Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saat Aku Bukan Lagi Pilihanmu

Saat Aku Bukan Lagi Pilihanmu

Setelah sepuluh tahun menderita dalam pernikahan dingin, bencana banjir merenggut nyawa Bram saat ia mencoba menyelamatkan istri dan putranya. Sebelum tenggelam, Bram menyesali takdir mereka. Begitu terbangun, sang protagonis kembali ke masa lalu, tepat di hari saudara tirinya menjebak Bram dengan obat bius kuat di kamar terkunci. Berbekal ingatan masa depan, ia bertekad tidak lagi menjadi penawar bagi Bram demi menghindari takdir tragis yang menanti mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Demi menguji kesetiaan kekasih masa kecilnya, saudara tiriku memberinya obat bius.

Lalu, saudara tiriku mendorongku masuk ke dalam kamarnya.

Aku tidak tega melihat Bram menderita dan menjadi obat penawar dengan sukarela.

Saudara tiriku pun marah dan pergi menikah dengan bos mafia yang kejam.

Setelah aku hamil, Bram terpaksa menikahiku, dan mulai membenci diriku.

Selama 10 tahun pernikahan, Bram sangat dingin terhadap aku dan putraku.

Namun, ketika Bram pergi keluar negeri, dia terkena banjir. Dia berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkanku dan anak kami.

Tapi aku tidak bisa meraih tangannya. Sebelum tenggelam, dia menatapku untuk yang terakhir kalinya dan berkata, "Kalau semuanya bisa diulang, jangan pernah jadi obat penawarku lagi."

Hatiku terkoyak dan aku pun pingsan.

Ketika aku membuka mata, aku kembali ke hari saudara tiriku memberi obat bius kuat pada Bram dan mengurung kami dalam satu kamar.

Demi menguji kesetiaan Bram, Wenny memberinya obat, lalu mendorongku masuk ke dalam kamarnya.

"Anita … " Bram terengah pelan dan matanya kabur saat menatapku.

Aku tahu, Bram selalu menyukai Wenny.

Namun, sebelum menikah, Bram tidak tega menyentuh Wenny.

Demi bertahan hidup, Bram hanya bisa mundur selangkah dan mengorbankanku.

Di kehidupan sebelumnya, aku tidak mampu menahan perasaan yang aku pendam terhadap Bram sejak kecil. Akhirnya aku dan Bram memadu kasih semalam.

Keesokan paginya, ketika Wenny melihat bekas ciuman di leherku, dia menangis, dan tidak ingin nikah lagi selamanya.

Setelah dicegah, Wenny pun marah, dan menikah dengan bos mafia dari Negara H.

Tidak lama kemudian, dia menjadi istri keempat yang wafat di tangan pria itu.

Setelah aku hamil, Bram menikahiku hanya untuk bertanggung jawab. Dia memperlakukanku dan anakku seperti orang asing.

Aku tahu Bram marah padaku karena membiarkan Wenny mengetahui kejadian malam itu.

Apabila Wenny tidak tahu, dia tidak akan pergi.

Setelah teringat akan hal itu, aku mengambil penawar, dan segelas air dingin. Aku memberikannya pada Bram dan mengompres dahinya.

Lagi pula, di kehidupan sebelumnya Bram mengorbankan nyawanya demi melindungiku. Jadi aku akan membalas kebaikannya.

"Di mana Wenny?"

Kesadaran Bram mulai pulih setelah diberi obat penawar dan dikompres.

Bram tidak memanggil namaku dengan terengah-engah lagi. Begitu membuka mata, dia langsung menanyakan Wenny dengan cemas.

"Nggak perlu khawatir. Sopir sudah antar Wenny pulang."

"Oke. Kejadian malam ini … "

"Tenang saja. Aku nggak akan mengatakannya pada siapa pun. Lagi pula, kita juga nggak melakukan apa-apa, 'kan?"

Tatapan Bram kepadaku dipenuhi keheranan. Karena dia tahu, aku bukanlah orang yang seperti ini.

Aku adalah seorang gadis kecil yang selalu mengekor di belakangnya, sambil memanggil "Kak Bram" dengan manja.

Dua puluh tahun berlalu dalam sekejap dan kami pun tumbuh dewasa.

Namun, aku tidak pernah menyembunyikan rasa sukaku pada Bram.

Sikap dingin dan kemampuanku menahan diri malam ini benar-benar melampaui perkiraan Bram.

Melihat aku tidak antusias dan aktif seperti dulu, Bram berbalik dengan kesal.

Aku pun meninggalkan kamar dan memberi tahu pelayan Bram untuk merawatnya.

Begitu sampai di rumah, Wenny sedang sibuk memilih gaun baru musim ini.

Begitu melihatku pulang, Wenny tersenyum penuh penuh arti. "Kak, Kak Bram nggak menahanmu, 'kan?"

"Jangan memanggilku seperti itu." Aku menjawab dengan dingin.

Seakan sudah tahu aku akan berkata seperti itu, Wenny melangkah mendekat ke arahku, dan berbisik dengan pelan, "Aku panggil kamu begitu untuk menghormatimu. Terus kenapa kalau kamu itu putri sulung Keluarga Limbardi? Ibumu sudah mati, ayahmu nggak sayang sama kamu. Aku dan ibuku adalah penguasa rumah ini."

"Dan Bram. Kamu sangat menyukainya, 'kan? Malam ini kamu bahkan dikirim ke hadapannya. Tapi jadi penawarnya pun, kamu nggak pantas."

"Emang apa yang bisa kamu gunakan buat melawanku?"

Aku menatap wajah angkuh Wenny dan tersenyum samar.

"Aku nggak perlu bersaing sama kamu. Semua yang kamu miliki, semuanya berasal dariku."

Tiba-tiba terdengar suara dari pintu. Ayah sudah pulang.

Wenny langsung menutupi ekspresi penuh kebencian di wajahnya. Dia menampar dirinya sendiri dengan keras hingga terjatuh ke lantai.

Ketika Ayah masuk dan melihat kejadian itu, dia langsung menganggap aku menindas Wenny.

"Anita, sampai kapan kamu akan bersikap keras kepala? Beberapa tahun ini, kamu nggak pernah membuatku tenang!"

"Tenang? Sejak dia dan ibunya masuk ke rumah ini dan memaksa ibuku mati, rumah ini nggak akan pernah membuatmu tenang."

Ayah tidak menghiraukan air mataku. Dia justru membantu Wenny berdiri dengan iba.

"Aku akan menikah dengan bos mafia Negara H." Aku menyerahkan surat perjodohanku pada Ayah.

"Aku sudah menulis namaku di atasnya. Ayah nggak perlu cari cara agar aku pergi."

Ayah menatapku dengan gembira dan terkejut.

Kekuatan mafia Negara H sangat besar. Ayah tidak berani melanggar perjanjian itu, tetapi dia juga tidak rela putri bungsu kesayangannya menikah dengan bos mafia yang sudah kehilangan tiga istri.

Wenny menatapku dengan penuh kebencian.

Seperti biasa, Wenny ingin mengejar kekuasaan dan kemewahan, tetapi dia tidak mau menanggung risiko apa pun.

Wenny berkata dengan penuh kepiluan, "Ayah, Kakak nggak benar-benar mau pergi menikah ke Negara H. Semalam, aku lihat dia kasih Kak Bram obat, lalu di kamar yang sama mereka berdua … "

Aku baru saja hendak membantah, tamparan Ayah yang keras sudah mendarat di pipiku.

"Nggak terjadi apa-apa antara aku sama Bram."

"Anita, jangan kira aku nggak tahu apa yang ada dalam hatimu. Kepergianmu menikah di Negara H sudah jadi keputusan yang nggak bisa diubah. Jangan berpikir untuk membatalkan hal itu dengan menggunakan Bram. Lagi pula, Bram sedari awal tidak pernah menyukaimu."

Wenny melirikku dengan penuh kemenangan.

"Karena kamu begitu nggak tahu malu, hadapi hukuman keluarga."

Aku membawa surat perjodohan, berlutut di depan pintu vila, dan membiarkan teriknya matahari membakar tubuhku.

Menurut aturan Keluarga Limbardi, apabila mengakui kesalahan harus berlutut selama dua jam, apabila tidak mengakui kesalahan, hukumannya adalah seharian penuh.

Ketika lututku perih terbakar, Bram datang dengan tergesa-gesa. Dia melirikku sekilas, dan masuk.

Ketika dia keluar, ekspresi Bram tidak sepanik tadi. Dia justru berlutut di sampingku.

"Anita, aku tahu tahu ibumu dan ibuku sudah menjodohkan kita sejak kecil."

"Tapi saat ini, aku nggak bisa menikah sama kamu. Aku nggak bisa biarkan Wenny pergi ke Negara H."

Aku hanya bisa tertawa getir dalam hati. Ternyata dia masih belum tahu bahwa orang yang akan menikah di luar negeri itu aku?

"Kalau dia nggak pergi, maka akulah yang akan pergi."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda keturunan iblis, harus menjalani hukuman sepuluh kehidupan fana demi melewati bencana cinta. Meski tumbuh di alam langit, ia terus dikucilkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudarinya. Namun, Kaisar Langit memiliki rencana terselubung di balik sanksi ini. Sang Kaisar ingin Aranjo kehilangan perasaannya agar bisa meraih kekuatan absolut sebagai Dewi Agung. Akankah takdir berjalan sesuai ambisi sang penguasa, atau justru sebaliknya?
Sampul Novel Catatan Harian Jo
9.6
Jo adalah sosok makhluk tak kasatmata yang memendam kerinduan mendalam akan hadirnya cinta sejati di dalam hidupnya. Namun, meski ia memiliki keinginan yang begitu tulus, perjalanan Jo untuk menemukan pasangan yang mampu menerima keberadaannya tidaklah mudah. Ia terus menghadapi berbagai rintangan sulit dan kegagalan yang menyakitkan. Inilah kisah perjuangan Jo dalam mencari kasih sayang di tengah nasibnya yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian.
Sampul Novel Kelahiran Kembali
9.1
Nona keempat keluarga Lu selalu dianggap sampah karena lemah dan bodoh di antara saudara-saudaranya yang berbakat. Kematian tragisnya menjadi awal perubahan besar saat jiwa seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21 merasuki tubuhnya. Terjebak di zaman kuno yang penuh konflik kekaisaran, ia harus berjuang bertahan hidup dengan prinsip membunuh atau dibunuh. Di tengah intrik istana yang rumit dan berbahaya, dimulailah sebuah kisah romansa yang sangat unik.
Sampul Novel Kisah Penyesalan Masa Lalu Yang Menusuk
9.7
Sepuluh tahun pernikahan dengan Pradipa hanya menyisakan luka pedih karena ia masih terobsesi pada cinta pertamanya. Puncaknya, Pradipa tega memaksaku mendonorkan darah demi wanita itu. Di ambang maut, sebuah penglihatan masa lalu mengungkap dosa besarku yang telah menghancurkan Adam, pria tulus yang mencintaiku. Kini aku terbangun dengan kesempatan kedua. Aku bertekad melepaskan Pradipa dan menebus kesalahan demi menemukan kedamaian sejati.
Sampul Novel KUNYIT DARI SARANJANA
8.2
Lawen, pemuda dari Suku Dayak Bakumpai, terjebak dalam masalah besar saat menjadi buronan di kota gaib Saranjana. Tanpa tahu kesalahan pastinya, ia diburu oleh Panglima tertinggi yang sangat berambisi menangkapnya. Situasi kian genting karena Raja Saranjana menggelar sayembara dengan imbalan fantastis: separuh wilayah kerajaan serta kesempatan menikahi sang putri bagi siapa saja yang berhasil meringkus Lawen. Kini, nyawa Lawen berada dalam ancaman besar.
Sampul Novel Pelukan Cinta yang Membara dan Sabar
8.4
Tiga tahun aku bersabar menghadapi Marco, Alpha yang dingin dan selalu beralasan menjagaku yang rapuh. Di hari jadi kami, ia justru pergi demi serigala betina lain bernama Sarah. Marco meninggalkan aku sendirian di jalanan gelap saat badai demi mengejar cinta sejatinya. Di titik kehancuran itu, muncul sosok Alpha misterius dengan kekuatan luar biasa. Tatapan peraknya mengunci mataku, lalu ia mengklaim diriku sebagai miliknya dengan geraman penuh proteksi.