninggalkan Wanita itu. "Kalian berdua silahkan menikmati hidangannya, jangan sampai membuat kecerobohan!" Tegas Rita kepada dua pengawalnya.
Dengan persiapan yang matang, Rita berencana akan naik taksi untuk menjemput David, sedangkan pengawalnya harus memarkirkan mobil mereka tanpa tertangkap kamera CCTV di sekitar.
"Manager Gin! Satu jam lagi CCTV hotel harus kau matikan! khusus untuk koridor kamar nomor 2077 jangan kau hidupkan jika anak buahku melewatinya, untuk arahan selanjutnya kau tunggu anak buahku yang menghubungimu nanti…" Rita berbicara di telepon dan kemudian mematikannya.
Jelas saja Rita ingin melenyapkan Yuliana tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
"Turunkan Aku disini! Dan kau Hon berhentikan satu taksi untukku!" Rita berbicara kepada salah satu pengawalnya.
"Nyonya tidak masalah bepergian ke rumah itu sendirian?" Tanya pengawalnya.
"Tidak masalah, biar aku urus untuk urusan begini. Kalian nanti akan aku hubungi setelah aku membereskan anak itu." Jawab Rita
"Dan segera pesankan tiket pesawat untuk mengantarkan anak itu...klien sudah menyewa orang untuk membawa anak itu besok" Rita melanjutkan pembicaraannya.
*****
"Sampai kapan kamu terus begini ...?" lirih Harry merasa sedih mengingat istrinya.
Harry berjalan sembari mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk kecil. Ia melihat meja makan hanya bersisa tempe dengan potongan kecil. Dirinya hanya dapat menghelakan nafas atas tingkah laku istrinya. Rasa heran selalu muncul acap kali melihat putranya harus makan dengan lauk yang tak layak dengan uang seratus ribu yang setiap hari ia berikan.
Seorang Ayah yang memandangi Anaknya selalu tidak pernah mengeluh, walaupun terkadang sedikit cengeng. Harry hanya bisa tersenyum kecil ketika melihat kepolosan anak satu-satunya itu.
"Anak Ayah sedang belajar apa?" Tanya Harry sambil mencium pipi putranya.
"Ini Yah, Matematika…."
"Coba Ayah lihat." Harry memperhatikan buku tulis milik anak kesayangannya.
Anda Mungkin Juga Suka





