
Rahasia Suamiku yang Miskin
Bab 2
Pikiran Megan menjadi kosong, tubuhnya gemetar saat merasakan dada yang panas dan keras saat ini sedang menempel di punggungnya. Dia juga mendengar suara detak jantung kuat yang berirama. Maskulinitas pria itu menyelimuti tubuhnya.
Dia menarik napas dalam-dalam dan berharap tindakan ini bisa membuatnya sedikit tenang. Akan tetapi, dia mendapati anggota tubuhnya masih kaku seperti sebelumnya.
Sebelum tangannya menyentuh kulit Megan, tiba-tiba pria itu berhenti dan bertanya, "Apa kamu tahu siapa aku?"
Megan tercengang karena tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti ini. Itu hanyalah sebuah pertanyaan sederhana, tetapi ada implikasi di baliknya.
Dia adalah suaminya dan saat ini adalah malam pernikahan mereka. Wajar bagi mereka untuk mewujudkan pernikahan mereka.
Akan tetapi, karena saking gugupnya, Megan menjawab pertanyaan itu secara harfiah, "A-aku tahu ... kamu adalah Zayden Wilgunadi."
Saat mendengar jawaban Megan, pria itu merasa sangat geli sehingga tersenyum tipis.
Zayden Wilgunadi .... Yah, hanya itu yang dia tahu.
Faktanya, bukan Megan satu-satunya yang menyembunyikan rahasia. Pria ini bukanlah Zayden Wilgunadi yang sebenarnya, yang seharusnya menjadi mempelai pria. Sama seperti Megan yang bukan Winona Axelle, yang seharusnya menjadi mempelai wanita.
Sejak pria itu melihat Megan, sebenarnya dia tahu bahwa wanita ini hanyalah pengganti, sama seperti dirinya. Meskipun dia tidak tahu alasan pasti mengapa Winona diganti, dia berasumsi bahwa seseorang yang lahir dari keluarga kaya tidak akan pernah mau menikah dengan orang miskin.
Namun, sekarang itu tidak terlalu penting. Megan menggantikan mempelai wanita yang sebenarnya dan dia menggantikan mempelai pria. Selain itu, untuk beberapa alasan, dia akan terus menggunakan identitas Zayden untuk waktu yang lama. Jadi, mulai sekarang dan untuk waktu yang lama, dia adalah Zayden dan Zayden adalah dia.
"Zayden ...."
Ketika mendengar Megan memanggil, dia tersadar kembali, lalu menundukkan kepala dan bertemu dengan mata Megan yang indah dan berbinar. Ekspresi Megan yang malu-malu dan lembut benar-benar membuatnya terpikat dan tergila-gila.
Megan menggigit bibir saat dia melingkarkan lengan di leher pria itu secara perlahan dan berkata, "Maaf, aku terlalu gugup .... Tentu saja, sekarang kamu adalah suamiku, aku akan berusaha untuk beradaptasi dengan hal ini. Omong-omong ... kita bisa mulai."
Bulir-bulir keringat sudah terbentuk di ujung hidung Megan. Dia berusaha untuk bersikap biasa saja, tetapi seluruh tubuhnya gemetar sehingga gerakannya tampak sangat canggung.
Jantung Zayden berdetak kencang ketika melihat Megan hendak mencium bibirnya, tiba-tiba dia memegang tangan Megan dan mendorong wanita itu menjauh dengan lembut.
Megan tercengang, dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Wajahnya masih memerah dan matanya membelalak bingung.
Bukankah dia baru saja berinisiatif untuk mengambil langkah pertama? Mengapa pria ini tiba-tiba mendorongnya menjauh?
Kemudian, Zayden menatap Megan dan berkata, "Kita tidak perlu terburu-buru. Sepertinya kamu lelah, sekarang tidur saja lebih dulu."
"Zayden, aku ...."
"Kurasa kamu perlu waktu untuk membiasakan diri dengan kehidupan baru ini. Aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap, aku tidak akan mempersulitmu sampai kamu sudah terbiasa hidup denganku," ucapnya sambil berbaring di satu sisi tempat tidur dan membelakangi Megan.
Melihat punggung Zayden yang telanjang, Megan juga berbaring dan linglung. Dia bahkan tidak menyadari berapa lama waktu telah berlalu, tetapi akhirnya dia mendengar pria itu mendengkur ringan.
Menyadari bahwa Zayden sudah tertidur lelap, akhirnya Megan memiliki kesempatan untuk mengamatinya dengan saksama.
Dia sangat tampan dengan rahang yang tegas, sepasang alis yang tebal dan maskulin, serta lengan yang berotot yang semakin menekankan betapa sempurna bentuk tubuhnya.
Ketika memikirkan hal ini, wajah Megan langsung memerah lagi. Saat jantungnya mulai berdetak kencang, dia buru-buru memalingkan wajah karena takut akan membangunkan Zayden.
Akhirnya, Megan mulai mengantuk. Akan tetapi, pikirannya masih diliputi kekesalan atas kata-kata kasar yang dia terima dari Winona dan ibunya sebelum menikah.
Mereka mengatakan padanya bahwa Keluarga Wilgunadi memiliki hubungan yang baik dengan mereka sejak puluhan tahun yang lalu, sehingga kedua keluarga membuat kesepakatan untuk bersatu. Akan tetapi, setelah Keluarga Wilgunadi tiba-tiba bangkrut dan jatuh miskin, mereka bersembunyi di desa di pegunungan kecil.
Zayden, putra dari Keluarga Wilgunadi, terkenal sebagai seorang preman yang sangat mengerikan. Rumor mengatakan bahwa dia telah bolak balik keluar masuk penjara.
Winona berkata dengan angkuh, "Seorang bajingan? Bagaimana bisa aku menikah dengan orang seperti itu? Kamu lebih cocok menikah dengan Zayden. Bukankah ibumu tidur dengan banyak pria? Bahkan, adikmu adalah anak haram! Sekarang, menikahlah dengannya. Orang sepertimu hanya pantas mendapatkan seorang bajingan!"
Sikap ayahnya juga tidak lebih baik, dengan nada dingin, dia berkata, "Meg, pikirkan baik-baik. Menikahlah dengan Zayden untuk menggantikan Winnie, dan Ayah akan memberimu cukup uang untuk melunasi biaya pengobatan ibumu."
Ibu Winona juga menimpali sambil menoyor pelipisnya dengan kuat, "Untuk apa kamu ragu? Menikah dengan orang seperti dia sudah cukup untuk wanita jalang sepertimu! Kamu bahkan bisa menyandang gelar sebagai putri berharga dari Keluarga Axelle! Jangan jadi anak yang tidak tahu berterima kasih!"
Megan tersentak bangun dari mimpi buruknya. Dia bernapas dengan panik dengan jantung yang berdebar kencang. Kemudian, dia menyadari hari sudah siang dan Zayden, yang seharusnya tidur di sampingnya, telah menghilang.
Anda Mungkin Juga Suka





