
Sang Pemilik Rahim Pengganti
Bab 3
“Nah, kamu harus mulai membiasakan diri di sini, Renata. Kamu juga harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah, pokoknya kamu harus baik-baik jaga kandunganmu itu ya,” ujar Rubby Kirana dengan raut wajah bahagia.
“Eh, i..iya, baik Kak Rubby,” sahut Renata Larasati canggung.
“Baiklah, aku tinggal dulu ya! Aku mau ke kantor dulu.” Rubby Kirana beranjak dari hadapan Renata Larasati.
“Ok, Kak. Hati-hati,” ucap Renata Larasati.
Pintu kamar pun ditutup kembali oleh Rubby Kirana. Renata Larasati berjalan perlahan mengelilingi kamarnya yang luas dan mewah. Kamar baru Renata Larasati, kamar mewah yang seumur-umur tidak berani dimimpikan oleh Renata Larasati.
Sejak Danu Rahardianto dan Rubby Kirana mengetahui kehamilannya, hidup Renata tiba-tiba berubah menjadi seperti cinderela. Dari yang semula hanya gadis miskin yang tidak punya apa-apa, kini menjelma bagaikan seorang putri. Segala kebutuhan Renata Larasati pun selalu dipenuhi dan dilayani oleh para asisten rumah tangga di rumah Danu Rahardianto dan Rubby Kirana. Renata Larasati yang hamil dua bulan dipindahkan ke rumah utama pasangan itu, mereka ingin memastikan kesehatan dan semua kebutuhan Renata Larasati terpenuhi.
Hari lepas hari, minggu berganti minggu, dan bulan pun berlalu. Tidak terasa kehamilan Renata Larasati sudah memasuki usia sembilan bulan. Menurut perkiraan dokter, bayi yang Renata Larasati kandung akan lahir pertengahan bulan.
Menjelang kelahiran anaknya, Danu Rahardianto semakin terlihat sayang dan memanjakan Renata Larasati. Hal itu tentu saja tidak luput dari pengamatan Rubby Kirana. Sudah lebih kurang satu bulan belakangan, Rubby Kirana mencium gelagat yang tidak menyenangkan dari sang suami. Dilihatnya, Danu Rahardianto begitu bahagia jika sedang bersama dengan Renata Larasati. Meskipun perkawinan kontrak yang terjadi antara Danu Rahardianto dan Renata Larasati adalah merupakan usulannya, namun Rubby Kirana tidak dapat memungkiri ada percikan api cemburu yang mulai menyulut perasaannya.
Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Malam itu Renata Larasati merasakan kontraksi yang kuat di rahimnya. Dengan sigap Danu Rahardianto dan Rubby Kirana membawa Renata Larasati ke rumah sakit.
“Duduklah, Mas! Kamu membuatku panik saja,” ujar Rubby Kirana menatap sang suami.
Danu Rahardianto gelisah tak karuan, dari tadi dia hanya bisa bolak-balik di luar kamar bersalin. Sikapnya saat itu benar-benar menggambarkan sikap seorang suami yang sedang cemas menunggu istrinya melahirkan. Melihat itu, mau tidak mau Rubby Kirana kembali merasa cemburu.
Tiba-tiba terdengar suara bayi dari dalam kamar bersalin. Danu Rahardianto dan Rubby Kirana saling pandang dengan ekspresi terkejut sekaligus lega.
“Sudah lahir?!” ucap Danu Rahardianto seolah tak percaya.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat ke luar sembari membawa seorang bayi dalam gendongannya. Di belakang sang perawat, dokter yang menangani proses kelahiran sang bayi pun turut ke luar.
Melihat kemunculan mereka, secepat kilat Danu Rahardianto dan Rubby Kirana menghampirinya.
“Selamat, Pak. Anda mendapatkan seorang putra yang ganteng,” ujar sang dokter tersenyum.
“Wah, anak saya laki-laki, Dok?” ucap Danu Rahardianto bahagia.
“Benar, Pak. Selamat sekali lagi.”
“Terima kasih, Dok,” kata Danu Rahardianto dan Rubby Kirana bersamaan.
“Sama-sama, mari saya tinggal dulu!” sang dokter pun berlalu meninggalkan mereka.
“Apakah saya boleh menggendongnya, Suster?” tanya Danu Rahardianto dengan penuh harap.
“Silakan, Pak!” sang perawat pun menyerahkan bayi itu pada Danu Rahardianto.
Danu Rahardianto menerima sang putra dengan wajah yang sumringah. Wajahnya pun berseri-seri, terlihat kebahagiaan terlukis di wajahnya. Di sampingnya, Rubby Kirana pun turut menatap wajah sang bayi dan mengelus pipinya yang mungil. Rubby Kirana tersenyum, namun tidak ada yang tahu arti senyumannya itu.
***
Dua hari di rumah sakit, hari ini Renata Larasati sudah diperbolehkan pulang. Sepulang dari rumah sakit, perlakuan khusus pun masih diterima oleh Renata Larasati. Keseharian Renata Larasati hanya memberikan ASI bayi yang baru dilahirkannya. Semua yang diinginkan Renata Larasati pun dituruti, termasuk ketika dirinya menghendaki ibunya untuk sementara tinggal bersamanya di rumah Danu Rahardianto. Hal itu pun dituruti oleh Danu Rahardianto dan Rubby Kirana. Bu Salma pun turut tinggal bersama Renata Larasati dan turut merawat sang anak yang baru melahirkan. Namun, meskipun Bu Salma diijinkan tinggal bersama Renata Larasati, bukan berarti dirinya juga diijinkan untuk turut merawat bayi yang baru dilahirkan putrinya itu.
Untuk perawatan sang bayi, Danu Rahardianto dan Rubby Kirana hanya menyerahkan pada baby sitter yang mereka pekerjakan, bahkan Renata Larasati pun hanya bisa menggendong sang bayi ketika dirinya hendak memberikan ASI saja. Terkadang Renata Larasati ingin bisa menimang sang anak, memanjakannya, memandikannya, namun semua itu dilarang oleh sang suami dan Rubby Kirana.
Tidak berhenti sampai di situ saja, perlahan-lahan perlakuan Danu Rahardianto dan Rubby Kirana terhadap Renata Larasati pun berubah. Masa-masa bahagia seperti seorang putri itu pun berubah menjadi tragis ketika tepat satu bulan setelah Renata Larasati melahirkan, dia beserta ibunya dipanggil oleh Danu Rahardianto dan Rubby Kirana di ruang tamu. Mereka duduk berempat di ruang tamu yang luas itu.
“Bu Salma, kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Ibu selama menemani dan merawat Renata di sini. Sesuai dengan perjanjian kontrak ketika saya dan Renata menikah, maka kini saatnya saya mengembalikan Renata pada Ibu. Hari ini kami akan menyiapkan transportasi dan sedikit tambahan uang untuk Bu Salma dan Renata,” tutur Danu Rahardianto.
Tidak ada yang berkata-kata, baik Bu Salma maupun Renata Larasati hanya diam. Namun dalam diamnya, Renata Larasati meneteskan air mata kesedihannya. Dirinya tak kuasa menahan isak tangis yang tiba-tiba membuncah, mengingat sang buah hati yang masih berusia satu bulan. Bayi itu masih membutuhkannya, dia bertekad untuk meminta pada Danu Rahardianto dan Rubby Kirana agar diperbolehkan untuk bisa merawat sang anak, meskipun hanya sebagai baby sitter saja.
“Ma..maaf, saya memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ada dalam hati saya. Saya mohon dengan kerendahan hati, kiranya anda berdua mengijinkan saya untuk tetap merawat Andy. Tidak apa jika saya hanya menjadi pengasuhnya tanpa dikenalkan sebagai mamanya Andy,” pinta Renata Larasati dengan nada memohon.
“Tidak bisa! Sesuai perjanjian, kamu harus pergi dan menjauh dari Andy. Mulai detik ini kamu tidak ada kaitannya dengan anak kami, Andy! Kamu jangan meminta lebih ya!” seru Rubby Kirana emosi.
“Sabar, Sayang,” ujar Danu Rahardianto.
Rubby Kirana pun cemberut, mengurungkan niatnya untuk mengumpat Renata Larasati lagi.
“Maafkan anak saya, kami berjanji setelah ini tidak akan lagi kami menemui anda berdua dan Andy,” kata Bu Salma berjanji.
“Tapi, Bu,” ucap Renata Larasati bimbang.
Bu Salma menatap sang anak dan menggeleng pelan. Renata Larasati pun menurut, kemudian dia hanya mampu diam.
“Baiklah, tunggu sebentar di sini. Kami akan menyiapkan kendaraan dan ini ada sedikit tambahan uang untuk Bu Salma dan Renata.” Danu Rahardianto menyerahkan sebuah amplop coklat pada Bu Salma.
“Terima kasih, Pak. Namun, kami tidak bisa menerimanya. Kami sudah diberi uang sesuai perjanjian waktu itu, jadi ini kami kembalikan lagi.” Bu Salma kembali menyerahkan amplop itu pada Danu Rahardianto.
“Tidak apa-apa, Bu. Anggaplah ini uang terima kasih buat Ibu yang sudah menemani Renata di sini,” kata Danu Rahardianto lagi.
“Ba..baiklah, Pak. Kami terima. Terima kasih banyak Pak Danu dan Bu Rubby,” ucap Bu Salma mewakili dirinya sendiri dan Renata Larasati.
Anda Mungkin Juga Suka





