
Rahasia Hati Sang Pewaris
Bab 3
Siti tertegun. Pria di hadapannya adalah yang makan malam bersamanya tadi malam di kamar suitenya. Siti tersenyum meringis. Tadi mereka juga berjumpa di lift. Siti makin tidak karuan. Apa yang harus ia lakukan.
Rudi menghampiri bos besar, berusaha menjelaskan apa yang dilakukan Siti tidak bermaksud kesalahan dan menyuruh Siti untuk meminta maaf. Siti terperangah. Bos?!? Bos yang ditunggu-tunggu dalam persiapan satu malam saja! Matanya terbelalak lalu berusaha bersikap normal.
Siti meminta maaf pada bos besar dengan sedikit membungkuk. Hipoglikeminya juga pergi. Ia sudah bisa berpikir jernih. Tapi apa yang harus ia lakukan.
Bos tersenyum. Senyumnya disambut histeris oleh barisan staf wanita yang berseru kegirangan melihat ketampanan bos besar mereka.
Pria itu makin tersenyum lebar dan malah mengambil sapu tangan di saku jas Rudi dan menyerahkannya ke Siti. Siti mengangkat kepalanya dan melihat sapu tangan di tangan bos besar. Ia menatap ke arah mata bos besar yang pernah ia sajikan dua cup mie instan itu. Dua bola matanya seolah menenggelamkan Siti ke lautan samudera, memeluknya dengan kehangatan.
Siti hanya berdiri tegak. Lama, akhirnya pria itu mendekatkan sapu tangan itu ke tepi bibir Siti. Menyapu bubuk tipis yang menempel di sekitar bibirnya. Suara histeris barisan staf wanita kembali menyala. Rudi menutup telinga dan berteriak ke mereka untuk diam.
Siti tersadar dan meraih sapu tangan lalu menyeka sendiri sisa gula yang menempel di mulutnya. Mukanya memerah. Telinganya memerah. Ia merasa sangat memalukan. Tetapi pria itu hanya tersenyum, kali ini ia tersenyum jahil, senang melihat tingkah gadis di hadapannya sekarang.
Ia melihat ke arah saku jas kanannya. Remahan gula juga menempel di sana. Ia makin tersenyum yang senyumannya makin menaikkan volume histeria dari para staf wanita.
Matahari sudah semakin naik ke singgasana. Tapi suasana di teras hotel bercampur panas dan dingin. Suasana penyambutan bos besar yang baru hari itu terasa meriah oleh tingkah tak terduga bos besar.
Rudinmenerima pesan masuk dan tersenyum menyeringai. Ia tampak puas dengan pesan yang masuk dan melanjutkan melayani bos besar, mengajaknya untuk masuk ke dalam.
Siti berdiri sendiri sembari menyeka bibir dan mengibas-ngibas saku jas, diiringi tatapan iri deretan staf wanita. Dion kembali menghampiri Siti dan mengingatkan untuk membersihkan diri di kamar staf terlebih dahulu. Siti membalas dengan senyuman, merasa berterima kasih.
**
Siti mendapat cuti panjang. Ia tidur sepanjang hari itu. Saat ia bangun, ia mendapati tiga ratus panggilan tidak terjawab dan lima puluh pesan masuk. Ia mengerjap matanya perlahan dan bangun dari tempat tidur. Ia membersihkan diri sejenak, agak lama, di kamar mandi.
Siti keluar dengan wajah segar. Senyumnya terasa puas setelah tidur dari malam hingga ke siang hingga masuk malam lagi. Ia menuju dapur dan bersiap memasak menu udang asam manis.
Sesaat ia memulai memasak, terdengar bunyi bel. Beberapa kali bunyi bel terdengar tidak sabaran. Siti meninggalkan dapur dan menuju pintu. Ia melihat dari lubang kecil dan tidak mendapati siapapun.
Siti berpikir sejenak. Ia lalu kembali ke dapur dan melanjutkan memasak. Setelah hidangannya selesai, ia duduk menghadap televisi yang menyiarkan acara megah peresmian hotel cabang di dua tempat sekaligus. Ia pun makan dengan lahap hingga habis dua mangkuk nasi penuh.
Samsung Galaxy S24 Ultra kembali mengalunkan nada panggilan masuk. Siti beranjak dan meraih smartphonenya. Ia mengecek panggilan dan mulai membaca pesan masuk. Tidak ada satupun yang menanyakan kesehatannya. Mereka hanya perlu jawaban atas dokumen dan file yang berkaitan perusahaan. Rudi pun hanya menyuruh untuk segera masuk kerja, jangan beralasan sakit untuk cuti.
Siti menghela napas selesai meletakkan Galaxy S24 Ultra ke atas meja. Ia mengarahkan pandangan ke tabung kaca yang memperlihatkan beberapa orang diwawancara. Hingga kamera bergoyang berpindah arah ke kumpulan berjas hitam yang memasuki panggung utama. Di sana, pria yang memberinya izin cuti berdiri di atas mimbar dan berpidato.
Pria itu, bos barunya, memintanya ke ruangan setelah acara penyambutan. Siti bercermin dan merapikan jasnya sebelum menghadap Reza Managung. Ia masuk dan berdiri di tengah-tengah pejabat hotel yang sedang duduk di sofa yang mengelilingi sudut ruangan. Ia membaca nama yang tertulis di meja bos barunya. Tertera nama direktur yang sekarang duduk di antara sofa Chesterfield.
Siti menunduk hormat dan seisi ruang diam hening, menunggu bos besar berbicara. Rudi memulai pembicaraan dengan tawa terkekeh. Ia memuji Siti dengan sangat baik. Integritas dan kinerja Siti dipaparkan dengan bumbu-bumbu pujian berlebihan.
“Ambillah cuti untuk dua minggu. Biarkan yang lain bekerja. Tidak ada pemotongan gaji.” Rudi yang sibuk berbicara tadi terdiam dan menatap ke arah bos besarnya dengan kaget. Lalu berusaha menjelaskan kalau hal itu tidak perlu.
Pria bernama Reza itu melanjutkan perbincangan dengan direktur hotel. Ia tidak mau mendengar apapun dari manager hotel itu. Ia lalu mengibaskan tangannya saat Siti menunduk, menyuruhnya keluar dari ruangan.
Siti sudah mencapai pintu saat Rudi memanggilnya menyuruhnya menyusun lembaran dokumen yang dimintai direktur. Direktur tampak tidak senang dengan sikap Rudi dan berdehem mengingatkan. Rudi terkekeh, malu. Ia pun menuju meja berisi dokumen yang sudah ditata Siti tadi pagi.
Siti melihat kibasan tangan direktur dan bergegas keluar. Reza melirik kepergian gadis itu dengan senyum sembari mengetuk-ngetuk jari ke lengan sofa.
Saat ini, bel pintu terdengar hanya sekali. Siti beralih dari menatap wajah bos barunya di televisi ke depan pintu. Ia tidak berniat beranjak sama sekali. Dalam seminggu ini bunyi bel tidak berhenti. Ia tidak berniat membuka dan sekali pergi keluar hendak ke supermarket, ia mendapati banyak bingkisan dan bungkusan di depan pintu. Ia meminta sekuriti apartemen untuk mengambilnya dan membaginya ke siapa saja.
Sekuriti memperlihatkan hasil bingkisan dan bungkusan yang ia ambil selama itu, ia tertawa seakan mendapat jackpot. Semua benda berisi makanan dan bunga yang dipajang jadi pengharum ruang 3x4 meter tempatnya bertugas itu.
Siti beranjak dari tempat duduknya menuju pintu dan di balik pintu ia melihat Siska dan Yunda bersama dua teman lainnya. Mereka tampak sibuk dengan bingkisan di depan pintu.
Pintu terbuka. Siti tersenyum menyambut koleganya. Dua kolega yang pertama adalah teman sejawat di ruang manajemen hotel. Dua lainnya staf divisi lain. Mereka mengangkat beberapa bungkusan di depan pintu dan membawanya masuk.
Siti mempersilakan tamunya duduk. Ia sedang menyeduh teh saat terdengar suara histeris dari arah televisi. Ia membawakan empat gelas teh dan dua kotak cemilan. Tetapi ia melihat beberapa bungkusan snack sudah dibuka dari bingkisan depan pintu tadi.
Anda Mungkin Juga Suka





