Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Mamiku

Rahasia Mamiku

Jamy memiliki putri yang sangat manja dan tak bisa tidur tanpa disusui olehnya. Kepolosan sang anak membuat Jamy bersikap sangat protektif, hingga memicu rasa iri di kalangan teman-teman putrinya. Namun, kecantikan Jamy yang luar biasa justru membuat salah satu teman anaknya jatuh hati padanya. Di balik kedekatan mereka yang tampak sempurna, Jamy menyimpan sebuah rahasia besar tentang identitas anaknya. Misteri apakah yang sebenarnya disembunyikan olehnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kring kring kring!

"Yey ..." semua murid berhamburan karena ingin pulang, begitu juga dengan Jihan yang sudah siap.

"Lo nanti dijemput sama mami yahh," ucap Rara.

"Iya, Rara. Rara mau ikut juga," sahut Jihan.

"Ya enggaklah gue kan naik motor, mau dikemanain motor kalau ikut  Lo," ucap Rara lagi lalu memakai tasnya.

"Yuk keluar." 

Setelah mereka keluar, Lisa dan temannya sangat benci menatap Jihan.

"Cihhh!dm Dasar anak mami!" gerutu Lisa sambil menghentakkan kakinya.

"Lis, gimana nanti besok kita kasih pelajaran si Jihan." Teman Lisa memberi saran.

"Pengen tapi gimana caranya, soalnya tuh si anak baru nempel mulu sama Jihan." Lisa berucap dengan cemberut.

"Tenang, masalah itu si Rara biar gue yang atur. Lo tinggal hajar si Jihan aja," ujar  teman Lisa bernama Leni.

"Ya udah gimana lo aja, pokoknya jangan sampai gagal yahh, awas!" ancam Lisa.

"Yey, ngancam mulu. Udah ah, pulang," kata Leni lagi.

Tin! Tin!

Mobil Jamy datang dan berhenti tepat di hadapan Jihan dengan Rara.

"Mami Iham dah jemput, Ra. Ihan pulang duluan yahh."  Jihan melambaikan tangannya dengan  sumringah.

"Ok." Rara membalas lambaian tangan Jihan, sambil  melirik Jamy Wijaya.

Jihan kemudian masuk ke mobil dan menyapa maminya itu, "Siang Mami." 

"Siang sayang, udah siap gak ada yang ketinggalan kan?"

"Gak ada kok, Mi," sahut Jihan memeriksa tasnya.

"Ya sudah ayo kita pulang." Jamy lalu menghidupkan mesin mobilnya dan pergi.

Brom!

Saat mobil Jamy lewat didepan Rara, Jamy menutup kaca mobilnya dan Rara sekilas melihat wajah Jamy yang sangat cantik.

"Gila! Cantik banget!" gumam Rara kemudian langsung pergi ke motornya dan memasang helm lalu pulang.

Sesampainya di rumah, Jamy langsung menyuruh Jihan untuk mencuci tangan dan kaki lalu ganti pakaian.

"Cuci tangan dan kaki dulu sayang, terus ganti baju kita makan siang."

"Iya Mami."  Jihan langsung naik ke atas sambil lari dan itu langsung di tegur oleh Jamy.

"Jangan lari-lari sayang nanti jatuh." Jamy mengingatkan anaknya itu.

Jihan langsung memelankan larinya dan berjalan biasa saja. Setelah selesai, Jihan langsung turun lalu menemui Maminya yang menunggu di meja makan.

"Makan dulu sayang."  Jamy menyiapkan makanan untuk Jihan.

"Mami tadi beli makanan yah?"

"Enggak sayang, Mami masak tadi di kantor buat kamu." 

"Oh, Mami masak  sop yahh." Jihan ada melihat kuah ayam di mangkok.

"Iya, ini baik buat kamu masa pertumbuhan." 

Jihan pun memakannya dan bercerita kepada Maminya sambil makan.

"Mami tadi Rara sempet kesel sama Jihan karena Jihan gak ngabarin kalo Jihan pergi sekolahnya sama Mami." Cerita Jihan sambil mengunyah.

"Terus sekarang apa Rara masih marah sama Jihan."  Jamy lagi sambil meracik suiran ayam untuk Jihan.

"Udah enggak lagi kok, Mi, Mami gak makan kita makan siang bareng Mi." Jihan melihat Jamy tidak makan.

"Enggak sayang, kamu aja yang makan yah." 

"Mami balik ke kantor lagi yahh." Jihan dengan nada sedihnya.

"Iya sayang, Mami balik ke kantor lagi tapi sebelum itu Mami pengen kamu bobo siang dulu baru nanti Mami pergi."

"Ihan gak mau bobo siang Mami, Ihan mau ke rumah Rara." 

"Enggak boleh sayang, kamu gak boleh kemana-mana kalau Mami lagi kerja. Dan kamu harus bobo siang itu sudah jadwalnya nanti Mami kelonin yahh," seloroh Jamy sambil melap bibir Jihan yang belepotan.

"Tapi Mi, Jihan ...."

"Gak ada tapi-tapian, nurut sama Mami!" tegas Jamy.

"Ikh ..." kesal Jihan.

Mbok Yum datang dari belakang, Jamy melihatnya dan langsung menyuruh untuk makan siang.

"Mbok, udah makan siang belum?"

"Belum Nyonya."

"Ya udah Mbok, mending makan dulu nanti lanjut kerja lagi."

"Iya Nyonya."

Kemudian Jamy menatap ke arah anaknya, "Jihan, sudah selesai makannya nak?"

"Udah selesai, Mi."

"Ya sudah kita ke ruang tamu dulu, santai-santai dulu sayang."

"Iya Mi."

Jihan langsung ke ruang tamu yang disusul oleh Jamy dan Jamy langsung meregangkan ototnya.

"Sayang, gimana sekolahnya hari ini?" tanya Jamy sambil membelai rambut Jihan.

"Menyenangkan ko, Mi, emang kenapa Mi?" 

Jamy tahu apa yang terjadi di sekolah karena anak buahnya baru saja memberikan laporan.

"Yakin gak kenapa-napa sayang, lagi enggak bohong kan sama Mami."

Jihan menggeleng, sebenarnya Jihan takut cerita karena Jihan tahu sebadas apa Maminya kalau ada yang mengganggunya disekolah.

"Enggak kok, Mi."

Jihan melanjutkan acara tv-nya dan sepertinya sudah menguap, melihat Jihan menguap Jamy langsung mengajak Jihan ke kamar.

"Sayang ayo ke kamar, Mau nen gak sayang." Jamy sengaja menawarkan breast.

"Enggak ah, Mi, Ihan kan udah gede malulah."

"He em ..sok dewasa kamu paling juga gak bisa bobo nantinya."

Setelah sampai di kamar, Jihan langsung berbaring bahkan sedikit meregangkan ototnya itu.

Jamy langsung menarik Jihan ke sampingnya dan mengecup pucuk kepala Jihan.

"Mami Jihan kan udah gede malu ih," protes Jihan.

"Udah ah cepetan bobonya ini udah jam berapa hayo," sahut Jamy sambil menepuk pantatnya Jihan.

Pluk! Pluk!

Waktu sudah berjalan 10 menit Jihan masih belum bobo, tanpa kelonan nen susu. Jamy jadi jengah melihat Jihan menatap langit-langit, dengan cepat Jamy menarik wajah Jihan dan mengeluarkan breast sebelah kanan.

"Ayo nen jangan ada penolakan!" titah Jamy dengan datar dan dingin.

"Tapi Mami Ihan kan udah gede," sahut Jihan.

"Tapi kamu dari tadi gak bobo-bobo, jangan banyak protes ayo cepetan bobo!" tegas Jamy.

Akhirnya Jihan mengalah juga dan dengan cepat mengulum pentil Maminya itu, dengan mulut yang imut dan itu sudah membuat Jamy sangat senang.

Dimata Jamy, Jihan itu masih sangat kecil dan imut siapa aja yang lihat pasti pengen cium.

Apalagi Jamy sangat detail merawat Jihan dari bayi, sampai semuanya Jamy yang mengatur.

Baru 5 menit, kuluman Jihan sudah mulai longgar dan dapat dipastikan bocah itu sudah ketiduran.

"Imutnya anak mami ini kalau lagi bobo," geming Jamy sambil membelai pipi Jihan.

Kemudian Jamy melepas breast-nya dari mulut Jihan dan mencium pipi Jihan dengan cinta.

"Mbok Yum," panggil Jamy.

"Iya Nya ada apa," sahut Mbok Yum yang baru saja datang.

"Seperti biasa ya Mbok, saya balik lagi ke kantor dan itu si Ihan dia bobo di kamar. Nanti jangan lupa kalau Ihan bangun tolong mandiin yahh," titah Jamy lalu pergi naik mobil.

Brom!

Ditengah jalan, Jamy dicegat oleh Citra dan itu hampir saja mobil mereka bertabrakan.

"Anda gila yah!" Jamy sangat marah kepada Citra dengan tatapan tajam.

"Saya gila karena kamu Jamy," sahut Citra lalu memegang kedua tangan Jamy.

"Please ... maafin aku yahh," mohon Citra dengan sendu sambil berharap Jamy akan memaafkannya.

"Lepas!"

Jamy langsung mendorong Citra dan masuk mobil lalu mengklakson agar citra menyingkir.

Tin tin!

Dengan terpaksa Citra menyingkir agar tidak di tabrak oleh Jamy.

"Kamu berubah Jamy, aku pastikan akan mendapatkan kamu dengan cara apapun. Aku sayang sama kamu Jamy," ucap Citra menatap kepergian mobil Jamy.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 30 Days Lover
8.0
Rayhan selalu membatasi hubungan asmaranya hanya selama tiga puluh hari akibat trauma masa lalu yang membuatnya takut akan komitmen mendalam. Namun, rutinitas tersebut goyah saat ia bertemu Alda, sosok wanita sempurna yang memenuhi segala kriterianya. Kini, Rayhan berada di persimpangan jalan yang sulit. Ia harus memilih antara tetap bersembunyi di balik aturannya atau memberanikan diri menghadapi rasa takut demi mengejar cinta sejatinya bersama Alda.
Sampul Novel Cintaku Bersemi Di Sekolah
9.7
Dodo, pemuda asal pinggiran Garut, merasa dirinya jauh lebih menawan dibanding aktor terkenal meski namanya serupa. Sebagai remaja, ia mendambakan kisah cinta sekolah yang indah layaknya lirik lagu legendaris. Fokus utamanya adalah memenangkan hati Mitha. Meski sadar wajahnya tak setampan Donnie dan tergolong biasa saja, Dodo tetap membulatkan tekad. Ia siap menempuh segala cara demi menjalin kenangan romantis bersama gadis pujaannya tersebut.
Sampul Novel DIONESA
8.9
Kehidupan Sasa berubah total saat pindah ke sekolah baru dan harus duduk sebangku dengan Dion, siswa dingin yang anti-sosial. Di saat yang sama, Sasa terpukul mengetahui ayahnya memiliki kekasih baru. Melihat Sasa yang terus murung, Dion yang semula tertutup perlahan mulai peduli dan membuka diri. Kedekatan ini menumbuhkan rasa nyaman di antara mereka hingga rahasia pribadi Dion terungkap, memicu benih cinta yang mulai terpendam di hati masing-masing.
Sampul Novel Dosen muda
8.8
Chintya sangat gemar menghabiskan waktu di kafe Perpustakaan Universitas Merah Putih yang mewah. Baginya, fasilitas lengkap bukanlah daya tarik utama, melainkan meja kafe yang luas untuk menampung kertas gambar A3 miliknya. Dunia Chintya berpusat pada seni sketsa dan desain grafis, hobi yang sangat ia cintai. Meski bercita-cita mendalami bidang tersebut selepas SMA, ambisinya terhalang restu orang tua yang melarangnya mengambil jurusan seni saat kuliah.
Sampul Novel Gairah Tanpa Akhir
8.8
Suasana hangat menyelimuti ruang tamu rumah sederhana itu saat Renata tak mampu menahan desahan ketika Eka mendaratkan ciuman mesra di lehernya. Di atas sofa tua yang mulai bergoyang, gairah muda mereka membuncah. Tangan Eka dengan nakal meremas tubuh Renata di balik kaos oblongnya, menciptakan getaran yang memenuhi ruangan sempit tersebut. Dalam dekapan pria itu, Renata hanya bisa memanggil namanya saat sentuhan intens Eka mulai memilin seluruh raganya.
Sampul Novel Merebut Suami Sahabatku
9.3
Roy terjerumus dalam godaan Miranda, sahabat istrinya sendiri. Meski terlibat skandal di belakang Lisa, Roy akhirnya sadar bahwa hubungannya dengan Miranda hanyalah nafsu sesaat tanpa rasa cinta. Namun, rahasia gelap ini mulai terancam saat perselingkuhan mereka terungkap ke permukaan. Akankah Lisa memberi maaf bagi keduanya? Situasi kian rumit ketika Miranda menyadari dirinya tengah mengandung anak Roy di tengah hancurnya kepercayaan sang sahabat.