
Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
Bab 3
Ruangan itu terasa semakin sempit setiap kali Nadia memandang ke sekelilingnya. Bau kertas usang, cat tembok yang mulai mengelupas, dan hawa dingin yang mengisi udara seolah menjadi saksi bisu dari apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia berdiri di dekat jendela, matanya terfokus pada tetes hujan yang membasahi kaca, mengalir seperti air mata yang tak pernah berhenti. Setiap tetesan itu seolah menggugah kenangan buruk yang semakin jelas di benaknya-kenangan tentang adiknya, tentang kekecewaan, dan tentang pilihan yang sekarang mengikatnya seperti rantai besi.
Reza berdiri di tengah ruangan, matanya yang tajam menilai setiap sudut, setiap detail yang membuat tempat itu tampak begitu jauh dari dunia yang biasa ia kenal. Pakaian hitamnya yang rapi kontras dengan keusangan apartemen Nadia, seolah memperlihatkan seberapa dalam perbedaan dunia mereka. Namun, di mata Reza, ada sesuatu yang tidak biasa, sebersit rasa penasaran yang membuat Nadia merinding.
Nadia membalikkan badan, mencoba menatapnya tanpa emosi, tetapi itu lebih sulit dari yang dia kira. Jantungnya berdegup kencang, mengingatkan dia pada hari pertama mereka bertemu, saat dia tidak tahu betapa dalamnya dia akan terperangkap dalam jaring ini. "Kenapa kau di sini?" suaranya lebih rendah dari yang ia inginkan, seperti teriakan yang tertahan di tenggorokan.
Reza mendekat, langkahnya tenang, tetapi berat, seolah membawa beban yang lebih besar dari yang Nadia bisa bayangkan. "Kita perlu berbicara, Nadia. Aku tidak bisa membiarkanmu terus bersembunyi di sini."
Nadia memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai menetes. "Apa yang kau harapkan dariku? Apa yang kau ingin aku lakukan?" tanyanya, nada suaranya penuh dengan keputusasaan yang hampir tak terkendali. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah menyayat, membuatnya semakin sadar bahwa di sinilah dia-terjebak dalam keputusan yang telah mengubah hidupnya selamanya.
Reza menghela napas, lalu duduk di kursi tua yang ada di sudut. Wajahnya yang tegas berubah serius, ekspresi yang tidak pernah Nadia lihat sebelumnya. Ada keraguan di matanya, seolah dia sendiri bertanya-tanya mengapa dia berada di sini, menghadapinya, di tempat yang seharusnya jauh dari dunianya yang mewah dan penuh kekuasaan.
"Dengar, Nadia. Aku tahu ini sulit bagimu, tapi... aku juga punya tanggung jawab. Kau harus mengerti bahwa semua ini lebih besar dari kita berdua."
Nadia memandangnya, matanya terbuka lebar, seolah mencoba menemukan seseorang yang bisa dia percaya. "Kau pikir aku tidak tahu itu? Aku sudah cukup lama berada di sini untuk mengerti apa yang terjadi, Reza. Tapi, adikku-" suaranya terhenti, suara itu dipenuhi sesak yang menghalangi napasnya. "Adikku sudah pergi. Apa yang bisa kau katakan untuk membuat semua ini lebih baik? Apa yang bisa kau katakan untuk menghapus kesalahan ini?"
Reza berdiri, berjalan mendekat hingga jarak di antara mereka hanya selemparan batu. Tangan Nadia mengepal, jantungnya ingin melompat keluar dari dadanya. Mereka berdua terdiam, hanya diisi oleh detak jantung yang memburu dan hujan yang semakin deras di luar. Reza menatap Nadia dengan mata yang seolah ingin mengisahkan segala sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Aku tidak bisa mengubah masa lalu, Nadia. Tapi aku bisa memastikan bahwa masa depanmu... masa depan kita, tidak akan seburuk yang kau bayangkan," ucapnya, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan.
Nadia memejamkan mata, berusaha meresapi setiap kata itu. Tapi kenyataan bahwa hidupnya kini terperangkap dalam permainan ini membuatnya tak bisa menerima begitu saja. "Aku tidak ingin ada hubungan apapun denganmu, Reza. Aku tidak ingin bagian dari semua ini. Kau tidak mengerti betapa sakitnya..."
"Kau tidak sendirian," potong Reza, suaranya terdengar lebih tegas. "Aku tahu aku mungkin tidak bisa membenarkan apa yang telah terjadi, tapi aku bisa melindungimu. Dan anak itu. Anak itu adalah bagian dari kita, Nadia. Bagian dari warisan yang harus kita jaga bersama."
Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dada Nadia. Dia terdiam, menatap Reza dengan mata yang mulai berbinar oleh rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Jangan... jangan katakan itu, Reza. Anak itu... dia... bukan pilihan."
Reza melangkah lebih dekat, memandangnya dengan intensitas yang membuat jantung Nadia berhenti. "Tapi dia ada, Nadia. Dan sekarang, aku di sini untuk memastikan bahwa dia akan aman. Kau tahu aku tidak akan membiarkan dia tumbuh di dunia yang penuh dengan kebohongan dan bahaya."
Nadia mendongak, melihat ekspresi di wajah Reza yang sulit dijelaskan-penuh konflik dan pengorbanan. "Kau hanya peduli pada warisan dan kekuasaan. Aku tahu itu. Aku tahu siapa kau, Reza."
Reza menundukkan kepala, seolah mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Nadia. "Aku mungkin terlihat seperti itu, tapi bukan berarti aku tidak bisa berubah, Nadia. Tidak berarti aku tidak bisa memilih untuk melindungi yang benar."
Nadia menatapnya, tidak yakin apa yang harus dia rasakan. Sejak pertama kali dia mengenal pria ini, dia hanya tahu Reza sebagai simbol kekuasaan, sebagai sosok yang tak terjangkau, dingin, dan penuh rahasia. Namun, kali ini, dia melihatnya dengan cara yang berbeda. Sesuatu di matanya membuat Nadia bertanya-tanya, apakah ada kebenaran di balik segala kebohongan ini?
"Dan jika aku memilih untuk terus berlari?" Nadia bertanya, suaranya bergetar. "Jika aku tidak ingin terjebak dalam permainan ini, apakah kau akan mengejarku?"
Reza terdiam beberapa saat, ekspresinya mengeras, lalu berubah menjadi lembut, seperti batu yang diliputi lumut. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Nadia. Dan aku tidak bisa membiarkan anak itu tumbuh tanpa ayahnya. Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tapi kita bisa memilih bagaimana melanjutkan hidup ini."
Nadia merasakan jantungnya berpacu, semangatnya terombang-ambing antara ketakutan dan harapan yang tak pasti. Dia tahu ini adalah titik balik yang tidak bisa dipulihkan. Apapun yang dia putuskan sekarang, akan menentukan sisa hidupnya. Dia memandang Reza dengan mata yang penuh air mata, seolah ingin membaca kejujuran di balik wajah yang selama ini tampak seperti batu.
"Jadi, apa yang kau inginkan dari semua ini, Reza?" Nadia bertanya, suaranya nyaris hilang, tetapi cukup untuk mengisi keheningan di antara mereka.
Reza mendekat lebih dekat, suaranya hanya terdengar oleh Nadia, penuh dengan kehangatan yang langka. "Aku ingin kau tahu bahwa kau tidak sendirian. Dan aku ingin memastikan bahwa anak itu memiliki kesempatan untuk tumbuh di dunia yang lebih baik, dunia yang bisa kita buat bersama."
Nadia menatapnya, seolah mencoba mencari petunjuk, jawaban, atau mungkin kebohongan di balik kata-kata itu. Tapi, seiring hujan yang terus jatuh di luar sana, dia merasa ada satu hal yang pasti: dunia mereka sekarang telah terjalin dalam takdir yang tak bisa diubah.
Anda Mungkin Juga Suka





