
Rahasia Kasus Kehilangan Cewek Cantik
Bab 3
"Lalu dia bawa aku ke ruang bawah tanah... terus kurung aku di sana..." Dika kelihatan tidak nyaman untuk lanjut ceritanya.
Sebagai sesama perempuan dewasa, aku jelas ngerti lah ya, kalau cowok bawa cewek secantik Dika ke ruang bawah tanah, pasti ada maunya.
"Dia seret kamu ke sana seberapa lama?" tanyaku penasaran.
"Kurang lebih setengah jam," jawab Dika sambil garuk-garuk kepala.
"Setengah jam? Lama banget." Polisi yang dari tadi tersenyum langsung kelihatan kaget.
"Iya... orangnya tinggi, besar, berotot, dan tenaganya gila-gilaan kuat," kata Dika sambil wajahnya makin merah, bahkan kakinya tanpa sadar jadi merapat.
Aku yang lihat jelas ekspresinya, tanpa sadar malah kebayang Cindy waktu dijepit beberapa cowok...
Aduh, buru-buru aku tepuk pipi sendiri buat ngusir pikiran aneh itu. "Orangnya seperti apa sih?" tanyaku lagi untuk alihkan pikiranku.
"Aku nggak tahu... Mereka selalu pakai penutup kepala. Tiap muncul, aku disiksa lama banget... Kadang malah dua orang sekaligus..." Dika menjawab dengan suara kecil.
"Disiksa... di ruangan tertutup?" gumamku.
Polisi yang mukanya datar itu langsung nyeletuk, "Pakai kondom nggak?"
Pertanyaan blak-blakan itu bikin Dika makin gelisah. Mukanya merah banget, dia pun pelan-pelan jawab, "T-tidak... katanya mereka lebih suka ngerasain kulit ketemu kulit... Sungguh mesum."
Melihat wajah Dika yang malu-malu marah gitu, pikiranku lagi-lagi malah melayang liar.
"Mereka? Jadi benar dong, monster bertopeng itu bukan cuma satu orang!" Polisi satunya langsung tangkap poin penting itu.
Aku sendiri cuma bisa bengong. Dari ekspresi Dika yang marah-malu itu, aku malah makin penasaran.
‘Kenapa ya, pas alami kejadian sejahat itu, Dika sama Cindy malah seperti... ya ampun, malah terlihat menikmati?’
‘Apa mungkin rasanya memang beda?’
Aku kebayang lagi Cindy yang dipegangi beberapa laki-laki, matanya kosong, tapi tubuhnya malah menggeliat tanpa sadar.... Rasanya malu banget, sampai seluruh badanku merinding.
‘Kalau dipikir-pikir, bahkan pelacur saja belum tentu bisa terima banyak ‘tamu’ sekaligus seperti itu...’
Entah berapa lama aku memikirkannya, tubuhku makin melunak. Aku bahkan hampir tidak bisa duduk dengan baik.
Pada saat ini, kedua polisi itu berdiri, "Bu Dika, terima kasih atas kerja samanya. Kalau ada informasi tambahan, langsung hubungi kami, ya."
Aku langsung ikut bangun, buru-buru keluar bareng mereka.
Begitu keluar dari Akademi Tari, aku tolak tawaran kameramen dan asistennya buat antarin pulang. Aku malah pilih jalan sendirian ke lorong belakang sekolah.
Menurut ceritanya Dika, dia diculik di sini, di gang kecil ini.
Cindy yang hilang juga kemungkinan besar kejadiannya di sekitar sini.
Kenapa ya, dua korban cantik itu semuanya dari Akademi Tari?
Apa mungkin ada kaitannya?
Saat aku sedang berpikir sambil meneliti, tiba-tiba ada suara langkah kaki berat mendekat cepat ke arahku.
Dug, dug, dug!
Belum sempat aku bereaksi, tangan besar dan kuat tiba-tiba membekap mulutku dari belakang. "Jangan gerak."
Ada aroma manis yang aneh tercium. Dengan suara pelan, aku berkata, “Gawat...” Setelah itu, kesadaranku mulai memudar.
"Kamu... kamu..."
Aku berusaha ngomong, tapi belum sempat, aku sudah pingsan.
Entah berapa lama kemudian, aku mulai sadarkan diri. Aku pun menyadari tubuhku rebahan di matras empuk... Aku telanjang bulat, tangan diikat ke belakang, dan posisi tubuhku dibuat ngetungging, pinggul diangkat tinggi-tinggi.
Aku berusaha bangkit, tapi efek obat itu bikin aku lemas, suaraku nggak keluar, malah liur keluar begitu saja dari sudut bibir sampai ke dada.
Dan saat itu juga... aku melihat pemandangan paling cabul dan paling memalukan sepanjang hidupku...
Anda Mungkin Juga Suka





