
Ranjang Kakak Ipar.
Bab 3
Setelah kepergian sang adik, tidak ada hal yang dilakukan oleh Jasmine. Wanita hamil itu, lalu memilih untuk masuk ke dalam rumahnya. Duduk di sofa ruang tamu, sambil menyaksikan film drama yang selalu ditunggu-tunggu olehnya. Setiap hari jika tidak ada sang adik, hanya dihabiskan oleh Jasmine dengan menonton film atau lainnya. Apalagi semenjak dokter meminta dirinya untuk tidak banyak bergerak dan melakukan hal berat, semakin membuat sang suami overprotektif kepada dirinya.
“Aduh, kamu kenapa nendang Mama kuat sekali, Nak.” Saat ini, Jasmine merasakan begitu ngilu, akibat tendangan yang dilakukan oleh anak yang ada di dalam kandungannya. Anaknya memang sudah sangat aktif, dan itulah yang menyebabkan dokter meminta Jasmine untuk banyak beristirahat. Karena takut, ada hal yang tidak diinginkan terjadi apalagi Jasmine memiliki riwayat penyakit darah rendah.
Jasmine yang merasa mengantuk, segera naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Wanita hamil itu seketika langsung tertidur, cukup lama Jasmine tidur hingga pukul 12.00 Jasmine terbangun dari tidurnya.
"Astaga hampir dua jam aku tidur," gumam Jasmine. Wanita hamil itu, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Hari ini, hujan turun dengan sangat deras, terlihat dari balkon kamar yang sudah basah karena air guyuran hujan.
Jasmine mengecek ponselnya berharap sang suami, akan memberikan kabar namun, hal itu ternyata hal sebuah harapan karena tidak ada satu pesan berasal dari Aidan. Suaminya jika sudah bekerja, maka akan lupa akan segalanya dan hal itu membuat Jasmine hanya bisa bersabar.
"Mungkin. Mas Aidan sibuk," ucap Jasmine berusaha menahan rasa rindunya. Demi mengisi waktu luang, Jasmine memilih untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Jasmine mngusap penuh buncit miliknya yang tak lama lagi akan mengempis.
“Rasanya Mama sudah tidak sabar menunggu kehadiran kamu, Sayang. Mama sudah pengen mengajak kamu bermain, kamu harus berjuang bersama dengan Mama ya, Sayang.” Saat Jasmine sedang mengobrol dengan sang adik tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi dengan langkah yang sedikit susah membuat Jasmine pelan-pelan keluar dari dalam kamarnya.
Jasmine membuka pintu rumahnya namun, tidak ada orang di sana pandangan mata Jasmine menoleh pada pintu gerbang, ternyata ada seseorang yang menggunakan jas hujan berdiri di sana sambil melambaikan tangan. Jasmine segera mengambil payung dan melangkah keluar, dengan sangat hati-hati Jasmine menghampiri orang tersebut.
“Paket ibu, maaf mengganggu waktunya.” Jasmine segera membuka pintu gerbang rumahnya, rumah yang ditinggali oleh Jasmine memang sepi jika siang hari, itulah yang membuat kedua orang tuanya meminta Ayudia untuk bisa tinggal bersama dengan kakaknya.
“Terima kasih, Pak!” ujar Jasmine. Wanita hamil itu, lalu mengambil paket tersebut lalu kembali menutup gerbang. Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba saja Jasmine terpeleset sehingga membuat wanita hamil tersebut tergelincir dan membuat dirinya terjatuh. Kurir yang mengantarkan paket tersebut, belum pergi dari tempat tersebut segera masuk menolong Jasmine.
Darah segar mengalir di bawah kakinya, dan hal itu membuat kurir tersebut kaget.
“Tolong, selamatkan anak saya!!” ujar Jasmine dengan menahan rasa sakit yang begitu besar.
***
Ayudia berlari sekuat tenaga menuju ke rumah sakit bersama dengan Echa, sungguh kabar mengenai Jasmine membuat Ayudia begitu terkejut. Dengan derai air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya, menandakan bahwa Ayudia begitu menyesal sudah meninggalkan sang kakak seorang diri di dalam rumah.
“Bagaimana keadaan Kak Jasmine?” tanya Ayudia. Mendengarkan pertanyaan yang diberikan oleh Ayudia membuat ketiga orang yang ada di sana menoleh ke arah samping. Ayudia bisa melihat bagaimana mereka bertiga memandang dirinya.
Kedua orang mertua Jasmine terlihat begitu sedih, mama mertua sang kakak segera mendekat dan memeluk Ayudia dengan begitu erat. Wanita paruh baya itu, menangis di dalam pelukan Ayudia.
“Kita doakan supaya Jasmine dan anaknya selamat ya. Kakak kamu wanita kuat,” ujar Dira. Mendengar hal itu, semakin membuat perasaan Ayudia tidak enak, wanita itu semakin tidak tenang.
Dira sang mertua kakaknya lalu melepaskan pelukannya, wanita cantik itu meminta Ayudia untuk duduk di kursi yang ada di depan ruang rawat namun, baru saja Ayudia dan Echa akan duduk. Aidan suami dari sang kakak berdiri dan menatap ke arah Ayudia dengan tatapan yang begitu membenci.
“Kamu wanita sialan!! Kenapa kamu meninggalkan istriku seorang diri, hah?” Suara Aidan cukup tinggi membuat Abi sang ayah iku berdiri dan menenangkan sang anak yang saat ini, dalam keadaan emosi tinggi. Ayudia yang mendapat makian seperti itu sungguh terkejut, dirinya terdiam dengan menundukkan kepalanya. Ayudia tidak bermaksud meninggalkan sang kakak seorang diri, namun Ayu juga ingin bertemu dengan sahabatnya.
Aidan terus saja memaki Ayudia, pria itu tidak peduli dengan kondisi bahwa saat ini mereka ada di mana, dan hal itu membuat Abi marah besar pada anaknya tersebut.
“Aidan, apa-apaan kamu? Tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu, dia adalah adiknya Jasmine berarti adiknya kamu juga, harusnya kamu bisa bersikap sopan dengannya,” ucap Abi dengan nada tinggi. Pria paruh baya itu, begitu kesal dengan sang anak yang bertindak kekanak-kanakan apalagi menyalahkan Ayudia akan apa yang terjadi.
“Karena dia istri Aidan, harus bertarung nyawa di dalam sana, Pa. Aidan tidak tahu harus berbuat apa lagi, istri dan anak Aidan saat ini dalam mas kritis semua karena wanita sialan ini,” tunjuk Aidan dengan emosi yang sudah memuncak,
Sedangkan Ayudia hanya bisa menundukkan wajahnya, wanita cantik itu tidak tahu harus merespon seperti apa yang jelas bukan hanya mereka yang merasa terluka dengan kejadian ini tapi Ayudia juga merasakan hal yang sama.
Suasana kembali tenang, saat ini mereka semua sedang menunggu dokter memberikan penanganan kepada Jasmine, Ayudia berdoa di dalam hatinya supaya sang kakak baik-baik saja. Hingga ponsel Ayudia berdering, tanpa menunggu banyak waktu Ayudia segera mengangkat panggilan tersebut.
“Hal …”
“Dasar anak sial, bagaimana bisa anak kesayanganku bisa seperti ini? Kamu memang selalu tidak pernah becus dalam menjaga segalanya. Awas saja jika sesuatu hal terjadi pada Jasmine, maka Mama tidak akan pernah memaafkan kamu.”
Ayudia hanya bisa terdiam mendengar kalimat yang begitu menyakitkan oleh mamanya, Anita sang mama memang terlihat sangat jelas membedakan mereka berdua, padahal Jasmine dan Ayudia sama-sama anak yang lahir dari kandungannya. Panggilan tersebut sudah terputus, Ayudia masih bisa menahan rasa sesak di dalam hatinya jika yang memaki dirinya itu adalah orang lain.
Namun, orang yang memaki dan memarahinya dengan kalimat yang begitu menyakitkan itu juga ibu kandungnya, membuat Ayudia begitu sakit dirinya sangat tidak sanggup untuk hidup dengan segala hal yang terjadi, sesak di dalam dadanya dengan segala kemungkinan yang dilakukan.
“Keluarga pasien!!” Seorang suster keluar dari dalam ruangan tersebut, hal itu membuat mereka semua segera berdiri.
“Saya suaminya suster, apa yang terjadi pada istri saya.”
“Pasien memanggil suami dan adiknya, mohon segera masuk. Saat ini kondisi pasien sangat buruk,” ujar suster tersebut. Aidan memandang ke arah Ayudia dengan tatapan tidak suka, pria itu benar-benar membenci wanita yang ada di depannya sekarang.
“Jangan egois, sekarang kalian masuk. Papa akan sangat marah dengan kamu Aidan, jika kamu menghalangi Ayudia masuk!!”
Aidan tidak bisa membantah sang papa sehingga akhirnya dirinya dan sang adik ipar masuk ke dalam ruangan tersebut bersama-sama.
Anda Mungkin Juga Suka





