
Ratu Kerajaan Niskala
Bab 3
Suara isak tangis itu terdengar tak berhenti dari kamar belakang puri istana. Yang kadang kala berganti dengan suara makian dan sumpah serapah.
Ki Arto dan Ki Bagong, dua pengawal yang bertugas menjaga kamar belakang puri istana itu, hanya saling pandang sambil mengulum senyum. Dalam setahun ini, entah sudah berapa kali mereka berdua bertugas menjaga kamar belakang puri istana yang berstatus sebagai kamar pembinaan bagi para putri keraton yang tengah menjalani hukuman.
"Aku hendak masuk menemui putriku. Buka pintunya!" hardik Dewi Wulan, ibunda Putri Lintang Alit, istri keempat Raden Eka Kencono.
"Mohon ma'af, Ndoro Ayu. Kami tidak berani membuka pintu tanpa ada perintah dari Raja Raden Eka Kencono. Hanya beliau yang bisa memerintah kami," jawab Ki Arto sambil sedikit membungkukkan badan.
Dewi Wulan mendengus kesal. "Aku istri Raden Eka Kencono. Aku punya hak juga untuk memerintah kalian!" hardik Dewi Wulan lagi. Tangannya memegang handle pintu dan menggerak-gerakkannya terus dengan kasar.
"Ibu ...! Tolong keluarkan aku, Ibu. Aku tidak mau berada di sini. Tolonglah, Ibu," rintih Putri Lintang Alit dari dalam kamar. Dia mendengar ibunya datang dan sedang berusaha menemuinya.
"Berapa lama masa hukumanmu, Cah Ayu?" tanya Dewi Wulan dari luar kamar.
"Tiga purnama, Ibu. Batu sehari aku berada di sini, rasanya seperti satahun. Cepat keluarkan aku, Bu," pinta Putri Lintang Alit dari dalam kamar.
Dewi Wulan tertegun di depan pintu kamar pembinaan itu. Kedua alis tipis panjangnya yang laksana bulan sejuring itu, bertaut hampir tanpa jarak. Terlihat dia sedang berpikir keras .
Tak lama kemudian, terlihat Raden Eka Kencono tengah berjalan melintas di ruang tengah. Dewi Wulan dapat melihatnya melalui tirai pembatas ruang tengah dengan ruang belakang, yang disingkapkan sebagian. Dia bergegas menghampiri Sang Raja.
"Kakanda Raja," panggil Dewi Wulan ketika telah berada di dekat Raden Eka Kencono. "Segala hatur sembah untuk Kakanda," ujar Dewi Wulan sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Raden Eka Kencono menghentikan langkahnya. Menatap garwa selirnya itu dengan pandangan datar. Istri keempatnya itu dinikahi karena keterpaksaan. Sama seperti yang terjafi pada keempat istrinya yang lain. Hanya Sang Permaisuri, Dewi Arum-lah yang dia nikahi dengan kecintaan utuh.
Dewi Wulan adalah putri dari Kerajaan Sendang Ageng, yang berada di sebelah utara Kerajaan Niskala. Kerajaan Sendang Ageng adalah sebuah kerajaan kecil yang jauh dari kata makmur. Geografis wilayahnya menakdirkan Kerajaan Sendang Ageng menjadi sebuah wilayah yang selalu mengalami masa kekeringan. Bahkan danau besar yang menjadi ciri khas wilayah itu, telah kering sejak puluhan tahun terakhir.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Dewi Wulan?" tanya Raden Eka Kencono dengan pandangan menyelidik. Dewi Wulan adalah salah satu istri selir yang selalu dihindarinya. Karena Sang Raja tidak pernah menyentuh keintiman Dewi Wulan. Namun, Dewi Wulan mampu memberinya seorang anak.
"Saya memohon dengan segala kerendahan hati, Kakanda Raja. Ijinkan anak saya, Putri Lintang Alit, agar bisa dikeluarkan dari kamar pembinaan hari ini." Dewi Wulan memohon dengan menundukkan wajahnya. Dadanya berdebar kencang menunggu jawaban dari Sang Raja.
Raden Eka Kencono ternyata tidak memberikan jawaban apapun. Hanya menghela nafas panjang. Lantas berlalu dari hadapan Dewi Wulan. Menuju ke ruang makan, di mana para kerabat kerajaan tengah menunggu untuk bersantap siang bersama.
Lemas seluruh persendian Dewi Wulan. Sikap Raden Eka Kencono sudah cukup menjadi jawaban bahwa Sang Raja menolak mentah-mentah permohonan Dewi Wulan.
"Kakang Dimas Saloka," panggil Dewi Wulan pada lelaki yang melintas di depannya. Seorang lelaki tampan yang bertubuh tinggi besar, berkulit putih, berhidung mancung dan berbibir merah. Lelaki tampan yang selama ini menjadi penyalur hasrat cinta Dewi Wulan.
Lelaki yang dipanggil dengan nama Dimas Saloka itu menghentikan langkahnya di depan Dewi Wulan. Dia mencolek hidung Dewi Wulan dan meraih pinggang nawon kemit Sang Dewi. Memagut bibir indah berlekuk milik Dewi Wulan.
"Ada apa, Wong Ayu? Apakah kamu menginginkan diriku malam ini? Aku selalu ada waktu untukmu," ujar Dimas Saloka sembari kembali memagut bibir indah Dewi Wulan.
Dewi Wulan tersipu. Hubungan rahasianya dengan Sang Patih, membuat dirinya selalu merasa bersemangat. Karena pernikahannya dengan Raden Eka Kencono, hanyalah sebuah pernikahan penuh topeng. Dan kenyataan itu membuat Dewi Wulan merasa muak dengan hidupnya.
"Ehem ... ehem ..." Suara deheman di belakang Patih Dimas Saloka dan Dewi Wulan, membuat kedua orang itu sontak menghentikan kemesraannya.
Wajah Patih Dimas Saloka memerah. "Nyuwun pangapunten ..."
Anda Mungkin Juga Suka





