Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sang Anak Konglomerat

Sang Anak Konglomerat

Dewi ditugaskan merawat William, putra konglomerat yang mengalami kelumpuhan dan depresi berat. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa istri serta calon anaknya mengubah William menjadi sosok arogan, kasar, dan sangat sensitif. Sifat buruknya membuat tidak ada satu pun perawat yang mampu bertahan lebih dari tiga hari di sisinya. Kini, Dewi harus menghadapi tantangan besar tersebut. Akankah keteguhan hatinya sanggup melampaui batas waktu yang gagal dilewati orang lain?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bi Marni tergopoh-gopoh datang menghampiriku, seluruh tubuhku sudah basah dan kotor oleh jus yang di lemparkan Den William padaku dari kepala menetes hingga ke pakaianku.

Aku menahan hatiku yang bergejolak, rasanya ingin sekali aku mencaci maki laki-laki lumpuh yang ada di hadapanku itu, tapi aku harus bersabar sedikit lagi, Bahkan ini adalah pertama kalinya aku bekerja di rumah ini, aku tidak mau pergi begitu saja dari rumah ini, karena tidak tahan dengan kelakuan tuan muda Arogan itu. Aku menarik nafasku panjang untuk menetralkan emosiku.

"Ya ampun suster, Apa yang terjadi? Kenapa jadi basah dan kotor begini, Ini pasti ulah Den William!" seru Bi Marni sambil menarik tanganku keluar dari kamar Den William.

"Dia menyiram aku dengan jus, dan melemparkan gelasnya, padahal aku hanya ingin membantunya meminum obat, Dia benar-benar tidak punya hati!" ujarku dengan rasa sedikit geram.

"Yang sabar ya Sus, sebelum-sebelumnya juga seperti ini, setiap perawat yang masuk ke dalam kamar Den William, pasti keluar kamar dengan menangis, dan keesokan harinya langsung mengundurkan diri, itu sudah biasa, kalaupun suster tidak tahan dan ingin mengundurkan diri juga tidak apa-apa!" ungkap Bi Marni sambil berusaha membersihkan tubuhku dengan lap yang ada di tangannya itu.

"Tidak Bi, masa iya aku kalah dengan orang cacat, untuk berjalan saja dia tidak bisa, apa yang dia bisa lakukan padaku, dia hanya menutupi ketidakberdayaannya itu dengan sikapnya yang kasar!" sahutku masih dengan perasaan kesal.

"Ya sudah kalau begitu suster bersihkan saja dulu tubuh suster dan bergantilah pakaian, biar Bibi yang membereskan kamar Den William!" kata Bi Marni sambil beranjak dari hadapanku mengambil alat-alat kebersihan kemudian masuk ke dalam kamar Den William untuk membersihkannya.

Aku berjalan gontai menuju ke kamarku, hendak membersihkan diriku dan juga mengganti pakaianku yang kotor ini.

Orang kaya memang senangnya berlaku seenaknya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.

Aku benar-benar geram dengan sikap Den William yang menurutku sangat tidak sopan terhadap seorang wanita.

Lihat saja nanti, dia pikir aku akan menyerah begitu saja? Aku menyunggingkan senyum, bukan berarti aku menyerah begitu saja, Aku akan terus menghadapinya sampai dia yang menyerah.

Aku kembali mandi dan membersihkan tubuhku lalu mengganti pakaianku, Setelah semuanya rapi aku duduk sebentar di tepi tempat tidurku, waktu sudah menunjukkan pukul 06.30, ini sudah lewat magrib.

Aku melangkah keluar dari kamarku berjalan menuju ke dapur, Bi Marni nampak sibuk menyiapkan meja makan untuk makan malam, nampak dua orang pelayan membantunya, mereka adalah Mbak Sri dan Anis, yang merupakan pelayan tetap di rumah ini. Kemudian aku pun melangkah mendekati mereka.

"Eh Suster Dewi, nanti sekitar jam 07.00 malam ada makan malam untuk Den Wiliam, tolong suster antarkan lagi ke kamarnya ya, nanti juga akan ada obat yang Bibi kasih, karena obat yang tadi dia buang!" kata Bi Marni sambil menoleh ke arahku.

"Tadi kata Bi Marni, Den William menyiram suster dengan jus?" tanya Mbak Sri, pelayan yang usianya kira-kira 35 tahun, karena yang satu lagi tidak mungkin Mbak Sri, dia kelihatan sangat muda, dia pasti Anis.

"Iya mbak, tapi tidak apa-apa Kok, baru juga disiram dengan jus, kecuali dia menyiramku dengan bensin!" jawabku sambil tersenyum.

"Duh, mudah-mudahan saja suster Dewi agak lebih lama deh bekerja di sini, kalau yang sebelum-sebelumnya diperlakukan dengan tidak baik, pasti sudah langsung mengundurkan diri karena tidak tahan!" timpal Anis sambil menata makanan di meja makan.

"Sebentar lagi Tuan dan Nyonya besar akan turun untuk makan, biasanya kalau mereka makan kita akan menunggunya sampai selesai, setelah itu giliran kita yang makan di dapur!" ujar Bi Marni.

"Lalu setelah kita makan di dapur Apakah aku langsung memberikan makan malam untuk Den William?" Tanyaku.

Di rumah ini aku memang harus banyak bertanya mengenai pekerjaanku supaya aku tidak salah mengerjakan dan semakin paham.

"Iya sus, hitung-hitungkan kita perlu energi untuk menghadapi Den William, kadang-kadang kalau malam Den William itu sering mengamuk!" sahut Mbak Sri.

"mengamuk?"

"Iya, suster belum tahu saja, kalau Den William sedang kumat, kita semua takut dan cuma bisa diam, tidak ada yang berani mendekatinya kecuali Bi Marni, karena Bi Marni sudah lama kerja di sini!" jawab Anis.

Aku manggut-manggut tanda mengerti, dan dalam hati aku penasaran juga, Apakah orang cacat bisa mengamuk? untuk mengurus dirinya saja dia membutuhkan orang lain, Kenapa dia begitu menyusahkan orang di sekitarnya?

Setelah meja makan beres dengan aneka hidangan yang sudah terhidang nikmat itu, tak lama kemudian Tuan bagus dan Nyonya Rahayu turun dan mereka langsung bersantap di meja makan, hanya mereka berdua saja, aku membantu membereskan piring-piring kotor di dapur, sambil menunggu tuan dan nyonya besar itu makan.

Tak lama kemudian, Tuan dan nyonya besar sudah nampak menyelesaikan makannya, ternyata mereka makan begitu cepat, jarang ada obrolan di meja makan, waktu sudah menunjukkan jam 07.00 lewat.

Setelah membereskan meja makan dan piring-piring kotor, kami pun segera makan di sebuah meja makan yang ada di dapur, perutku juga sudah merasa sangat lapar sekali, aku makan begitu lahap, hitung-hitung untuk menambah tenaga menghadapi Den William, kalau sewaktu-waktu dia berbuat kasar lagi padaku.

Bi Marni, Mbak Sri dan Anis, Mereka kemudian kembali ke tugasnya masing-masing, Mbak Sri bertugas di bagian laundry sementara Anis tugasnya adalah membersihkan rumah ini dibantu oleh beberapa orang asisten yang pulang pergi

Sementara itu Bi Marni nampak menyiapkan sebuah nampan besar, dan aneka hidangan makan malam untuk Den William.

Aku hanya memperhatikannya saja, karena lama-kelamaan kata Bi Marni, aku sendiri yang akan Menyiapkan makan malam dan obat untuk Den William.

"Nah, sudah selesai Sus, tolong berikan ini pada Den Wiliam, kalau mau aman, letakkan saja nampan ini di atas meja, setelah itu suster boleh keluar dari kamarnya, nanti kalau dia Lapar juga dia makan, hati-hati jangan menyinggung perasaannya karena dia sangat sensitif!" jelas Bi Marni

"Baik Bi!" jawabku singkat.

Kemudian aku pun segera membawa nampan besar itu yang berisi makan malam untuk Den William ke kamarnya, pintu kamarnya tertutup rapat, perlahan aku membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu.

Den William nampak duduk di kursi rodanya sambil memegang sebuah bingkai foto, sepertinya bingkai foto itu adalah foto istrinya karena aku melihat di dalam bingkai foto itu ada foto sebuah wanita yang sangat cantik, pantas saja Den William susah move on, istrinya sangat cantik ternyata.

"Ehem, Selamat malam Den William, Maaf saya mau mengantarkan makan malam untuk Den William!" ucapku sambil melangkah masuk ke dalam, kemudian meletakkan nampan yang berisi makan malam itu di atas meja yang ada di kamar itu.

"Masih berani kau memunculkan wajahmu di sini? kupikir kau sudah angkat kaki dari rumah ini!" cetus Den William dingin.

"Maaf Den, saya masih bekerja di sini, dan saya tidak akan mundur sebelum tugas saya selesai!" jawabku sedikit takut-takut.

"Besar juga nyalimu, mungkin peringatanku tadi sore kurang kena, sekarang keluar dari kamarku! Aku tidak ingin ada orang lain di kamar ini!" hardik Den William sambil membalikkan kursi rodanya menghadap ke arahku.

"Tapi saya harus memastikan kalau makanan ini dimakan oleh Den William, dan juga obatnya diminum!" ujarku pelan.

"Berani kau membantahku? Di sini tidak ada orang yang membantahku! siapa kau berani menentangku!" berang Den William sambil menggerakkan kursi roda ke arah meja yang terdapat nampan berisi makan malam itu.

Praaaang!!!

Tiba-tiba saja Den William melemparkan nampan besar itu ke arahku, untung saja aku cepat menghindar semua makanan yang ada di atas nampan itu pun berceceran di lantai dengan pecahan-pecahan beling yang berserakan.

"Ya Tuhan suster! kan Bibi sudah bilang, setelah diletakkan di atas meja lebih baik keluar saja dari kamar, akhirnya jadi begini kan!" seru Bi Marni yang tiba-tiba datang masuk ke dalam kamar karena mendengar suara benda terjatuh.

"Bawa perempuan ini keluar dari kamar ku Bi! Atau aku lemparkan dia dengan botol ini!" sengit Denn William sambil memegang sebuah botol minuman yang berbuat dari stainless di tangannya.

"Dasar banci! Kau hanya berani dengan kaum lemah! lihat dirimu bahkan untuk mengurus diri sendiri saja sulit kerjanya hanya menyusahkan orang lain! Apa hebatnya orang sepertimu!" ucapku dengan mengumpulkan seluruh keberanian, karena aku sudah tidak tahan lagi diperlakukan seperti itu.

Mata Den William nampak melotot, tangannya mengepal dan Sepertinya dia sedang tersulut emosi karena ucapanku itu.

Buru-buru Bi Marni menarik tanganku untuk keluar dari kamar itu, padahal aku belum selesai memberikan dia peringatan, apa sikapnya yang semena-mena pada orang lain.

Bersambung ....

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NET" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NET
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Sang CEO
8.8
Dahulu Adnan dicampakkan oleh kekasihnya karena kemiskinan yang ia derita. Wanita itu memilih pergi demi mengejar pria kaya. Sepuluh tahun berlalu, Adnan kembali dengan kekayaan melimpah untuk membalas rasa sakit hatinya. Namun, ia terkejut saat menemukan sang mantan kini justru menjadi wanita panggilan demi menyambung hidup. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi? Akankah Adnan tetap menjalankan dendamnya saat melihat kondisi tragis wanita itu?
Sampul Novel Cinta Nekatnya, Kehidupan Hancurnya
9.5
Dua belas tahun lamanya hidupku diabdikan sepenuhnya bagi Davian Adhitama, pewaris takhta teknologi. Sejak usia enam belas, aku dijual demi biaya pengobatan kanker ibuku, berperan sebagai sekretaris hingga kekasihnya. Namun, kembalinya Kania, cinta masa kecil Davian, mengubah segalanya. Dia memutuskan menikahinya dan membuangku dengan tawaran pesangon miliaran rupiah sebagai ganti atas seluruh masa muda yang telah kuhabiskan bersamanya.
Sampul Novel Hati Beku yang Tak Dapat Dicairkan Lagi
7.9
Malam hari di kediaman Keluarga Andara, Natasha bersiap mengakhiri pernikahan kontraknya bersama Varo yang telah berjalan sepuluh tahun. Melalui pesan singkat, ia mengabarkan rencana kematian palsunya kepada sang ibu mertua demi bisa pergi selamanya. Meski ibu mertuanya sangat berterima kasih atas pengabdian Natasha dan memohon agar ia membatalkan kesepakatan tersebut untuk tetap menjadi menantu mereka, keputusan Natasha sudah bulat. Ia dengan tegas menolak dan memilih pergi sesuai kontrak.
Sampul Novel ISTRI ORANG
8.2
Ayana terjebak dalam kesepian akibat sikap dingin Devaro, suaminya. Di tengah kehampaan itu, kehadiran Javier sang bos memberikan warna baru hingga Ayana jatuh hati. Tanpa disadari, hubungan terlarang mereka adalah bagian dari rencana balas dendam Javier terhadap Devaro. Namun, niat jahat itu perlahan terkikis oleh cinta tulus yang tumbuh tak terduga. Akankah Devaro sanggup menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah berpaling pada pria yang sangat membencinya?
Sampul Novel Madu Cinta Sang Ceo
8.9
Raja Adiwijaya, CEO dingin, terpaksa menikahi Putri Cantika yang culun demi melunasi utang nyawa pada mendiang ayah gadis itu. Saat benih cinta mulai tumbuh, Tiara sang cinta pertama muncul kembali. Terbuai masa lalu, Raja nekat ingin menjadikan Tiara istri kedua meski Putri menolak keras. Terjepit antara janji setia dan obsesi lama, Raja menuntut Putri tetap bertahan di sisinya. Akankah Putri menerima kehadiran madu dalam rumah tangga mereka demi janji tersebut?
Sampul Novel Pengantin Rahasia CEO
7.9
Demi menyelamatkan aset keluarga dari ancaman penagih utang yang kejam, Ranti terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Reno, seorang CEO kaya. Reno membutuhkan istri formalitas untuk menghindari gangguan mantan kekasih serta desakan sang paman. Meski awalnya hanya kesepakatan bisnis demi uang dan perlindungan, kebersamaan mereka justru menumbuhkan perasaan tulus. Di balik pernikahan rahasia ini, benih cinta mulai mengikis batasan kontrak yang mereka buat.