Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SANG MEDIATOR

SANG MEDIATOR

Inilah narasi mendalam yang mengungkap perjalanan awal Ustadz Irfan sebelum sosoknya dikenal luas oleh publik. Di balik reputasi besarnya saat ini, tersimpan rangkaian peristiwa penuh misteri dan teror mencekam yang membentuk jati dirinya. Pembaca akan diajak menelusuri jejak langkah sang tokoh dalam menghadapi berbagai fenomena supranatural yang menguji iman serta keberaniannya, hingga akhirnya ia bertransformasi menjadi figur mediator yang disegani banyak orang.
Bab
Bagikan

Bab 3

Arya terdiam. Dia meresapi semua kata-kata Handoyo yang didengarnya barusan. Handoyo tersenyum.

"Mas Arya dengar suara keramaian itu? Kita hampir sampai," kata Handoyo, terdengar lega.

Arya mencoba menajamkan pendengarannya. Lamat-lamat dia bisa mendengar suara gending dan suara dengungan orang bercakap-cakap. Tiba-tiba Arya paham. Dia tahu kenapa pak Dewabrata meminta bantuan padanya.

Ternyata pak Dewabrata ingin menggunakannya sebagai mediator. Tapi dari mana pak Dewabrata tahu dia bisa menjadi seorang mediator?

Mereka disambut oleh dua orang lelaki yang berdiri di tepi sungai. Mereka melambai pada perahu yang ditumpangi Arya. Handoyo membalas lambaian mereka. Arya memicingkan matanya untuk melihat siapa orang yang melambai pada mereka.

Arya nyaris terjatuh ke sungai ketika menyadari bahwa dua pria di pinggir sungai itu wajahnya sama persis dengan Handoyo. Handoyo menoleh ke arah Arya dan tersenyum lebar. Entah apa makna senyum itu, yang pasti Arya sekarang merasa begitu yakin kalau apa yang dihadapinya ini pasti ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Perahu Arya berhenti tepat di depan sebuah gubug kecil di tepi sungai. Pria dengan wajah sama itu berbisik-bisik lagi. Nyaris sama dengan kejadian sebelumnya, ketika Arya hendak naik perahu. Arya tahu diri, dia turun perlahan dari perahu itu dan merasa sangat lega. Akhirnya dia bisa kembali ke daratan lagi.

Setelah pembicaraan ketiga orang itu selesai, Handoyo menaiki perahunya lagi, dan tanpa banyak kata pergi meninggalkan Arya begitu saja. Membuat Arya sendirian dengan dua orang pria yang wajahnya sama persis dengan Handoyo dan pak supir. Membuat jantung Arya berdebar kencang.

"Monggo, Mas! Silahkan masuk! Pak Dewa sudah menunggu," kata salah seorang pria itu dan kemudian berjalan mendahului Handoyo melewati kerumunan penonton yang sedang melihat pertunjukan tari di tepi sungai. Handoyo melihat sekilas. Pertunjukan itu ramai sekali, tampaknya penyelenggaraan pertunjukan itu sukses besar.

Mereka menuju ke deretan rumah di dalam kampung di tepi sungai Kampung Randu. Mengingatkan perkampungan dedemit yang tadi dilewati Arya dan perahunya. Tapi sepertinya perkampungan itu nampak seperti perkampungan normal, terlihat anak-anak kecil yang berlarian ke sana ke mari, ada ibu-ibu yang sedang berkumpul dan saling berbicara. Mereka melihat Arya dan dua pria yang berjalan bersamanya.

"Kita sudah sampai, Mas!" Kata seorang pria dan mengajak Arya masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang terlihat asri.

Arya menilai rumah itu. Rumah tembok kecil dengan taman kecil di depannya. Banyak pohon-pohon berbunga indah di depan rumah itu. Ketika Arya melewati halaman asri itu pintu rumah terbuka.

Arya mendesah lega, ketika melihat wajah pak Dewa muncul dari balik pintu. Wajah itu tersenyum lebar.

"Selamat, Mas Arya! Mas Arya sudah lulus melewati semua ujiannya!" Kata Dewabrata.

Arya mengerutkan keningnya, bingung.

"Masuklah!" Kata Dewabrata. Arya masuk perlahan dan baru menyadari bahwa dia sendirian. Dua pria yang berjalan bersamanya tadi hilang entah ke mana.

Arya melihat sebuah ruang tamu kecil dan sederhana. Ada sebuah meja dan bangku panjang di dalam ruang tamu itu. Dewa mempersilahkan Arya duduk di bangku itu.

"Bagaimana perjalanannya, Mas?" Tanya Dewa. Arya tersenyum, kemudian menceritakan pengalamannya tadi. Dewa mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia mengangguk-angguk mengerti. Kadang Dewa tersenyum, tapi kebanyakan Dewa tak berekspresi mendengar cerita Arya.

Setelah Arya selesai bercerita, Dewabrata tersenyum.

"Mas Arya baru saja saya antar dengan mobil, saya antar dengan perahu dan saya antar dengan berjalan kaki menuju ke rumah saya di Gunung Sewu Kulon. Mas Arya sudah lulus ujian dengan tidak bertanya kenapa wajah pengantar mas Arya bisa sama semua. Saya tahu walaupun memang mas Arya keherànan, tapi mas Arya tetap bertahan untuk tidak bertanya. Saya suka dengan komitmen mas Arya menahan diri. Selamat, ya, Mas! Saya benar-benar percaya mas Arya memang orang yang bisa dipercaya!" Jelas Dewabrata panjang lebar.

Arya mendengar sambil melongo. Yang mengantarnya sejak tadi pagi adalah Dewabrata? Mana mungkin? Dewabrata tertawa melihat keheranan dan kebingungan di wajah Arya. Dia diam saja, menunggu Arya bertanya.

"Pak Dewabrata pakai ajian apa, Pak?" Tanya Arya akhirnya.

"Namanya ajian Candrabirawa, Mas. Memecah diri menjadi banyak orang dalam sekali waktu."

"Oh!" Jawab Arya pendek. Dia sudah pernah mendengar ajian itu, tapi baru kali ini melihat orang menggunakannya.

"Bukankah hasil pecahan Candrabirawa itu orangnya jadi kecil-kecil, ya, Pak?" Tanya Arya lagi.

"Tidak juga, Mas. Besar juga bisa. Tergantung kemampuan pemakainya."

Arya mengangguk, dia mulai tertarik.

"Sekarang kita kembali ke percakapan kita tadi pagi di mobil, ya, Mas Arya. Mas Arya dulu sering mimpi buruk, ya? Mimpi apa, Mas?" Tanya Dewabrata.

Arya terdiam, dia sebenarnya masih terpesona dengan ajian yang tadi digunakan Dewabrata.

"Saya selalu mimpi ibu saya, Pak. Kata ayah saya ibu saya meninggal ketika melahirkan adik saya. Dalam mimpi saya, saya selalu melihat ibu saya terbaring berlumuran darah, sambil menggendong adik saya. Kadang ibu saya dalam keadaan berdiri dan darah menetes-netes dari kain jariknya. Ibu seperti memanggil-manggil saya, kadang juga melambai. Saya takut sekali. Tapi saya tidak bisa berlari ke mana-mana. Lalu ibu saya akan bergerak mendekati saya dan saya akan berteriak-teriak minta tolong. Dan kemudian biasanya kakek saya datang menolong," cerita Arya. Hatinya masih tercekam mengingat semua mimpi yang terlihat sangat nyata itu. Di dalam mimpi Arya, sang ibu akan mengulurkan tangannya yang berlumuran darah kepada Arya. Kadang Arya melihat sang ibu mengambil sendiri bayi dari balik kain jariknya, dan kemudian darah menetes deras, mengalir deras dan membanjiri lantai, bahkan sampai terasa basah dan lengket di kaki Arya. Arya bergidik karena pada semua mimpinya Arya sama sekali tidak pernah bisa melihat adik bayinya.

"Apa ada mimpi yang lain, Mas Arya?"

Arya mengangguk.

"Kadang saya bermimpi masuk kamar mandi dan di dalam kamar mandi sudah ada seorang gadis yang menunggu saya. Gadis itu memakai kemben warna merah tua dengan rambut panjang tergerai. Dia akan memandang saya tajam dan diam seribu bahasa. Kadang dalam mimpi saya melakukan semua hal yang bisa saya lakukan di dalam kamar mandi, tanpa memedulikan keberadaan gadis itu. Kadang juga saya terdiam dan merasa bingung karena ada gadis itu di dalam kamar mandi dan saya merasa malu. Semua serba membingungkan," jawab Arya.

Dewabrata mengangguk.

"Baiklah! Terima kasih atas jawabannya. Sekarang saya akan menanyakan hal penting lainnya. Apakah mas Arya bisa melihat hal gaib atau mahluk gaib?" Tanya Dewa.

Arya terdiam. Dia menyimpan rahasia ini sejak dulu, bahkan dia tidak mengatakan yang sejujurnya pada kakeknya tentang hal ini. Tapi sekarang ada seorang asing yang mendatanginya dan menanyakan hal itu padanya. Arya tersenyum.

"Kenapa pak Dewabrata ingin tahu?" Tanya Arya, dia menimbang-nimbang hendak menjawab apa.

"Karena saya akan meminta bantuan mas Arya terkait hal itu," jawab Dewabrata sambil menatap lekat Arya. Arya melihat tantangan dalam pandangan Dewabrata. Arya merasakan Dewabrata bisa membaca pikirannya. Dan mereka bisa saling berkomunikasi batin! Kemampuan yang sangat dirahasiakan Arya selama ini.

"Jadi mas Arya bisa telepati?" Bisikan itu dirasakan Arya di kepalanya dan dadanya, mengagetkan Arya. Arya tersenyum.

"Iya, Pak! Saya sejak kecil telepati!" Jawab Arya melalui bisikan batin pula.

Mereka berdua saling tersenyum, bahkan tertawa. Akhirnya ada satu hal yang membuat Arya merasa lega dan merasa masa bodoh dengan permintaan bantuan Dewabrata yang misterius padanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HRL" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HRL
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku, Musuhku dan Para Pemburu
9.0
Dunia Jamie berubah drastis saat ia menginjak usia lima belas tahun. Gadis penakut ini tiba-tiba memiliki kekuatan supranatural untuk melihat makhluk gaib yang mengerikan. Di tengah kepanikannya, muncul Josh, seorang penyihir yang selalu mengganggu dan mencurigainya. Ke mana pun Jamie pergi, Josh selalu ada di sana. Namun, bahaya lebih besar mengintai mereka. Sosok misterius mulai memburu Josh dan mengawasi Jamie. Takdir apa yang sebenarnya mengikat mereka?
Sampul Novel Amanda Rhea
9.1
Amanda Rhea terlempar kembali ke masa lalunya, di mana ia bertemu lagi dengan sosok pria bernama Hagana. Sebuah ikatan misterius menyatukan Amanda dengan putri Haga secara tidak terduga. Namun, ancaman besar mengintai saat iblis dari alam mimpi mulai menampakkan diri dan mencelakai orang-orang di sekitar Amanda. Di tengah teror yang kian nyata, mampukah benih cinta antara Amanda dan Hagana bersemi kembali seiring takdir yang terus mempertemukan mereka?
Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME
8.7
Pasca menikah di Pakistan, Adiba dan Syden menetap di Rusia. Gangguan mistis mulai menghantui Adiba serta ibu mertuanya di rumah baru mereka, namun Syden terus bersikap skeptis. Tragedi besar terjadi saat Adiba keguguran, memicu amarahnya untuk menuntut balas atas kematian sang buah hati. Sambil bersumpah demi Allah, wanita Pakistan ini tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Siapakah dalang keji di balik teror yang menghancurkan hidup Adiba?
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Sampul Novel Kumpulan Cerpen Gairah Klasik
9.7
Rasakan sensasi mencekam dalam antologi cerita pendek yang memadukan romansa dengan elemen horor yang gelap. Kumpulan kisah ini dirancang khusus untuk membawa pembaca ke dalam atmosfer penuh ketegangan dan misteri yang mendalam. Setiap narasinya menawarkan pengalaman unik yang mampu memacu adrenalin sekaligus membuat bulu kuduk berdiri. Bersiaplah menghadapi rangkaian plot tak terduga yang akan menguji keberanian Anda di setiap lembar ceritanya.
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso menyaksikan cucunya, Mawar, tewas mengenaskan setelah difitnah dan dikejar warga Ledokombo hingga jatuh ke tebing. Dendam membara menyelimuti hatinya karena gadis bermata merah itu dibunuh secara keji. Demi membalas sakit hatinya, ia membangkitkan Nyai Larapati, sosok iblis kuno yang telah lama tertidur. Raga Mawar yang sudah mati dipaksa bangkit kembali untuk menuntaskan kesumat berdarah tanpa ampun terhadap para penduduk desa tersebut.