
Saat Cinta Menjadi Racun
Bab 3
Aku menghitung barang-barang di rumah secara kasar.
Segala yang berharga aku tinggalkan, hanya membawa beberapa pakaian musim ini dan dokumen identitas.
Sejak hamil, aku mudah lelah. Saat membereskan barang hingga malam, aku tertidur begitu saja di sofa.
Sampai keesokan paginya, pintu rumah tiba-tiba terbuka dari luar.
Aku terkejut dan langsung duduk tegak.
Yang sama sekali tak kuduga, Joshua kembali.
Dan di tangannya, ia menggandeng seorang gadis muda, Mia.
Wajahnya segar dan cantik.
Foto-fotonya yang kulihat sebelumnya bahkan tidak mampu menampilkan separuh kecantikannya.
Tangannya membawa beberapa tas belanja dari merek-merek mewah, dan berlian di sepatu hak tingginya hampir menyilaukan mataku.
Sepertinya Joshua sudah berhasil menenangkannya.
Dadaku terasa sesak.
Aku sama sekali tidak menyangka ia akan kembali secepat ini.
Refleks tanganku menyentuh leherku, seolah rasa tercekik semalam kembali menghantui.
Aku benar-benar mulai takut padanya Joshua.
Aku menelan ludah, perlahan berdiri dari sofa.
Joshua membawa Mia ke hadapanku.
Di hadapanku, ia tersenyum lembut sambil merapikan rambut gadis itu, lalu menatapku dengan ekspresi datar.
"Stella, minta maaf pada Mia."
Aku hampir tak percaya dengan apa yang kudengar.
Kami sudah bertengkar habis-habisan, ia sudah menghancurkan kehidupan keluargaku, bahkan semalam hampir mencekikku sampai mati.
Kupikir itu sudah cukup gila.
Tapi sekarang, dia menyuruhku meminta maaf pada selingkuhannya?
Melihat aku terdiam, Joshua langsung mencengkeram daguku dan memaksa wajahku menatap ke arah Mia.
"Tidak dengar? Aku bilang, minta maaf pada Mia."
Joshua adalah seorang pebisnis, dia sangat tahu cara menghancurkan hati seseorang.
Bahkan jika orang itu adalah istrinya sendiri, yang telah mencintainya selama bertahun-tahun.
Mia sejak masuk rumah belum sekalipun menatapku dengan benar.
Ia menundukkan kepala, bibirnya sedikit mengerucut.
Raut wajahnya sudah seperti seolah gadis malang yang tak bersalah.
"Tuan Joshua, tidak perlu begini."
"Statusku memang tidak terhormat. Itu wajar jika Kakak membenciku."
Ucapannya terdengar rendah hati, tapi aku dengan jelas melihat matanya berputar ke atas, ia melirikku dengan tajam penuh ejekan.
Ketika aku tetap diam, Mia mulai menarik-narik lengan baju Joshua.
"Tuan Joshua, aku capek, pengen istirahat."
Joshua mencium pipinya lembut dan berkata dengan nada penuh kasih, "Baik, pergilah istirahat dulu di kamar."
Mata besar Mia melirik ke arahku, kemudian bertanya ragu, "Tapi ini rumahmu, aku harus istirahat di mana?"
Joshua menuntunnya langsung ke kamar tidur kami, tanpa perlu dijelaskan, maknanya sudah sangat jelas.
Seluruh tubuhku gemetar hebat.
Aku menggertakkan gigi, berusaha sekuat tenaga agar tidak berteriak seperti orang gila.
Aku menahan napas, berusaha menenangkan diri, menatap punggung Joshua yang sedang menuntun gadis itu masuk ke kamar.
Dan ketika ia hampir menutup pintu, aku akhirnya berkata dengan suara parau, "Joshua, mari kita bercerai."
"Kau telah menginjak harga diriku seperti sampah, menghancurkan seluruh kerja keras orang tuaku."
Mataku memerah, tapi aku tetap berusaha tenang.
"Semua ini memang salahku, salahku karena dulu buta dan percaya padamu."
Mendengar kata-kataku, Joshua justru menaikkan alis.
Ia berdiri di depanku dengan kedua tangan di saku, wajah tampan itu mendekat ke wajahku.
Ekspresinya bengis, mengandung sesuatu yang dalam dan tak bisa kutebak.
Anda Mungkin Juga Suka





