Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Nenek

Rumah Nenek

Nenek pindah ke rumah murah yang nyaman, namun bangunan itu menyimpan rahasia kelam. Ruang bawah tanahnya menjadi saksi bisu aksi jagal dan mutilasi sadis. Kini, arwah korban yang penasaran menuntut balas dan merasuki setiap sudut rumah. Teror mencekam bangkit setiap malam, menjebak penghuninya dalam bangunan yang seolah terkunci rapat. Mereka harus berjuang bertahan hidup melawan gangguan gaib mematikan yang telah merenggut nyawa pemilik sebelumnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bismillah

                  Rumah Nenek

#part 2

#by: R.D.Lestari.

Seperti mau Mama, hari ini kami pindah ke rumah baru Nenek. Rasa kesal masih menelusup di dalam hati.

Pindah ke daerah perkampungan tak pernah terlintas di pikiranku barang sedetik saja.

Sungguh, membayangkan tempat sepi dan juga banyak pepohonan membuatku bergidik ngeri. Bagaimana jika malam ada makhluk seperti kuntilanak dan pocong yang betengger di pepohonan? menyeramkan, 'kan?

"Hiiii!"

"Bagas! kamu kenapa? dari tadi diem aja. Liat tu Ghandy sama Ajeng, nikmati banget suasana perjalanan," suara lengkingan Mama menyentak dan membuyarkan lamunanku.

"Bagas tu kan ga mau pindah, Ma. Padahal cuma mlipir sedikit dari rumah lama doang. Kalo Kakak mah seneng aja, Ma. Di sini lebih banyak pohonnya," timpal Kak Ajeng.

"Hooh, Ghandy juga suka, Ma. Enak kayaknya main sama anak-anak di perkampungan. Ga banyak mobil yang lewat," seloroh Ghandy yang tambah memojokkan posisiku.

Aku hanya mendengus kesal. Apa-apaan mereka ini? kenapa sepertinya kompak untuk membuatku kesal?

Sepanjang perjalanan menuju rumah Nenek terasa amat lama dan membosankan. Mama bilang dekat, tapi kok perasaan ga sampai-sampai?

Baru saja hendak protes, mobil tiba-tiba berbelok ke kiri, masuk lorong yang lumayan lebar. Tak lama ada gerbang dengan tulisan 'Kampung Tentram'.

Mataku memicing, melihat suasana kampung yang ... not bad lah, rapi dan bersih.

Sepanjang jalan kebun sayur mayur di sisi kanan dan kiri jalan. Empang dan juga sawah terbentang luas. Hijau.

"Wah, Mama! ini mah namanya back to nature! pemandangannya keren!" Kak Ajeng tampak sumringah.

Kali ini aku setuju dengan Kak Ajeng. Suasananya emang adem memanjakan mata.

Kulihat beberapa orang petani sempat menghentikan pekerjaannya dan memandang ke arah mobil. Meski kaca tak di turunkan, mereka tetap melemparkan senyum seolah menghormati kedatangan kami.

Entah kenapa hati ini terasa adem. Perlakuan mereka sangat bertolak belakang dengan orang kota yang notabene loe ya loe, gua ya gua.

Seketika hatiku terasa adem. Dan senyum tiba-tiba tersungging tanpa kusadari.

Namun, itu tak berlangsung lama. Saat mobil kembali berbelok ke kiri, masuk ke dalam lorong yang lebih sempit, suasana terasa berbeda.

Dadaku ser-seran melihat pohon rindang dan berukuran besar di kiri dan kanan jalan. Masih banyak semak dan rumah-rumah kosong yang sebagian rusak dan di penuhi lumut. Hanya beberapa rumah yang terisi, tapi tak nampak penghuni.

"Hiii, horor banget!" lirihku.

"Halah, dasar penakut. Namanya aja kampung. Ya, wajar banyak rumah kosong dan pohon gede-gede. Mungkin banyak orang yang pindah ke Kota," Kak Ajeng berspekulasi.

"Trus kita yang dari Kota pindah ke Kampung?" cibirku.

"Gas, kalau kamu masih cerewet ntar Mama tinggal di sini!" suara Mama tiba-tiba membahana. Membuat nyaliku ciut.

Aku memilih diam dan tak menyahut. Dari pada Mama murka, trus aku ditinggal di tempat serem seperti ini. Hiiiii!

Mobil akhirnya masuk ke pekarangan yang luas dan menepi tepat di sebuah rumah kuno, seperti rumah peninggalan belanda.

"Dah, ayo, turun. Nenek sama Bik Jumi sudah nunggu didalem," ajak Mama.

Kak Ajeng dan Ghandy langsung turun, menatap dengan antusias rumah yang di nilai antik dan adem.

Sedangkan aku ... Entah kenapa perasaanku tak enak. Bulu kudukku seketika berdiri. Enggan untuk melangkah mendekat.

"Kamu mau berdiri sampai kapan di situ, Gas?" Kak Ajeng menatapku sinis.

"Ya, ya, ya," sembari menghentak kaki aku akhirnya masuk ke rumah bergaya belanda yang terkesan sinup.

Hawa anyep seketika menyergap tubuhku. Tengkukku terasa berat dan meremang.

Kulihat Mama pun sepertinya kurang nyaman, begitu juga Ghandy. Cuma kak Ajeng yang nampak biasa dan sibuk menelpon sedari masuk ke dalam rumah.

"Ibu ... Ibu, Bi Jumi... kalian di mana?" Mama terlihat khawatir dan bergegas mencari dua orang yang tak nampak saat kami tiba. Suasana terasa hening dan sepi.

"Kakak... kita bantu cari Nenek, yuk. Kok Nenek ga nyambut kedatangan kita?"

Aku mengangguk dan mengiyakan ucapan Ghandy. Kami pun mencari Nenek di luar rumah.

Srekkkk! krakkk!

Terdengar suara langkah kaki seperti menginjak dedaunan dan ranting. Ya, halaman Nenek penuh dengan pepohonan dan daun-daun mengering, seperti tak terurus. Memangnya selama beberapa hari ini Nenek ke mana?

"Kak, kek ada suara orang mendekat," Ghandy menghentikan langkah dan mencengkeram tanganku.

Baru saja kami hendak berbalik, tiba-tiba ....

Pluk!

Seseorang seperti menepuk pundakku. Perlahan aku menoleh ke arah Ghandy. Tangan kanannya sedang memegang ransel dan tangan kiri mencengkeram lengan kananku.

Terus, tangan siapa barusan?

Setengah menahan debaran dalam dada, dan keringat yang mengucur deras, aku memutar tubuh dan ...

"Den Bagas, kenapa main di sini? nanti hilang," suara serak dan parau keluar dari bibir pucat Bi Jumi.

Aku tertegun. Wajah Bi Jumi tampak sangat berbeda. Matanya kosong dan lurus, seolah tak melihat ke arahku ataupun Ghandy.

Belum sempat aku menjawab, Bi Jumi kembali berbicara. "Ayo, pulang. Bibi sudah masakin sesuatu yang enak,"

Bi Jumi memutar tubuhnya dan berjalan. Langkahnya terasa cepat, yang membuat kami terengah mengikutinya.

"Kak, cepet banget jalannya Bibik," keluh Ghandy yang nampak kesusahan mengikuti Bi Jumi.

"Bi Jumi kok aneh, ya Kak?" bisiknya.

"Husstt, dah jangan banyak protes. Kita main terlalu jauh. Mungkin Bi Jumi marah," jawabku acuh.

Benar saja, tiba di rumah semua orang menatap marah. Aku dan Ghandy menelan ludah susah payah, takut.

"Dari mana saja kalian? baru datang sudah buat riweh," omel Mama saat kami duduk di meja makan.

"Kami nyariin Nenek, Ma," lirih Ghandy.

"Nenek ada kok tadi di kamar," sahut Mama.

"Sudah, nikmati makan siang kalian. Jangan berlaku aneh-aneh, jika tak ingin ada hal buruk menimpa kalian!" suara Nenek menggema, terdengar mengerikan dan membuat bulu kuduk seketika meremang.

Nenek kembali menikmati makannya, tanpa banyak bicara. Sangat berbeda dengan sosok Nenek yang biasa. Sama seperti Bi Jumi yang juga aneh.

Tak seperti di rumah Nenek yang penuh dengan suasana ceria dan mengobrol akrab.

Di rumah ini semua terasa canggung dan penuh misteri.

Selesai makan, Bi Jumi menunjukkan satu persatu kamar yang akan kami tempatkan.

Aku dan Ghandy mendapat kamar paling ujung. Saat memasuki kamar, hawa lembab begitu menyergap. Aroma yang sulit diartikan. Terasa pengap dan menyesakkan dada.

Beruntung, toilet di dalam kamar. Kulihat Ghandy yang kelelahan langsung berbaring, sepertinya ia sangat kelelahan.

Sedangkan aku yang sedari tadi kegerahan, memilih mandi. Sedikit bergidik saat melihat kamar mandi yang di penuhi lumut.

Baru saja akan mengguyurkan air, sesuatu seperti jatuh diatas punggung dan benda itu menggeliat. Saat aku meraihnya, ternyata....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Membawa Petaka
8.3
Mengandung konten 21+ Harap bijak menentukan bacaan... Jangan lupa mampir juga cerita pertama "Mertua Hiperseks" Zakia Ananta Arman, gadis remaja yang masih sangat polos dan tidak pernah mengenal apa itu jatuh cinta sebelumnya. Dia terpesona dengan ketampanan pemuda tampan yang merupakan putra dari kyai pengasuh pesantren dikingkungannya. Malam itu gadis yang cakap dipanggil Kia itu secara sengaja masuk ke dalam kamar pria yang sering di panggil Gus Beren oleh para santri. Kia memasukkan obat perangsang dan alkohol secara bersamaan pada teh yang disajikan oleh Santri dan akan di minum oleh Gus Beren. Alhasil, malam itu tanpa sadar Gus Beren menyetubuhi Kia yang bersembunyi dibalik tirai gorden kamarnya, saat Gus Beren tengah membersihkan badan di kamar mandi setelah acara pengangkatan pengasuh baru di adakan di pesantren yang di miliki abahnya. Hubungan satu malam itu berakhir duka bagi Kia. Ia tidak pernah menyangka bahwa dari hubungan itu ia akan mengandung anak dari Gus Beren, tapi sayangnya Gus Beren tidak mau bertanggung jawab atas anak itu. Karena bagaimana pun anak itu tetap akan bernasab pada ibunya, sebab ia hadir sebelum terjadinya Ijab Qobul pernikahan. Apalagi Kia baru mengetahui, jika Gus Beren sudah memilik istri yang di nikahi secara siri, karena saat ini istri Gus Beren masih melanjutkan pendidikannya di Mesir. Kia teringat akan perbuatan papanya Arman beberapa waktu yang lalu, ia membawa Cantika yang merupakan wanita selingkuhannya ke rumah dan melakukan perbuatan mesum di depan mamanya Arini. Mungkinkah yang terjadi saat ini merupakan balasan atas perbuatan Arman, yang telah menyakiti Arini. Bukan hanya itu, Arman juga sering melampiaskan amarah pada mamanya dan juga kakaknya Zoni saat mereka memberontak kelakuan Arman untuk bermain panas dengan Cantika. Kata-kata Kia terngiang begitu dalam pada ingatan Arman, yang menyiratkan kebencian dari seorang putri yang sangat ia sayangi. Arman tak pernah begitu menyesal atas perlakuannya dan perkataannya yang sering menyakiti Arini dan Zoni, tapi untuk Kia, dia benar-benar menyesal karena telah membuat putri kesayangannya itu kecewa dan berkata kasar padanya. Teringat pada masa lalu kelam tentang Rania yang harus mati akibat ulah Ayah Arman, ia takut hal itu terulang kembali pada Kia. Akankah Kia bisa mendapatkan keadilan serta tanggung jawab dari Gus Beren untuk anak yang dikandung? Sedang usianya saat ini masih belum cukup umur untuk melangsungkan pernikahan karena ia baru 9 SMP. Ataukah ia akan menjalani sisa-sisa hidup dengan karma yang telah papanya perbuat selama ini? Siapakah Rania, yang menyisakan luka begitu dalam bagi Arman?
Sampul Novel Istri Jaminan Sang Laksamana
8.2
Admiral Shawn Miller, Jenderal bintang satu termuda AS, terjebak perjanjian gelap dengan mafia Yousef Kanishka. Demi data rahasia negara, ia menyetujui pernikahan rahasia dengan putri Kanishka, Kiran, sebagai jaminan. Syaratnya mutlak: Shawn dilarang menyentuh istrinya tersebut. Tanpa pernah bertemu sebelumnya, Shawn terpana saat menyadari jaksa cantik di pengadilan militer adalah sosok wanita yang kini terikat secara hukum dengannya.
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Mafia
9.5
Keadaan darurat memaksa Reynand pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Setahun berlalu, sang mafia kembali dan mendapati Keisha dikabarkan menikah dengan mantannya. Amarah Reynand memuncak pada Reza dan Bram, ayah Keisha. Ia bersumpah menghancurkan semua orang yang berkhianat setahun lalu. Saat berbagai rahasia kelam terungkap, Reynand semakin murka dan bertekad melindungi istrinya dari siapa pun, bahkan dari keluarga wanita itu sendiri.
Sampul Novel Legenda Sage Pengendara Phoenix
9.3
Kiran, pemuda dari Qingchang, tak sengaja bertemu The Flame, Phoenix legendaris milik Sage Putih Alaric yang gugur melawan Kaisar Warlock. Demi bertahan hidup, Phoenix yang sekarat itu melakukan ritual penyatuan jiwa berbahaya dengan Kiran. Ingatan tersebut dikunci hingga Kiran dewasa dan dikenal sebagai jenius ilusi di Institut Magentum. Namun, rahasia besar terungkap saat ia dituduh sebagai pengkhianat dan penerus Klan Phoenix Merah, memicu pengejaran maut oleh Kekaisaran Hersen.
Sampul Novel Love a Sweet Psycho
7.9
Hun dikenal sebagai pria rupawan bak pangeran dongeng, namun aku sama sekali tak tertarik padanya. Kehidupan tenangku terusik saat pria berdarah dingin ini mulai terobsesi mengejarku. Ia bertindak ekstrem demi melindungiku, mulai dari membunuh ular hingga nyaris mencekik orang yang menggangguku. Aku benci menjadi pusat perhatian dalam drama gila ini. Mengapa Tuhan mengubah hidup mediokerku menjadi pelik karena campur tangan cowok psikopat ini?
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Stenly Sebastian Miller hancur saat Kimberly memutuskan hubungan dua tahun mereka akibat isu kebangkrutan. Bertekad bangkit, Stenly bersumpah mencari pengganti yang lebih baik. Di tengah luka, ia menyelamatkan Seruni dari serangan Dante yang obsesif. Meski berakhir babak belur demi melindungi Seruni, insiden ini justru memicu ketertarikan Stenly padanya. Kini ia harus memilih: terus meratapi masa lalu atau memulai lembaran baru yang bahagia bersama Seruni.