
RUSSIA WITH LOVE,
Bab 3
Bab.3🇷🇺
Rowena berdiri sambil berkata...
" silahkan masuk, perkenalkan ini Adiba tim kerja saya yang nanti menjelaskan pada anda, Mr. Syden ".
Aku tersenyum ramah.
"Perkenalkan saya Adiba. Maaf , agar waktu tidak terbuang percuma.. alangkah baiknya jika kita mulai sekarang saja, Mr. Syden".
Laki laki Russia itu memandangku dan berkata ...
"Adiba... Adiba Sepertinya saya kenal anda dan kita pernah bertemu".
Dengan sopan kujawab...
"Mungkin anda pernah bertemu saya di acara-acara kantor. Jika tidak keberatan, bisa kita mulai sekarang , Mr. Syden ".
Alhamdulillah, tiga jam pertemuan dengan klien berjalan lancar. Kubereskan berkas dan laptop. Aku merasa diperhatikan orang , gak sengaja aku melihat Mr.Syden melihatku.
"Adiba , sepertinya saya mengenalmu ".
"Mr. Syden, maaf saya benar-benar lupa di mana kita pernah bertemu ?. Permisi...Saya ijin meninggalkan ruang pertemuan ini".
Langkahku langsung berhenti dan batal membuka pintu, saat aku mendengar ..
" Adiba, kamu lupa aku ?. Kita pernah kuliah bersama."
Aku benar-benar lupa... Apa Mr Syden teman kuliahku dulu, yaa ALLOH ??.
"Adiba, aku syden. Kita dulu pernah kuliah bersama di university of the Philippines. Apa kamu ingat aku dua semester di atasmu ?" .
Kubalikkan badan. Pria itu berdiri persis di depanku.
" Iya benar sekali, saya memang pernah kuliah di university of the Philippines tapi saya benar-benar lupa kalau anda pernah kuliah dua semester di atas saya, Mr. Syden ".
Mr. Syden menatapku tajam , kualihkan pandanganku ke Rowena. Mr. Syden dengan tenang berkata...
"Saya mengajak Miss Rowena dan Adiba makan siang , saya tidak mau ajakan makan siang di tolak ".
Rowena tertawa kecil,
"Dengan senang hati, kami terima ajakan makan siang anda sebagai klien kami ".
Astaghfirullah al adzim, yaa Alloh... Kaget dengar jawaban rowena, gerak refleks mulutku pelan-pelan menjawab...
"Maaf, siang ini saya sibuk dan tidak bisa menerima ajakan makan siang, Mr. Syden".
Aku melangkah membuka pintu ruang pertemuan dan hendak keluar tapi kudengar Mr. Syden berkata ...
"Apa pantas menolak ajakan makan siang seorang klien, Adiba ?. Sungguh amat sopan sekali penolakanmu ini, Adiba"
Yaa Alloh, ingin meledak rasanya kepala ini mendengar perkataan Mr. Syden. Aku membalikkan badan , melihat Mr. Syden dan kutahan emosiku. Dengan tersenyum ramah dan nada rendah, kujawab ...
"Maaf jika ucapan juga sikap saya kurang sopan, Mr. Syden. Baiklah, saya terima ajakan anda untuk makan siang ".
" Ok, kita makan siang di osterio Mario resto, Miss Rowena dan Adiba sebaiknya kita naik mobil saya saja , mari kita berangkat sekarang ".
Rowena menutup laptop...
"Ya, Mr. Syden. Beri kami waktu dua puluh menit untuk bersiap-siap ".
Mr. Syden mengangguk ..
" Silahkan , saya tunggu di sini ".
Yaa Alloh, jika aku harus jujur..hari ini aku benar-benar badmood dengan Adit pacarku di Indonesia,sekarang ditambah lagi dengan Mr. Syden laki Rusia ini yang memaksa mengajak makan siang bersama. Batal sudah rencanaku untuk telpon Adit. Rowena menepuk bahuku .
"jangan melamun, Adiba. Sudah dua puluh menitl Mr. Syden menunggu kita untuk pergimakan siang ".
Aku mengangguk , berjalan bersama Rowena menghampiri Mr. Syden yang duduk di dekat pintu..
"Alhamdulillah, kalian sudah siap. Mari kita pergi sekarang, naik mobilku saja."
Kami bertiga berjalan keluar kantor menuju tempat parkir mobil. Mr. Syden masuk mobil dan Rowena membuka pintu depan mobil sambil mendorong pelan punggungku. Aku menoleh ke Rowena yang tersenyum sambil berbisik..
"Duduklah di depan dekat Mr. Syden, biar aku duduk di belakang".
Rowena masuk mobil, sambil menutup pintu mobil...
"Mr. Syden, saya duduk di belakang karena mau telpon Morgan suami saya. Adiba saja yang duduk di depan dekat anda ".
Yaa Alloh, Kenapa hari ini Rowena membuatku makin kesal saja, padahal sudah jelas aku menolak duduk depan. Dengan terpaksa aku masuk mobil dan duduk dekat Mr. Syden. Kututup pintu mobil dan memasang sabuk pengaman. Tidak sengaja aku melihat Mr. Syden memandangku . Yaa Alloh, aku benci sekali dipandangi Mr. Syden , dengan berusaha menahan rasa jengkelku, aku tersenyum..
" Saya sudah siap untuk pergi makan siang tapi anda memandangi saya terus , Mr. Syden ".
"Saya tahu kamu kesal tapi kamu sembunyikan kekesalanmu, Adiba ".
Yaa Alloh, ingin rasanya aku keluar dari mobilnya tapi nanti malah ditertawakan, lebih baik aku diam saja. Mr. Syden menjalankan mobilnya. Aku menoleh ke Rowena yang senyum-senyum duduk di belakang. Dengan menahan kesal, aku berkata..
" Aku kira kamu telpon Morgan suamimu, Rowena ".
Dengan menahan ketawa, Rowena langsung menelpon suaminya. Perjalanan hanya memakan waktu tiga puluh lima menit , sampai juga di osterio Mario restaurant. Kami keluar dari mobil , seorang pelayan menyambut dan mengantar kami ke meja paling dekat. Setelah memesan beberapa makanan dan minuman , Mr. Syden mengeluarkan hp .
" Adiba, berapa nomer HP mu ?".
Malas rasanya memberikan nomer hp ke Mr.Syden. Dengan santai kujawab ...
" Maaf, saya tidak hafal nomer hp saya, Mr. Syden".
Di luar dugaanku, Mr. Syden berkata ...
" Miss Rowena, tolong send nomer hp Adiba ke hp saya sekarang".
Rowena mengeluarkan hp nya dan mengirim nomerku ke Mr. Syden. Rowena berkata..
" Baru saja saya send nomer hp Adiba. Silahkan cek, Mr. Syden ".
Yaa Alloh, kesal sekali rasanya. Kulihat Rowena tersenyum padaku. Pelayan datang mengantar pesanan makanan minuman kami. Kulihat lezat sekali makanan ini tapi hilang nafsu makanku, masih terngiang- ngiang makian perempuan di telpon tadi pagi. Mengejutkan sekali.. melihat piringku di angkat Mr. Syden yang menatapku..
"Aku menyuapimu agar kamu bisa asyik melamun sambil makan, Adiba ".
Kuambil piringku dari tangannya.
" Anda tidak perlu menyuapi saya karena saya bisa makan sendiri, Mr. Syden ".
Dengan sopan rowena berkata..
" Maaf, Mr. Syden..kami pamit. Bagaimana mau ke rest room sebentar ".
Mr.Syden mengangguk dan melanjutkan makannya. Rowena menggandengku masuk ke rest room..
" Adiba , aku tahu pikiranmu ke Adit pacarmu yang di Indonesia tapi aku minta tolong hormati Mr. Syden klien kita. Bersikaplah profesional sebagai perempuan karir, ini Russia.. perempuan karir yang bodoh mencampur adukkan antara urusan pribadi dan pekerjaan, pasti tidak terpakai karena dianggap tidak profesional dan tidak berkualitas dalam bekerja , Adiba ".
Aku hanya diam menunduk. Yaa Alloh, tolonglah aku bersikap profesional dalam bekerja. Benar juga bicaranya Rowena sahabatku, yaa Alloh.
Anda Mungkin Juga Suka





