
Scent of Love
Bab 3
Tuan Henry Carvil adalah notaris satu-satunya yang ada di Eugene. Pria itu berusia lebih dari setengah abad dengan aksen British yang kental.
Hari ini Tuan Henry Carvil datang bersama asistennya, John Mayer. Seperti hari biasa, dia selalu mengenakan jas coklat tua dan celana senada serta kemeja putih di dalamnya. Rambutnya tersisir rapi dengan belahan ke samping.
Asistennya seorang lelaki muda, memakai kemeja polos hijau muda dengan jas hitam dan celana jeans. Anak muda yang energik. Dia membawakan tas Tuan Henry.
“Baiklah, seperti janjiku di telepon tadi pagi. Aku datang untuk membacakan surat wasiat dari mendiang Diane Swan, yang kemarin telah meninggalkan kita semua,” ujarnya menjabarkan kedatangannya, begitu bokongnya menyentuh sofa kulit sintetis yang sudah mulai usang dan pecah di beberapa bagian. Lalu dia meminta tas yang dipegang John, membuka dan mengeluarkan sebuah amplop.
Josephine duduk di sofa berhadapan dengan Tuan Henry, bersama Edward di sampingnya. Sementara Shane, Thomas dan Devan, berdiri di belakang sofa yang diduduki orang tua mereka. Josephine menganggukkan kepala. Tak pernah terlintas dalam pikiran jika ibunya bisa menuliskan sebuah surat wasiat.
Setelah mengeluarkan surat itu dari dalam amplop putih, Tuan Henry membuka lipatan dan mulai membaca. Semua yang ada di ruangan itu mendengar dengan seksama.
‘Dear my daughter, Josephine. My son in law, Edward. My grandchildren, Devan, Thomas and lovely Shane.
Saat Tuan Henry membacakan surat ini, aku sudah tidak bersama kalian lagi. Aku harap saat itu kalian semua dalam keadaan baik dan sehat. Surat ini aku buat karena menyadari bahwa usiaku tidak akan lama lagi. Walau harta yang kupunya tidaklah banyak, tapi ada yang ingin aku sampaikan, terutama pada cucu tersayangku, Shane. Toko bunga, akan kuberikan kepada Shane untuk dikelola. Toko bunga itu sudah seperti sudah menemani Granny seumur hidup. Dan kini aku yakin Shane pasti bisa mengelolanya dengan baik. Rumah yang sekarang ini kutempati, kuberikan kepada Devan dan Thomas. Terserah kepada kalian berdua akan diapakan rumah ini. Tapi Granny juga yakin, kalian pasti bisa memanfaatkannya dengan baik.
Untuk anakku Josephine dan menantuku Edward, sebidang tanah warisan dari mendiang ayah Josephine aku berikan kepada kalian. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Semoga kalian semua selalu berbahagia dan aku mencintai kalian semua.
Diane Swan.’
Josephine menangis, mengingat semua kenangan akan Diane. Shane terisak dipelukan Devan dan Thomas. Tuan Henry membiarkan mereka menangis untuk sementara waktu. Dia menyadari bahwa ini adalah perpisahan yang abadi. Tidak akan pernah ada pertemuan lagi. Perlu waktu untuk melampiaskan kesedihan yang tiba-tiba menghampiri.
Setelah beberapa saat, semua kembali tenang. Tuan Henry lalu mengeluarkan beberapa map dari dalam tas, dan meletakkannya di atas meja tamu. Kemudian dia mengambil map paling atas, dan membukanya.
“Ini adalah surat balik nama untuk tanah di Eugene utara, dekat Willamate valley. Sudah disiapkan Diane, jauh sebelum dia meninggal. Kalian tinggal menandatangani-nya saja,” tukas Tuan Henry. John segera menyiapkan bolpoin dan menyerahkan map tersebut ke hadapan Josephine dan Edward.
“John, tunjukkan di mana mereka harus tanda tangan,” ujar Tuan Henry memberi perintah pada John. Lelaki muda itu mengangguk. Tuan Henry mengambil map kedua, dan membukanya.
“Ini adalah surat balik nama kepemilikan atas rumah ini. Rumah ini akan menjadi hak milik Devan dan Thomas. Karena atas nama berdua, saat hendak menjual, kalian berdua harus ada untuk menandatangani atau salah satu memberikan surat kuasa. Kalian mengerti,” jelas Tuan Henry sambil menatap wajah Devan dan Thomas. Keduanya mengangguk. Kemudian dia mengambil map berikutnya.
“Yang ini punyamu, Shane. Kuharap kau menuruti keinginan Diane. Dia sangat menyayangimu, memberikan toko bunga dan seluruh tabungan yang dia punya. Jangan kecewakan nenekmu, Shane,” tukas Tuan Henry, lalu memberikan kepada Shane untuk di tandatangani. Gadis itu hanya bisa tergugu mendengar ucapan Tuan Henry.
Dia tahu bahwa Granny sangat meyayanginya, tapi untuk meneruskan toko bunga, dia harus memikirkannya dulu.
“Aku tahu, tidak pantas rasanya membacakan wasiat dari mendiang, padahal dia baru saja dimakamkan kemarin. Tapi ini adalah salah satu pesan dari mendiang, agar secepatnya dibacakan dan dilaksanakan. Jadi sekali lagi aku mohon maaf dan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Mendiang merupakan salah satu panutan di kota ini. Kami semua menyayangi dan juga sangat kehilangan beliau.” Kembali Tuan Henry menjelaskan setelah semua surat selesai ditandatangani dan John memasukkan semua map ke dalam tas.
“Terima kasih, Tuan Henry, karena kau telah membantu mendiang Ibu mertuaku, hingga akhir hayatnya,” jawab Edward sambil mengusap sudut matanya yang terasa basah. Diane adalah sosok ibu mertua panutan, dia tidak pernah sekalipun ikut campur dalam urusan rumah tangga walau mereka dulu tinggal bersama. Pun dalam urusan anak-anak, semua di serahkan kepada Josephine, hanya sesekali saat diminta pendapatnya, dia akan memberikan saran yang terbaik yang bisa dia berikan.
Tuan Henry mengangguk khidmat, begitu juga John. Setelah berbincang santai bersama Edward dan kedua putranya, Tuan Henry dan asistennya pamit pulang. Hari sudah gelap, angin di luar mulai bertiup kencang dan hawa dingin menusuk kulit. Akhir musim dingin di Eugene selalu begini, dingin menusuk. Cepat-cepat Edward melangkah masuk ke rumah setelah mengantar kepulangan Tuan Henry Carvil. Tak berapa lama hujan benar-benar turun, membasahi bumi. Shane dan ibunya belum beranjak, sudut mata mereka kembali meneteskan air mata.
Setelah puas mencurahkan air matanya, Shane masuk ke kamar membawa copy-an berkas yang ditandatanganinya tadi.
Lama gadis itu termenung di depan map yang ada di pangkuannya. Hingga dering ponsel mengakhiri lamunannya.
“Ya, Andy. Ada sesuatu yang terjadi di kafe selama aku tak ada?” tanya Shane begitu melihat wajah lelaki muda itu muncul di layar ponselnya.
“Tidak, semua baik-baik saja. Aku hanya ingin tahu kabarmu. Bagaimana di sana? Apa acara pemakaman sudah selesai?” Andy balik bertanya.
“Ya … sudah selesai. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku balik ke Portland. Kami sedang mengemasi barang-barang peninggalan Granny. Kau tahu, ternyata dia pengumpul barang yang handal. Barang-barang lama kami semuanya masih utuh di sini.”
Shane bercerita panjang lebar pada lelaki muda berambut pirang itu dan Andy tertawa mendengar cerita Shane tentang Granny.
“Semua orang tua begitu, Shane. Kau tahu nenekku dulu juga begitu. Bahkan barang semasa mudanya dulu masi disimpannya dengan rapi, andai ibuku tidak memaksa untuk membenahi kamarnya.”
“Iya, kau betul, Andy. Aku baru menyadarinya. Granny terlalu pandai menyimpan harta karunnya,” ujar Shane sambil tertawa lebar.
“Baiklah, tunggu kau kembali kita baru melanjutkan cerita ini, oke? Aku mau pulang dulu. Kafe baru saja tutup.”
“Oke, hati-hati, ya.”
Sambungan ponsel berakhir dan Shane dengan cepat meraih selimut tebal yang ada di kaki, menutupi tubuh hingga ke dada. Udara dingin masuk melalui celah-celah jendela yang tak bisa dirapatkan.
‘Brr … aku harus memberitahu Dad, besok,’ gumam Shane sambil menaruh ponsel di meja kecil dekat ranjang.
***
Anda Mungkin Juga Suka





