
Ratu Kerajaan Niskala
Bab 1
Mata Putri Candra Utari menatap tajam ke arah Putri Lintang Alit. Berbalas dengan tatapan yang tak kalah tajamnya pula.
"Kamu telah menumpahkan isinya, Lintang Alit!" seru Putri Candra Utari dengan suara tertahan. Ada amarah dan kecewa yang berusaha ditekannya sekuat mungkin. "Bokor itu berisi ramuan obat untuk ibuku, Permaisuri Kerajaan Niskala, Dewi Arum."
Emban Diro merasa situasi sedang tidak baik-baik saja. Dia bergegas mengambil sebuah kain untuk membersihkan tumpahan ramuan obat berwarna hitam pekat itu. Namun, sebuah pedang panjang yang berkilau menghadang niatnya. Ujung pedang itu menggaris tepat di depan dadanya. Sontak Emban Diro memundurkan langkahnya.
"Nyuwun pangapunten, Kanjeng Putri," ujarnya dengan mimik wajah ketakutan.
Putri Candra Utari maju lima langkah. Kakinya berhenti tepat di atas tumpahan ramuan obat itu. Menghentakkan kakinya dengan keras, hingga cairan tertumpah itu mengenai kaki mulus Putri Lintang Alit. Sang putri bertubuh kurus dan sedikit bungkuk itu sontak menjerit.
"Aduh ...! Kamu telah mengotori kakiku, Mbakyu Kanjeng Putri." Putri Lintang Alit berjingkat menjauh.
Putri Candra Utari tidak menghiraukan protes Putri Lintang Alit. Dia tetap berjalan maju, mendekati adik tirinya itu hingga tubuh mereka hanya berjeda lebih kurang seinchi.
"Kamu harus menggantinya, Putri Selir!" ujar Putri Candra Utari dengan geram. Wajah garangnya menciutkan nyali Putri Lintang Alit. Wajahnya seketika memucat, apalagi ketika pedang panjang Putri Candra Utari mulai terangkat.
"Ada apa ini?" Suara bariton Raden Eka Kencono yang muncul tiba-tiba, memecahkan ketegangan dalam serambi depan ruang keputren itu. Seorang raja yang dikenal memiliki sikap keras dan tegas dalam menghadapi setiap permasalahan dalam pemerintahannya. Namun, dia tidaklah dekat dengan putra putrinya. "Cairan apa ini yang tumpah?"
tanya Sang Raja sembari mengerutkan dahi.
Putri Lintang Alit berdiri dengan kaki gemetaran. Tak ada yang ditakutinya dalam kerajaan ini kecuali Sang Raja. Putri tunggal dari istri selir keempat Sang Raja ini dikenal sebagai seorang putri yang sulit diatur. Dia selalu berusaha melepaskan diri dari segala aturan tata krama kerajaan.
"Utari! Alit! Bicaralah salah satu dari kalian. Jelaskan apa yang tengah terjadi di sini. Dan untukmu, Utari, jangan pernah kau hunuskan pedang di depan kerabat dan rakyatmu. Kecuali dia melakukan kejahatan besar yang telah terbukti," titah Sang Raja pada kedua putrinya.
"Baik, Romo," jawab Putri Candra Utari dengan tegas. Dia segera menyarungkan kembali pedangnya ke pinggang. Dengan sedikit membungkukkan badan, dia menghaturkan sembah pada Sang Raja.
Hening sejenak menyapu serambi keputren. Putri Lintang Alit tidak berani menjelaskan apa yang terjadi pada Sang Raja. Lidahnya kelu. Dia tidak berani membayangkan hukuman yang bakal diterima jika kejadian yang sebenarnya dia ceritakan.
Siasat licik tengah dirancang dengan cepat dalam benak putri bertubuh kurus dan sedikit bungkuk itu. Dia hendak menjatuhkan kesalahan pada Putri Candra Utari. Pewaris tunggal tahta Kerajaan Niskala. Karena dia adalah putri semata wayang dari permaisuri kerajaan, Kanjeng Ratu Dewi Arum.
"Tadi saya hendak membantu Mbakyu Kanjeng Putri, Romo. Tapi rupanya bokor emas itu terlalu licin. Sehingga pegangan saya terlepas dan bokor itu jatuh hingga isinya tumpah. Nyuwun pangapunten, Romo," ujar Putri Lintang Alit sambil menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di hadapan Raden Eka Kencono. "Hatur sembah dalem, Kanjeng Romo."
Putri Candra Utari seketika membelalakkan mata. Terkejut mendengar penjelasan Putri Lintang Alit yang sangat berbeda dengan kejadian sebenarnya.
"Nyuwun pangapunten, Kanjeng Romo. Tidak seperti itu kejadiannya. Hatur sembah dalem, Kanjeng Romo," tukas Putri Candra Utari. Dia pun segera bersimpuh di hadapan Sang Raja.
Raden Eka Kencono hanya diam melihat kedua putrinya yang sama-sama bersimpuh di hadapannya itu. Tanpa memeriksa keterangan siapa yang benar dan keterangan siapa yang salah, Raden Eka Kencono telah yakin menetapkan keputusannya.
"Pengawal Ki Bagas dan Ki Dirgo, bawa Putri Lintang Alit ke dalam puri istana. Tempatkan dia di kamar paling belakang. Kurung dia selama tiga purnama." Raden Eka Kencono bertitah tanpa memedulikan wajah Putri Lintang Alit yang memerah tiba-tiba.
Putri Lintang Alit hendak melakukan protes, tapi tatapan tajam Raden Eka Kencono mematikan nyalinya. Ki Bagas dan Ki Dirgo mengangkat lengan Putri Lintang Alit yang sempat meronta. Namun, pada akhirnya dia harus menyerah. Karena tidak ingin kehilangan segala fasilitas yang selama ini didapatkannya dalam lingkup istana.
"Kanjeng Romo, mohon ijin. Bolehkah saya berpendapat?" tanya Putri Candra Utari.
Dan seperti biasanya, Raden Eka Kencono menggelengkan kepala. Dia menolak untuk mendengarkan pendapat dari Putri Mahkota Kerajaan Niskala itu. Karena dia tahu bahwa putrinya itu pasti akan meminta keringanan hukuman untuk saudaranya, Putri Lintang Alit.
Anda Mungkin Juga Suka





