Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sayap-sayap Patah

Sayap-sayap Patah

Inara Subrata pindah ke New York demi menyembuhkan luka masa lalu dan mencari lembaran baru. Namun, pertemuannya dengan Fabio, CEO sukses di Brooklyn, justru mengungkit trauma lama yang hampir sirna. Kini Ara terjepit dilema hebat: terjebak dalam hubungan tanpa status yang menyakitkan atau membiarkan bisnis kakaknya hancur total. Di tengah perjuangan pahit ini, mampukah Ara menemukan ketulusan dan kebahagiaan sejati yang selama ini ia impikan di tanah asing?
Bab
Bagikan

Bab 2

Ara memeriksa kembali perlengkapan dan data-data pribadinya. Sudah lengkap. Ia kemudian meraih tas punggungnya dan berdiri. Ara mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar.

"Ah, aku akan sangat merindukan kamar ini", desah Ara. Ia kemudian membalik badannya dan menemukan Bi Nani sudah berdiri dibawah bingkai pintu. Tatapannya menunjukkan kesedihan, "Bibi? Kenapa berdiri disana?" ucap Ara sambil mencoba acuh. Bi Nani berjalan mendekatinya.

"Apa harus seperti ini, Non? Apa Non Ara harus pergi meninggalkan bibi sendiri? Non sudah bibi anggap seperti anak kandung, bagaimana mungkin bibi akan bisa hidup jauh dari Non Ara..." bi Nani semakin sesenggukan. Ara memeluknya.

"Sebenarnya Ara ingin membawa bibi serta. Ara juga pasti sangat merindukan bibi kalau bibi ga sama Ara. Tapi, kan bibi sendiri yang ga mau. Katanya takut naik pesawat. Iya kan??" Ara mencoba bergurau. Yang syukur, bisa membuat bi Nani tertawa. Namun sesaat kemudian, Bi Nani kembali terdiam.

"Apa semua ini karna Den Niko?" mendengar perkataan itu, mendengar nama itu, tawa Ara ikut terbungkam. Ia menunduk, "Apa karna non Ara ingin menjauhinya makanya Non memutuskan pergi? Karena dia?" Ara menghela nafas berat. Bi Nani benar. Ia selalu benar.

"Ara ingin melupakan semua kesedihan ini, Bi. Mungkin dengan pergi sejauh mungkin, kenangan buruk tentang Niko akan segera memudar. Dan ketika semua sudah baik-baik saja, Ara akan pulang. Berdamai dengan segala kesedihan ini..." Bi Nani kembali memeluk gadis itu.

"Non baik-baik disana. Pokoknya selalu kabarin bibi, jangan enggak..." Ara tertawa melihat wajah serius Bi Nani.

"Siap, boss", Bi Nani ikut tertawa, "Oh ya, bibi sudah nelpon bang Arya kan?"

Arya adalah anak tunggal Bi Nani. Ia yang disekolahkan hingga menamatkan S2 nya oleh ayah Ara. Dan kini, ia menetap di New York karena pekerjaannya. Selain itu, kini Arya sudah menikah dengan seorang gadis yang juga menetap di New York.

"Sudah. Dia bilang akan menjemput Non di bandara..." Ara mengangguk. Ia kemudian berpamitan dan segera menuju bandara. Penerbangannya dua jam lagi, maka Ara harus tiba di bandara saat itu juga.

***

Satu jam setelah Ara pergi, sebuah sedan hitam memasuki perkarangan rumah Ara. Niko keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah Ara.

"Den Niko???" bi Nani sedikit terkejut melihat kedatangan Niko.

"Bi, saya ingin menemui Ara lagi. Dan kali ini saya mohon, tolong bujuk Ara agar mau menemui saya. Sekali saja..." pinta Niko dengan wajah memohon. Tapi Bi Nani justru menggeleng lemah.

"Sudah terlambat, Den..", ucap Bi Nani pelan.

"Terlambat? Apa maksudnya bi?" Niko menatap Bi Nani penuh tanya. Bi Nani menghela nafas.

"Non Ara sudah pergi, Den. Ke New York..." Niko terkejut.

"New York? Amerika? Untuk apa? Kapan dia kembali, Bi?" Bi Nani menggeleng lagi.

"Dia tidak akan kembali, Den. Non Ara sudah memutuskan, dia akan menetap di sana untuk waktu yang lama.." nafas Niko tercekat. Otaknya tiba-tiba kosong.

"Apa semua ini Ara lakukan... karena a - ku??" ucapnya dengan penuh kesedihan. Namun Bi Nani segera menggeleng.

"Non Ara hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, Den. Berilah dia sedikit waktu. Saya yakin, Non Ara pasti akan mau menemui Den A" Bi Nani berkata lemah. Niko melirik jam ditangannya. Pesawat Ara tinggal satu jam lagi. Ia harus menghentikan gadis itu.

Niko segera masuk ke mobilnya dan melajukannya cepat menuju bandara. Sesampainya disana, mata Niko mencari-cari keberadaan gadis itu dan ia menemukannya dengan cepat. Niko segera berlari menghampiri Ara.

Ara melihat Niko dari kejauhan. Laki - laki itu segera berlari mendekatinya.

"Abang?" tanya Ara sedikit bingung melihat kedatangan Niko. Namun Niko langsung mencium bibirnya. Tangan laki-laki itu memegangi pipinya. Ciuman itu hanya sekedar ciuman biasa, Ara juga tidak menolaknya namun tidak juga membalasnya. Ara hanya memejamkan matanya. Sebulir air mata mengalir dipipinya.

Niko melepaskan ciumannya, tangannya merasakan ada air hangat yang mengalir dan menyentuh jemarinya. Ara menangis. Niko memandang gadis itu lama.

"Aku mohon, jangan pergi..." ucap Niko lemah. Jemari tangannya menghapus air mata di pipi Ara dengan lembut.

Ara mendengarkan pengumuman dari pengeras suara bahwa pesawat yang akan membawanya ke New York akan segera berangkat, ia harus segera masuk. Ara memandang Niko dengan tatapan syahdu.

"Aku harus pergi, Bang..." Niko menggeleng dan memeluknya erat.

"Maafkan aku, Ra. Aku sangat mencintaimu. Sungguh, aku minta maaf. Jangan pergi..." Ara tersenyum dan menggeleng.

"Ara tidak bisa, bang. Semua kenangan ini sangat berat buat Ara. Ara harus pergi. Ara ingin menenangkan diri..."

"Baiklah, jika kamu ingin pergi. Tapi cepatlah kembali. Aku akan menunggumu...", Ara menggeleng.

"Tidak, bang. Ara ingin berdamai dengan semuanya. Jikapun nanti Ara kembali, Ara tidak tahu apakah Ara akan kembali pada abang atau tidak. Ara ingin melupakan semuanya..." Niko menatap Ara. Wajah gadis itu sangat menyiratkan kesedihan. Ia sangat menyesal meninggalkannya dulu dengan semua hal yang telah terjadi.

Keputusan Ara tidak berubah. Ia tetap pergi dan meninggalkan Niko. Ia juga berharap, ia meninggalkan semua kenangannya di sana, termasuk kenangannya bersama Niko.

***

Pesawat Ara tiba di New York. Sebuah perjalanan yang panjang. Ara segera mengambil ponsel diranselnya. Ia ingat, ia sempat menonaktifkan benda kecil itu sebelum pesawat take off.

Setelah ponsel itu sempurna menyala dan Ara menghidupkan data selularnya, sebuah panggilanpun masuk. Nama Arya tertera dilayar.

"Ya abang..." Ara segera menempelkan ponsel itu ditelinganya.

"Hello sweetheart. Apa kau sudah landing?" terdengar suara Arya dari seberang telpon.

"Menurutmu? Apakah mungkin aku akan menerima telponmu saat aku masih berada di pesawat, bang?", Arya terkekeh, "Kau di mana? Kau sudah berjanji akan menjemputku kan??"

"Ya sweetheart. Aku tadi ada meeting sebentar. Aku akan segera tiba di sana. Kau menunggu di mana?" Ara mengedarkan pandangannya.

"Ah ya, aku akan menunggumu di restaurant korea yang ada di dekat pintu kedatangan dari luar negeri. Jangan membuatku menunggu lama, kau mengerti??!!" hardik Ara. Terdengar suara kekehan dari Arya.

"Ah baiklah. Jangan khawatir, sweetheart. Aku akan tiba di sana 10 menit lagi. Ah ya, jangan lupa pesankan aku makanan apapun yang kau pesan. Ingat! Jangan pesan menu yang berbeda. Aku masih ingat terakhir kali kau mengerjaiku dengan makanan yang rasanya sangat aneh itu..." Ara tertawa.

Dulu, pertama kali ia datang ke New York untuk mengunjungi Arya dan istrinya. Ara langsung mengajak Arya makan siang di restaurant itu. Ara pecinta kuliner Korea. Namun, saat itu ia sedang ingin mengerjai Arya. Ia memesan ramen dengan banyak cabai di dalamnya khusus untuk Arya. Dan sesampainya di rumah, Arya langsung memaki Ara karena perutnya yang terasa tidak karuan.

"Baiklah. Aku akan menunggumu, Bang. Buruan!!!" ucapnya lalu memutuskan sambungan telpon.

Ara memasuki restaurant tersebut. Semua kursi sudah hampir terisi. Ara lupa kalau saat itu adalah jam makan siang. Ara kemudian mengedarkan pandangannya, mencari tempat kosong yang cukup untuk ia dan Arya nanti.

Saat itulah, mata Ara bertemu dengan tatapan seorang laki-laki dengan perawakan tegas namun menarik yang di ujung ruangan. Laki-laki itu sedang menatap tajam ke arahnya. Darah Ara tiba-tiba terasa berhenti mengalir, tangannya kebas karena gugup. Ada perasaan aneh menjalar di dadanya.

Siapa pria itu? Kenapa dia menatapku seperti itu?! - gumam Ara sebal.

Laki-laki yang menggunakan steelan kemeja hitam lengan panjang namun sengaja menggulung lengan kemejanya setengah lengan itu nampak sangat keren dengan menampakkan otot-otot lengannya yang tidak tertutup.

Ara segera mengalihkan pandangannya. Ia sangat gugup melihat cara laki-laki itu memandangnya. Ia seperti ditelanjangi. Laki-laki itu menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. Ara menelan ludah. Ia segera mencari pelayan dari restaurant tersebut hanya sekedar untuk mengalihkan pandangannya dari pria itu.

"Apakah kau bisa membantuku menemukan meja yang kosong untuk dua orang?" tanya Ara pada pelayan yang melintas di hadapannya.

"Tentu, Nona. Mari saya antarkan..." Ara mengikuti pelayan itu. Ia mengantarkan Ara kemeja yang sialnya justru berada tepat di depan laki-laki itu, "Silakan duduk, Nona..."

"Terima kasih..." ucap Ara pada pelayan yang (sebenarnya) membantunya itu. Ara duduk di kursinya dengan gelisah. Laki-laki itu tetap memandangnya dengan tatapan yang (sedikit) liar saat Ara berjalan ke mejanya tadi.

Tidak berapa lama, Ara mendengar laki-laki itu berbicara via telponnya. Sepertinya laki-laki itu akan pergi. Benar saja, sesaat kemudian laki-laki itu melangkah menuju pintu keluar.

Ara memandangi punggungnya hingga menghilang dari penglihatan. Laki-laki itu, suaranya berat dan tegas, berkharisma. Saat ia melintas di sisi Ara, Ara bahkan bisa mencium aroma maskulin dari parfume yang dikenakan oleh laki-laki itu.

Kalau saja laki-laki itu tidak memandang Ara dengan tatapan menjijikkan, mungkin Ara sudah terpukau dengannya sejak tadi. Tapi Ara jengah saat seseorang memandangnya dengan tatapan seperti hendak mengulitinya. Ia tidak pernah suka dengan laki-laki yang gampang berpikiran mesum.

"Hey, sweetheart. Kau sedang memikirkan apa??" Arya membuyarkan lamunannya. Ara segera berdiri dan memeluk laki-laki itu.

"Aku sedang memikirkan bagaimana caranya bisa membunuhmu karena membuatku menunggu lama!!" Arya membalas pelukan Ara dan tertawa.

"Apa kau sudah memesankan makanan untukku, sweetheart?" Ara mengangguk.

"Apa Kakak tidak memasak untukmu, Bang??" Arya melahap makan siangnya.

"No, sweetheart. Kau tau, rachel sangat senang jika kau datang. Apalagi ia tau kau akan menetap di sini. Bagaimana mungkin dia tidak akan memasak banyak makanan untuk menyambut kedatanganmu. Tapi apalah daya, sweetheart, kakakmu itu tiba-tiba mendapat panggilan mendesak dari rumah sakit. Ia harus segera melakukan operasi. Jadilah kita terdampar di sini..." Ara tertawa melihat ekspresi wajah Arya yang dibuatnya bersedih.

Rachel adalah istrinya Arya. Keduanya menikah tiga tahun yang lalu. Kehidupan pernikahan yang bahagia, namun keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. Keduanya terlalu lelah bekerja, itu yang diucapkan dokter saat keduanya berkonsultasi. Rachel adalah seorang dokter saraf. Kerjaannya padat bahkan sampai harus lembur hingga pagi karena melakukan operasi. Begitu juga dengan Arya, kini ia adalah seorang manager perusahaan yang menuntutnya bekerja 20 jam lebih sehari. Maka, keduanya jelas merasa sangat kelelahan jika tiba di rumah.

"Oh ya, apakah kau akan tinggal di rumahku???" tanya Arya di sela makan siang mereka. Namun Ara menggeleng.

"Rumahmu terlalu jauh, bang. Aku sudah menerima panggilan bekerja dari Lt. Ayza.co. Jika aku tinggal di rumahmu, maka aku harus bangun lebih pagi kan? Tidak, bang. Kau tau itu kelemahanku" Arya tertawa.

Adiknya ini memang memiliki masalah dengan bangun pagi. Rekor terpagi yang bisa Ara capai adalah pukul 6 pagi. Itupun saat Arya menikah dulu, karena Ara wajib merias diri. Setelah itu, Ara tidak pernah lagi bangun pagi.

"Baiklah, baiklah. Aku akan mencarikan apartemen untukmu. Apa kau akan membelinya atau sekedar menyewanya?" Ara berpikir sejenak.

"Baiknya aku sewa saja, Bang. Aku tidak tau akan nyaman atau tidak tinggal disana..." Arya menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, kau segera habiskan makananmu. Kita langsung mencari apartemen untukmu dan pulang kerumahku dulu. Mungkin nanti sore kita akan sedikit membeli perabotan untuk rumahmu..." Ara mengangguk setuju.

Sepanjang sisa hari itu, Ara melupakan sosok laki-laki yang ia temui di restaurant tadi. Ara segera asik bercerita bersama Rachel, setelah mereka bertemu. Ara yakin ia akan menyukai New York. Ia sangat optimis bahwa semua kenangan pahit itu akan memudar. Tanpa Ara sadari, kenangan itu akan berganti dengan kenangan lain yang merubah hidupnya sepenuhnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Kedua Tersembunyi
7.9
Raine Alverez terpaksa menjadi istri kedua Leon Castello demi melunasi utang keluarganya. Meski dicap sebagai perusak rumah tangga, ia sebenarnya terjebak dalam perjanjian lama yang diatur sang taipan. Di balik status rahasia itu, Raine harus menghadapi kebencian istri pertama serta cercaan publik. Konflik batin kian memuncak saat ia mulai mencintai Leon. Di tengah intrik dan rahasia besar, Raine berjuang memahami siapa yang benar-benar bersalah dalam pernikahan ini.
Sampul Novel Keluarga Sewaan
8.0
Prima Jayashree, CEO muda Jayashree Company, menghadapi tekanan besar untuk segera menikah demi kelangsungan takhta perusahaan. Dalam keputusasaan, ia berlibur ke Tokyo dan menemukan jasa sewa keluarga. Prima memutuskan menyewa seorang istri serta anak untuk menemaninya. Namun, saat masa sewa berakhir, muncul ide nekat untuk membawa mereka ke Indonesia. Mampukah Prima mengubah sandiwara ini menjadi kenyataan tanpa terbongkar oleh sang ayah?
Sampul Novel Keyakinan Cinta
8.5
Adelle Collin Nicholas merupakan ahli waris konglomerat blasteran Perancis-Australia yang terbiasa hidup mewah. Takdir mempertemukannya dengan Farhan, pemuda muslim sederhana yang taat beribadah dan aktif di masjid dekat gerejanya. Meski latar belakang sosial dan keyakinan mereka sangat kontras, benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya. Kini, mereka harus menghadapi ujian berat demi mempertahankan perasaan tulus tersebut di tengah segala perbedaan yang ada.
Sampul Novel Menikah dengan CEO Dingin
9.7
Jasmine Mariana harus menghadapi tantangan besar saat menikahi Kevin Prakarsa, CEO dingin yang tampak tidak bergairah. Pernikahan ini terpaksa ia jalani demi melunasi utang ayahnya. Namun, status sebagai istri Kevin justru membawanya ke dalam pusaran masalah baru, mulai dari gangguan mantan istri hingga berbagai peristiwa tak terduga lainnya. Bagi Jasmine, pernikahan ini barulah awal dari perjuangan berat. Mampukah ia bertahan dalam ikatan tanpa kehangatan tersebut?
Sampul Novel Mr. CEO dan Gadis Lugu
8.9
James Myre adalah CEO muda terkaya di Prancis yang sangat tampan. Saat Mr. Benkins gagal melunasi utang sebesar USD 100 juta, James meluapkan amarahnya. Terdesak, Benkins menawarkan keponakannya yang cantik, Adelia Benkins, sebagai jaminan kontrak. Gadis lugu ini terpaksa melayani segala hasrat liar James demi menebus utang pamannya. Akankah Adelia sanggup menjalani peran kelam tersebut, atau justru benih cinta tulus akan tumbuh di antara mereka berdua?
Sampul Novel My Mysterious Husband
9.7
Elsa Anindita menutup pintu hatinya rapat-rapat setelah dua kali gagal menikah. Di tengah keputusasaan, ia menerima tawaran pernikahan kontrak dari Alvaro, seorang pria difabel yang sebenarnya adalah CEO sukses yang tengah menyamar. Elsa setuju terikat janji suci demi mahar 500 juta rupiah. Namun, rahasia besar menyelimuti hubungan mereka. Siapa sangka, Alvaro adalah Dika, masa lalu yang dulu meninggalkannya di pelaminan. Akankah benih cinta tumbuh kembali?