
Sahabat Parasit
Bab 3
Pukul 17.00 adalah jam pulang kantor. Sandra sengaja belum berkemas karena hari ini ada jadwal 'lembur' bersama Andreas. Sebagian karyawan sudah meninggalkan ruangan dan hanya beberapa saja yang masih terlihat tinggal disana.
Sandra segera menuju ke ruang sang atasan. Ia buka pintu ruangan atasannya, tak lupa ia kunci supaya tak ada orang yang nantinya akan masuk secara tiba-tiba. Terlihat jelas disana ada senyum Andreas yang terlihat begitu mengembang menyambut kedatangan Sandra.
Sandra menuju dimana Andreas sedang duduk.
"Mas ... " sapa Sandra dengan suara lembut diiringi sedikit desahan. Kemudian Sandra segera duduk dipangkuan Andreas, mengalungkan kedua tangannya dilehernya. Kedua gunung kembar tepat berada di depan wajah Andreas. Tentu ini akan membangunkan birahi sang atasan yang sedari tadi tertahan.
"Hemmm ... " sahut Andreas sembari menatap mata kekasih gelapnya itu, lalu membelai mesra pipi mulus nan ranum mempesona di hadapannya.
Tak perlu menunggu lama, kedua pasangan inipun segera memulai permainannya. Kedua bibir telah terpagut, penuh gelora. Tak perlu memerlukan ranjang kenikmatan, meja kerja Andreaspun bisa mereka gunakan untuk melampiaskan hasrat yang kian menggebu itu.
Inilah yang membuat Andreas begitu menggilai Sandra. Permainan-permainan nakal nan erotis yang disuguhkan oleh kekasih gelapnya, membuatnya semakin hari semakin sulit untuk lepas dari jerat perselingkuhan apik yang selama tiga tahun ini mereka jalani.
Keduanya larut dalam permainan yang begitu panas. Hingga tidak terasa, waktu bercintapun telah usai.
Pukul 21.00 barulah mereka selesai melepas peluh. Ruangan Andreas terlihat begitu acak-acakan akibat ulah yang meraka lakukan selama berjam-jam tadi.
Sandra memungut pakaian kerjanya yang tercecer dilantai, begitu juga dengan Andreas, segera merapikan diri supaya sesampainya di rumah tak ada kecurigaan apapun yang akan dirasakan oleh istrinya.
Sandra mengancingkan kemeja pendek putihnya, lalu menutupnya dengan blazer panjang khas wanita kantoran berwarna hitam. Merapikan rambut panjangnya yang acak-acakan hingga terlihat rapi lalu menyambangi Andreas yang masih terduduk karena kelelahan.
"Mas, aku butuh uang buat cicilan mobilku bulan ini." ucapnya dengan nada manja di depan Andreas. Sesekali ia usap dada bidang sang atasan.
Andreas tersenyum, lalu seperti biasa ia akan langsung membuka layar ponselnya untuk mentransfer sejumlah uang yang Sandra butuhkan. Hanya dengan hitungan detik, uang sudah masuk ke rekening Sandra.
"Sudah sayang." ucap Andreas.
"Makasih ya sayang, muach." sahut Sandra lalu mengecup pipi Andreas manja. "Oh iya, Mas, kemarin Ibu tanya lagi soal kejelasan hubungan kita." lanjut Sandra sembari menatap penuh pengharapan pada Andreas.
Mendengar penuturan Sandra, wajah Andreas terlihat berubah.
"San, kamu kan tahu. Aku belum siap menceraikan Riana, kamu sabar, tunggu waktu yang tepat. Katakan pada Ibu, aku pasti akan menikahimu."
"Tapi sampai kapan, Mas? Aku juga capek kalau harus umpet-umpetan seperti ini terus. Apalagi bulan ini aku belum juga datang bulan, udah telat dua minggu. Bagaimana kalau ... "
Belum sempat menyelesaikan bicaranya, Andreas segera memotongnya.
"Ya kamu minum obat itu lagi. Apa susahnya sih. Kemarin-kemarin kan juga seperti itu. Aku nggak mau kalau kamu sampai hamil."
"Tapi Mas ... "
"Sudah, mendingan sekarang kita berkemas untuk pulang. Ini sudah larut dan pasti Ibumu akan menghawatirkanmu sampai selarut ini kamu belum sampai rumah." tutur Andreas lalu beranjak ke meja kerjanya untuk mengambil tasnya.
Sedangkan Sandra masih terduduk menahan kekesalannya sendiri. Andreas memang selalu berusaha mengelak ketika Sandra menuntutnya lebih. Laki-laki memang selalu egois, mau enaknya sendiri. Ketika dimintai pertanggungjawaban lebih, ada saja alasan untuk menepisnya.
"Bagaimana kalau kita nikah siri aja dulu, Mas. Biar Ibu tenang dan tak banyak bertanya." tiba-tiba Sandra bersuara kembali.
Andreas menghentikan langkah kakinya yang hampir sampai di depan pintu keluar, memandang lekat ke arah Sandra. Entah apa yang ada dalam isi kepalanya begitu mendengar ide yang barusan Sandra lontarkan. Apakah ia akan mengiyakan atau sebaliknya.
***
Sesampainya di rumah, sama sekali tak ada raut mencurigakan yang di tunjukkan oleh Andreas. Andreas yang telah selesai membersihkan tubuhnya dari keringat seharian, meluangkan waktunya sejenak untuk bersantai di taman samping rumah.
"Pa, besok kan weekend, kita jalan-jalan yuk. Udah lama kita gak jalan bareng." tutur Riana yang mendekat ke samping Andreas
Andreas yang tengah bersantai di halaman samping rumah. Menikmati udara malam sambil menghisap cerutu yang menyelip disela-sela jemarinya. Ditemani secangkir kopi hitam yang terletak di atas meja di depannya.
Tak ada jawaban dari Andreas. Hanya helaan nafas berat yang ia tunjukan.
"Firza dari kemarin ngerengek terus." lanjut Riana sembari memijat lengan kanan suami kebanggaannya.
"Ngajakin ke playground terus. Mama bilang nunggu Papa libur dulu. Bentar lagi pasti dia nagih tuh." rengek Riana, berharap Andreas akan memenuhi permintaannya kali ini.
"Hemmm, gimana ya Ma. Besok Papa ada meeting sama klien, gak bisa ditunda. Maaf ya, Ma. Papa benar-benar gak bisa." tolak Andreas, lalu tangan kirinya meraih cangkir berisi kopi di atas meja, meneguknya perlahan.
"Masak weekend gini masih aja kerja sih Pa?" Riana menghentikan pijatannya. "Diwakilin sama yang lain emang gak bisa? Udah sering banget lho Papa ini ambil kerjaan di hari libur." keluh Riana dengan raut kecewanya.
"Gak bisa diwakilin, Ma. Ini harus Papa sendiri yang turun tangan. Takut nanti hasilnya gak maksimal kalau anak buah yang handle. Mama tolong pengertiannya ya, please. Ini semua juga demi Mama dan Firza." kilah Andreas, meyakinkan Riana.
"Kita kan juga butuh Papa, butuh waktu Papa. Gak semua melulu tentang uang, Pa." terangnya dengan mata berkaca-kaca.
"Please, Ma. Jangan paksa Papa buat memilih. Mama dan Firza penting untuk hidup Papa, tapi pekerjaan juga penting untuk kelangsungan hidup kita." sahut Andreas sembari menatap kedua netra istrinya.
"Ya sudah lah, Pa. Mama gak akan maksa kok." ungkapnya kecewa, membuang muka kesal.
"Gitu dong sayang. Makasih ya atas pengertiannya. Nanti Papa transfer uang buat keperluan belanja besok." ujarnya sembari memegangi kedua jemari Riana.
"Iya Pa. Ya udah Mama ke dalam ya, udah ngantuk, mau tidur duluan." tutur Riana yang masih menahan kekesalannya.
Tanpa melihat kearah suaminya, Riana langsung saja berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Andreas yang masih setia menikmati udara malam diakhir pekan.
Kali ini Riana harus kembali menelan kenyataan pahitnya. Keinginan untuk sekedar pergi bersama dengan keluarga yang utuhpun pupuslah sudah. Sebenarnya hati Riana sangatlah kesal terhadap sikap suaminya itu. Sudah terlalu sering Andreas menolak permintaannya, walaupun hanya jalan-jalan sebentar saja demi memenuhi permintaan anak semata wayang mereka. Pekerjaan menjadi alasan utama yang selalu diucapkan oleh Andreas.
Anda Mungkin Juga Suka





