Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Random Husband

Random Husband

Fransisca, atau Caca, terjebak dalam kebohongan besar setelah rencana pernikahannya dengan pebisnis asing gagal total. Karena terlanjur sesumbar, ia merasa sangat malu untuk mengakui kebenaran di depan teman-temannya. Saat didesak dalam sebuah pesta, rasa panik membuatnya melakukan aksi nekat. Tanpa berpikir panjang, Caca menunjuk seorang pria asing secara acak dan mengklaimnya sebagai calon suaminya demi menyelamatkan harga dirinya saat itu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Fransisca membuka matanya perlahan-lahan. Dirinya kebingungan kenapa bisa berada di ruangan bercat putih itu dengan bau khas obat-obatan. Ditatapnya selang infus di tangan kanannya. Kemudian, diingatnya kembali apa yang terjadi sebelumnya.

Fransisca langsung menangis mengingat ucapan Vano yang mengatakan kondisinya sangat kritis. Dalam hatinya ia menyesal tak menikmati hidupnya dengan bersenang-senang kalau ternyata umurnya tak panjang lagi. Harinya selalu diwarnai dengan berkas yang menumpuk, pemotretan yang banyak, dan harus menciptakan banyak karya busana. Itu sungguh melelahkan. Mungkin benar dia bisa mempunyai banyak harta, terkenal, disanjung, dan dihormati.

Namun, apakah proses yang ia lewati semudah itu. Jawabannya tidak. Menjadi seorang pebisnis haruslah punya strategi pasar yang kuat jika tidak akan gulung tikar. Fransisca harus mampu meyakinkan para investor dengan berbagai cara. Maka semua perilakunya harus dibentuk sebaik mungkin. Gadis itu harus memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Dirinya harus sabar menghadapi para koleganya, tak boleh tersulut amarah. Makanya, dia harus bicara lembut paling tidak stabil meski hatinya diselimuti amarah.

Belum lagi menjadi seorang desainer dan model. Perempuan ini harus memiliki selera fashion yang bagus dan selalu mengikuti perkembangannya. Pakaian yang melekat di tubuhnya harus terlihat menarik meski sebenarnya tak nyaman dikenakan karena tuntutan profesi. Pola makannya juga harus diatur sebaik pula agar memiliki bentuk tubuh yang ideal. Gadis bermata hazel itu sudah berkerja keras untuk memiliki segalanya. Baik harta yang melimpah maupun fisik yang menawan. Tentu saja dia merasa sakit hati kalau dihina keindahan fisiknya itu buatan.

Suara derap langkah kaki memasuki ruang inap Fransisca membuat gadis itu tersadar kalau ada orang lain yang masuk. Segera ia hapus air mata yang mengalir. Berpura-pura tak terjadi apa-apa.

"Nona ini makan siang Anda," ujar Syakira malas dengan senyum dipaksakan.

"Terima kasih. Kalau boleh tahu sebenarnya penyakit saya apa kenapa payudara saya harus diangkat?"  tanya Caca dengan wajah tenang meski hatinya menjerit ketakutan.

Syakira menatap heran Fransisca dengan kerutan di dahinya.

"Maksud Anda apa ya?" tanya balik Syakira dengan dahi dikerutkan.

"Kata Vano penyakitku sangat kritis. Katanya payudaraku harus diangkat," jelas Caca mengulang kembali ucapan Vano.

Syakira berpikir sejenak. Kemudian, sepintas ide jail menyelusup di otaknya.

"Emh, Anda sakit kanker payudara stadium akhir. Menurut saya walau payudara Anda diangkat, umur Anda tetap tak akan bertahan lama. Hanya menghitung bulan, mungkin minggu, atau hari." Syakira menjentikkan jarinya.

Fransisca menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Dirinya tak kuasa menahan tangis. Lagi-lagi air mata itu meluncur dengan bebas membanjiri wajah pucatnya.

"Maaf, saya permisi dulu."

Syakira berjalan ke luar sambil menahan tawa.

Vano yang baru saja memeriksa pasiennya langsung masuk ke ruang inap Fransisca untuk memastikan gadis itu sudah sadar belum. Ternyata benar dugaannya perempuan itu telah sadar dengan pandangan kosong menatap langit-langit. Wajah tirusnya terlihat semakin pucat. Mata tampak memerah.

"Ca, kau habis menangis?" tanya Vano sambil memegang tangan kiri Caca untuk memeriksa suhu badan temannya itu.

Caca langsung menoleh menghadap Vano.

"Aku hanya wanita biasa yang bisa menangis karena cinta, Van," sahut Caca asal dengan wajah fustrasi.

Vano mengangkat sebelah alisnya. Aneh, pikirnya.

"Kau patah hati?" tanya Vano tak yakin.

"Bukan. Aku sangat mencintai hidupku. Uang, takhta, properti. Aku tak sanggup meninggalkannya sekarang. Aku belum punya anak yang lucu-lucu. Oh tidak, menikah saja aku belum."

Vano berdecak lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Seharusnya ia tahu seorang Fransisca tidak mungkin patah hati karena tidak pernah percaya dengan cinta. Pasti di otaknya hanya ada takhta dan harta.

"Memangnya kau mau ke mana kok ditinggalin?"

"Van, kau sudah tahu umurku tak panjang lagi. Masih saja pura-pura tidak tahu. Aku tak pernah menduga mengidap penyakit kanker payudara, apalagi stadium akhir bahkan jika diangkat pun aku tetap akan mati." Caca menatap Vano kesal.

Vano kebingungan kenapa gadis di hadapannya bisa berpikir seperti itu. Memang salah dirinya yang bercanda tidak tahu aturan, tetapi tak pernah ia duga kalau Fransisca bisa berpikir seperti itu.

"Aku bercanda kemarin. Kau tak mengidap penyakit berbahaya apapun. Payudaramu tidak perlu diangkat. Jadi, kau tidak usah memikirkan hal yang aneh-aneh lagi itu akan membebani psikismu," terang Vano dengan wajah datar tanpa berdosa.

"Tapi, kata asistenmu aku mengidap kanker dan umurku tak lama lagi," terang Caca polos.

Vano yang mendengar itu kesal kenapa Syakira malah menambah masalah. Kalau ada apa-apa dia yang repot juga. Meski kesal raut wajah Vano terlihat biasa-biasa saja.

"Kenapa kau mudah percaya sekali dengan kata-katanya? Bukankah kau bukan orang yang mudah percaya kepada orang lain. Sejak kapan kau mudah ditipu?" Vano menatap Caca tak percaya.

"Kau dokter dan dia perawat jadi aku percaya."

"Aku minta maaf telah membohongimu. Akan tetapi, kau juga yang memulai mengancamku dengan kekuasaanmu. Anggap saja satu sama."

"Kau dulu yang mulai, Van. Kau bilang aku pakai implan."

Caca tak terima meski Vano sudah minta maaf. Bercandanya terlalu keterlaluan. Apalagi, lelaki itu malah menyalahkannya.

"Aku tidak salah untuk hal itu. Jika, kau bukan pasiennya aku juga akan bertanya hal yang sama karena hanya ada dua kemungkinan karena alergi setelah memakai implan atau menggunakan pakaian dalam yang ketat."

"Kau kan bisa tanya hal yang kedua kalau salah baru tanya hal yang pertama."

Vano menghela nafas sejenak.

"Terserahlah, Ca. Aku kan bukan menuduhmu tapi bertanya untuk memastikan saja. Kau kan model dan operasi plastik itu sudah biasa untuk menunjang pekerjaan semacam itu. Siapa yang tahu kau pakai implan atau tidak. Aku kan tidak pernah melihatnya apalagi memegang. Apa aku harus memegangnya terlebih dahulu untuk memastikan itu implan atau tidak?"

Muka Vano sudah memerah. Terlihat sekali dirinya kesal meski nada bicaranya rendah. Dari dulu mereka selalu berdebat seperti itu.

Caca langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidaklah, Van. Maafkan aku ya, kau jangan marah. Kita sama-sama salah. Damai, ya," ujar Caca sambil mengembungkan pipinya dibuat seimut mungkin. Lalu, ia ulurkan tangannya. Namun, tak disambut oleh Vano.

"Lupakanlah, aku masih ada pasien. Kau makan bubur itu selagi hangat," ujar Vano sebelum pergi tanpa mau menjabat tangan Caca.

Caca hanya tersenyum masam. Sudah biasa Vano memperlakukannya seperti itu.

***

Vano bohong jika dia ada pasien. Sebenarnya dirinya capek dari semalam banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jika lama-lama di dekat Caca hanya akan menguras emosi saja. Membuat kepalanya semakin pusing. Lelaki itu memilih untuk duduk menghirup udara segar di taman tetapi sialnya ada Syakira yang mengganggunya.

"Dokter, aku bawakan bekal untuk makan siang," ujar Syakira lembut.

"Berhentilah membuat makan siang untukku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu."

Meski sudah mendengar kata-kata itu ribuan kali, tetap saja tak membuat Syakira mundur.

"Aku tahu. Tapi, cobalah ini. Aku membuatnya khusus untuk dokter."

"Berikan pada orang lain saja, aku tak lapar. Tolong jangan ganggu Caca. Kau keterlaluan mengatakan umurnya tak lama lagi."

"Bukankah dokter juga sama menipunya. Apa salahku berkata seperti itu."

"Itu beda dengan apa yang ada di otakmu. Gara-gara kau dia menangis sampai matanya sembab, wajahnya semakin pucat."

Syakira menatap lekat Vano.

"Kenapa Dokter peduli sekali dengannya? Kalau aku yang menangis pasti Dokter tidak akan peduli."

"Kau bukan siapa-siapaku untuk apa aku peduli."

"Lalu, wanita itu siapanya Dokter sepertinya juga bukan siapa-siapanya Dokter, kan?"

"Kalau aku bilang dia calon istriku, calon ibu dari anak-anakku apa kau puas?"

Syakira menatap nanar Vano. Sementara lelaki itu hanya diam, bukannya tak peduli jika wanita itu menangis. Meski sebenarnya dia kasihan tapi kalau ia memperlihatkan rasa kasihannya itu pasti perempuan di hadapannya akan mengartikan lebih.

"Sejak kapan Dokter tertarik dengan bitch seperti itu."

Rahang Vano mengeras. Tak pernah ia sangka asistennya akan berucap sekasar itu.

"Tutup mulutmu. Jangan asal bicara. Caca itu gadis baik-baik dari keluarga terhormat. Dia bukan wanita munafik sepertimu yang bersembunyi di wajah polos. Caca seribu kali lebih baik darimu."

Tbc ....

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Pewaris Hanya Untuk Pengantin Penggantinya
8.2
Selena Hart terpaksa menerima tawaran gila dari Damian Jorch demi melunasi biaya medis tantenya. Ia dibayar satu juta dolar hanya untuk menjadi pengantin pengganti karena wajahnya sangat mirip dengan tunangan Damian yang hilang, Elsie Sonata. Rencana awalnya sederhana: Selena cukup berdiri di altar dan mengucapkan janji suci. Namun, kendali Damian runtuh saat ia mabuk dan menyentuh Selena. Kesepakatan kontrak itu kini berubah menjadi hubungan yang jauh lebih rumit.
Sampul Novel Hello Wife The Tyran CEO!
8.5
Ellina tewas mengenaskan akibat pengkhianatan keluarga dan kekejaman suami dinginnya. Dipenuhi dendam atas takdir pahit tersebut, ia mendadak bangkit kembali ke masa sebelum pertunangan dimulai. Ellina bertekad memutus hubungan dengan keluarga angkatnya dan menjauhi pria yang dulu menghancurkannya. Namun, sang CEO tirani justru terobsesi padanya. Meski Ellina mencoba lari, pria itu siap melakukan segala cara demi mengurung dan mengikatnya selamanya dalam genggaman.
Sampul Novel Istri Kontrak Sang CEO Dingin
9.4
Demi melunasi utang keluarga yang menghimpit, Hana terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Ray, CEO berhati dingin yang butuh menjaga citra publiknya. Meski awalnya sepakat untuk tidak saling melibatkan perasaan, benih cinta perlahan muncul di tengah kepura-puraan mereka. Namun, saat masa lalu kelam Ray terungkap dan ancaman rival bisnis mulai menyerang, hubungan mereka pun diuji. Sanggupkah cinta sejati tumbuh dari sebuah kebohongan yang rumit?
Sampul Novel Melody Cinta Tuan Muda
8.9
Niat tulus Melody menyelamatkan seorang kakek dari aksi bunuh diri justru menyeretnya ke lingkaran keluarga konglomerat pemilik perusahaan raksasa. Di sana, ia menyaksikan persaingan licik antaranggota keluarga yang haus kekuasaan. Sagara, sang cucu yang merupakan pewaris sah, justru menjadi sasaran manipulasi karena sifatnya yang terlalu lugu. Melody kini terperangkap dalam intrik perebutan harta dan siasat kejam demi takhta tertinggi perusahaan tersebut.
Sampul Novel Pria Bajingan Itu Ayah Anakku
9.0
Hidup Ninda berubah total demi memenuhi wasiat Yani, sahabatnya, untuk membesarkan Leon yang baru berusia empat tahun. Sebagai selebgram, Ninda bekerja keras demi masa depan anak itu. Namun, ketenangannya terusik saat Fino Vasikal Gantara, pria berpengaruh yang juga ayah kandung Leon, muncul menuntut hak asuh. Meski diancam, Ninda teguh melindungi Leon sesuai janjinya. Kini, ia harus berhadapan dengan kekuatan Fino demi mempertahankan putra sahabatnya.
Sampul Novel Proposal Cinta Sang Miliarder
7.9
Farhan, miliarder muda yang religius, terpikat oleh kesederhanaan Aisyah, seorang aktivis dakwah yang ia temui setiap Jumat. Mengetahui Aisyah lebih mengutamakan iman dibanding harta, Farhan pun memilih untuk menyembunyikan identitas aslinya demi memenangkan hati sang wanita secara Islami. Namun, perjuangannya tidaklah mudah karena ia harus menghadapi standar tinggi dari keluarga Aisyah. Akankah cinta mereka tetap kokoh di tengah rahasia dan tantangan besar yang ada?