
Scandal Married With CEO
Bab 3
Qiena benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan secepat mungkin, dia memang sangat khawatir dengan Yasmine. Dia juga sangat merindukan Yasmine, tidak seharusnya dia meninggalkan Yasmine hanya karena marah kepada Sean.
Dia dan Amber sudah berada di Bandara, tiga puluh menit lagi pesawat akan lepas landas. Amber tahu Qiena sangat lelah setelah tadi berdiskusi dan memimpin rapat, dulu Amber berpikir hidup sahabatnya itu akan sangat sempurna. Bagaimana tidak, sedari mereka kuliah Qiena sudah sangat dikagumi kaum adam ataupun hawa. Qiena pintar, cantik, ramah dan juga anak dari pegusaha ternama. Hidup wanita itu sungguh sempurna, dan kini apa yang terjadi dalam hidup Qiena membuat Amber dan sahabat mereka lainnya sungguh sedih dan menyesali keputusan Qiena untuk menerima lamaran Sean dulu.
Tak lama mereka mendengar jika mereka sudah harus masuk ke dalam pesawat, Qiena dan Amber duduk di first class dan posisi tempat duduk Qiena berada di depan Amber. Baru saja akan duduk di tempatnya sapaan dari seorang pria didengar oleh Qiena.
"Hai, kita kembali bertemu. Kita sharing meja di restoran hotel, kau ingat ?" Qiena tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu pria itu mengulurkan tangan kepada Qiena.
"Aku Jack. Jack Pitter."
"Oh ya, aku Qiena Gi____," baru akan menyebutkan nama keluarga Sean Qiena langsung diam dan menyebutkan nama keluarganya sendiri. "Qiena William," ucapnya dan Jack tersenyum lebar. Mereka duduk di tempat duduk masing-masing yang ternyata bersebelahan, Amber di tempatnya memperhatikan Qiena yang sepertinya bahagia berbicara dengan Jack yang menarik perhatian Qiena.
"Oh ya Qiena, bisa aku minta nomor ponsel mu ?'
"Oh ya sure," jawab Qiena. Mereka pun bertukar nomor ponsel.
Dari obrolan panjang di dalam pesawat Qiena dan Jack ternyata sama-sama bisa memainkan piano, Jack adalah seorang seniman yang memiliki sekolah music terkenal di London. Jack juga berjanji akan mengajak Qiena untuk melihat-lihat suasana di gedung musiknya.
Jack bertanya apa yang Qiena lakukan kemarin di Jerman, dan banyak hal lainnya yang ditanya Jack untuk terus mengobrol dengan Qiena. Bahkan ada saja lelucon yang dia ucapkan membuat Qiena merasa sangat konyol hingga perutnya terasa keram karena menahan tawa.
"Sepertinya kau sudah lama tidak tertawa ?" tanya Jack membuat Qiena terdiam dia menyembunyikan keterkejutan atas pertanyaan Jack itu.
"Tidak banyak orang yang bisa membuat ku tertwa," jawab Qiena.
"Oh itu artinya aku pria yang beruntung." Qiena tersenyum lagi dan mengangguk, sementara Jack terus menatap Qiena dalam diam. Mengamati setiap ekspresi manis dan lucu dari Qiena.
*****
Qiena dan Amber sedang menunggu koper mereka, dan tak lama tepukan di bahu Qiena membuatnya terkejut.
"Ya Tuhan Jack," katanya mengusap dadanya.
"Sorry," ucap Jack dengan senyuman lalu memberikan sebuah boneka kecil. "Ini aku lupa membelikan kado untuk keponakan ku, lalu ternyata beli satu mendapatkan gratis satu, jadi aku berikan satu untukmu."
"Maksudmu aku keponakan mu hem," ujar Qiena mengambil boneka teddy bear lucu itu.
Amber hanya diam mengamati, dia akan memberikan komentar nanti jika mereka sudah sampai di dalam mobil yang menjemput mereka. Qiena juga tidak memperkenalkannya kepada Jack, jadi lebih baik dia tidak bersuara.
"Jack aku pergi dulu, senang bertemu denganmu." Qiena menepuk pundak Jack lalu pria itu melambaikan tangannya.
Bagi Jack Qiena adalah wanita yang menyenangkan dan juga cantik tentunya, jika ada kesempatan dia ingin kembali bertemu dengan Qiena. Itupun jika wanita itu mau bertemu dengannya.
*****
Di dalam mobil Amber sibuk dengan Ipad-nya, dia membaca semua email yang harus dia urus. Semua itu tentang urutan jadwal kerja Qiena.
"Kau ingin libur dulu besok ?" tanya Amber yang melihat Qiena sedang menatap pemandangan di sepanjangn jalan.
"Tidak ! jika kau Lelah, kau boleh ambil cuti dulu Am." Qiena sungguh pengertian, tapi Amber tidak akan membiarkan sahabatnya bekerja seorang diri.
"Nanti saja aku ambil cuti jika ada urusan mendadak." Qiena tersenyum bersama dengan Amber.
"Jangan bermain terlalu jauh Qiena, ingat kau punya tanggung jawab." Qiena tertegun, dia tahu apa arti dari ucapan Amber.
Jack memang pria yang menyenangkan dan juga hangat, sifat konyol dan lelucon yang dilontarkan pria itu mampu membuat Qiena terus tertawa dan tersenyum. Ini pertama kali dalam hidup Qiena bertemu dengan sosok pria menyenangkan seperti Jack. Pria yang tanpa diminta datang dan menghibur kegelisahan hatinya.
Qiena berpikir, akan sangat menyenangkan jika memiliki seseorang yang dijadikan sandaran saat merasa lelah dengan keseharian yang sudah dijalani. Tapi sepertinya pertemuannya dengan Jack hanyalah pertemuan biasa, mereka adalah orang asing yang tidak sengaja mengukir satu paragraph cerita bersama. Tidak akan menjadi satu kisah yang panjang dan berakhir bahagia.
Tiba-tiba Qiena teringat dengan cincin nikahnya yang dia buang di lantai kamar hotel. Bagaimana bisa dia melupakan cincin itu.
"Ada apa ?" tanya Amber yang melihat Qiena panik.
"Cincin nikah ku, aku melemparkannya ke lantai kamar hotel." Amber menggelengkan kepalanya lalu memberikan kepada Qiena.
"Ini, semalam saat check out resepsionist memberikan cincin ini." Qiena bernapas lega lalu memasukkan cincin tersebut ke dalam tasnya.
****
"Mommy....," teriak Yasmine saat melihat kehadiran Yasmine di dalam rumah. Gadis kecil itu memeluk tubuh Qiena dengan semangat. Qiena menggendong tubuh Yasmine dan menciumnya dengan gemas, sementara koper yang dia bawa dibawa kedalam kamar oleh pembantu dirumah itu.
"Yasmine sendiri di rumah ?" tanya Qiena dan anggukan dari Yasmine adalah jawabannya. "Bagaimana jika kita makan malam diluar nanti ?" Yasmine mengangguk dengan semangat membuat Qiena bahagia.
Keputusan Qiena membawa Yasmine pergi makan diluar sepertinya sangat tepat, gadis kecilnya itu sangat bahagia. Setelah makan mereka berdua pergi ke toko mainan dan toko buku. Tak lupa Qiena menyempatkan diri untuk pergi ke butik untuk membeli baju-baju baru bagi Yasmine.
"Mom, bukankah itu daddy ?" tanya Yasmine saat mereka keluar dari butik. Qiena melihat arah tunjuk Yasmine dan memang benar di sebuah restoran di dalam mall tersebut Sean sedang duduk makan bersama Prime, Maxim dan juga tiga wanita lainnya.
"Daddy," panggil Yasmine tanpa Qiena duga lalu Yasmine berlari kearah dimana Sean kini menatap mereka berdua.
Sean berdiri lalu menggendong tubuh Yasmine, mengecup pipi gembul Yasmine dengan sayang. Langkah berat Qiena mendekat ke arah mereka.
"Kau sudah kembali ? ku pikir akan lama." Qiena tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengambil Yasmine dari gendongan Sean.
"Yasmine ayo kita pulang, nanti daddy akan menyusul." Hanya itu yang di katakan Qiena dan dia sempat menyapa dua pria yang dia kenal sebagai sahabat Sean itu dengan senyuman. Qiena tidak ingin terlihat seperti istri yang sedang mendapati suaminya keluyuran di luar rumah, karena memang dia tidak cemburu.
Dia tidak habis pikir saja kenapa Sean bisa meninggalkan Yasmine dirumah sendirian sementara pria itu makan bersama teman-temannya diluar. Apa yang ada didalam kepala Sean, Qiena benar-benar kesal.
Apakah itu yang selalu Sean lakukan sehingga pulang larut malam ?
*****
Hari-hari melelahkan dilewati Qiena, jika berpikir Sean akan menjelaskan saat mereka bertemu di mall. Nyatanya pria itu hanya pulang dengan tanpa beban, hati Qiena rasanya sudah kebal dengan sikap acuh Sean. Tidak ingin lagi mengurusi apa yang Sean lakukan Qiena saat ini sudah menganggap pria itu tidak ada, dia hanya mengurus Yasmine dengan baik juga sekarang Qiena sering tidur di kamar Yasmine. Rasanya sangat malas untuk melihat wajah Sean.
Musim semi sudah hadir dan Yasmine sangat bersemangat karena dia libur sekolah. Yasmine memang sudah menceritakan kepada Qiena jika dia ingin pergi berlibur, dan Qiena mengatakan jika lebih baik jika Yasmine bertanya kepada Sean.
Pagi biasanya dilalui Qiena dengan sarapan bersarapan bersama. Disaat lagi hening ponsel Qiena bergetar, sebuah pesan yang tidak terduga dia terima pagi itu.
[Hei apa kabar ?]
Saat ingin membalas pesan tersebut tiba-tiba Sean bersuara. "Qiena, maafkan aku." Qiena langgsung melihat kearah Sean dengan tatapan bertanya.
"Aku tahu selama ini aku salah, apa kau mau kita memperbaikinya ?" Qiena terdiam, ternyata bukan hanya pesan dari Jack yang membuat dia terkejut pagi ini melainkan apa yang Sean ucapkan. Tapi bukankah Sean sudah pernah mengatakan hal ini sebelumnya.
"Tidak masalah Sean," jawab Qiena akhirnya dengan sebuah senyuman tipis. Sean pun hanya bisa mengangguk, sudah lama sebenarnya dia ingin mengatakan hal ini. Namun baru sekarang dia mendapatkan keberanian itu.
Sementara Qiena, dia hanya acuh tak acuh menanggapi semua ucapan Sean. Hatinya sudah terlalu lama sepi, dan yang berputar dalam ingatannya hanyalah pertemuannya dengan Jack. Dia bahkan sepanjang perjalanan menuju kantor terus berbalas-balasan pesan dengan Jack. Senyuman yang diam-diam terus terlihat di wajah Qiena itu membuat Amber heran melihatnya.
Hal itu terus terjadi di hari-hari selanjutnya, bahkan dirumah Qiena terlihat berbeda. Dia terus menampilkan wajah yang bahagia, Sean mengira hal itu karena ucapan permintaan maaf yang dia katakan. Dia tidak tahu jika apa yang dia katakan kepada Qiena pagi itu sudah sangat terlambat, hati Qiena sudah mendamba kisah dengan yang lain.
Qiena semakin bahagia karena Jack mengirimkan bunga-bunga indah untuknya setiap hari ke kantor terkadang juga dengan coklat. Qiena merasa dia benar-benar sedang kasmaran. Jack tidak pernah absen mengirimkannya pesan, dan juga satu hal yang membuat Qiena terpaku dengan pria itu adalah Jack mengirimkannya video saat dia memainkan piano lalu mengirimkannya kepada Qiena.
Pria itu berkata tidak sabar ingin memainkan irama itu berdua dengan Qiena. Pria itu sedang berada di Perancis untuk menghadiri undangan acara musik disana dan mereka akan bertemu di akhir pekan ini. Qiena tidak membicarakan apapun tentang Jack kepada Amber dan sahabatnya yang lain, namun sebabagi sahabat mereka tahu Qiena terlihat sangat bahagia.
"Bukankah jatuh cinta itu indah ?" tanya Lily tiba-tiba saat mereka sedang makan siang bersama.
Qiena berdecak lalu masih fokus pada ponselnya, apalagi jika bukan membalas pesan dari Jack. "Jangan katakan apapun pada orang yang sedang jatuh cinta, dia tidak akan mendengarkan apapun," cibir Rose. Mereka semua tertawa begitu pun Qiena.
"Seperti apa wajahnya ? apakah Sean kalah tampan ?" tanya Lily penasaran.
"Tampan, tidak jauh beda dengan Sean. Tapi sepertinya lebih menyenangkan daripada Sean yang kaku dan hanya bisa mengatakan terima kasih setiap kita bertemu dengannya," kata Amber dan Qiena langsung menyikutnya.
"Kau sudah siap dengan konsekuensi jika Sean tahu ?" tanya Rose kepada Qiena.
"Konsekuensi apa ? aku tidak melakukan apapun. Jack hanya teman yang sangat menyenangkan, kami tidak memiliki hubungan lebih dari itu."
"Begitukah ? lalu bunga-bunga yang setiap hari datang ke kantor untukmu itu apa ? aku bersyukur security dan office boy mengira itu dari Sean."
"Berisik !" kata Qiena membuat semua sahabatnya itu berdecak.
"Tapi jika pun Sean mengetahui hubungan kalian tidak masalah, diri kita sendiri yang tahu dengan siapa kita bahagia. Untuk apa bertahan dengan pria yang hanya bisa membawa kesedihan, Sean itu sangat pengecut." Lily berkomentar, Lily memang tipe wanita yang tidak suka di tipu oleh pria, semua pengalaman dimasa lalu mengajarkannya semua itu.
"Jack mengajak ku untuk bertemu dengannya di akhir pekan," ujar Qiena dan teman-temannya langsung membulatkan mata.
"Apa dia tinggal di London ?"
"Ya ! tapi saat ini dia sedang berada di Paris."
"Lalu kau menjawab apa ?" tanya Rose.
"Tentu saja aku jawab iya." Qiena tersenyum lebar lalu Lily memeluknya, tidak dengan Rose dan Amber. Mereka takut akan jadi petaka. Tapi melihat bagaimana Qiena bahagia setelah dekat dengan Jack mereka tidak bisa melarangnya, Sean juga tidak memperlakukan sahabat mereka dengan layak selama ini. Untuk apa Qiena bertahan lebih lama dengan kesedihan.
*****
Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan luas rumah berwarna cream itu, seorang pria dan wanita yang sudah berumur turun dari mobil dengan sangat gagah dan anggun meski sudah berusia lebih dari lima puluh tahun.
"Ma, Pa." Qiena yang baru juga tiba di rumahnya terkejut mendapati kedua orangtua-nya datang tanpa memberitahu lebih dulu.
"Kenapa terkejut begitu Qiena ? mama dan papa sangat merindukan kamu dan cucu mama, mana Sean ?" Qiena tidak tahu harus menjawab apa dia langsung mengalihkan pembicaraan untuk menyuruh Mark dan Tessa William itu masuk. Didalam rumah ternyata Yasmine dan Sean sedang bermain di ruang keluarga.
"Mommy, woah ada grand ma dan grand pa juga." Yasmine langsung memeluk Mark dan Tessa bergantian. Sean menyusul dari belakang Yasmine, dan tanpa di duga Qiena pria itu juga mengecup keningnya membuat bulu kuduk Qiena naik dan matanya melebar.
"Ah Qiena tidak perlu malu begitu di depan mama dan papa," ujar Mark membuat Qiena hanya mampu menampilkan senyuman palsu.
Keluarga itu berkumpul untuk makan malam bersama, Mark dan William mengatakan jika mereka akan pergi berlibur dan mengajak Sean dan Qiena untuk ikut bersama namun Qiena menolaknya dengan alasan banyak sekali urusan di perusahaan dan ajakan ini terlalu mendadak. Sean juga mengatakan hal yang sama, namun dia berjanji akan mengajak Qiena dan Yasmine berlibur dalam waktu dekat dan tentunya dia mengajak Mark dan Tessa untuk pergi bersama mereka.
Disaat obrolan keluarga di meja makan itu ponsel Qiena bergetar menampilkan panggilan dari Jack, Qiena meminum air mineralnya sambil ragu untuk mengangkat telpon itu.
"Siapa ?" tanya Sean karena Qiena belum juga mengangkat panggilan tersebut. Qiena tidak menjawabnya dan langsung bangkit dari duduknya. Dia menjauh dari sana untuk mengangkat telpon tersebut.
"Hallo," sapanya dan Jack terdengar menarik napas.
"Aku tidak sabar untuk bertemu dengan mu." Pipi Qiena sudah merona hanya karena ungkapan yang di katakan oleh Jack.
"Kau benar-benar lihai menggoda hem ?"
"Aku ? benarkah ! apakah kau tergoda dengan ku ?" Qiena menggelengkan kepalanya lalu dia tersadar dia sedang ditunggu di meja makan.
"Ehm Jack aku sedang ada acara bersama keluarga ku, kita lanjutkan nanti saja oke ?"
"Oh begitu, baiklah. Bye," ujar Jack terdengar sangat menyesal atau mungkin tidak enak karena sudah mengganggu waktu Qiena.
"Bye," jawab Qiena lalu memutuskan sambungan telpon.
Jantung Qiena ingin lepas rasanya karena saat dia berbalik dia menemukan Sean sudah ada di belakangnya. "Astaga Sean kau mengejutkan ku."
Bersambung....
Anda Mungkin Juga Suka





