Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel School and Love

School and Love

Laisa, gadis cerdas dari keluarga sederhana, harus bertahan di SMA elite yang menerapkan sistem kasta bagi siswa kaya. Di tengah tekanan status sosial, ia tak sengaja bertemu Dema, putra konglomerat sekaligus pemimpin geng F3 yang berpengaruh. Kedekatan mereka memicu berbagai konflik tajam di sekolah. Namun, situasi semakin rumit karena Anan dan Candra juga menyimpan rasa pada Laisa. Akankah cinta mereka mampu melampaui perbedaan kasta yang ada?
Bab
Bagikan

Bab 3

Laisa sudah bersiap pergi ke sekolah. Ia tampil beda dengan ikat rambut di kepala belakang bagian tengah. Biasanya rambut pirangnya digerai. Lurus menutupi bahu. Hari ini cuaca terlihat lebih cerah dari biasanya. Kemungkinan matahari akan terik sehingga gadis ini memutuskan menguncir rambut.

Ibu sudah sibuk bermain alat dapur dari ayam berkokok. Tak seperti biasanya, sedari subuh tadi ibu membuat adonan kue untuk laki-laki yang kemarin memberi bantuan kepada putrinya. Ibu memang terkadang berjualan kue di pasar, namun hanya untuk hari Minggu. Sedang hari ini tidak ada jadwal ke pasar. Bahan belanjaan untuk nanti sore juga biasanya diantar oleh pedagang keliling.

Tampaknya Laisa memberi tahu perihal laki-laki itu, sekali lagi tanpa menyebutkan nama. Ibu meminta Laisa mencari tahu namanya, bahkan mengundang untuk makan malam ke rumah. Selain itu, ibunya menitip pesan ucapan terimakasih sudah menolong putrinya yang terluka.

"Ibu, Laisa berangkat sekolah dulu."

"Iya Nak, hati-hati. Jangan lupa titipkan pesan Ibu kepada anak laki-laki itu."

Laisa tidak menjawab. Malas sekali pagi-pagi sudah membahas pria tidak jelas itu.

"Laisss!"

"Iya Ibu, akan Lais sampaikan ke dia."

“Ibu tahu, di usiamu yang masih remaja ini mungkin berpikir ibu sudah mengarahkan putrinya untuk mengenal laki-laki, begitu kan? Tidak Nak, itu sebagai pembelajaran saja biar kamu lebih menghargai pertolongan orang lain. Entah itu dari kaum laki-laki atau kaum perempuan. Selama dia baik juga tidak ada salahnya dijadikan teman. Kamu harus mulai membuka diri dengan semua orang Nak. Ibu juga tahu 16 tahun itu masa meraih cita-cita, bukan cinta. Jadi anggap saja laki-laki itu sebagai temanmu yaa.”

Ibu Laisa selalu mewanti-wanti karakter anaknya yang masih kurang bersosialisasi dengan orang di sekitarnya. Ia khawatir jika anaknya itu benar-benar tidak memiliki teman. Selama bersekolah SD dan SMP dulu tidak ada satupun teman yang dekat dengannya. Hal itu membuat ibu semakin cemas, karena Laisa juga jarang menceritakan masalah pribadinya kepada sang ibu.

“Hufftt... Baik Bu, Laisa ikut perkataan ibu.”

Hari ini Laisa tidak jalan kaki lagi. Ia sudah ditunggu oleh sopir truk yang terkadang memberinya tumpangan. Sopir itu ternyata diminta berhenti oleh Ibu pasca kekhawatiran atas kejadian kemarin. Laisa tetap harus ada yang mengantar. Namun lantaran ia tidak memiliki kendaraaan dan terbatasnya uang, maka truk menjadi alternatif solusi akan hal tersebut.

Sampai di depan gerbang sekolah, truk berhenti lantas melaju dengan cepat. Laisa tak lupa mengucapkan terimakasih kepada sopir yang sudah memberinya bantuan. Di gerbang, seperti biasa. ia bertemu dengan satpam sekolah.

"Good morning Sir! How are you today?"

Ucap Laisa dengan bahasa asing. Setelah hari pertama itu, guru-guru memberikan peraturan bahwa di lingkungan SMA Semesta hanya memperbolehkan siswanya berbahasa Inggris, Arab atau Mandarin. Intinya menggunakan bahasa asing untuk mengasah kemampuan verbalnya. Apalagi sekarang bahasa sudah menjadi bagian yang urgen dalam kehidupan sehari-hari.

" I am fine Laisa. You look so pretty today. Have a nice day Laisa!"

“Thank you, Sir. Oh, I am sorry sir, almost forget. My mother gives it to you for having breakfast."

Laisa nampak memberikan sekotak kue kepada satpam sekolah. Ia lantas mengucapkan terimakasih atas kebaikan Laisa dan Ibunya.

Laisa masuk sekolah tanpa terlambat. Masih ada waktu sekitar 5 menit untuk melewati lorong dan mencari kelasnya. Ini merupakan hari kedua bagi Laisa. Ia masih lupa-lupa ingat dimana ruang kelasnya sendiri. SMA Semesta sungguh luas bangunannya.

"Heh, lo ngapain jalan kaya orang bingung gitu?"

Ucap seorang pria yang tiba-tiba membuatnya terkejut. Laisa agak salah tingkah dengan kelakukannya.

"Kamu laki-laki yang kemarin ya?"

"Kemarin mana emangnya? Kita pernah ketemu kapan?"

Dema memang jago di bagian berbohong dan memberi pelajaran kepada orang lain. Apalagi mendapati Laisa yang tampak begitu polos. Ia malah semakin liar dengan gaya humorisnya itu. Laisa semakin bingung dibuatnya.

"Saya ingat, kamu lelaki kemarin yang mengantar saya pulang kan. Meskipun saya pelupa - katamu tetapi saya tidak akan salah di bagian ini."

"Are you sure that I am a man that you think?"

Dema berusaha meyakinkan dengan gaya bahasanya yang cepat dan lugas.

"Yeah, certainly".

"What do you want?"

Dema mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Laisa bak mengancamnya, tetapi sekali lagi itu hanya gertakan biasa. Tidak ada keinginan untuk memarahi atau bermain fisik.

"Kamu bisa tidak lebih halus kepada perempuan?'"

Laisa agak naik pitam. Laki-laki itu merusak mood paginya yang tersusun rapi dan elok. Dalam beberapa waktu sudah berubah sedemikian rupa.

"I just want to give some cakes to you. This is from my mother who gets difficult to make it."

"Ha? What do you mean?"

"I think enough for describing, I'd like to go to class. This is for your, a special cake!”

Laisa memberikan kue itu kepada Dema dan memberi penekanan kata di bagian ‘a special cake’. Ia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, malas berhadapan dengan pria sombong sepertinya. Bahkan Laisa belum bertanya tentang namanya. Ibu pasti akan menanyakan hal tersebut.

"So arrogant!"

Teriak Dema sembari melototkan matanya. Ia kesal dengan sikap dingin Laisa kepadanya.

Laisa yang berjalan di depan sempat mendengar kata yang keluar dari mulut pria itu.

"Dasar laki-laki aneh!"

Ucap Laisa berusaha bodo amat kepada pria itu.

***

Di kelas, dua orang ini tetap duduk bersebelahan. Namun tetap saja keduanya saling diam. Antara saling 'jaim' dan malas memulai percakapan terlebih dahulu. pada akhirnya, perang dingin mereka berakhir ketika guru menyampaikan perihal Olimpiade Nasional yang sebentar lagi akan digelar. SMA Semesta menargetkan ada satu tim yang mewakili sekolah dalam event tersebut. Diutamakan siswa yang berasal dari kelas X agar memiliki pengalaman dalam berbagai ajang lain kedepannya.

ketika diberi penawaran, Laisa dan Dema langsung tunjuk tangan, disusul oleh gadis-gadis lain yang merasa senang ketika Dema mengikuti event ini.

"Karena yang mendaftar cukup banyak dan yang terpilih hanya tiga siswa, maka akan dilaksanakan seleksi terlebih dahulu. Seleksi dilaksanakan tiga hari lagi setelah pulang sekolah. Silahkan bisa dipersiapkan dengan baik. Buktikan kalian bisa lolos dan mampu bersaing dengan sekolah lain yaa."

Ucap guru kelas menutup pembelajaran hari itu.

Sebetulnya Laisa sudah mengetahui event ini sejak lama. Ia juga sudah mempunyai target untuk menjadi bagian tim. Gadis pintar ini sebelumnya sudah terbiasa mengikuti event olimpiade di sekolah sebelumnya dan sering pula mendapat predikat juara. Maka awal masuk di sekolah ini, ia ingin membuktikan kalau siswa dari kalangan bawah tetap bisa menunjukkan prestasinya. Ia yakin akan bisa mendapatkan kursi itu.

"Laisaa!"

Tiba-tiba Dema memegang tangan Laisa, menahannya untuk jangan pergi terlebih dahulu. Laisa tanpa basa-basi langsung melepas pegangannya.

"Kenapa?"

Ucapnya begitu singkat. Dema imenunjukkan sikap gemasnya melihat Laisa yang hanya merespon seuntai kata, namun ia tahan.

"Thank you for giving me this cake. Its taste is so sweet. I like it so much."

"Ya. You are welcome. Let me go right now, yah."

"Wait!"

"Anything else?"

"May I know about your full name?"

"Hmm. You can call me Laisa Ayki."

"Oke, a great name."

“Ha? Saya tidak salah mendengar kan, Tuan Muda yang terhormat?”

“Hmmm.. Sorry, gue tadi keceplosan bialng gitu.”

Dema mendadak dibungkam dengan kata-kata yang keluar dari mulut Laisa. Ia smalu dan seperti terkena sihir, terkagum -kagum dengan Laisa. Bukan perihal fisik atau wajahnya yang juga manis, namun dengan kemampuan yang ia miliki. Sebelumnya Dema sudah mencari tahu tentang Laisa di situs internet. Banyak sumber yang menampilkan jika perempuan ini memiliki jejak prestasi yang cukup banyak. Sama ambisiusnya dengan Dema.

"Oh ya, siapa nama kamu tadi?"

Laisa akhirnya bertanya. Dema padahal sudah menunggu pertanyaan itu sedari tadi.

"Dema Sudira Husada."

"Kamu dari kelurga Husada?"

"Iya, Laisa. Why do you ask me about them?"

Laisa diam. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Dema. Laisa berlari ke sudut skolah, ke sebuah taman yang jauh dari keramaian. Ia menangis disana, sesenggukkan dan semakin kencang. Beberapa siswa terheran dengan tangisannya, berusaha menenangkan tetapi juga sama bingungnya. Antara takut mengganggu dan dimarahi olehnya.

Dema yang sedari tadi mengamati Laisa juga dibuat bingung olehnya. Sikapnya absurd, tidak jelas dan semakin dipikirkan semakin membuat dia gila. Dema ingin menyusul Laisa ke tempat dia berlari, namun ia berpikir panjang dan memutuskan untuk membiarkan gadis itu menjelaskan semua itu esok. Iya, besok perempuan itu harus menjelaskan, ada apa dengan keluarga Husada baginya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Cinta Satu Malam
7.9
Niat Miranda untuk sekadar bersenang-senang berakhir petaka setelah ia terjebak dalam malam panas bersama Athes Russel. Situasi kian pelik karena pria itu ternyata rekan bisnis ayahnya sendiri. Meski Miranda berusaha keras menjauh dan menolak kehadirannya, Athes justru terus mengejar karena terobsesi dengan memori pertemuan mereka. Kini, Miranda terjepit di antara skandal terlarang dan bayang-bayang pria yang seharusnya tidak pernah ia sentuh.
Sampul Novel Dinikahi Ceo Angkuh
9.0
Nadia harus mengubur impiannya menjadi pramugari setelah sang ayah, yang terobsesi pada uang, memaksanya menikah. Ia kini terikat dengan Allard, pemuda kaya yang sangat angkuh dan dingin. Hidup Nadia berubah menjadi penuh tekanan karena Allard selalu mengekang kebebasannya dan menuntut kepatuhan mutlak. Di tengah ketidaknyamanan dan sikap sombong suaminya, mampukah Nadia bertahan dalam pernikahan ini, ataukah ia akan memilih untuk pergi demi kebahagiaannya?
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Istri Rahasia CEO
9.5
Abia tak pernah menyangka nasibnya akan berubah drastis setelah merusak mobil mewah milik bosnya yang dingin. Arya, sang CEO duda beranak satu, memberikan tuntutan berat: Abia harus membayar ganti rugi selangit atau bersedia menikah dengannya. Terjepit masalah finansial, Abia terpaksa menerima tawaran gila tersebut. Kini, ia harus menghadapi tantangan besar tinggal seatap dengan pria galak yang selama ini ia hindari di kantor demi melunasi utangnya.
Sampul Novel Pasangan Pengganti
8.5
Alana Nefertari adalah istri sabar yang memimpikan perubahan sikap Vicky Xavier demi buah hati mereka. Sayangnya, kekejaman Vicky justru memuncak saat ia menjadikan Alana jaminan utang kepada atasannya sendiri, Bryan. Kini, sang istri terpaksa bekerja sebagai pelayan di rumah sang Direktur akibat ulah suaminya yang tak berperasaan. Mampukah Alana bertahan di tengah pengkhianatan ini, ataukah pernikahan toxic tersebut akhirnya akan hancur selamanya?