
Sang Pelakor Istimewa
Bab 3
Bola mata William membulat sempurna saat menatap seorang perempuan muda sedang berdiri ketakutan di depannya. Bekas air mata jelas terlihat di pipi manisnya. Bibir perempuan itu tipis dengan kulit yang putih bersih. Matanya menatap dengan tajam. Perempuan itu terlihat sangat asing.
“Kau gadis yang disuruh istriku?”
Kala menggelengkan kepala. “Maksudmu apa? Aku tidak mengerti!”
Willliam beranjak dari tempatnya berdiri lalu bergegas berjalan mendekati Kala yang berdiri di balik pintu. Kala mencengkram gaunnya. Lelaki itu memiliki wajah tampan namun tatapannya begitu tajam.
“Perempuan yang akan melahirkan anak untukku!” tegasnya. Kala memundurkan tubuhnya saat William berdiri beberapa sentimeter di depannya.
Kala membuang pandangannya. “Aku tidak mau!”
“Lalu, buat apa kau di sini jika kau tidak mau?”
Kala mengigit bibir bawahnya karena ketakutan. William kemudian meletakkan tangannya di pipi Kala. Tubuh perempuan itu seakan menegang. William menyentuh bagian rambut Kala yang terurai panjang. Memperhatikan ornament wajah perempuan itu.
“Kita akan melakukannya,” bisik William pelan dengan deru napas yang memburu. Bola mata Kala terbelalak. Aroma maskulin dari tubuh lelaki itu benar-benar menganggunya saat ini.
“M-melakukan apa?”
William menghela napas panjang. “Melakukan hubungan suami istri, kau adalah istriku dan malam ini aku akan melakukan tugasku!”
Tangan lelaki itu sangat dingin. Kala bisa merasakan tangan William yang sangat asik menyentuh pipinya dan membuat darahnya berdesir.
“Mengapa kau ingin menjadikanku istri kedua?” sahut Kala segera. Dia menghunuskan pandangan tajam ke arah William. Deru napas lelaki itu jelas terdengar di telinganya. Dia bisa merasakan William menyentuh pipi hingga lehernya dengan lembut.
Entah mengapa Kala merasakan sensasi yang berbeda. “Karena istriku ingin melakukan itu!”
“Bodoh!”
“Mana ada perempuan yang ingin dimadu!” sergap Kala segera. Dia menepis tangan lelaki itu dari pipinya. William memundurkan tubuhnya dari Kala saat perempuan itu memberontak.
William kembali berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk dan melipatkan kakinya di atas sana. “Jangan pernah mengatakan bodoh kepada istriku!”
“Lalu, apa namanya kalo bukan bodoh? Perempuan mana yang ingin suaminya tidur dengan lelaki lain?”
“Ini konyol!”
Kala mengepal tangannya dengan kuat. Entah keberanian dari mana dia bisa mengatakan semua ini. Senyum kecut terlihat jelas di wajah William.
“Katakan sekali lagi kalo istriku bodoh, aku akan membunuhmu!” ancamnya. Kala tidak takut, dia malah menatap William dengan ekspresi menantang.
“Dia istri yang bodoh!” balas Kala secepat mungkin. Wajah William memerah. Dia berdiri lalu berjalan mendekati Kala.
“Sekali lagi kau mengatakan itu, kau akan menyesal memiliki mulut!”
“Gadis bodoh!”
William menangkup pipi Kala dan membuat perempuan itu menjerit kesakitan. “Sakit!”
“Ah, kau melukai wajahku!” rintih Kala. Tangan lelaki itu begitu keras menangkup wajahnya.
“Temui Esmeralda dan kau akan mengerti maksudku itu,” ucap William lalu bergegas berjalan menuju pintu.
“Aku bahkan tidak berselerah menyentuhmu jika bukan karena permintaan istriku!”
Brak!
***
Esmeralda melipat tangannya di dada saat melihat Kala sedang duduk di depannya. Perempuan itu sangat manis dan sangat muda dari dirinya. Tentu saja Esmeralda sedikit khawatir, namun dia memilih Kala karena perempuan itu bersedia melahirkan bayi untuk keluarga kecilnya.
“Kau hanya perlu melahirkan bayi untuk kami. Setelah itu, kau bisa pergi!” ucap Esmeralda. Kala yang duduk di depan perempuan itu menatap secangkir capucciono yang sudah disediakan bibi Gagi untuknya.
“Aku tidak mau!”
“Kau tidak bisa mengatakan hal itu!” balas Esmeralda. Perempuan cantik itu lalu mengambil kopi miliknya dan menyeruput dengan hati-hati.
“Sama saja aku menyewakan rahimku,” ucap Kala segera.
“Ya, tentu saja. Kau melakukan itu!” spontan Esmeralda menjawab. Kala menghela napas kasar di udara. Dia menatap Esmeralda yang tampak tenang. Kala bahkan bingung, apakah perempuan itu tidak mencintai suaminya? Mengapa dia begitu mudah menyuruh orang lain untuk tidur dengan suaminya?
“Kau harus melakukan itu, aku sudah membawah Robert atas semua ini,” ucap Esmeralda sambil mengeser secarik kertas di hadapan Kala.
“Dia bukan ayahku!”
“Aku tidak peduli!” balas Esmeralda dengan tatapan tajam.
“Baca perjanjian ini dan jelaskan kepadaku jika kau sudah setuju untuk tidur dengan suamiku!” ucap Esmeralda. Kala menghela napas panjang. Sepertinya perempuan cantik itu sudah kehilangan gairah kepada suaminya. Mengapa menyuruh perempuan lain untuk tidur?
“Kau harus melahirkan bayi untuk suamiku, lalu setelah itu kau harus mengajukan surat cerai,” jelas Esmeralda. Dia menatap tajam ke arah Kala.
“Cerai?”
“Hai, cerai?”
Esmeralda menganggukan kepala. “Jangan pernah berharap lebih dari suamiku, jangan pernah berharap untuk dimiliki sepenuhnya,” sambungnya lagi.
“Ini konyol!” batin Kala.
“Bagaimana kalo aku jatuh cinta?” ucap Kala segera. Entah dari mana dia berani mengatakan demikian. Bola mata Esmeralda membulat sempurna mendengarkan hal itu.
“Aku akan membunuhmu!”
“Tanda tangani kontrak ini lalu pergilah ke kamarmu!” ucap Esmeralda. Kala menatap lekat-lekat surat perjanjian itu. Dadanya terasa sesak
“Oke!” ucap Kala kemudian. Dia lalu menandatangani surat perjanjian yang disodorkan Esmeralda. Kala menghela napas lega saat Esmeralda segera mengambil kertas itu lalu bergegas pergi. Perempuan berbody sintal itu terlihat tampak terburu-buru.
“Dedi, perintahkan dia untuk berdandan cantik malam ini!” ucap Esmeralda. Perempuan itu lalu bergegas menghilang dari balik pintu.
***
Kala duduk di bibir ranjang sambil terus menatap ponselnya. Untung saja dia berhasil mengambil ponselnya dan menyembunyikan benda itu di dalam bajunya.
“Antoni, angkat teleponnya!”
“Kau harus membebaskan aku!” gerutu Kala kemudian. Dia sudah mengunci kamar dan tidak ada seorang pun yang bisa masuk.
“Antoni! Kau di mana? Seharusnya kau tahu bahwa aku sudah sampai di Las Vegas dan di sekap di rumah ini,” ucap Kala. Namun panggilannya tidak pernah diterima oleh Antoni. Kala berdecak lidah.
“Antoni, tolong bebaskan aku!” gerutu Kala. Tangannya bergetar dan air mata membanjiri pipinya saat ini. Antoni adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya.
Tok … Tok …
Kala spontan menyimpan ponsel itu di bawah kasur. Dia berusaha bersikap tenang saat langkah kaki seorang lelaki begitu dekat menghampirinya.
“Nona Kala, waktunya untuk makan siang!” ucap suara itu. Kala bergegas membukan pintu. Ada Dedi dan bibi Gagi yang menatapnya dari balik pintu. Kedua pengawal itu tersenyum menatap Kala.
“Nona harus memakan makanan bergizi, ini adalah susu yang bagus untuk kesuburan anda,” jelas bibi Gagi. Kala mengambil makan siangnya lalu bergegas menutup pintu.
“Nona Kala, jangan lupa untuk memeriksa masa subur!” ucap bibi Gagi sebelum Kala menutup pintu.
Kala duduk sambil mengusap wajahnya frustasi. Ini mimpi buruk, mimpi yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Terjebak di sebuah rumah dan mengharuskannya menjadi istri kedua dari lelaki yang kejam.
“Aku harus bagaimana?” batinnya.
Kala menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan pelan. Memberikan pasokan oksigen ke tubuhnya.
“Robert, kau akan mendapatkan balasannya!” gumam Kala dengan penuh emosional.
Bersambung …
Anda Mungkin Juga Suka





