Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Tanggaku

Rumah Tanggaku

Pasangan baru sering memimpikan pernikahan yang selalu indah, namun realita yang kuhadapi justru penuh cobaan. Tinggal satu atap dengan keluarga suami memaksaku untuk terus bersabar di tengah konflik yang muncul. Tak hanya harus mahir mengelola keuangan rumah tangga yang membengkak, aku pun berjuang menghadapi tekanan karena belum hadirnya buah hati. Di tengah badai masalah yang datang bertubi-tubi ini, sanggupkah aku mempertahankan rumah tanggaku?
Bab
Bagikan

Bab 3

Besok adalah hari pernikahanku. Ya Allah sungguh tak terasa waktu begitu berjalan dengan cepatnya. Dan besok aku akan melihat Ayah lagi setelah sekian tahun tak bertemu. Entah seperti rupanya sekarang, aku tetap berdoa Ayah baik-baik saja dan bahkan lebih baik dari sebelumnya.

"Amira, keluar yuk, Ibu-Ibu pengajian sudah datang." Aku pun keluar dengan gamis simple ku yang nyaman. Malam ini adalah pengajian untuk pernikahanku besok. Rumah ku juga sudah di dekor, dan di depan sudah di pasang tenda yang tengah di hias oleh pihak tendanya.

Aku menyambut kedatangan para Ibu-Ibu dan mereka pun memberikan doa terbaik untukku yang aku amini. Pengajian pun di mulai dan berjalan dengen khusuk. Aku meneteskan air mata karena besok aku resmi menjadi istri dari Mas Ibnu.

Aku bukan lagi Amira yang single, tapi akan menyandang status seorang istri dan tentunya aku akan di boyong oleh suamiku. Mengingat aku akan meninggalkan Ibu, perasaan sedih itu semakin menjadi-jadi.

Aku menangis tiada henti sampai Ibu mengusap punggungku, menguatkan aku dan aku berlabuh di pundak Ibuku. Mencurahkan isi hatiku, membuat kami berdua menangis di tengah-tengah doa-doa yang di panjat kan para Ibu pengajian.

Banyak yang terharu melihat kami, karena mereka juga tahu jika selama ini kami hidup berdua dan sekarang mau tak mau kita harus hidup terpisah. Sungguh berat tapi ini harus di jalani oleh kami.

Ibu melepas pelukannya dan mengusap air mataku.

"Jadi istri yang baik, jangan suka melawan kata suami, jangan boros, harus pintar mengurus rumah tanggamu, paham ndok?" Aku mengangguk dengan suara parau dan kembali menangis sesegukkan.

Acara pun selesai dan aku membantu Ibu setelah lebih baik. Para Ibu-Ibu kembali ke rumahnya masing-masing dengan membawa satu kantung dari kami. Rumah tidak sepi, karena keluarga Mama datang semua untuk membantu.

Aku masih bersyukur karena masih banyak keluarga yang peduli pada kami. Malam semakin larut dan rasa kantuk tak bisa di bendung lagi. Ibu pun memintaku untuk beristirahat karena besok pagi aku harus di rias.

Aku menurut dan masuk ke dalam kamarku. Kamar ini nanti akan di hias ketika aku selesai di make-up besok pagi. Jadi baik aku dan suami ku nanti akan di sambut di kamar ini. Duh, jadi malu dan merona lagi pipiku.

Aku meraih ponselku, bolehkah aku mengirim pesan padanya sekarang?

Ah, jangan, toh besok aku akan bertemu dengannya di rumah ini. Aku bersiap untuk tidur karena aku tidak mau sampai kelelahan besok. Apalagi sampai mengantuk saat ijab qobul, sungguh itu akan menjadi hal konyol dalam sejarah pernikahan.

Aku memejamkan mata setelah menyelimuti tubuhku.

****

Aku bangun sebelum adzan subuh, aku menguap lebar dan merenggangkan otot-ototku. Aku menarik nafas dalam karena hari ini adalah hari terpenting dalam hidupku. Aku keluar kamar untuk mengambil wudhu, untuk menenangkan hatiku.

Pasalnya bukan hanya akan bertemu suami, tapi juga bertemu Ayahku. Ini sungguh hari yang mendebarkan.

"Udah bangun, Mir?" tanya beberapa saudara dari Ibuku.

"Iya, Bude," jawabku riang.

"Nggak sabar ya?" goda mereka yang membuatku tersenyum malu.

"Nggak sabar apa sih, Bude?"

"Ngertilah yang Bude maksud, hahaha." Aku tak menanggapinya lagi karena malu. Dan buru-buru aku masuk ke dalam kamar mandi.

Mandi sekaligus mengambil wudhu lalu bergegas kembali ke kamar untuk sholat subuh karena sudah adzan saat aku mandi tadi. Di dalam kamar yang dingin, aku mengenakan mukenahku lalu menatap sajadah di bawah kakiku.

Apakah sekarang calon suamiku juga tengah menunaikan sholat subuh? Di mana? Di Masjidkah, atau di rumahnya?

Eh, apa sih. Sholat yang khusuk! Aku mengingatkan diriku sendiri. Dan bergegas sholat. Selesai sholat, berdoa dan berdzikir aku menatap sajadahku lagi. Nanti di depan sadahku ada sajadah suamiku, aku akan jadi seorang makmum yang berdiri dan mengikuti gerakan sang imam yang merupakan suamiku sendiri. Lalu selesai sholat apa? Apakah aku harus mencium tangannya, mencium keningnya, eh, duh, pikiranku. Aku ini gadis paham agama kok mikirnya ke sana terus sih!

Bergegas aku bangun dan melepas mukenahku. Aku rapihkan dan juga merapihkan beberapa barang yang terkesan berantakan. Aku ingin suamiku melihat kamarku yang rapih dan bersih.

Aku beberes kamar, menyapu serta mengepelnya. Aku juga mengganti seprei ku dengan yang baru. Yang di anjurkan oleh Ibu ku karena nanti kamar akan di dekor dengan cantik untuk kamar pengantin.

Berarti malam pertama kami akan tidur di kamarku, entah sampai berapa hari sebelum aku di boyong ke rumah orang tua suamiku. Bagaimana pun nanti, aku harus mudah berbaur dan juga membuat keluarganya nyaman bersamaku.

"Amira, bisa keluar dulu!" seru Ibu dari luar kamarku. Bergegas aku menjawab dan keluar tak lupa memakai hijab simple ku.

Begitu keluar senyumku perlahan memudar kala melihat seorang pria paruh baya berdiri di dampingi seorang Ibu lebih muda dari Ibuku dan beberapa anak yang tak jauh usianya dariku.

Ini Ayahku kah? tanyaku dalam hati.

"Amira, beri salam pada Ayah mu kenapa diam saja?" tegur Ibu. Membuat lamunanku buyar dan menuntunku untuk mencium tangan Ayah ku. Tangan yang besar dan hangat itu, tangan Ayah ku?

Aku tatap kembali wajahnya yang nampak asing di mataku, tapi bagaimana pun aku tetap membuat senyuman untuk menghormatinya.

"Salam juga buat Ibu mu," ujar Ibu lagi yang membuatku menoleh pada Ibu ku. Bagaimana? Ibu ku? Aku lantas menatap Ibu yang berada di samping Ayah ku. Bukan Ibu kandungku melainkan Ibu tiriku. Jadi, Ayah memiliki istri lagi?

Aku tetap menurut dan mencium tangan Ibu tiriku, dan yang paling mencengangkan adalah Ayah dan Ibu tiri ku sudah memiliki anak yang tak jauh usia nya dariku.

"Sapa adik mu," pinta Ayah tanpa rasa bersalah. Tapi sebagai anak tertua aku pun menurut dan menyapa para adikku. Ada tiga adik yang harus aku sapa dan berikan senyuman hangat. Dua anak laki-laki dan satu perempuan.

Kami mengajak masuk ke dalam dan mengobrol di sana, tapi waktu ku tak banyak karena perias ku sudah datang.

"Aku masuk ke dalam kamar dulu, Yah, aku harus di rias," pamit ku sopan. Mereka pun mengerti dan aku meninggalkannya untuk masuk ke dalam kamar di mana perias ku sudah siap dengan peralatannya yang lengkap.

"Pengantin itu wajahnya nggak boleh muram, harus ceria, ini kan hari bahagia," nasehatnya yang membuat Amira tersenyum malu.

"Ketahuan ya?" ujar ku pelan.

"Jelas banget."

"Duh, jangan kasih tau yang lain ya, Bu," pintaku.

"Memang saya tukang gosip?" candanya, aku tersipu malu dan akhirnya aku bisa kembali tersenyum senang karena ternyata perias ku mudah bergaul dan bisa membuat nyaman yang di hias. Ia pandai bicara dan setiap kalimatnya mengandung nasehat yang indah di dengar.

Terima kasih Ibu sudah memberikan perias ini untuk ku.

****

Aku mendengarkan suara jantungku yang berdegup dengan begitu kencangnya. Saat aku mendengar iring-iringan pengantin laki-laki yang sudah sampai di rumah ku. Aku kini di temani Endah sahabatku, kita berdiam diri di kamar menunggu waktu sampai suamiku menjemput diriku.

Ya, aku tidak keluar dan tidak duduk sejajar dengan calon suami ketika ia belum resmi menyandang status suami. Kami akan terus berjauhan sampai kata sah terdengar dan ia akan mengetuk pintu kamar ini agar ia bisa membawaku keluar dan memperkenalkannya pada keluarga besar sebagai istri sah nya.

Acara nampak sudah di mulai, aku semakin tak karuan rasanya karena menunggu detik-detik menjadi istri sah dari Mas Ibnu.

"Gugup ya?" tanya Endah yang selalu kalem itu. Aku mengangguk.

"Sabar ya, kalau sudah terdengar kata sah, kamu bakal lega nanti."

"Sok tahu ah, kaya pernah aja," ledekku. Endah tersenyum tipis.

"Aku kan udah pernah nemenin Kakak ku yang nikah."

"Eh, iya-ya, hehehe."

"Udah nggak gugup nih?" godanya. Membuatku jadi tersipu malu. Setelah sekian lama menunggu kabar akhirnya ada yang mengetuk pintu dan memberikabar jika aku telah resmi menjadi istri dari Mas Ibnu.

"Alhamdulillah," ucap ku dan Endah bersamaan. Endah pun berdiri dan merapihkan penampilanku karena sebentar lagi aku akan di jemput sang suami. Kali ini jantungku lebih kencang dari sebelumnya.

"Duh, aku kok deg-degan banget ya, Ndah?"

"Ya jelaslah, namanya juga mau nyambut suami."

"Duh, gimana dong, aku malu."

"Hush, nggak boleh malu sama suami sendiri, terima apa pun yang suami lakukan pada mu. Itu kewajibanmu, paham, Mir?"

"Iya, Ndah."

"Ya udah, aku harus keluar karena kamu akan bertemu dengan suami mu di kamar ini. Jangan tegang ya, kalau ada yang ketuk pintu nanti, tanya siapa? Kalau jawabannya suami mu, maka kamu harus mengucap salam dan membuka pintu. Kemudian kamu tatap wajahnya sebentar lalu cium tangannya. Paham, Mir?"

"Ih, kok kamu paham banget sih, Ndah?"

"Ye, ini tugas ku untuk memberimu nasehatnya. Yang kasih tahu ya orang tua bukan aku. Udah ya, aku harus keluar takut suami mu keburu dateng."

"Yah, jangan pergi dong, Ndah, takut aku."

"Amira?!"

"Ya-ya, maaf." Endah pun pergi dari kamar ku dan menutup pintu. Begitu pintu tertutup jantungku tak karuan rasanya, aku bangun dan berjalan bolak-balik karena bingung. Sampai aku mendengar sebuah ketukan pintu yang pelan dan teratur. Sebuah ucapan salam juga terdengar lembut di telingaku. Suara khas Mas Ibnu.

Aku mendekat dan bertanya. "Si-siapa?" tanyaku sesuai dengan anjuran Endah.

"Aku, suami mu," jawabnya dengan suara parau nan berat. Aku tahu ia juga gugup sama seperti ku. Aku tersenyum haru, menahan diri untuk tidak menangis.

"Ucapkan lagi salamnya," pintaku. Beberapa detik barulah aku mendengar sebuah salam dari luar pintu kamar ku.

"Wa'alaikumsalam," jawabku dan membuka pintunya perlahan. Di saat itulah aku bisa melihat sepatu khas pengantin berwarna putih, lalu celana panjang putih, dengan di balut kain batik berwarna coklat yang senada dengan batik kain yang aku pakai. lalu sosok laki-laki nan gagah nampak tersenyum canggung menatapku.

"Bolehkah aku masuk, istriku?" tanyanya yang membuat jantungku seperti mau meledak karena di panggil istri oleh Mas Ibnu. Ya Allah. Aku hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan dan langkah kecil Mas Ibnu berhasil membuat dirinya masuk ke dalam kamar yang sudah di hias itu.

Kami berdiri canaggung tapi tak lama karena Mas Ibnu harus membawaku keluar untuk di perkenalkan pada keluarganya. Ia masuk ke dalam kamar untuk menyentuh kepalaku dan membacakan doa setelah menikah, lalu harusnya mencium kening. Tapi, karena kami masih sama-sama gugup dan canggung hal itu tidak kami lakukan.

"Ehm, nanti saja ya, kita keluar dulu," ujarnya yang benar-benar nampak grogi. Aku pun sebagai istri menurut saja. Mas Ibnu lantas memberikan jemarinya padaku untuk di genggam. Dengan ragu aku memberikan tanganku dan tersentak saat akhirnya aku bisa merasakan kehangatan tangan seorang laki-laki selain Ayahku.

Kami saling tatap sejenak lalu tersenyum malu-malu dan pergi dari kamar menuju tenda pengantin.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alia
8.7
Alia terpaksa memulai kehidupan rumah tangga di usia belia setelah sang kekasih melamarnya secara resmi. Di tengah kesibukan kuliah, ia berjuang memenuhi kewajiban sebagai istri meski terus ditekan oleh mertua yang membencinya. Demi masa depan suami, Alia bahkan nyaris mengorbankan kehormatannya. Namun, kehadiran sosok penolong tak terduga memicu getaran terlarang di hatinya. Kini, Alia terjebak antara kesetiaan pada pernikahan atau terjerumus dalam pengkhianatan.
Sampul Novel Bertemu Karena Jodoh
8.2
Nasyira terbiasa menikmati kemewahan sebagai putri orang kaya, namun roda kehidupan berputar drastis saat hartanya ludes seketika. Nasib malang menimpa keluarganya ketika sang papa dinyatakan bangkrut total. Kehancuran finansial ini bukan tanpa alasan, melainkan akibat pengkhianatan keji yang dilakukan oleh adik kandung papanya sendiri. Kini, Nasyira harus menghadapi realita pahit setelah orang terdekat menghancurkan seluruh kejayaan mereka.
Sampul Novel Ditinggal Suami Dinikahi Adik Ipar
8.9
Shifra, yatim piatu yang dinikahi miliarder Elzien Kagendra, harus kehilangan suaminya akibat kecelakaan tragis. Hidupnya berubah menjadi pelayan di rumah mertua hingga sebuah insiden satu malam memaksanya menikahi adik iparnya sendiri. Saat telah memiliki anak, Elzien yang disangka wafat tiba-tiba muncul kembali. Kini Shifra terjebak dalam dilema besar antara cinta pertamanya atau suami kedua yang merupakan ayah dari bayinya. Siapa yang akan dia pilih?
Sampul Novel Kisah Cinta Naomi
9.0
Hidup Naomi Clara hancur seketika saat suaminya, Adrian, tega menjualnya ke rekan bisnis hingga ia terjebak sindikat perdagangan manusia di Hongkong. Di tengah penderitaan itu, ia bertemu Zhou Tian, bos mafia dingin yang tak pernah mengenal cinta. Namun, situasi kian pelik saat seorang playboy kelas kakap justru turut jatuh hati padanya untuk pertama kali. Kini Naomi terjepit dalam pusaran cinta segitiga rumit yang mempertaruhkan hati dan nasibnya.
Sampul Novel Love
9.2
Love
Dalam dinamika kehidupan modern yang serba cepat, sebuah kisah romansa yang tulus mulai tumbuh secara perlahan. Cerita ini mengeksplorasi makna kasih sayang yang mendalam di tengah hiruk pikuk perkotaan. Melalui pertemuan yang tak terduga, dua insan berusaha memahami perasaan satu sama lain dan membangun ikatan emosional yang kuat. Kisah ini menjadi sebuah perjalanan penuh kehangatan yang menyoroti keindahan dari sebuah perasaan yang bernama cinta sejati.
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ibu. Meski ayahnya, Tuan Anggoro, sangat baik, kesibukan bisnis membuatnya jarang di rumah. Naldo hanya memiliki asisten rumah tangga yang merawatnya sejak bayi. Saat diminta memilih ibu baru, Naldo teringat sosok wanita misterius yang terus muncul dalam mimpinya. Ketika akhirnya bertemu wanita itu di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski perbedaan usia menghalangi mereka.