
Scandal with CEO
Bab 3
Ashley baru saja siuman dari pingsannya, dia berusaha membuka matanya dan melihat akan keberadaannya kini. "Kepalaku sakit, Argh ah," rengek Ashley yang masih memegang kepalanya, dan perlahan Ashley meraba-raba akan keberadaannya kini. "Ini dimana? Tempat apa ini? Ini bukan rumahku? Ini dimana? Kenapa aku disini? Apa mungkin?" begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Ashley, setelah menyadari akan keberadaannya kini.
Ingatan Ashley bahkan mulai menerawang kejadian satu jam, sebelum dia berada di tempat itu. "Iya, aku didorong hingga terjatuh. Apa mungkin pria itu?" Ashley berpikir keras demi mengetahui siapa yang sudah membawanya ke tempat itu. "Aku harus pergi dari sini! Aku gak mau ketemu dengan pria gila itu lagi," ucap Ashley pada dirinya sendiri, dan Ashley berusaha beranjak dari tempat tidur itu.
Kakinya berjalan perlahan-lahan, melihat ke arah kanan dan kiri, memperhatikan muka dan belakang. Dan seketika Ashley mendengar suara dua orang yang sedang berbincang di luar. "Ah, apa itu mereka?" tanya Ashley pada dirinya dan Ashley memperlambat langkah kakinya, dan Ashley berjalan mengendap-endap mencari celah untuk keluar. "Bagaimana caranya aku keluar, apa mereka sedang berjaga-jaga di depan pintu itu?"
Ashley seketika ketakutan dan tidak tahu harus bagaimana, tidak mudah baginya untuk kabur dari tempat itu, tapi Ashley juga tidak ingin berada di tempat itu. "Dimana ponselku, aku harus menghubungi Aleena dan meminta bantuannya," ucap Ashley mencari keberadaan tasnya entah dimana.
"Apa dia ada di dalam?" suara pria itu begitu lekat di ingatan Ashley.
"Pria itu, aku harus sembunyi. Aku gak mau bertemu dengannya. Tapi aku bersembunyi dimana?"
Ashley menoleh ke arah luar jendela, melihat tidak ada ruang untuk kabur. Sementara gagang pintu itu sudah mulai bergerak dan seseorang hampir masuk ke arah dalam. "Hikss, aku harus apa?" Hanya tangisan yang Ashley bisa kini, menutupi rasa takut yang menghampiri dirinya.
Klek
Pintu apartemen itu tiba-tiba terbuka, dan Nicholas langsung menyunggingkan senyumnya menoleh ke arah Ashley yang sedang mencari jalan keluar untuk kabur.
"Tuan, kenapa kau membawaku ke sini? Aku salah apa Tuan, izinkan aku untuk pergi Tuan," ucap Ashley dari jarak yang cukup jauh dari Nicholas.
Nicholas tidak peduli dengan ucapan Ashley, dia lebih tertarik mengambil sebotol bir dan menuangkannya ke gelas. "Apa kamu mau minum juga, sayang?" tanya Ashley yang dijawab dengan gelengan kepala Ashley.
"Izinkan aku keluar dari sini, Tuan." Ashley memberanikan diri mendekat dan meminta kembali belas kasihan dari Nicholas, tapi pria itu hanya membalas senyum kecil di wajahnya.
"Tuan, izinkan aku keluar dari sini Tuan. Mereka akan mencemaskanku, Tuan."
"Gak bakalan ada yang mencemaskanmu lagi, aku sudah menghubungi sahabatmu itu. Dan berkata padanya, kalau mulai hari ini dan seterusnya kau adalah milikku. Dan orang tuamu … ah, mereka gak ada di kota ini kan. Sesuatu bisa saja terjadi dengan mereka. Kalau kau berani lari dariku."
"Apa maksudmu, Tuan? Aku tidak ingin terus-terusan tinggal disini, Tuan."
"Bukankah kau sedang mencari pekerjaan? Iyah ini pekerjaanmu. Aku sudah menerimamu bekerja. Dan kau harusnya berterima kasih padaku. Karena aku juga memberikanmu tempat tinggal dan makan gratis. Bukankah itu menyenangkan sayang?"
"Aku membatalkan niatku untuk bekerja di perusahaan mu, Tuan. Apa aku boleh pergi sekarang!?"
"Ah ha ha ha, bagaimana bisa CV mu sudah aku terima, dan kamu malah membatalkannya secara sepihak. Apa kamu ingin aku tuntut dengan tuduhan bermain-main dengan perusahaanku, bahkan kamu juga sengaja menjebakku."
"Menjebak, aku tidak pernah melakukan itu Tuan. Aku tidak pernah menjebakmu. Yang ada aku yang akan menuntutmu dengan kasus pelecehan!"
"Ah, kau berani bersuara keras di hadapanku!? Apa buktinya kalau aku melecehkanmu ha?"
"Mereka, anda melecehkanku di hadapan me … Tuan. Apa yang ingin Anda lakukan lagi."
Ashley ketakutan saat Nicholas memajukan langkah kakinya mendekat ke arah Ashley. "Tuan, aku bisa melaporkanmu tentang ini, Tuan!" ancam Ashley yang kini ketakutan, saat melihat Nicholas semakin dekat ke arahnya, dan Ashley yang perlahan memundurkan langkah kakinya ke belakang.
"Stop Tuan." Ashley menahan badan Nicholas yang sedang mencondongkan badannya ke Ashley.
"Biarkan aku sekalian memperkosamu, sayang."
Plakk
Ashley marah mendengar ucapan Nicholas, dan dengan gerakan refleks Ashley melayangkan tangannya ke pipi Nichols.
"Ah." Nicholas lantas tersenyum menerima tamparan Ashley.
"Jangan pernah melakukan hal keji di tubuhku ini, Tuan! Aku tidak akan pernah membiarkan Anda melakukannya!"
"Kau membuatku semakin menyukaimu, sayang. Kau begitu menarik sayang. Baiklah. Aku tidak akan melakukan hal itu sekarang, tapi aku tidak janji untuk besok atau besoknya lagi."
"Pria gila, dia sebenarnya siapa sih? Kenapa dia seperti ini? Aku gak mau jadi mainannya. Aku harus mencari cara agar bisa kabur dari sini, tapi bagaimana? Apa untuk sementara waktu aku ikuti permainannya saja? Iya, saat ada kesempatan maka aku akan kabur," batin Ashley.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang? Sini lah sayang, duduk mendekat denganku."
Ashley memilih acuh mendengar panggilan dari Nicholas itu, sehingga Nicholas berdiri dan menarik tangan Ashley.
Dring dring dring dring
Saat Nicholas hampir duduk, sebuah panggilan masuk telah mengganggu kesenangan pria itu. "Ada apa!?" bentak Nicholas dari sambungan teleponnya, geram melihat seseorang yang menghubunginya kini.
"Kau dimana, Nicho? Apa kamu sudah melihat berita hari ini?"
"Berita apa?" bentak Nicholas.
"Buka pintu apartemenmu, kamu sedang di apartemen kan? Aku sekarang berdiri di depan apartemenmu," ucap pria itu lagi, bahkan pria itu mengakhiri panggilannya.
Tok tok tok tok tok
"Buka pintunya, Nicko," ucap seseorang dari luar pintu apartemen itu.
Nicholas dengan terpaksa membuka pintu itu. "Nicko, jangan bilang kamu tidak tahu berita tentang hari ini!?" pria yang baru datang itu langsung melempar pertanyaannya pada Nicholas, yang merasa malas dengan kedatangan pria itu di apartemennya.
"Apa wanita ini? Siapa dia Nicko? Apa dia tunanganmu seperti yang mereka beritakan?"
"Kamu berkata apa sih, Hans. Aku tidak paham!"
"Nicho, lihat ini."
Pria itu memperlihatkan ponselnya, dan menunjukkan beberapa pemberitaan tentang Nicholas dan Ashley yang sedang ramai diperbincangkan di publik. "Ah, para wartawan itu sangat pintar membuat berita palsu," ucap Nicholas dengan senyumnya.
"Tidak akan ada yang peduli dengan kenyataannya, Nicho. Yang mereka tau kamu ini memiliki tunangan. Apa mami dan dadi sudah menghubungimu, Nicho?" tanya Hans.
"Apa mereka juga sudah mendengar berita ini, Hans?"
"Seharusnya iya, Nicho. Apa kau lupa. Kalau dedi selalu memantau kita!?"
"Ah, aku belum siap dinikahkan."
"Siapa wanita itu, Nicko. Apa dia benar-benar tunanganmu?"
"Bukan, dia hanya mainanku."
••••
Ashley tidak terima dengan ucapan Nicholas, yang selalu berkata Ashley akan jadi mainan. Ashley begitu marah dan melotot ke arah Nicholas. "Hey kau, sampai kapanpun aku tidak akan sudi menjadi mainanmu!" Ashley berkata dengan lantang, seperti tidak ada hambatan yang dirasakannya kini. Dia sudah cukup sabar menghadapi sikap Nicholas.
"Ah." seperti biasa, Nicholas membalas ucapan Ashley dengan senyum kecil di sudut bibirnya, bagi Nicholas. Semakin wanita itu menentangnya. Semakin Nicholas jatuh hati padanya.
"Jadi bagaimana ini, Nicho. Apa yang akan kau katakan pada Deddy dan mami?"
"Kenapa kau yang sibuk sih, Hans. Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak mengikut campuri urusanku ha? Kau bilang sudah muak memiliki adik sepertiku. Kenapa sekarang kamu datang lagi ha? Aku tidak butuh bantuan atau apapun itu darimu. Lebih baik kau angkat kaki dan tinggalkan tempat ini!"
"Nicho, aku ini Kakakmu. Apapun yang terjadi padamu di luar sana! Maka mereka akan sibuk mengejar-ngejarku. Apa kau paham ha? Sudahlah Nicho, berhenti membuat masalah. Apalagi dengan wanita yang ada di hadapanmu. Dia sepertinya bukan wanita jalang. Lebih baik kamu buat pengakuan dan katakan pada para wartawan itu yang sebenarnya, jika kau dan wanita itu tidak ada hubungan."
"Benar aku setuju." Ashley menyahuti ucapan keduanya.
"Hey, siapa yang mengajakmu bicara?" tanya Nicho yang membuat nyali Ashley jadi menciut.
"Maafkan aku Tuan, tapi aku bukan wanita jalang. Bahkan aku masih perawan hingga kini," ucap Ashley yang tidak sadar kalau perkataannya itu bisa membahayakannya.
"Bagus, aku suka dengan wanita jalang yang masih fresh," balas Nicholas tersenyum, sementara sang kakak Hans merasa kesal dengan wanita itu.
Hans merobohkan punggung badannya di ujung sofa itu, menyayangkan ucapan dari Ashley. "Kenapa dia berkata seperti itu sih? Ah, apa dia gak tau siapa adikku sebenarnya. Dia penjahat kelamin. Tapi kalau dilihat-lihat gadis itu menarik juga. Aku akan mencoba membantunya lepas dari Nicho, aku tidak ingin nasib wanita itu berakhir dengan wanita-wanita lainnya," batin Hans yang kini tengah memperhatikan Ashley.
"Apa yang sedang kau tengok, Hans? Jangan bilang kalau kau tertarik dengan wanita itu!?"
"Bagaimana kalau aku menukar wanita itu dengan mobil sport terbaru ku, bukankah kau bilang ingin membeli mobil yang sama denganku. Kau tidak perlu membelinya Nicho. Aku yakin Daddy juga tidak akan menyetujuinya. Karena bulan ini saja kau sudah banyak menghabiskan uang perusahaan untuk membeli sebuah pulau. Iya kan?"
"Aku membeli pulau itu hanya untuk investasi, Hans. Dan Daddy menyetujui itu."
"Ah, investasi. Kau menjadikan pulau itu sebagai sarang wanita jalang kan!?"
"Wanita jalang berkelas, dan beberapa bos-bos sudah membooking tempat itu. Bahkan mereka sangat mengapresiasi apa yang aku lakukan itu, Hans. Daripada kam? Ah, kinerjaku jauh lebih disukai Daddy daripada kau!"
"Jangan sombong, Nicho. Kalau bukan aku yang mengalah dan memberikan jabatan itu padamu. Kau tidak bakalan jadi apa-apa. Mungkin kau hanya sebatas asistenku saja. Berterima kasih lah pada Kakakmu ini. Sebenarnya Daddy itu tidak mau memberikan kepercayaannya padamu, lihat saja sekarang. Apapun yang terjadi padamu masih di bawah tanggung jawabku."
Nicholas tidak suka mendengar ucapan dari kakaknya itu, karena apa yang dikatakan oleh sang kakak semuanya benar. Dan itu alasan pertama mengapa Nicholas tidak menyukai kakaknya itu. Kasih sayang sang Daddy yang dianggap pilih kasih. "Nicko, kakak ingin kamu sekarang belajar lebih baik lagi …."
"Bisa tidak kamu meninggalkanku disini, Hans!?" bentak Nicholas yang memotong ucapan dari kakaknya itu.
"Nicho!?" bentak Hans tidak suka.
"Pintunya tidak dikunci, keluarlah dari sini. Aku masih ingin bermain-main."
"Ah." Hans melempar senyum kecil di sudut bibirnya pada Nicholas, yang selalu tidak mendengar apapun yang dikatakan oleh Hans. "Ok, aku akan pergi. Aku tidak akan pernah mau membantumu lagi!?"
"Siapa yang pernah meminta bantuanmu ha? Tidak ada! Kau hanya yang selalu sok-sok baik padaku!"
"Kau!" ucap Hans yang menarik lengan baju Nicho, dan keduanya yang saling beradu tatapan.
Ashley yang melihat keduanya tengah saling melotot dan mengekspresikan kemarahannya, membuat Ashley mengambil kesempatan untuk kabur. Perlahan-lahan Ashley berjalan ke arah pintu. Terlebih saat Nicholas berkata kalau pintunya tidak terkunci. "Semoga saja mereka tidak melihatku," batin Ashley yang sedikit lagi berada di depan pintu.
"Berhenti disitu, kalau tidak ingin aku mematahkan kakimu!" ucap Nicholas tanpa menoleh ke arah Ashley, dan memperhatikan Ashley dari ekor matanya.
"Biarkan dia pergi, Nicho!" bentak Hans yang semakin menarik lengan baju adiknya itu.
"Lepaskan aku! Dan jangan pernah ikut campur urusanku!" bentak Nicholas melepas paksa tangan sang kakak dari lengan bajunya, dan Ashley yang membuka pintu apartemen itu.
Nicholas menatap santai ke arah Ashley yang hampir keluar. "Ayo ikut aku!" Hans tiba-tiba berjalan ke arah Ashley, dan menggenggam erat tangan Ashley untuk membawanya keluar dari apartemen Nicholas.
"Lepaskan dia!"
Brugh
Nicholas begitu marah, saat melihat Hans menggenggam erat tangan Ashley, sehingga Nicholas melempar botol minuman itu ke arah Hans.
"Apa Anda baik-baik saja?" Ashley yang sempat kaget itu menaruh perhatiannya pada Hans, dengan melihat tangan Hans yang digunakannya menghadang botol minuman itu. "Ini sedikit luka, huff, huff," ucap Ashley meniup-niup tangan Hans yang sedikit memar akibat botol minuman itu.
Hans memperhatikan Ashley yang tengah mengkuatirkannya, sehingga dada Hans tiba-tiba saja berdebar kencang. Melihat untuk pertama kalinya ada wanita yang dengan tulus memperhatikannya.
Hans mengangkat sedikit rambut Ashley yang menutupi wajahnya, melihat dengan dekat wajah Ashley yang begitu cantik dan mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. "Kau!"
Plakkk
Nicholas begitu marah pada Ashley, sehingga Nicholas menarik tangan Ashley dari tangan Hans. Tidak lupa memberikan Ashley sebuah tamparan keras. "Nicho!" bentak Hans marah.
"Pergi dari sini! Sebelum aku meminta mereka menarikmu paksa dari sini!" bentak Nicholas terhadap Hans.
Hiks hiks
Ashley yang kesakitan hanya bisa menangis, dan menatap permohonan pada Hans. Agar Hans membawa Ashley bersamanya. Hans juga merasa sedih melihat wanita yang baru saja ditemuinya itu. Tapi kehadiran wanita itu seakan memberi sinyal di hatinya. Dan entah kenapa Hans ingin memiliki wanita itu juga. "Apa yang sedang kau lihat hah? Pergiiiii!" bentak Nicholas, yang membuat para bodyguard Hans dan Nicholas datang mendekat.
Para bodyguard itu saling tatap menatap, bersiap diri untuk melindungi bosnya. Hans yang memperhatikan suasana yang mulai tidak kondusif, dan bisa terjadi perkelahian antara para bodyguard sang adik dengan bodyguard sang kakak. Hingga akhirnya Hans berjalan melangkah sedikit lebih dekat pada sang adik. "Jangan kasari dia! Kamu terlahir dari rahim seorang wanita." Hans berkata pelan di telinga Nicholas, yang dijawab dengan senyum sinis Nicholas.
"Tuan, tolong bawa aku dari sini," ucap Ashley yang berlari dan menahan kaki Hans.
Hans merasa sedih melihat Ashley, tapi Hans tidak bisa berbuat apapun. Dia tidak mungkin melakukan pertempuran dengan sang adik. "Lepaskan kakiku," ucap Hans menggerak-gerakkan kakinya, agar Ashley segera melepaskan tangannya.
"Aku tau Anda orang baik, tolong bawa aku keluar dari sini. Hikss." Ashley menangis di bawah kaki Hans, hingga Hans duduk jongkok melepas tangan Ashley. Sementara Nicholas menatap kasar ke arah keduanya.
Belum sempat Hans mengeluarkan kata-katanya, Nicholas terlebih dahulu menarik kasar rambut Ashley ke dalam kamarnya. "Hiks, sakit. Lepaskan aku. Tolong! Sakit. Rambutku sakit. Tolongggg! Hiks, sakit."
Anda Mungkin Juga Suka





