
RAHASIA DI BALIK KEBAHAGIAAN
Bab 3
Pagi itu, Hana duduk di meja makan dengan pikiran yang berat, sementara Arya bersiap berangkat kerja seperti biasanya. Di matanya, Arya terlihat seperti suami yang sempurna-rapi, tenang, dan selalu tampak penuh perhatian. Tapi sejak ia membaca pesan dari Mira, segala hal yang tampak sempurna itu seperti topeng yang mulai retak.
Hana mencoba menahan kegelisahannya, tapi hatinya penuh dengan tanda tanya. Apakah aku harus langsung bertanya? pikirnya, namun setiap kali ia mencoba, ada dorongan dalam dirinya yang takut untuk mendengar kebenaran.
Saat Arya keluar dari kamar, mengenakan jasnya, Hana memutuskan untuk mengutarakan perasaannya.
"Mas Arya... kita bisa bicara sebentar?" tanyanya, dengan nada lembut tapi tegas.
Arya berhenti, sedikit terkejut. "Tentu, Sayang. Ada apa?"
Hana menatap Arya, mencoba membaca ekspresi wajah suaminya yang terlihat tenang. "Belakangan ini... kamu sering sekali sibuk. Sering pulang larut, atau tiba-tiba ada telepon yang kamu jawab di luar rumah. Kamu juga sering menghindari aku ketika aku mencoba bicara... apakah ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?"
Arya tersenyum tipis dan meraih tangan Hana, menggenggamnya lembut. "Hana, kamu jangan berpikir yang macam-macam, ya. Semua ini demi kita. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik, makanya aku bekerja keras."
"Tapi... aku merasa kamu semakin jauh, Mas." Hana mencoba menahan emosi yang mulai menguasainya. "Aku merasa ada yang berbeda."
Arya menghela napas dan melepaskan genggaman tangannya. "Mungkin kamu terlalu khawatir. Tenang saja, semuanya baik-baik saja, kok."
"Tapi pesan-pesan yang langsung kamu hapus, panggilan yang kamu jawab di luar rumah, itu semua tidak biasa, Mas," Hana berkata sambil menatap Arya dengan mata penuh harap.
Arya terdiam sejenak, lalu memaksakan senyum. "Kamu ini terlalu overthinking, Sayang. Fokus saja dengan apa yang sudah kita bangun bersama, ya?"
Namun, Hana merasa Arya hanya menghindar lagi, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali Hana mendekat ke inti permasalahan. Ketika Arya akhirnya berangkat kerja, Hana duduk sendiri di ruang tamu dengan perasaan yang bercampur aduk antara kecewa dan bingung.
Hari-hari berikutnya, Arya masih sama. Ia tetap pulang terlambat, sibuk dengan ponselnya, dan semakin sering tampak gelisah saat Hana mengajaknya berbicara. Sementara itu, Hana mulai merasa dirinya terjebak dalam lingkaran pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban.
Di malam yang sunyi, Hana duduk di kamar sendirian, pikirannya tak bisa tenang. Kegelisahannya sudah mencapai puncaknya. Ia pun memutuskan untuk berbicara kembali dengan Rina.
Di pertemuan berikutnya, Hana mencurahkan isi hatinya pada Rina.
"Rina, aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana. Semakin aku mencoba percaya, semakin banyak tanda yang muncul, semakin gelisah aku rasanya," kata Hana dengan mata yang berkaca-kaca.
Rina menggenggam tangan Hana, berusaha menenangkan. "Kamu sudah bertanya langsung sama Arya?"
Hana mengangguk pelan. "Sudah, tapi dia selalu menghindar, jawabannya selalu sama: aku terlalu khawatir, semua ini demi kita. Tapi... aku nggak tahu, aku cuma merasa ada yang nggak beres."
"Kalau memang kamu merasa ada yang disembunyikan, mungkin kamu perlu mencoba cara lain, Han," kata Rina dengan hati-hati. "Kadang, untuk mengetahui kebenaran, kita perlu siap dengan segala risikonya."
Hana menghela napas panjang. "Aku takut, Rin. Aku takut dengan apa yang akan aku temukan."
Rina menatap sahabatnya dengan penuh empati. "Kamu nggak sendiri, Hana. Aku selalu ada untuk kamu. Tapi kalau kamu merasa sudah nggak tahan dengan semua tanda-tanda ini, mungkin inilah saatnya kamu mencari tahu sendiri kebenarannya."
Malam itu, setelah pulang ke rumah, Hana merasa pikirannya sudah bulat. Ia akan mencoba mengamati lebih dekat, mengumpulkan keberanian untuk menemukan jawaban atas kegelisahan yang terus menghantuinya.
Beberapa hari kemudian, kesempatan itu datang. Saat Arya tertidur lelap, Hana menunggu dengan cemas di ruang tamu, memastikan bahwa suaminya benar-benar terlelap. Begitu suasana rumah sunyi, ia berjalan pelan menuju kamar tidur, bernapas dalam-dalam sebelum ia mengambil ponsel Arya yang tergeletak di samping ranjang.
Tangannya sedikit bergetar saat ia membuka ponsel itu, mencari petunjuk yang mungkin selama ini ia abaikan.
Dan akhirnya, ia menemukan sesuatu.
Di aplikasi pesan, Hana menemukan riwayat pesan singkat yang mengonfirmasi kecurigaannya. Beberapa pesan dari nomor tanpa nama, berisi kata-kata singkat namun cukup menyakitkan untuk dilihat.
"Aku menunggumu, kapan kita bisa bersama lagi?"
"Kamu janji akan mengakhirinya, kan?"
"Aku sudah lelah menunggu... Hana tidak perlu tahu apa yang terjadi di antara kita."
Hana terhenyak. Rasanya seperti waktu berhenti seketika. Pesan-pesan itu, yang mengonfirmasi apa yang selama ini ia takutkan. Arya ternyata memiliki hubungan lain-dengan siapa, ia belum tahu pasti, namun kejelasan yang ia dapatkan malam itu menghantamnya keras.
Hana terduduk di lantai, air mata mulai membasahi pipinya. Selama ini ia mencoba menepis kecurigaan dan meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja, tapi kenyataan di depannya begitu kejam.
Aku sudah cukup bersabar, pikir Hana dalam hati. Sekarang aku harus tahu seluruh kebenarannya.
Dengan air mata yang masih mengalir, Hana bertekad untuk tidak lagi terjebak dalam kebingungan dan kegelisahan ini. Ia tahu, jawaban dari semua ini mungkin akan sangat menyakitkan, tapi ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihat apa yang nyata.
Hana berusaha menenangkan diri di lantai kamar, memandangi layar ponsel Arya yang masih terbuka. Pesan-pesan itu mengoyak hatinya, tapi di sisi lain, kini ia tahu bahwa firasatnya selama ini tidak salah. Kebenaran memang menyakitkan, tapi kepastian, betapapun pahitnya, memberinya kekuatan untuk melangkah.
Setelah beberapa saat, Hana menghapus jejak dari ponsel Arya, memastikan semua pesan kembali seperti semula, lalu mengembalikan ponsel itu ke tempatnya. Dengan langkah perlahan, ia keluar kamar, menutup pintu, dan duduk di ruang tamu dalam kegelapan. Malam itu, ia tak bisa tidur. Bayangan-bayangan dari pesan itu terus menghantui pikirannya.
Keesokan paginya, Hana mencoba bersikap seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya; tekad yang tumbuh untuk menghadapi apa yang selama ini ia takutkan. Ia berencana untuk mengumpulkan bukti lebih lanjut, memastikan bahwa ia benar-benar tahu apa yang terjadi sebelum berhadapan langsung dengan Arya. Kali ini, ia tak ingin hanya mendapat jawaban samar atau pengalihan dari suaminya.
Di meja sarapan, Arya duduk di seberangnya, menikmati roti bakar dan kopi yang Hana buat. Namun, bagi Hana, setiap gerakan Arya kini terasa asing. Pria di depannya, yang dulu ia cintai dan percayai sepenuh hati, sekarang tampak seperti orang yang sama sekali berbeda.
"Ada rencana apa hari ini, Mas?" tanya Hana dengan nada datar, mencoba menutupi perasaannya.
Arya tersenyum tipis. "Sepertinya aku akan pulang agak malam lagi. Ada beberapa laporan yang harus diselesaikan."
Hana mengangguk pelan. "Lembur lagi ya?" tanyanya, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
"Iya, Sayang. Maklum, pekerjaan sedang banyak-banyaknya. Kamu tahu sendiri, aku melakukan ini untuk kita, untuk masa depan kita," jawab Arya dengan senyum yang menenangkan, meski bagi Hana kini senyum itu tampak kosong.
Sambil berpura-pura menerima alasan Arya, Hana berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan kekecewaannya. Untuk masa depan kita, atau masa depan dengan orang lain, Mas? pikirnya dalam hati, dengan kemarahan yang membara namun tetap tersembunyi di balik wajahnya yang tenang.
Setelah Arya berangkat kerja, Hana menghubungi Rina.
"Rina, kamu ada waktu siang ini?" tanya Hana, suaranya terdengar getir.
"Ada, ada apa, Han? Kamu nggak apa-apa?" Rina bertanya, menyadari nada suara Hana yang tak biasa.
"Ini tentang Arya... aku menemukan sesuatu. Aku perlu cerita sama kamu," jawab Hana dengan suara lirih.
Siang itu, Hana dan Rina bertemu di sebuah kafe yang tenang. Hana menumpahkan semua perasaannya, menceritakan tentang pesan yang ia temukan di ponsel Arya dan bagaimana selama ini ia menahan diri untuk tidak meledak. Rina mendengarkan dengan penuh perhatian, tatapannya menunjukkan betapa prihatin ia terhadap keadaan Hana.
"Hana, kamu pasti nggak kebayang betapa kecewanya aku mendengar ini," ujar Rina sambil menggenggam tangan Hana. "Arya nggak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau dia melakukan ini... tapi sekarang, apa rencanamu selanjutnya?"
Hana menghela napas panjang, menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. "Aku nggak tahu. Aku ingin langsung menanyakan ini ke Arya, tapi aku juga takut... takut kalau dia hanya akan berbohong lagi."
"Kalau kamu perlu bantuan, aku di sini untuk kamu, Han. Mungkin kamu bisa mulai mencari lebih banyak bukti... sesuatu yang tidak bisa dia sangkal," saran Rina, mencoba memberikan semangat.
Hana mengangguk, menyadari bahwa Rina benar. Untuk menghadapi Arya, ia membutuhkan bukti yang jelas, sesuatu yang tak bisa dihindari oleh suaminya. Malam itu, Hana memutuskan untuk mencoba mengikuti Arya dan mencari tahu lebih banyak.
Beberapa hari kemudian, Hana mulai mengamati setiap gerak-gerik Arya dengan seksama. Setiap kali Arya menyebutkan bahwa ia akan lembur, Hana menghafal setiap detail-jam berangkat, tempat yang disebutkan, bahkan pakaian yang dikenakan suaminya. Setelah cukup lama menunggu, kesempatan akhirnya tiba.
Pada suatu malam ketika Arya mengabari akan pulang lebih larut dari biasanya, Hana memutuskan untuk mengikutinya. Dengan hati yang berdebar-debar, ia menunggu Arya pergi lebih dulu, lalu mengikuti mobilnya dari kejauhan.
Hana menatap mobil suaminya yang bergerak di depan, berusaha menjaga jarak agar tidak ketahuan. Ketika Arya tiba di sebuah restoran kecil di pusat kota, Hana memarkir mobilnya tak jauh dari sana, menyaksikan dari kejauhan dengan perasaan berdebar. Ia melihat Arya masuk, lalu muncul lagi beberapa menit kemudian bersama seorang wanita yang tampak akrab dengannya.
Wanita itu tertawa kecil sambil menggandeng lengan Arya. Hati Hana mencelos melihat kedekatan mereka, cara mereka saling menatap, senyum yang dulu hanya miliknya kini terarah kepada wanita lain.
Tapi yang paling menghancurkan adalah saat ia melihat Arya mencium kening wanita itu dengan lembut.
Saat itulah Hana tahu, tak ada lagi yang perlu ia ragukan. Segala kebohongan, alasan, dan pengalihan yang selama ini ia terima dari Arya terjawab di depan matanya. Dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya, Hana menggenggam kemudi mobilnya erat-erat.
"Ini cukup," bisiknya pada diri sendiri. "Aku sudah cukup tersakiti."
Kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan dan perasaan yang saling bertabrakan. Tapi yang jelas di benaknya sekarang adalah bahwa ia tidak akan tinggal diam.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





